Orang ke dua

1346 Kata
Hari berganti. Unita baru saja mengantar Gwenza dan Gevin dari teras, ke duanya berangkat ke sekolah dengan diantar sopir. Setelah mobil itu melewati gerbang rumah besarnya, Unita berbalik untuk mengambil kunci mobilnya, dia akan ke galeri hari ini, acara besok tak boleh terlewatkan hingga kurang meriah. “Nyonya Unita, ada telepon.” Unita yang masih memeriksa isi tasnya, segera menerima gagang telepon rumah yang diulurkan oleh bibi, “Ya?” “Ke mana ponselmu? Apa sudah tidak berfungsi, huh?” Unita yang mendengar dan tahu itu suara Nurdin Herlambang, hanya terkekeh saja, “Semalam kehabisan baterai, aku mengisi daya memang, tapi belum kunyalakan. Mas kapan pulang?” merogoh ponselnya, memang mati. Unita menyalakannya dan beberapa saat kemudian ada pesan masuk, dari Bayu. Bayu, [Aku siang nanti akan ke galeri, ada yang ingin kutunjukkan.] Unita tersenyum, mulai menerka hal atau bahkan barang apa yang akan diperlihatkan oleh Bayu nanti. “Unita?! Unita!!” “Ya?! Kenapa, Mas? Jangan terlalu keras, telingaku berdengung.” Unita sedikit menjauhkan gagang telepon itu karena menyakiti gendang telinga rasanya. “Aku bertanya beberapa kali kamu mau dibawakan apa? Tapi kamu tetap diam. Apa suaraku tidak sampai sana? Apa suaraku kurang jelas? Atau kamu yang sedang tidak berada denganku saat ini, huh?!” ‘Deg.’ Unita merasa tersentil oleh ucapan itu, “Ak—aku di sini, Mas. Sinyalnya susah, aku—aku tidak dengar tadi.” kilah Unita. Harusnya dia tak membuka ponselnya dulu tadi. “Mau apa? Kalau semua beres aku akan pulang besok.” “Terserah, Mas. Mas sampai rumah dengan selamat saja aku sangat bersyukur.” Unita memang hanya menginginkan itu saja. Setelah berbincang tak terlalu lama dan Nurdin menutup teleponnya, Unita bernapas lega, merasa dia terbebas dari hal yang sangat mengkhawatirkan. Berdiri dan berjalan ke luar, “Bi, aku berangkat ke galeri. Kalau ada apa-apa telepon saja, Gwenza akan pulang terlambat karena latihan balet, Gevin juga banyak pelajaran tambahan, jangan terima tamu, aku berangkat dulu.” ucap Unita sambil terus melangkah, bersisian dengan bibi. Segera masuk ke mobil setelah mendapatkan anggukan, dan melajukannya ke galeri, Unita benar-benar sibuk hari ini. “Nyonya Unita,” sambut pekerja di galeri dengan tab dan wajah cemasnya saat Unita baru saja turun dari mobil, “aula di belakang sudah siap, tapi klien kita minta menggunakan galeri sisi depan, beliau baru saja menghubungi, kalau seperti ini patung Dewi Sri di depan itu harus kita pindah, Nyonya.” bebernya ke nyonya Unita, si pemilik galeri yang hampir tiga dua tahun diabdikan dirinya. Unita mengerutkan kening, “Aku tahu semua patung yang akan dipamerkan untuk besok, aula belakang lebih dari cukup. Kapan semua patung itu akan sampai? Aku sendiri yang akan memantaunya nanti. Aku tidak mau ada yang berubah di galeri depan.” Unita segera menuju ke aula belakang. Bahkan tak menaruh tasnya di ruangan terlebih dahulu. Unita paling tidak suka dengan klien yang selalu membuat aturan sendiri dan berniat mengubah sisi depan, dia bisa marah nanti. Unita ikut mengatur semuanya, sampai matahari berada di atas kepala, dan Unita tetap turun untuk mengatur ruang di aula karena beberapa patung yang akan dipamerkan pun mulai datang meski masih sebagian kecil. “Aku yakin ini akan muat, aku tahu kapasitas gedung milikku sendiri. Selesaikan semua, kepalaku agak pusing, aku akan istirahat sebentar di ruanganku.” Unita memberikan tab ke pekerjanya, meninggalkan aula belakang dan masuk ke ruangannya sendiri. Duduk dengan menyandar di kursi kebesarannya, memijit pelipis karena pening memikirkan pekerjaan yang menguras tenaga dan juga emosi. ‘Ceklek.’ Unita membuang napas kasar, “Bisakah mengetuk pintu dulu sebelum masuk?!” agak membentak karena kepalanya pening malah diganggu seperti ini. “Tidak karena tanganku sangat sibuk.” Unita segera mendongak saat mendengar suara itu, “Bayu? Kau ... ?” Unita menggantung kalimatnya, senyumnya mengembang, dan dia pun berdiri, berjalan mendekat ke Bayu. Bayu terkekeh, ditaruhnya kotak makan di meja kerja Unita dengan sembarang, memeluk Unita dan segera melumat bibirnya meski hanya singkat, “Aku yakin kamu belum makan.” “Tapi kalau kamu ke sini seperti ini aku—“ “Ssssttt! Kita bisa makan di luar.” Bayu mengambil kotak makan yang tadi dibawanya, segera ke luar tanpa menunggu Unita protes atau bahkan menolak usulan darinya. Unita hanya terkekeh sambil menggelengkan kepala, mengambil tas, mengekori Bayu seolah sosok itu memiliki magnet yang selalu berhasil menariknya ke mana pun Bayu pergi. “Ini?” Unita merasa aneh dengan mobil yang dibawa Bayu. Ini bukan mobil yang biasa dipakai Bayu untuk menghadiri pameran seni di mana pun. Ini... “Aku baru membelinya tadi dan makanan ini hanya sedikit cara untuk merayakannya.” Bayu meletakkan kotak makan di bangku belakang, membukakan pintu untuk Unita dan menggeleng ke kali agar Unita segera masuk. Unita tersenyum, masuk dan segera memasang sabuk pengaman untuknya sendiri. “Siap?’ tanya Bayu yang juga sudah bersiap di depan kemudi. Saat Unita mengangguk, Bayu mulai melajukan mobilnya. “Apa aku orang pertama yang naik ke mobil ini?” Bayu terkekeh, “Tentu saja bukan.” Saat Unita mengerutkan keningnya, Bayu tertawa terbahak-bahak, bahkan matanya menyipit dengan gigi yang hampir terlihat seluruhnya, “Aku orang pertama yang naik, membawanya ke galerimu, dan kamu adalah orang ke dua setelahku.” “Tidak lucu, Bayu.” Unita kesal kalau Bayu sudah seperti ini. “Ya, karena aku bukan pelawak. Hahahaha.” Keduanya tertawa bersama. Hingga Bayu menepikan mobilnya di danau buatan yang bertempat luas. Ini adalah danau yang airnya digunakan untuk pembangkit listrik, “Turunlah. Aku sering ke sini saat suntuk.” Ajaknya sambil turun lebih dulu. Mengambil kotak makan yang dibelinya tadi, dan mengajak Unita duduk di bangku taman kosong dekat mobilnya berhenti. Unita tak segera duduk. Dia lebih memilih untuk mendekat ke bibir danau yang diberi pembatas pagar cor sepaha orang dewasa, membuka ke dua tangannya, dan menarik napas dalam, “Sangat sejuk dan damai.” Memejamkan mata untuk lebih merasai angin yang mengapa kulit dan menerbangkan rambutnya. Melihat itu Bayu mendekat, memeluk Unita dari belakang, mendekapnya erat, dan memberi kecupan di pundak Unita, “Aku pun merasakan itu juga saat berada di tempat ini.” Unita memeluk tangan Bayu yang menutup perutnya, mengusap lengan itu dengan mata yang masih saja memejam. Rasanya sangat nyaman sekali. Bayu merayapkan tangan kirinya hingga ke dagu Unita, mendongakkan wajah itu agar bisa menatapnya, dan tanpa aba-aba segera memagut apa yang dia sukai sejak awal. Menyelusupkan lidah hingga bertemu di sana, mengajaknya ke dalam mulutnya hingga melilit, Bayu selalu ingin melumatnya hingga Unita hafal dan menjadi rindu bila sehari saja tidak melakukan hal yang menyenangkan ini. Unita membuka mata, mata Bayu yang teduh menatapnya juga, seperti dia tengah kepanasan dan diguyur oleh air laut yang menyegarkan saat ini. Bayu membuat jeda, mengusap jejak basah dengan jempol kirinya, tersenyum, “Jangan hanya karena bibir itu begitu manis sampai kamu melupakan makan siangmu.” Unita terkekeh, “Kamu merusak suasana, Bayu.” “Tidak, aku hanya tak mau kamu sakit hanya karena aku menciummu.” selak Bayu. Mengurai pelukannya, mengajak Unita untuk duduk, dan membuka kotak makan yang dibawanya tadi. “Apa ini?” tanya Unita yang tahu kalau ini adalah mi ayam dengan banyak daging dan juga bawang bombai di atasnya. Tapi ada kotak lain yang membuatnya ingin bertanya demikian. “Ini kimchi, kamu akan menyukainya saat memakannya bersamaan dengan mi yang aku bawa.” Unita terkekeh, “Jangan bilang kamu suka nonton film Korea.” tebaknya. “Tentu saja tidak.” Bayu mengambil sumpit, menjumput kimchi dan mencampurnya dengan segulung mi, “Aku tidak sengaja memakannya saat membeli mi di restoran ini juga. Hak!” pintanya sambil menyodorkan sumpit dengan gulungan mi itu ke mulut Unita, “aku hanya jatuh cinta dengan rasanya sebelum bertemu denganmu.” Bayu menggulung mi dan kimchi lagi, menyuap untuk dirinya sendiri. Unita mengunyah dengan mengerutkan kening, “Aku? Apa hubungannya?” Bayu terkekeh, “Bukankah kamu sama? Manis, segar, dan juga pedas, kamu selalu berhasil membuatku membara, Unita.” Unita yang merona membuat Bayu tak tahan untuk mencuri satu kecupan di bibir yang sama rasa dengan bibirnya. Terkekeh karena Unita terlihat kesal karena bibir itu malah belepotan dengan noda kuah mi yang bercampur dengan kimchi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN