Kenyataan membuka pintu bagi imaginasi (Jhon Lenon)
***
Xander membuka lembar demi lembar buku yang sekarang sedang berada di tangan nya, awal sekolah setelah libur natal membuat mereka harus kembali fokus dengan sekolah mereka juga. Sejak semalam, tidak ada kejadian di sekolah mereka atau kasus teror seperti beberapa hari yang lalu. Meski begitu, perasaan Xander tidak bisa tenang sejak tadi. Seolah ada yang mengintai mereka sejak pertama kali masuk sekolah. Xander menatap Alice yang tidak jauh darinya, gadis itu nampak melamun sejak memulai pembelajaran pertama. Ia menghela nafas nya, kejadian yang terus meneror mereka benar-benar membuat mereka dalam keadaan yang tidak menentu.
Logan menatap Xander yang tadi seperti nya sekilas memperhatikan Alice yang berada di sebelah nya. "Alice!" ujar Logan sambil menggoyangkan lengan gadis itu.
"Ahhh? Ada apa?" kejut Alice membuat Logan sedikit tau mengapa Xander memperhatikan Alice. Ternyata gadis itu sedang melamun dan itu tidak seperti Alice yang biasanya.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Kau terlihat melamun sejak tadi!"
Alice menghela nafas nya lagi, ia menatap Logan lalu sedikit melirik ke sebelah nya. Xander seperti nya sedang sibuk dengan buku nya, "Tidak ada, aku hanya merasa lapar!" elak Alice
"Holl, jika kau lapar. Kita bisa pergi ke kantin setelah pelajaran usai. Jangan banyak melamun!"
"Hmmm!"
Alice dan Logan kembali berhenti berbicara, namun perasaan Alice sejak tadi memang kurang enak. Rasanya seperti ada orang yang terus menatap nya dari jauh. Alice mengalihkan perhatiannya ke arah belakang karena posisi duduk mereka yang berada di tengah. Mata Alice lalu bersitubruk dengan tatapan milik lelaki yang ternyata sedang menatap nya juga. Gordo, lelaki itu menatapnya membuat Alice segera berbalik dan kembali fokus dengan guru yang sedang mengajar di depan nya. Namun Xander memperhatikan pergerakan Alice, ia sedikit melirik ke belakang dan seketika itu juga ia mengumpat saat siapa yang sedang menatap mereka sejak tadi. Xander lalu menatap Gordo dengan tatapan tidak suka dan segera berbalik untuk membaca bukunya.
****
Alice, Logan dan Xander duduk di deretan kursi kantin untuk pertama kali nya. Semua tatapan rata-rata tertuju pada mereka karena letak duduk mereka yang berada di tengah kantin. Alice merasa risih namun tetap memakan pesanan nya, Logan sama seperti Alice. Namun tidak dengan Xander, lelaki itu masih asik dengan buku nya dan sesekali memakan pesanan nya.
"Mengapa mereka menatap ke arah kita? Aku sedikit risih!" ujar Alice
"Jangan tanggapi, cukup makan saja pesanan mu dan kita akan segera pergi dari sini!" ujar Xander memotong Logan yang hendak angkat bicara. Logan dan Alice yang saling duduk berhadapan,saling menatap lalu mengangkat bahu mereka. Meski sedikit kesal, namun apa yang di ucapkan oleh Xander memang benar adanya.
"Xander benar, kalian bertiga kan sangat jarang sekali ke kantin untuk makan seperti yang sedang kalian lakukan sekarang ini. Itu sebab nya semua orang melihat kalian, termasuk aku!"
Perhatian Xander, Logan dan Alice tertuju pada sosok lelaki yang tiba-tiba datang dan mengambil duduk di sebelah Alice yang memang kebetulan kosong. Gordo datang dan tiba-tiba menjadi sok akrab dengan mereka. Alice mengerutkan kening nya saat tidak ada tanggapan dari Xander yang masih sibuk dengan buku 'mitologi' yang di baca lelaki itu sejak semalam. Entah apa yang menarik, namun satu hal yang Alice sadari bahwa Xander seperti nya sedang mencari informasi dari buku itu.
"Ahhh, aku juga berpikiran demikian!" jawab Logan untuk menghilangkan rasa canggung ketika Gordo, sang ketua OSIS SMA the Highlight duduk satu meja dengan mereka,menambah jumlah tatapan pada mereka. Pasal nya, siapa yang tidak kenal dengan Gordo? Sang most wanted di sma mereka.
"Ahhh, ini sudah memasuki semester 3. Apa kalian bertiga tidak ingin mengambil eskul atau ikut organisasi? Kalian harus mengambil salah-satu dari organisasi itu jika tidak ingin nilai eskul kalian kosong!" ujar Gordo sesekali melirik gadis yang duduk di sebelah nya.
"Ahhh, kami sudah membicarakan nya pada kepala sekolah.Beliau sudah setuju jika kami mengambil eskul di luar sekolah saja. Jangan terlalu mencemaskan kami!" jawab Logan
"Benarkah? Tapi apa kalian sudah menyetor nilai kalian? Jika ingin mengambil eskul di luar sekolah. Maka kalian juga harus memberikan surat dari instansi atau lembaga yang menjadi tempat kalian pada ku. Agar tidak terlalu rumit!"
Logan dan Alice saling menatap, "Ahhh, kami akan segera mengurus nya dan menyerahkan nya pada mu!" jawab Alice
"Ahhh, benarkah? Jika kau tidak ingin repot-repot mengurus nya. Kau bisa memberitahu ku tempat kalian atau lembaga yang menampung kalian. Aku bisa mengurus nya untuk mu!" seru Gordo menatap Alice membuat beberapa tatapan benci semakin banyak bermunculan.
Prak...
Alice, Logan ,Gordo dan semua perhatian seisi kantin tertuju pada Xander yang tiba-tiba meletakkan buku nya di meja dengan bantingan yang cukup kuat. Xander menatap Gordo yang menatap nya dengan tatapan meremehkan, "Aku tau ini hanya akal-akalan mu saja. Aku akan memberikan surat nya pada mu besok pagi dan berhetilah mengusik kami!" ujar Xander lalu bangkit berdiri dan meninggalkan kantin. Logan dan Alice juga segera ikut berdiri dan meninggalkan Gordo yang tersenyum mengejek dalam hati. Semakin Xander menunjukkan sikap seperti itu, maka ia seperti nya akan lebih mudah untuk melangkah. Gordo menatap punggung Alice yang sudah menghilang di balik pintu kantin, seketika itu juga Gordo semakin memiliki tekad kuat itu.
Gordo lalu menatap semua orang yang sekarang sedang menatap nya, namun semua tatapan itu langsung menghilang saat tatapan Gordo semakin datar. Ia akhirnya beranjak dari duduk nya dan segera keluar dari kantin dengan semua rencana yang sudah tersusun di dalam kepala nya.
Dan semua perlakuan Gordo beserta ketiga orang yang baru saja keluar tidak lepas dari tatapan sosok yang sedang memperhatikan mereka dengan lekat. Seolah tidak ingin melewatkan kejadian itu barang sedikit pun.
Sementara Alice dan Logan berlari sambil mengejar langkah Xander yang sudah cukup jauh. Hingga sampai mereka tiba di belakang lelaki itu, tidak ada percakapan barang sedikit pun di antara mereka bertiga. Xander terus melangkah dengan perasaan kesal, lelaki itu kali ini tidak menuju ruang kelas mereka. Namun menuju perpustakaan, ia harus menenangkan pikiran nya dan harus menjauhkan semua pikiran negatif yang ada di kepala nya dengan Alice dan Logan yang terus mengikuti kemana pun langkah Xander pergi.
Xander duduk di pojok baca perpustakaan, tempat paling aman dan biasanya jarang ada orang yang membaca di sana. Kecuali mereka bertiga. Alice mengambil buku dengan acak dan duduk di sebelah kanan Xander dan Logan di sebelah kiri Xander. Cukup lama mereka saling diam dan tidak memulai percakapan, hingga Alice berniat untuk membuka percakapan untuk pertama kali namun terpotong karena Logan yang memulai pembicaraan lebih dulu.
"Xander, aku tidak bisa menerawang Gordo. Aku rasa kau benar!" seru Logan sambil menatap sekeliling mereka. Memastikan bahwa tidak akan ada orang yang mendengar percakapan mereka. Alis Alice berkerut, tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Logan.
"Apa kau yakin?"
"ya aku yakin, aku rasa dia juga memiliki sesuatu yang disembunyikan dengan baik! Dan, aku rasa itu lebih mengarah ke arah yang negatif. Aura Gordo juga terlihat sedikit berbeda dari kita!"
"Aku sudah menduga nya sejak awal, aku memang ingin mengatakan hal ini sejak dulu. Tapi aku tidak yakin karena aku tidak bisa menerawang nya!"
"Tunggu dulu, kalian sedang membicarakan apa? Mengapa aku tidak tau? " Kesal Alice
Logan dan Xander saling menatap lalu menatap Alice bersamaan membuat Alice tiba-tiba merasa gugup. Namun Xander segera memalingkan wajah nya dan Logan yang masih menatap Alice yang berada di sebrang Xander "Dengar, saat kau mengatakan bahwa Mitha di bunuh di sekolah. Gordo ada di sekolah dan membantu Xander, Gordo juga tau apa arti dari simbol yang di lukis di setiap sisi tubuh korban itu. Sejak saat itu, Xander menaruh curiga pada nya. Dan, saat di kantin tadi. Aku juga mencoba untuk menerawang Gordo, namun tidak bisa. Aura nya juga sedikit berbeda!" jelas Logan
"Intinya, jangan terlalu sering berkomunikasi dengan nya. Dia bukan lelaki baik, aku rasa dia menyembunyikan sesuatu sejak dulu. Karena awal pertama kali berpapasan dengan nya, aku tidak sengaja bisa merasakan bahwa dia tidak sendirian. Ada aura lain yang terus mengikuti nya!" sambung Xander sedikit melirik Alice yang tiba-tiba merapat padanya.
"Benarkah? Pantasan saja tadi pagi aku merasa seperti di tatap oleh seseorang dengan intes. Saat aku menoleh ke belakang, aku tidak sengaja menatap nya juga!"
"Aku tau itu, makanya jangan terpengaruh dengan ajakan nya!" seru Xander lama, menatap mata Alice dengan tatapan dalam. Logan yang menatap ekpresi Xander hanya tersenyum dalam hati. Lalu ia lagi menatap ke arah Alice yang seperti nya sama-sekali tidak mengerti arti tatapan Xander padanya.
"Sudah-sudah, ini sudah masuk jam pelajaran sekolah. Sebaik nya kita segera pergi dari sini, aku tidak mau bu Andan akan memarahi kita!"
"Baik lah, mari pergi!" seru Alice beranjak dari duduk nya. Namun Xander masih terlihat duduk di tempat duduk nya semula, ia menatap ke belakang. Kening nya sedikit berkerut saat mendapati gadis bermata satan itu sedang berdiri dan sepertinya sedang menatap nya meski Xander sama-sekali tidak tau akan hal itu.
"Xander? Mengapa masih di sini? Logan sudah menunggu kita!"
Xander membalikkan badan nya saat mendengar suara dari Alice, Xander sedikit menaikkan sudut bibir nya. "Tidak ada apa-apa, mari kita pergi"
****
"Bagaimana dengan mereka? Apa sudah ada kemajuan?"
Mizuki menatap sosok di depan nya, lelaki paruh baya yang menjadi tuan nya sejak dulu. Sudah lama sekali, namun Mizuki masih terlalu tidak bisa memahami jalan pikiran dari tuan nya. "Sudah my Lord, aku sudah mulai memberikan mereka petunjuk. Aku hanya berharap bisa mengulur waktu sampai mereka bertiga tau siapa mereka yang sebenarnya!"
Lelaki paruh baya itu menghela nafas nya kasar, ia kembali duduk setelah menatap benda yang ada di dalam kaca itu dan menatap Mizuki yang sedang menunduk di depan nya "Lalu, bagaimana dengan mu nak? Apa Xavier masih menyakiti mu?"
Mata Mizuki sedikit melotot saat pertanyaan itu, ia sama-sekali tidak tau mengapa tuan nya bisa sadar akan hal itu,"H-hamba tidak apa-apa my Lord. Saya masih bisa bertahan jika penyiksaan nya hanya sampai di situ saja!"
Lelaki paruh baya itu lagi-lagi menghela nafas nya dalam, "kau mungkin bisa berbohong pada diri mu sendiri nak. Namun tidak dengan aku, karena sejak dulu atau pun sekarang. Kau adalah anak ku, dan itu tidak akan pernah berubah meskipun kau menyimpang dari jalan yang sudah aku tunjukkan pada mu!"
Mizuki menahan air mata nya, mata nya sudah berkaca-kaca. Lelaki paruh baya itu benar, sangat benar. Di saat semua ingin membunuh nya saat melakukan penghianatan itu, hanya orang tua di dpean nya yang menentang semua nya. Dan memilih untuk di hukum bersama nya. Sekarang, saat semua sedang di dalam masalah, Mizuki lagi-lagi harus menghela nafas nya. Jika ia tidak terpikat dengan godaan iblis itu, semua ini mungkin tidak akan terjadi. Tidak akan ada yang menderita, tidak akan ada yang menjalani hukuman seperti ini "Tidak ada gunanya menyesal nak, sebaik nya kau tetap berjuang. Aku juga akan berusaha untuk mencari pertolongan untuk menyelamatkan yang tidak bersalah!"
"My Lord, ak-a-aku memang sudah banyak berhutang budi pada anda. Aku menyesal ketika memilih menyimpang dari jalan anda. Dan sekarang, anda masih mau menerima kehadiran saya dan tetap melindungi saya!"
"Itu lah mengapa kami di ciptakan nak, kami bukan hanya sebagai penyeimbang bumi. Namun kami juga diciptakan untuk tujuan ini. Untuk sekarang, tujuan kita hanya lah untuk menyelamatkan mereka bertiga dari incaran para iblis yang ingin mengambil mereka. Terlebih dari iblis yang kau layani itu, dia adalah musuh terbesar kita!"
Asap ungu yang tiba-tiba menyelimuti Mizuki membuat ia sadar bahwa waktunya bebas sudah habis "Maaf My Lord, saya harus segera kembali lagi!"
"Jaga diri mu nak, dan kau harus memberikan mereka petunjuk yang jelas. Ingat untuk menyamarkan aura mereka bertiga!"
"Baik My lord!"
Asap itu semakin banyak dan tiba-tiba Mizuki sudah menghilang, hanya meninggalkan lelaki paruh baya yang masih terduduk di atas sofa nya. Ia menarik nafas nya dalam, "Kalian pasti bisa selamat nak, aku yakin dan percaya kalian bisa melewati nya. waktu akan menjawab semua pertanyaan kalian! Dan teror itu!"
Lelaki paruh baya itu bangkit dari duduk nya lagi, mengambil sebuah buku yang melukiskan semua wajah-wajah yang benar-benar ia rindukan sekarang. Ia mengelus wajah anak kecil yang berada di gendongan nya itu "Sebentar lagi nak, sebentar lagi. Ayah pasti akan membawa mu kembali ke dunia kita, kita pasti akan meninggalkan dunia ini dan kembali ke tempat kita semula. Kau pasti akan bertemu juga dengan ibu mu. Ayah janji akan hal itu!"
Ia kembali menutup buku itu bersamaan dengan hadir nya sosok berjubah hitam di belakang nya, "Apa semua baik-baik saja Damian?"
"Semua baik-baik saja My Lord, hamba juga sudah menuntaskan peperangan itu!"
"Baik, kau bisa kembali. Dan sampaikan pada Arra bahwa aku akan membawa putri kami kembali!"
"Yes My Lord!"