21. Bicara dari Hati ke Hati (2)

1112 Kata

“Aku masih bisa menjaga diriku sendiri. Kakak tidak perlu menikahiku kalau hanya karena rasa kasihan,” ucap Nilam dengan suara parau. Nilam benci kenapa tak bisa mengontrol suaranya. Dan kenapa air mata yang sekuat tenaga coba ditahannya malah luruh bagai tak berpenghalang. Kenapa Nilam harus menangis? Entahlah, mungkin karena dirinya sempat membayangkan bahwa kini dia benar-benar sudah menemukan seseorang yang akan mencintainya, yang akan memberinya cinta sama besar—atau bahkan lebih—dari mendiang suaminya. Namun, Nilam terlalu berharap banyak rupanya. “Tidak, Nilam, bukan seperti itu. Kamu jangan salah paham. Bukan rasa kasihan yang lantas membawaku datang untuk melamarmu. A-a-aku ….” Suara pria di seberang Nilam tiba-tiba jadi terbata-bata. Membuat air mata Nilam makin menganak sungai.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN