Unita membuka matanya perlahan, tangan Bayu masih melingkar untuk memeluk tubuhnya yang kalah besar, menyisihkannya meski berat, segera menyibak selimut, memunguti semua pakaian miliknya yang tercecer, ke luar dengan telanjang ke kamar mandi. Unita masih belum tahu ini jam berapa, dia hanya tahu di luar pasti sudah gelap hingga semua ruang di galeri ini jadi ikut gelap juga.
Seteleh membersihkan diri, Unita berniat untuk pulang, tapi apa? Bayu sudah berdiri di depan pintu kamar mandi, ke duanya tak ada yang berucap, hanya saling memandang dengan bibir sama bungkam.
Bayu mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah segar itu, meski tanpa make up nyatanya Unita tetap sempurna di matanya.
Unita membuang muka, tak menepis tapi tak juga menerima apa yang akan Bayu lakukan di dirinya, “Aku akan pulang. Rumahku bukan di sini.” Unita segera ke ruang lukis, mencari tasnya, dia akan pergi dari galeri Bayu untuk selamanya, cukup satu kesalahan saja.
Bayu terkekeh, mengekor Unita hingga ke ruang lukis, “Hey?” memeluk Unita dari belakang, memberikan kecupan di pundak Unita saat wanita yang terlihat marah itu masih mencari entah apa dari dalam tasnya.
Unita membuang napas kasar, “Lepas, Bayu.” Perintahnya tanpa membentak, dia hanya kesal dengan dirinya sendiri. Setelah menemukan bedak dengan ukuran kecil yang memang selalu dia bawa ke mana pun, membubuhkannya ke wajah agar tak terlalu pucat.
Bayu tetap acuh, tak peduli dengan Unita yang kesulitan bergerak, hanya memeluk saja seperti ini sambil mengecupi pundak dan juga punggung di sisi atas.
Setelah bedak, Unita memakai lipstiknya juga, barulah mengemasi semuanya dan mengurai pelukan itu dengan kasar, “Cukup, Bayu.”
“Ada apa denganmu, Unita?” Bayu menyerah, melepas pelukan itu dan menatap heran Unita yang begitu terlihat marah.
“Setalah ini jangan pernah menghubungiku lagi. Aku akan pergi.”
Bayu terkekeh,”Oiya? Sejauh apa kamu bisa pergi? Aku tahu kamu pun menikmatinya tadi. Lalu kenapa sekarang? Kamu mau lagi?”
“Cukup!” Unita menghentikan pemikiran Bayu yang sudah keliru tentangnya.
“Bukankah kamu mencintaiku dan aku mencintamu? Apa yang salah, huh?!”
“Rasa ini yang salah, rasa ini, Bayu. Rasa ini!” Unita mengambil tasnya, melangkah ke luar.
Bayu dengan cepat mencekal tangan Unita, tak akan dia biarkan Unita pergi dengan mudah.
Unita memutar tangan yang dicekal Bayu agar terlepas, meski cekalan itu erat dan tak menyakitinya, nyatanya pergelangan tangannya tak jua bisa terbebas. “Lepas, Bayu!” bentaknya ingin segera pergi.
“Coba saja.” Bayu tak takut sedikit pun.
‘Plak. Plak. Plak.’ Unita mulai memukuli tangan Bayu yang mencekal, d**a telanjang karena Bayu hanya memakai celananya saja tanpa baju, lengan, apa pun yang kiranya bisa membuat Bayu kesakitan dan berakhir dengan melepas cengkeraman ini. “Lepas, Bayu! Lepas!!” teriaknya.
Bayu tetap diam, membiarkan pukulan demi pukulan menghukum, meski ada sebuah yang terasa panas, Bayu tetap tak melepas cengkeramannya.
“Lepas!!” Unita terus memukul hingga tangannya lelah, membuat tubuhnya meluruh di lantai dan berakhir dengan menangis, terduduk di lantai di bawah tatapan Bayu yang tak mau melepas cekalan tangan itu juga.
Bayu berjongkok, tangannya yang lain dia gunakan untuk mengusap pipi Unita, menghilangkan basah yang merusak pemandangan indah, “Jangan menghukum dirimu sendiri, Unita.” Menarik tubuh Unita, memeluknya erat sambil mengusap punggung itu agar amarah Unita reda.
“Semua ini salah, Bayu. Salah.” Lirih Unita yang masih saja tak mampu menghentikan tangisnya.
Bayu terkekeh, “Jangan terlalu memikirkannya, Unita. Jalani saja apa yang ada. Apa aku menuntutmu sesuatu, hm?” mengurai pelukan itu agar bisa menatap mata Unita. Bayu menggeleng sambil tersenyum, membingkai wajah Unita, “Apa aku menuntutmu? Tidak, kan?” ulangnya karena Unita tak juga memberinya jawaban.
Unita menggeleng. Mantra apa yang dimiliki Bayu, nyatanya Unita terus saja mengeleng untuk membenarkan sanggahan Bayu yang berarti setuju dengan semua ucapan Bayu.
“Aku akan tetap ada di sini. Di sini denganmu, hanya kita berdua.” Bayu tersenyum, mengecup singkat bibir Unita yang bergetar tanpa melumatnya karena hanya ingin memenangkan Unita saja. Tersenyum lagi, memeluk Unita lagi, dan menenangkannya lagi. Bayu tak akan egois untuk mengambil hati Unita. Yakin dengan begini, dengan hangat yang dia miliki, dia akan bisa menebut Unita dengan mudah dari pria yang tak berguna seperti Nurdi Herlambang.
Sedangkan Nurdin...
Baru saja menutup panggilan video dengan Gwenza, geram karena tahu kalau Unita belum pulang, terlebih Gwenza dan juga bibi yang menemani putrinya juga tak tahu ke mana perginya Unita sampai semalam ini. “Apa di galeri sesibuk ini hingga melupakan anaknya sendiri?” segera menelepon Unita, entah apa yang akan dia umpatkan ke istrinya setelah panggilan telepon ini diterima oleh Unita nanti.
‘Drrrtttttt.’ Bayu mengurai pelukan itu. Tas Unita yang ada dekat dengannya dan tak terkancing dengan benar, membuat Bayu dengan mudah menemukan ponsel yang berdering itu. Unita yang menangis tak mungkin dia biarkan untuk menerimanya, Bayu memutuskan untuk menerima panggilan telepon itu meski tahu itu adalah telepon dari Nurdin.
“Apa kamu bodoh. Huh?!” Nurdi langsung meluapkan amarahnya bahkan sebelum Unita membuka suara, “Jam berapa ini? Uangku kurang sampai kamu terus bekerja di galeri hingga melupakan anakmu sendiri? Kalau tidak becus mengurus anak katakan saja, Unita. Aku akan menambah pekerja di rumah agar Gwenza dan Gevin tidak kesepian dan bingung saat kamu tidak ada di rumah. Aku—“
... Bayu terkekeh. Entah apa yang dikatakan lagi oleh Nurdin, Bayu membisukan panggilan itu dan menaruh ponselnya kembali ke tas Unita.
“Dari siapa?” tanya Unita yang mulai tenang, bahkan air matanya sudah kering dengan nada bicara yang santai seolah tak ada apa-apa.
Bayu membantu Unita yang masih terduduk di lantai untuk bangun, memeluknya sambil terus membelai punggung itu, “Gwenza mencarimu. Suaranya sangat merdu, pasti dulu masa kecilmu juga seperti itu.” Ucapnya tepat di telinga Unita, terus mengeratkan pelukan untuk menyalurkan hangat. Senang saat Unita menerima semua pemberiannya seperti ini.
Unita terkekeh, “Ya, banyak yang mengatakan begitu.” Unita membuat jarak, “Aku ... akan pulang.” Imbuhnya dengan senyum yang sudah menghias wajah.
“Berjanjilah untuk kembali besok atau aku akan datang untuk menjemputmu di mana pun kamu bersembunyi.” Saat Unita mengangguk, Bayu memberikan ciuman di bibir itu, mengantar Unita ke bawah, dan melambaikan tangan saat mobil yang dikendarai Unita mengklakson sekali sebelum benar-benar pergi. Bayu belum juga masuk hingga mobil itu terlihat begitu kecil. Tubuhnya yang tak mengenakan baju, tak membuatnya kedinginan meski angin malam menyapa, Bayu malah terkekeh sambil memasukkan tangannya ke saku celana, “Aku akan merebutmu, Unita. Karena hanya dengan bersamaku kamu akan bahagia, hanya bersamaku saja.” Ucapnya dengan mata yang terus mengunci laju mobil Unita meski sudah berbaur dengan kendaraan lainnya.