Bagian 22 || Teleportase ||******
Alice berjalan di belakang Xander dengan lorong gelap yang semakin memanjang, setiap ukiran yang mereka lewati terdapat pahatan-pahatan yang terlihat semakin rumit. Meski minim penerangan, namun Alice benar-benar berusaha untuk menatap ukiran itu. Banyak gambaran-gambaran sayap putih dan juga hitam, Alice mengerutkan kening nya "Kau pernah menelusuri ini sebelumnya?" seru Alice masih menatap ukiran itu dengan tatapan takjub.
Xander memutar badan nya, ia menatap gadis di depan nya yang masih fokus dengan ukiran di ding-ding yang jika bisa jujur, ia juga baru tau bahwa ukiran di dalam rumah nya ada sayap-sayap seperti ini. "Ini kali pertama aku kemari, tentunya aku akan terkena masalah jika sampai melampaui jarak yang sudah di berikan oleh ayah ku!"
Alice mengalihkan perhatiannya, ia menatap lelaki di depan nya dengan kening yang berkerut "Tunggu dulu, mengapa kau bisa ada di sini dengan tiba-tiba. Perasaan aku meninggalkan mu dan Logan di taman tadi. Apa kau mengikuti ku sejak tadi!" ujar Alice curiga
"Aku berteleportase kemari, aku bahkan ingin menanyakan hal yang sama dengan mu. Apa yang membawa mu kemari?"
"Well, aku juga tidak tau. Aku hanya mengikuti langkah saja tanpa tau arah yang sedang aku tuju!"
"Kita sama, kalau begitu. Ingin menelusuri tempat ini bersama? Aku rasa ada sesuatu yang bisa memberikan kita sebuah klu!"
"Ide yang cukup bagus!" seru Alice segera melangkah di sebelah Xander
Namun Alice berhenti saat tidak merasakan Xander berjalan, ia menatap lelaki itu. Namun sayang nya ia langsung mengalihkan perhatiannya saat Xander juga sedang menatap nya. "Kenapa kau menatap ku seperti itu?" Alice berkata dengan sedikit gugup.
"Aku minta maaf soal tadi, aku sungguh tidak ingin menjatuhkan mu langsung. T--tapi, aku hanya refleks dan sedikit gugup saja!" Usai mengatakan hal itu, Xander langsung berjalan mendahului Alice yang terdiam di tempatnya. Ia menatap Xander dengan tatapan jahil nya, ia jelas tidak salah bahwa Xander ternyata tadi juga gugup. Dan itu berarti bukan hanya dia saja yang merasakan hal itu.
"Xander, tunggu... Kau gugup? Hahahahahhaha, wajah mu lucu sekali saat mengatakan hal itu!" goda Alice sambil memainkan mata jenakanya pada Xander yang hanya mendengkus keras
"Jangan mengungkit hal itu lagi, yang terpenting aku sudah meminta maaf padamu!"
"Hahhahahahahha, wajah mu. Wajah mu begitu menggoda saat ini.. Aku rasa k--!"
Alice langsung melotot saat Xander menutup mulutnya dengan tangan lelaki itu, Alice bisa merasakan deru nafas Xander yang hangat menerpa wajah nya. Mata tajam Xander tidak beralih sedikit pun darinya, membuat Alice tidak tahan. Alice langsung mengalihkan perhatiannya dari tatapan Xander.
"Pelan kan suara mu Alice!" bisik Xander lalu melepaskan tangannya dari mulut Alice. Xander memanas, wajah nya tiba-tiba memerah lagi. Namun ia berusaha untuk menetralkan raut wajah nya.
Mereka berdua kembali menyusuri lorong itu, terdapat banyak sekali ukiran ketika mereka melangkah semakin memasuki lorong itu. Tidak ada penerangan sama-sekali dan itu cukup membuat mereka sedikit kesulitan untuk berjalan. "Hey, apa kau tau mengapa ada ukiran sayap di sini? Bukan kah ini terlalu aneh untuk di analisa?" tanya Alice semakin penasaran dengan ukiran sayap yang berada di setiap sudut. Tidak hanya ukiran sayap, tapi ada juga beberapa ukiran manusia yang terlihat sedang memegang sebuah benda. Alice tidak tau apa gambaran benda yang sedang di pegang, karena sebagian ukiran nya sudah hancur. Xander mendekat dan menatap ukiran itu, "Aku tidak tau, tapi rasanya ini memiliki arti tersendiri!"
"Jika kau ingin menebak. Ini sayap apa?"
Xander terdiam, sayap yang di lukis di dalam ding-ding itu sekilas menggambarkan sayap burung. Namun ukiran nya jauh lebih besar dan lebih teliti, Xander menaikkan bahu nya "Aku tidak tau itu sayap apa! Tapi apakah mungkin itu adalah sayap malaikat atau sesuatu yang sejenis degan mahluk bersayap?"
Alice lagi-lagi menatap Xander, lelaki itu memberi nya jawaban yang membuat nya harus kembali berpikir lagi "kau tidak memberikan ku sebuah klu, jika jawabanmu seperti itu, aku tidak akan bertanya padamu!" kesal Alice lalu berjalan mendahui Xander yang hanya menatap punggung Alice yang semakin memasuki lorong itu. Ia menghela nafas nya "Apa yang salah dengan jawaban ku ? Dasar wanita, selalu saja sulit untuk di tebak!"
"Kau berkata sesuatu?"
Xander yang masih menatap ukiran samar-samar itu,terkejut karena suara Alice yang tiba-tiba terdengar di sebelah nya "Tidak,aku tidak berkata sesuatu. Mungkin kau hanya menghayal saja!"
"Benarkah?" seru Alice menyipitkan mata nya, menatap netra mata Xander dengan tajam
"Ck, jangan menatap ku seperti itu. Kau tidak mau lanjut mengelilingi bagian ini lagi?"
Alice berdecak kesal saat Xander meninggalkan nya duluan,Alice kembali berjalan di belakang lelaki itu sambil menatap semua benda-benda yang mulai terlihat. Mereka terus berjalan dan menemukan jalan buntu, tidak ada jalan. Xander mengerutkan kening nya saat mendapati bahwa di depan mereka hanya terdapat sebuah tembok besar lagi. Ia mengerutkan kening nya lalu menatap Alice yang juga kelihatan sama bingung nya dengan nya.
"Aneh, mengapa ruangan ini buntu? Jadi, darimana mereka berjalan tadi?" seru Alice hendak meraba ding-ding di depan nya. Namun sebelum tangan Alice sempat menyentuh ding-ding itu, Xander lebih dulu menarik gadis itu,menyebabkan tangan nya tidak sampai menyentuh ding-ding itu. Alice manatap Xander "hey, mengapa kau menarik tangan ku? Aku hanya ingin menyentuh ding-ding ini saja, tidak lebih. Jangan terlalu berpikiran lain!"
"Tidak, jangan sentuh ding-ding itu! Atau kau akan terbunuh dengan panah itu!" seru Xander sambil menunjuk panah yang ada di masing-masing sudut tembok itu. Mata Alice membulat, ia segera melangkah mundur membuat Xander hanya berdecak sebal. Baru saja beberapa menit yang lalu Alice sok-sok an menjadi gadis pemberani, namun tidak lama gadis itu kembali lagi seperti kucing.
"Heheheh, aku tidak melihat nya. Aku tidak mau mati seperti film action yang pernah aku ton-ton. Itu mengerikan!" guman Alice memamerkan senyum jenaka-nya pada Xander yang hanya mendengkus kesal.
"Dasar wanita!"
"Kau mengumpati ku lagi Xander! Memang nya ada masalah apa dengan wanita? Mengapa kau selalu mengatakan 'dasar wanita' dengan ekspresi menyebalkan itu? Kau minta di pukul hah?" seru Alice dengan mata melotot dan tampang menghakimi
"Ahhh, tidak--tidak, aku tidak bermaksud demikian. Jangan memukul ku untuk saat ini, karna jika kau memukul ku. Aku akan berteleportase sendirian dan meninggalkan mu di sini. Kau bisa pulang dengan sendirian!" seru Xander tersenyum mengejek, ia menarik kedua sudut bibir nya saat Alice tiba-tiba diam dan menghentikan celotehan nya. Namun Xander membulatkan mata nya saat Alice tiba-tiba memegang lengan nya. Ia menatap gadis itu yang juga sedang menatap nya "Ada apa? Mengapa kau tiba-tiba memeluk ku seperti ini? Lepaskan tangan ku!"
"Tidak mau, aku tidak mau di tinggal sendirian di sini. Setidak nya kau harus membawa ku bersama mu, apa kau tega meninggalkan cewek imut seperti ku di sini?"
Xander kali ini terdiam sambil melongo, ia langsung menjitak kening Alice membuat gadis di sebelahnya itu merintih kesakitan. Xander menarik kedua sudut bibir nya saat Alice menatap nya dengan tajam, jika di pikir-pikir lagi. Ia memang lebih banyak tersenyum jika sedang bersama dengan gadis menyebalkan seperti Alice "Kenapa kau menjitak kening ku hah? Itu menyakitkan!" keluh Alice namun sedikit terpana dengan senyum Xander.
"Dasar wanita!" seru Xander lagi-lagi membuat Alice berdecih tidak suka, untuk sekarang ia memang tidak bisa memukul Xander karena Alice benar-benar takut untuk ditinggal sendirian. Tapi, setelah mereka keluar dari sini. Ia pasti akan memukul lelaki menyebalkan di samping nya sekarang.
"Ck, lalu sekarang apa? Apa kita harus kembali dengan melewati jalan sebelum nya?" seru Alice
Xander menimang, ia menatap lorong di belakang nya. Lalu sedikit melirik jam nya, ia menghela nafas nya "Sudah terlambat, jika kita melewati jalan itu. Maka kita akan ketahuan ayah ku dan aku tidak tau hukuman apa yang akan diberikan kepada kita jika ketahuan naik kesini tanpa ijin nya!"
"Ketahuan? Mengapa bisa? Apa mr.Erick mengawasi jalan nya?"
"Tidak, tapi ada seekor kucing yang berjaga di sana. Jika kucing itu adalah kucing biasa, mungkin itu tidak akan apa-apa. Tapi kucing itu benar-benar istimewa, aku bahkan tidak tau darimana ayah mendapatkan mahluk seperti itu!"
"Maksud mu, kucing nya bisa berubah menjadi manusia seperti serial 'Harry Potter'? Wahh, itu benar-benar ajaib!"
plakk.. Xander lagi-lagi menyentil kening Alice, "yak, kau kenapa hah? Kau selalu menyentil ku, tadi kau menjitak ku! Kau bahagia sekali di atas penderitaan orang lain!"
"Makanya jangan terlalu berpikir bahwa sihir itu nyata Alice, sihir memang ada. Tapi dalam serial 'Harry Potter', tidak ada yang berubah menjadi kucing Alice. Itu hanyalah sebuah tehnologi greenscrenn. Jangan terlalu kudet" kekeh Xander
"Ck, aku kan tidak tau. Jadi, seperti apa kucing ayah mu itu?"
"Dia bisa mencium bau dalam jarak yang cukup jauh dan dia akan segera melapor pada ayah ku!"
"Holl, kucing mu seperti anjing saja. Lalu apa yang akan kita lakukan?"
Xander diam, ia melepas tangan Alice yang sedikit membuat nya gugup. Xander menatap Alice yang tidak mau melepaskan tangan nya, ia menarik nafas nya dalam "Aku tidak akan meninggalkan mu sendirian di sini. Jadi lepaskan dulu tangan ku atau aku akan benar-benar meninggalkan mu!"
Alice segera menurut dan langsung melepaskan genggaman nya di tangan Xander, namun tiba-tiba Alice merasakan hatinya sedikit berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Raut wajah nya juga tiba-tiba berubah membuat Xander yang masih menatap tembok di depan nya sedikit menatap raut wajah Alice yang tidak seperti sebelum nya. "Ada apa? Mana yang sakit?" seru Xander khawatir segera berjongkok di depan Alice yang tiba-tiba duduk dan memegang hati nya.
"Ini, hati ku terasa sedikit nyeri. Sebenarnya ada apa ini? Aku sudah meminum obat nya tadi pagi, dokter hanya menganjurkan untuk minum sekali sehari karena penyakit ku belum diketahui dengan jelas"!
"Tunggu dulu, apa kau bermimpi tentang sesuatu lagi? Atau sesuatu tentang darah? Kematian?atau mimpi sebelumnya?"
Alice menggeleng membuat Xander menarik nafas nya kasar, ia langsung berbalik badan dan menunjukkan punggung nya pada Alice, "Mari, sebaik nya kau naik ke punggung ku saja. Aku akan membawa mu berteleportase, jika mencari jalan keluar akan terlalu lama!"
Alice mengangguk dan segera naik ke punggung Xander, lelaki itu langsung berdiri membuat nya harus memeluk leher lelaki itu. Xander tiba-tiba merasakan wajahnya panas saat lagi-lagi Alice merangkul nya dengan erat. Ia menggelengkan kepala nya dan segera fokus. Alice yang masih berada di gendongan Xander tiba-tiba terkejut saat menatap semua benda yang tadi mereka lewati berputar begitu saja. Rasa pusing dan mual langsung menyerang Alice.
Huppp, Xander mendarat sampai di dalam kamar nya dengan selamat. Sementara Logan yang masih sibuk dengan laptop nya langsung berdiri sakin terkejut nya ketika Xander yang tiba-tiba ada di dalam ruangan nya. Namun tatapan Logan langsung tertuju pada Alice yang berada di dalam gendongan lelaki itu, "Alice? Astagahhh, kau membawa nya berteleportase. Dia ingin muntahhh!" panik Logan yang langsung membantu Alice untuk berdiri dan segera membawa gadis itu menuju kamar mandi.
Xander hanya menatap mereka berdua dengan alis yang terangkat, lalu langsung mengambil ponsel nya dan mengambil bukunya. Hanya mendengar suara muntahan dari dalam kamar mandi. Lagian itu bukan salah nya, ia hanya ingin menyelamatkan gadis itu. Hingga tidak lama kemudian, Alice datang dibantu dengan Logan. Lelaki itu langsung membaringkan Alice di atas ranjang nya "Kau istirahat dulu, aku rasa pusing nya masih begitu terasa!" seru Logan yang hanya di angguki oleh Alice yang mulai memejamkan matanya. Dibanding dengan hati nya yang sakit, rasa pusing lebih mendominasinya.
Setelah Alice terlelap, Logan menghampiri Xander "Mengapa kau membawa nya berteleportase? Aku sendiri bahkan tidak mau jika kau membawa ku berteleportase!"
"itu situasi darurat! hey, apa yang sedang kau buka di laptop mu itu?"
Logan yang baru saja sadar,segera mengambil laptop nya dan duduk di sebelah Xander. "Ini, aku mendapat sedikit informasi dari internet. Di sini dikatakan bahwa pemilik dari benda kefanaan itu adalah anak yang lahir dari hubungan terlarang. Dia yang akan mengambil nya sendiri dan harus menghindari para iblis yang ingin mengambil nya!"
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang? Aku bahkan tidak tau siapa anak yang dimaksud itu!Lagian, apa maksud dari hubungan terlarang"
"Aku rasa itu seperti hubungan antar manusia dengan malaikat atau bahkan dengan iblis. Ya, aku rasa itu maksud nya!" jawab Logan yang kembali menscroll layar laptop nya "Tapi, aku mendapatkan sebuah mimpi lagi. Ada seseorang yang meminta tolong dan selalu menyebutkan nama Alice!"
Xander yang tadi hendak membuka buku nya segera menatap Logan serius, "dimana? kau ingat lokasi dan jam nya? karena alasan aku membawa Alice berteleportase adalah karena hati gadis itu tiba-tiba sakit.Aku sudah bertanya apakah Alice memimpikan sesuatu atau tidak, namun dia bilang tidak memimpikan apa-apa kali ini!"
Logan menatap Alice, "Aku tidak tau dimana lokasi nya dan bahkan tidak tau siapa yang meminta tolong itu!"