Karna Manusia hanya lah manusia, yang tidak tau kapan ajal akan menjemput.
*******
Alice menatap Logan dan Xander yang sibuk dengan buku di tangan mereka, ia menghela nafas nya lalu beranjak dari duduk nya, "mau kemana?". Pertanyaan itu menghentikan langkah Alice, ia menatap Xander dan Logan yang juga sedang menatap nya. "Aku hanya ingin keluar sebentar, aku bosan duduk terus!" jawab Alice membuat Logan menatap gadis itu lekat namun tidak dengan Xander, ia malah kembali fokus ke buku nya.
"Jangan lupa bawa handpone mu, jika ada apa-apa segera hubungi kami!" seru Logan
Alice mengangguk lalu segera beranjak ke luar, rumah Xander sudah seperti menjadi rumah nya sendiri. Awan yang cukup gelap, dan gerimis yang turun dari langit membuat suasana perasaan Alice sedikit keruh. Namun ia tetap berjalan melewati koridor yang menghubungkan setiap sudut rumah itu, jadi tidak akan ada hujan yang mengenai nya. Alice mulai berjalan tanpa tentu arah hingga langkah kaki nya berakhir pada sebuah pohon yang ada di depan nya. Alice menatap pohon itu sambil tersenyum. Perasaannya saja atau tidak, tapi pohon di depan nya kali ini terasa berbeda dengan pohon lain nya. Terasa seperti hidup, tangan nya terulur untuk menyentuh pohon itu "Yak, ini benar-benar terasa hidup!"
"Kau juga bisa merasakan nya nak?"
"Yakkk!" teriak Alice saat tiba-tiba ada suara dari samping nya. Tatapan Alice terkunci saat menyadari siapa yang tadi mengeluarkan suara itu "An-anda? Anda yang memberikan saya obat itu bukan?" seru Alice menatap lelaki paruh baya di depan nya.
"Ingatan mu cukup kuat nak!" ujar nya mengambil duduk di sebelah pohon itu.
Angin semilar yang terasa di kulit Alice membuat ia menatap pohon di depan nya lekat, ia memperhatikan bahwa pohon itu benar-benar berbeda dari pohon yang berada di sekitar nya. Alice lagi-lagi menyentuh pohon itu, "Ini, terasa hidup!"
Lelaki paruh baya yang sedang menyenderkan tubuh nya di pohon itu menarik kedua sudut bibir nya mendengar ucapan gadis itu "Mengapa kau berkata demikian nak? Apa nya yang terasa hidup?"
Alice menarik nafas nya lalu menatap lelaki paruh baya itu dengan tatapan menilai, "Boleh saya duduk di sebelah ini tuan?" tunjuk Alice sambil menatap tempat yang tidak jauh dari lokasi duduk lelaki paruh baya itu.
"Tidak ada larangan sama-sekali nak, silahkan duduk!"
"Ahhh, terimakasih!"
Alice duduk, menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa menyejukkan baginya. Tidak ada percakapan di antara sama-sekali di antara mereka. Alice menatap rahang dengan pahatan yang sempurna, alis yang cukup tebal dan tatapan mata yang menyorot tajam. Seolah tidak melepaskan situasi yang terjadi di sekitar nya. Alice segera memalingkan wajah nya saat tatapan mereka bertemu, namun kekehan singkat itu mengalihkan perhatian Alice agar kembali menatap lelaki paruh baya itu lagi.
"Apa yang sedang kau nilai dari ku nak? Jika kau ingin mengatakan sesuatu, katakan saja. Aku rasa aku bisa menjawab nya selahi aku bisa menjawab nya untuk menjawab rasa penasaran nya mu itu.
"Anda tau apa yang aku pikirkan?"
"Hahahahhahaha, aku tidak mungkin mengajukan pertanyaan itu jika tidak tau apa yang sedang kau pikirkan nak!"
"Anda luar biasa, baru kali ini aku merasa nyaman berbicara dengan orang tua seperti anda. Pertama sekali, aku ingin bertanya. Apa anda ini manusia? Apa anda seorang mahluk, maaf sebelumnya. Akhir-akhir ini adalah hari yang cukup berat untuk ku. Aku banyak bertemu dengan mahluk yang ingin mengincar ku, kematian dan teror! Bahkan aku tidak tau mengapa aku bisa percaya dengan anda. Padahal, ketika anda memberi saya cairan itu. Anda tiba-tiba menghilang!"
Lelaki paruh baya itu menatap gadis belia di sebelah nya, "Perntanyaan anda bagus nak! Cukup menarik. Pertama, jika aku mengatakan bahwa aku bukan lah manusia. Apa yang ingin kau lakukan? Membunuh ku? Atau memanggil kedua teman mu itu?"
Alice menatap nya lagi, mengerutkan kening nya lalu sedikit terkekeh. "Kenapa anda menolong saya waktu itu? Jika anda ingin berniat jahat, tidak mungkin anda seperti itu. Bahkan di saat saya sedang sendiri saat ini, banyak waktu yang tersisa jika anda ingin membunuh saya!" jawab Alice kalem
"Hahahhahahahha, kau sama-seperti nya nak. Sudah lah, sudah cukup untuk hari ini. Jika kau punya pertanyaan lagi, datang lah ke pohon ini dan usap lah batang nya!"
"Kau akan datang jika aku melakukan nya?"
"Tidak, aku tidak berkata demikian. Tapi, aku menyuruh mu melakukan nya karena kau bisa merasakan bahwa pohon itu terasa hidup dan menyatuh dengan mu. Kau bisa merilekskan pikiran mu dengan melakukan hal itu!"
"Benarkah? Aku kira kau akan datang jika aku melakukan nya! Meskipun itu terasa konyol untuk di dengar. Namun aku percaya bahwa kau akan datang jika aku melakukan nya!"
Lelaki paruh baya itu lagi-lagi tersenyum, ia masih ingin melanjutkan percakapan singkat mereka. Namun karena sosok yang sudah berdiri tidak jauh darinya membuat nya segera bangkit berdiri membuat tatapan Alice tertuju padanya "Maaf nak, aku sangat senang bisa melihat dan bahkan berbicara dengan mu. Aku mungkin tidak bisa memberikan cukup petunjuk untuk mu mengenai hari berat mu. Tapi aku percaya kau bisa melalui nya. Kau bisa percaya pada sesuatu yang mungkin layak untuk di percaya. Ingat nak, meskipun mereka tidak bisa dipercaya. Tapi kau harus sadar bahwa kau pasti akan membutuhkan mereka. Sudah dulu, aku akan pergi sebentar!"
"hey, tunggu du-u-lu! Yak, sudah menghilang lagi? Cepat sekali!" seru Alice saat tidak mendapati lelaki paruh baya itu lagi yang menghilang di balik pohon. Alice menatap pohon yang ada di depan nya, ia lagi-lagi menyentuh nya "Aku tidak tau kenapa, tapi aku percaya padanya. Seperti aku percaya pa--!"
"Percaya pada siapa?"
"yakk!" teriak Alice
Ia menatap Logan dan Xander yang sudah berada di depan nya "sejak kapan kalian berdua ada di sini?"
"Sejak kapan?Kami berdua baru saja tiba di sini dengan teleportase nya Xander. Dan menemui mu yang berbicara dengan pohon ini. Hahahahhahhaha, apa kau seperti merasa bahwa kau adalah putri 'Shopia'? Yang berbicara pada pohon?" seru Logan yang melupakan sekilas fakta bahwa ia masih sedikit pusing akibat teleportase dari Xander.
Alice memutar bola mata nya malas, "Ayolah, bisa jangan mengejek ku kali ini?"
"Siapa yang berada bersama mu sebelum kami sampai?"
Alice menatap Xander yang menatap nya dengan tatapan tajam nya, ia sedikit sadar bahwa tatapan Xander sedikit sama dengan tatapan lelaki paruh baya tadi. Tapi ada yang sedikit aneh dan menjanggal di pikiran nya "Kau tau dari mana ada seseorang bersama ku tadi?" tanya Alice
"Jawab pertanyaan ku dulu sebelum kau bertanya!" kesal Xander
"Baiklah-baiklah, dia lelaki paruh baya yang beberpa hari yang lalu memberikan ku cairan itu. Cairan yang juga kau minum sebelum memberikan nya padaku!"
Xander lalu mendekati Alice, menatap nya dengan tatapan menyelidik " kemana pergi nya orang tua itu?"
"aku tidak tau, dia lagi-lagi menghilang sebelum kalian berdua sampai di sini. Memang nya ada apa? Kau mengenal nya? Atau kau tau sesuatu mengenai orang tua itu?"
"Tidak, hanya saja aku merasa bahwa orang tua itu bisa memberikan kita sebuah petunjuk. Lagi pula aku baru saja membaca sesuatu mengenai 'sesuatu yang hilang'!"
"Tunggu dulu, apa itu mengenai ingatan itu lagi?" seru Logan yang baru saja kembali lagi. Alice bisa menebak bahwa lelaki itu pasti baru saja memuntahkan semua isi perut nya.
"Aku rasa begitu!" jawab Xander lalu duduk di bawah pohon yang menjadi tempat mereka berteduh. Gerimis sudah berhenti dan angin dingin terasa menusuk kulit mereka. Alice baru merasakan angin yang menusuk kulit nya saat merasakan bahwa ia sama-sekali tidak mengenakan baju hangat nya. Xander yang sadar akan hal itu melepas jaket nya, ia memang sengaja mengenakan dua jaket karena udara yang terada sangat menusuk kulit nya "Ini, pakailah!" seru Xander menyerahkan satu jaket nya.
"Ahhh, trimakasih. Kau sangat perhatian pada ku!"
Alice dan Xander menatap Logan yang mengambil jaket di tangan Xander membuat Alice melongo dan medengkus dengan kesal, "Apa-apan kau?" kesal Xander hendak membuka jaket itu lagi dari Logan.
"Ayolah Xander, aku juga kedinginan dan aku tidak membawa jaket ku juga. Apa kau tidak kasian pada ku?"
Xander terdiam, ia menghela nafas nya. Menarik Alice agar mendekat pada nya dan segera membuka jaket nya. Ia segera memasangkan nya pada tubuh Alice yang terasa kedinginan. "Yak, kau juga akan kedinginan Xander. sebaik nya kalian memakai jaket itu bersama!" usul Logan.
"Kau gila!" kesal Xander memutar bola mata nya
"Logan ada benar nya juga, bukan kah kau alergi terhadap angin?" seru Alice membuat Xander tidak habis pikir
"Yak, kalian berdua sudah gila!" kesal Xander hendak beranjak dan meninggalkan Logan dan Alice. Namun tarikan lembut di tangan nya membuat langkah nya terhenti, ia lalu menatap Alice yang membuka jaket nya dan memasangkan nya lagi pada nya. Namun, yang membuat Xander terkejut adalah karena Alice yang tidak melepaskan pelukan di pinggang nya.
"Kita kembali ke rumah mu dengan begini saja, aku tidak mau kau sakit hanya karena menjadi sosok pahlawan!" seru Alice
Xander masih kaku, ia merasakan wajah nya sedikit memanas karena meraskan pelukan Alice. Xander menetralkan degub jantung nya dan menatap Logan yang sudah berlari meninggalkan mereka berdua. Ia berdecak kesal, semua ini hanya karena lelaki itu. Mereka juga datang pada Alice hanya karea bujukan Logan, tapi lihat. Siapa yang lebih dulu meninggalkan mereka? Logan pasti sudah gila!Batin Xander.
"Hey? Tidak ingin berjalan?"
Xander sedikit terkejut mendengar suara Alice yang terlalu dekat dengan nya, Xander hanya bisa mengangguk dan segera berjalan bersama menuju rumah mereka.
****
"Apa yang kau dapatkan Logan?" seru Alice mengambil duduk di sebelah Logan yang sibuk dengan layar laptop di depan nya.
