Bagian 11 || ∙Pesan Misterius dan Lambang ∙||
Mereka bertiga berhenti di sekolah yang lagi-lagi ramai dengan garis-garis polisi. Aneh, padahal ini masih pagi dan sekolah mereka libur untuk hari ini. Tapi mengapa banyak orang di sekolah mereka? Alice, Xander dan Logan turun dari mobil mereka. Menatap kerumunan itu dan perhatian mereka tertuju pada Mr.Tanaka yang terlihat sedang berbicara dengan beberapa polisi. Mereka berjalan mendekati sang kepala sekolah. "Sir, apa yang terjadi?" Mr.Tanaka menoleh dan mendapati tiga murid pentolan di sekolah ini sedang berada di depannya. Tapi karena pembicaraan mereka sedang serius, ia menatap ke sekeliling dan "Gordo, jelaskan apa yang terjadi pada mereka bertiga!" Gordo, ketua osis di SMA mereka mendekat, dan membawa tiga orang itu sedikit menjauh dari kepala sekolah. Gordo dengan surat ijin nya menaiki lantai dua, Xander membantu Alice untuk menaiki anak tangga itu. "Dia, Lyra. Ada korban yang seperti kemarin lagi!" ujar Gordo saat mereka berdiri di depan garis polisi. Menunjuk gadis yang tergeletak di lantai dengan bagian tubuh penuh sayatan, mata yang pecah. Dan, bagian dalam gadis itu yang berserak. Xander langsung menutup matanya, ia lagi-lagi harus mendapati pemandangan seperti yang ada di depannya. Sementara Logan masuk, dengan ijin dari polisi yang berada di sana. "Hati nya hilang!" serunya setelah mengamati organ dalam tubuh Lyra. Logan langsung berdiri dan menatap Alice juga Xander.
"Lagi?" guman Alice yang juga ikut merasa bagian hatinya. Semalam ia merasa sedikit ngilu di bagian hatinya. Namun tidak berlangsung cukup lama, karena ia langsung meminum obatnya.
"Apa kau baik-baik saja? Jika kau tidak tahan untuk melihatnya, kita bisa segera pergi dari sini Xander!" Alice yang menatap Xander menutup matanya dan wajah nya sedikit pucat langsung mengalihkan perhatian.
"Tidak apa-apa!" jawab Xander berusaha untuk tidak muntah saat ini juga
Gordo menatap tiga orang itu dengan sedikit rasa penasaran, lebih tepatnya penasaran tentang apa yang membawa mereka bertiga ke sekolah pada hari libur seperti saat ini. Sementara ia datang, karena panggilan dari Mr.Tanaka yang membuat tidur nya terganggu.
"Jam berapa kejadian ini Gordo? Dan apa polisi menetapkan tersangka?" Logan mendekati Gordo yang berdiri tidak jauh dari mereka. Logan membiarkan Alice membawa Xander sedikit menjauh dari korban itu.
"Sekitar pukul dua belas malam sampai pukul-- tidak tau lebih tepatnya. Tapi polisi bilang sampai dini hari! CCTV sekolah juga bisa-bisa nya tidak bekerja, dan satpam kita juga sedang di interogasi. Beliau memang tau Lyra datang ke sekolah untuk mengambil handpone nya yang ketinggalan. Namun saat itu, pak satpam tidak bisa menemani karena dia kebelet buang air besar. Ia sudah menyuruh Lyra untuk menunggu nya selesai buang air besar. Namun, Lyra tidak terlalu khawatir dan mengambil ponsel nya yang tertinggal di kelas kita! Pak satpam menemukan darah di kelas kita, lalu langsung berteriak menelepon polisi!"
"Tunggu dulu, jadi kejadian ini di kelas kita? Berarti di sana juga ada darah Lyra?" Xander yang sudah lebih baikan bertanya pada Gordo, karena ia dan Alice mendengar penjelasan lelaki itu juga.
"Aku rasa Ya, karena polisi masih belum selesai memeriksanya. Makanya petugas sekolah belum membereskannya!"
Alice, Logan dan Xander saling menatap, "Kami ingin ke ruang kelas kita. Ada yang perlu kami periksa lebih dulu!" seru Logan
"Tidak masalah, mari!"
Mereka berjalan menuju kelas mereka di lantai dasar, dan Gordo benar. Jalan menuju kelas mereka di hiasi oleh darah. Bisa dipastikan bahwa pelaku pasti menyeret tubuh Lyra dari lokasi kejadian dan menempatkannya di lantai 3 gedung mereka. Tepat dimana Alice dan kedua sahabatnya menemukan korban pertama.
Mereka sudah berada di depan kelas, setelah bernegosiasi dengan petugas di sana. Mereka pun akhirnya diberi ijin untuk masuk ke dalam ruangan kelas. Dan begitu masuk di sana, perhatian Alice, Logan dan juga Xander tertuju pada lambang yang juga ada di ukir di atas darah itu.
Mereka saling memandang satu-sama lain, bersamaan dengan ponsel mereka yang tiba-tiba berbunyi bersamaan. Mereka mengambil ponsel mereka dan pergi dengan tiba-tiba, meninggalkan Gordo yang kebingungan dengan mereka. Namun Gordo tidak terlalu penasaran, ia lanjut mengamati darah itu. Hingga perhatiannya juga tertuju pada ukiran benda yang ada di gumpalan darah itu.
*****
Mobil Logan terhenti di depan rumah yang sudah tidak berpenghuni. Nuansa nya terasa begitu menyeramkan ketika tidak ada penerangan sama-sekali. Alice menatap sekeliling rumah itu, lalu menghela nafas. Baru saja menatap area luar rumah itu, sudah membuat bulu kuduk nya berdiri. Ia juga tidak tau mengapa ia ikut dengan rencana gila kali ini. Rencana yang begitu tiba-tiba.
"Apa kau melihat sesuatu di dalam sana?" seru Xander sambil berdiri di sebelah Logan
"Ada, sangat banyak. Namun, ada beberapa yang menarik perhatian ku!" seru Logan
"Ada apa?"
"Ada ras iblis di sini, tidak hanya hantu biasa!" seru Logan sambil menatap rumah itu
"Iblis? Apa itu jikininki? Iblis pemakan manusia?" Alice yang sejak tadi diam angkat bicara ketika melihat sosok-sosok itu ada di depan mereka.
"K-Kau bisa melihat mereka Alice?" ujar Logan menatap gadis di sebelah nya
"Bagaimana jika aku katakan bahwa semenjak kejadian di sekolah itu, aku benar-benar bisa melihat mereka? Holll, aku rasa ini tidak penting, tapi point penting nya. Apa itu penting untuk sekarang?" ujar Alice lalu mulai melangkah mendekati gerbang itu
Gerbang nya sudah tua, banyak lumut dan karatan. Alice yakin jika ia mendorong pintu itu, maka satan-satan, serta iblis yang ada di dalam rumah itu pasti akan melihat mereka. Bunyi gerbang berkarat terlalu identik dengan sesuatu seperti mereka, MANUSIA.
"Holl, darimana dia mendapatkan kosa kata itu?" kekeh Logan membuat rasa gentar nya tadi menghilang sedikit. Sementara Xander masih berdiri di tempat ia berdiri semula, menarik sudut bibir nya, Itu pasti kutipan dari film, dasar bocah Batin Xander sambil ikut berjalan mengikuti Alice.
"Kau yakin kita akan melakukan ini?" seru Logan untuk meyakinkan dirinya sekali lagi. ia menatap ponsel nya, sudah nyaris sore sekali dan benar dugaan-nya. Jam sudah mengarah pada pukul 4 sore. Terlebih untuk sekarang, daerah utara cenderung lebih sering gelap lebih dulu. Logan menatap Alice dan juga Xander, ada yang sedikit berbeda di antara kedua sahabatnya itu. Ia hendak bertanya, namun suara gadis di depan nya lebih dulu menyahut.
"Ayolah, aku rasa kau tidak setakut itu Logan. Lagi pula, ini demi kebaikan kita. Kita hanya perlu mengambilnya dan kembali!" sahut Alice
Beberapa jam sebelumnya, mereka memang membaca sesuatu yang tiba-tiba masuk ke dalam pesan ponsel mereka. Dan itu terjadi secara bersamaan di waktu mereka sedang bersama juga. Awalnya mereka ingin mengabaikan pesan itu, namun karena terlalu menyita perhatian. Alhasil mereka berakhir di sini, di depan gerbang tua yang amat sangat jarang mereka dengar.
"Tapi, mengapa kedengaran-nya kau begitu mudah mengatakannya, seolah kau sudah pernah kemari?"
"Tidak ada yang akan kita dapatkan jika kita tidak mencoba Logan, sesekali kau bisa mendengar perkataan Alice, dan berhenti lah meragukan kemampuan mu!". Kali ini Logan benar-benar terdiam saat mendengar ucapan dari Xander, entah mengapa, lelaki itu makin aktif beberapa hari terakhir ini.
"Ya, aku rasa kau benar. Baiklah, aku siap dan!" Logan menjeda ucapannya, membuka gulungan jaket nya dan menatap jam tangan nya yang sudah menunjukkan pukul 5 sore dan itu berarti "Kita punya waktu 4 jam sebelum para iblis itu datang dan menyerang kita."
"Bukankah tujuan kita untuk mencari salah-satu dari mereka?" seru Alice
"Bukan, kita tidak mencari mereka Alice. Kita hanya ingin mengambil sesuatu dari tempat ini!" Sahut Logan kembali membuka pesan itu. Di situ tertera mereka harus mengambil sebuah benda yang ada di dalam kotak, tepat di lantai dua rumah itu. Jika mereka tidak mengambil nya, maka sesuatu yang buruk akan menimpa mereka bertiga.
"Hey, apa kalian tidak masuk? Jika tidak, aku akan pergi lebih dulu!"
Alice dan Logan yang masih asik berdebat saling menatap dan melirik ke arah Xander yang ternyata sudah membuka gerbang itu dan sudah selangkah lebih dulu dari mereka. Shittt, Jika benar begini, maka tidak akan ada jalan kembali. Karena, waktu 4 jam ini, mungkin akan terasa begitu lama. Alice dan Logan akhirnya melangkah melewati gerbang itu dan memasuki bangunan tua itu, tanpa sadar bahwa sosok seorang gadis sedang menatap mereka dari kejauhan.
"Aku berharap kalian bisa mengambilnya!"
****
"Kau yakin mereka sudah memasuki gerbang itu?"
"Yes my Lord, mereka sudah memasuki gerbang nya. Hanya saja, gadis itu tidak sendirian, ada dua lelaki yang menemaninya! Dan, kabar buruk nya, mereka juga sama dengan nya!"
"Sama? Bagaimana mungkin? Aku rasa aku hanya memberikan cairan itu pada DNA gadis itu, bagaimana mungkin ini bisa terjadi?"
"Hamba juga tidak tau My Lord, tapi saya sudah mengawasi mereka selagi saya berada di bumi!"
"Baiklah, kita akan melanjutkan percobaan ini. Aku tidak yakin mereka akan kembali dengan cepat, untuk itu, kita butuh pengganti mereka bukan?"
Gadis dengan mata yang tertutup itu mengalihkan perhatiannya, dengan ragu ia mengangkat dagu nya dan "Apa maksud anda Lord?"
"Sudah lah Mizuki ,kau hamba ku yang setia namun sayangnya kau tergiur dengan godaan satan itu.Dan meskipun demikian tentu saja kau tau bahwa semua ini sudah aku siapkan sejak awal dan bukankah ini terlihat sempurna?"
Mizuki, gadis itu sedikit mengedipkan matanya saat seberkas cahaya menyorot tepat ke arah wajah nya. Ia menatap ke arah sumber cahaya dan Mizuki kali benar-benar kehilangan kata-kata, di depan nya, tepat di hadapannya, ada tiga sosok yang mirip dengan ketiga manusia yang sedang memasuki gedung itu.
"Bagaimana Mizu? Apa gadis ini mirip dengan Alice?"
"I-itu seperti nyata my Lord, aku-...aku tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang"
"Baguslah, aku akan mengirim mereka dan sudah membuat apa yang harus mereka lakukan selagi Alice memasuki rumah itu, ahhhh, bukan, memasuki dunia itu dan aku harap dia bisa kembali dengan selamat!"
"L-lalu, bagaimana ini akan bekerja my Lord?"
"Ini akan bekerja ketika mereka tertidur. Ada beberapa tempat di ruangan itu yang membuat mereka tertidur dan saat itu lah, ini akan bekerja!" seru sosok dengan jubah hitam yang menutupi semua tubuhnya itu. Ia mengelus sosok yang sangat mirip dengan Alice itu, lalu menghela nafas "Aku harus segera kembali, jaga tempat ini dan bawakan tugas mu!"
"Baik my Lord"
Sosok itu terus menatap ketiga menusia yang sudah memasuki rumah itu, ia menarik nafas nya dalam. Meski ini hanya di dalam mimpi mereka, tapi ia berharap Alice bisa menyelesaikan nya dengan baik. Karena semua ini adalah petunjuk untuk mereka.
****
Alice menatap sekeliling nya, semakin ke dalam dan memasuki halaman bangunan itu. Semakin banyak mahluk halus yang mendekati mereka. Namun sebagian dari para mahluk halus itu hanya menatap mereka, lalu menjauh. Tidak melakukan apa-apa ketika menatap nya. Ia meneguk air liur nya saat sadar bahwa bentuk dari mereka benar-benar tidak ada yang bisa dipandang tanpa menggoyang isi perut nya. Alice menarik nafas nya dan berusaha untuk tidak terpengaruh
"Kau harus terbiasa dengan ini Alice, aku harap kau tidak akan pingsan di tempat ini. Waktu kita tidak banyak!" ujar Xander yang memang sengaja berjalan di belakang gadis itu. Sejak memasuki gerbang, Xander sudah memperhatikan gadis itu. Kening nya benar-benar basah akibat dari keringat yang terus mengalir dan wajah gadis itu yang semakin pucat.
"T-tidak, aku baik-baik saja kok!" ujar Alice, meski tidak yakin dengan apa yang ia katakan sekarang.
"Sudah lah, jangan melakukan kebohongan jika kau benar-benar tidak kuat. Kemari!" seru Xander
"Hah?" seru Alice saat ia benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Xander
"Ck, kemari lah. Kau bisa memegang tangan ku jika kau tidak kuat untuk berdiri!" seru Xander menarik tangan Alice mendekat dan menyatukan kedua telapak tangan mereka.
Alice mengerutkan kening nya, ia benar-benar heran dengan jalan pikiran Xander. Lalu, tatapan Alice turun ke bawah, tepatnya ke arah tautan tangan mereka.
Tikk
"Holl, Kenapa kau menyentil ku, dasar sialan!" seru Alice segera melepaskan tangan nya dari Xander dan mengusap kening nya. Pasti sekarang kening nya sudah memerah, s**t, Alice mengumpat dalam hati. Padahal kan, aku sudah berusaha keras untuk mengurus kulit ku dan selalu menjaga nya, namun karena ulah Xander, kulit ku pasti sedang memerah, shit....shit...shit... Batin Alice lalu segera memukul perut Xander dan berjalan cepat, bahkan melewati Logan yang sudah berada di depan nya.
"Ingat Alice, waktu kita berdua tidak banyak di sini. Sudah pukul lima lewat seperempat menit dan itu artinya Logan akan di sini lebih lama dari kita!" bisik Xander pada Alice
"Aku tau, semoga dia tidak trauma dengan apa yang terjadi nantinya!"
"Ada dengan kalian berdua? Apa kau lagi-lagi mengganggu nya?" seru Logan saat Xander sudah berjalan bersama dengan nya
"Tidak ada!"
"Hey, sebagai sesama pria. Aku tau apa yang sedang kau rasakan, di dalam kondisi saat ini, lindungi dia dan jangan selalu membuat nya kesal. Kau tau itu bukan Xander?" seru Logan yang lagi-lagi meninggalkan Xander yang segera menyusul Alice yang sudah cukup jauh dari mereka.
"Holl, mengapa mereka berdua bersikap kekanakan sekali? Dasar menyebalkan!" seru Xander dan segera menyusul mereka berdua.