"Hmmm, aku menemukan sebuah artikel mengenai cara mengembalikan ingatan yang dilupakan. Di sini dikatakan bahwa ada sebuah peramal tua yang berada di sebelah utara yang bsia mengembalikan ingatan seperti itu dan itu menggunakan sebuah ritual"
"Ritual? Itu semacam apa? Terdengar misterius saja!" seru Alice sambil mengambil coklat yang berada di atas meja
"Yak, Alice. Itu milik ku, heyyy!" teriak Logan yang segera melepaskan laptop yang berada di pangkuan nya dan menarik coklat yang sudah tinggal setengah. Ia menatap Alice tajam, namun gadis itu malah hanya menatap nya dengan cengiran tidak bersalah di tambah dengan mulut yang penuh dengan coklat. Logan kesal, ia segera membuka bungkus coklat nya yang sudah tersisa setengah dan memakannya sekaligus.
"Yak, aku benar-benar pelit sekali Logan. Kau memakan semua coklat di kamar mu tanpa membagikan nya dengan ku. Sejak kapan kau menjadi orang pelit seperti ini?"
"Sejak kapan? Sejak coklat sudah hampir langkah di minimarket.Aku tidak mau kebisan stok karena mu, aku juga tau kau membeli banyak sekali coklat dan memakannya sendiria!"
"Yak, aku tidak menghabiskan nya. Apa kau yang mengambil coklat ku ?" teriak Alice segera mengejar Logan yang langsung berlari menjauh "Yak, Logan!!! Berhenti lah!" teriak Alice
Xander menutup buku nya dengan kesal, ia tidak terbiasa dengan teriakan ketika sedang fokus mengerjakan sesuatu. Ia menatap dua manusia yang masih asik kejar-kejaran di depan nya. "Hey!!! Berhenti berlari dan berteriak jika kalian tidak ingin aku menyumpal mulut kalian!" teriak Xander karena tidak tahan lagi.
Logan yang berada di bawah Alice menatap asal suara, Alice yang sedang menarik rambut Logan juga berhenti dan menatap Xander yang menatap mereka dengan tatapan tajam nya. Alice dan Logan saling memandang namun, "Yakkk, kau harus mengembalikan coklat ku!" teriak Alice balas menarik rambut Logan
"Alice, ampunn. Aku minta maaf, aku akan membayar nya!"
"Kapan hah?" seru Alice masih menarik rambut Logan yang berada di bawah nya. Karena posisi Alice sekarang masih menduduki lelaki itu. Layak nya anak TK yang tidak kenal amarah karena suara yang keras. Xander yang menatap Alice dan Logan masih lanjut bermain tanpa memperdulikan nya hanya menghela nafas nya kasar. Namun pekikan Alice membuat nya yang sudah ingin melangkah keluar segera menatap mereka lagi. Gadis itu sekarang sedang tergeletak di atar karpet dengan Logan yang memukul lengan gadis itu dengan sofa.
"Yakk, jangan logan. Berhentii!" kekeh Alice
Xander sedikit menarik sudut bibir nya saat menatap pemandangan di depan nya. Senyum kecil Xander semakin lebar dan membuat Mr.Erick, sang ayah berhenti melangkah dan menatap Xander yang masih tidak sadar bahwa Alice dan Logan juga sudah menatap ke arah Xander. Namun mereka kembali bergelut seolah tidak terjadi apa-apa.
"Apa kau senang melihat pemandangan seperti itu nak?"
Xander tiba-tiba sadar dan segera mengubah raut wajah nya, ia menatap sang ayah yang tidak terlalu jauh dari nya. "Ay-ayah? Sejak kapan berada di sini?"
Erick terkekeh, ia berjalan mendekat dan menepuk bahu anak semata wayang nya. Meski pun tidak berasal dari darah dagingnya, namun Xander adalah satu-satunya anak yang ia anggap sebagai darah daging nya. "Nikmati jika kau bahagia nak. Ayah kembali bekerja dulu, dan ayah menemukan seseorang yang bisa mengembalikan ingatan dengan ritual. Temui ayah nanti dan bawa gadis itu!"