Keesokan harinya...
Unita berangkat ke galeri seperti biasanya, tapi tak jua tiba di sana, dia malah menghentikan mobilnya di pelataran parkir galeri seni lukis tak sebesar galeri miliknya. Merapikan ramput dan pakaian yang dia kenakan, serta memastikan jejak kemerahan di dadanya tertutup dengan baik.
Unita segera masuk tanpa mengetuk, menuju ke ruang lukis di lantai dua, dan menemukan siapa yang dicarinya di sana. Unita mendekat, memeluk sosok itu dari belakang, punggung yang terus bergerak karena empunya tengah melukis, Unita tetap saja menempelkan diri di punggung itu.
Bayu berhenti, menghela napas, kembali melukis lagi.
“Apa kamu marah? Bukankah aku milikmu di sini? Saat ini?” Unita mengusap punggung Bayu, mengecup punggung yang masih terbalut kaos santai.
Bayu menaruh kuas dan palet di meja kecil di dekatnya, menggantinya dengan kain untuk membersihkan cat yang masih basah, dan berbalik untuk menghadap ke Unita, “Jangan menggodaku, Unita.”
Unita tersenyum, “Tidak, aku hanya memelukmu, apa itu salah?”
“Ya.” Bayu berdiri, mengambil minuman dingin di lemari pendingin tanpa menawarkannya ke Unita. Saat Unita mendekat ke arahnya, Bayu membuang muka, rasanya amarahnya masih saja membakar sejak kemarin.
Unita memeluk Bayu, menempelkan kepala di dadanya, dugup itu bergemuruh, mungkin Bayu masih marah, dan semua karenanya. “Apa kamu sudah makan?” tanyanya tanpa melepas pelukan.
“Jangan terlalu perhatian.”
“Memangnya kenapa?”
“Karena aku tidak menyukainya.”
“Biasanya kamu suka?”
Bayu membuang napas kasar, menghabiskan minuman dingin itu, membuang kalengnya, dan berlalu mendekat ke wastafel, mencuci tangannya untuk mencari kesibukan agar punya alasan untuk mengabaikan Unita. Saat sepasang tangan melingkar di perutnya, Bayu membatu sesaat, Unita tak mau berhenti menggoda ternyata. Andai wanita yang dia cintai itu tahu bertapa membaranya dia sejak kemarin? Mungkin sosok itu akan berani mendatanginya.
“Maafkan aku, akan kupastikan kejadian kemarin tidak terulang saat kita bersama.” Unita mengatakannya sambil menempelkan tubuhnya, membalut Bayu dari punggungnya.
Bayu melanjutkan acara mencuci tangan itu, mengeringkannya dengan handuk, dan beranjak menuju ke ruangan lain. Ruang melukis ini menjadi pengap sekarang, dia membutuhkan tempat baru, dan berlabuh di ruang santai. Ruangan ini lebih pribadi karena Bayu biasa menerima kerabatnya yang datang, makan, atau bahkan menonton TV di sini juga. Ini adalah ruangan ke tiga yang nyaman selain kamar dan juga ruang lukisnya.
Bayu tahu Unita mengekor, saat Unita ikut duduk di kursi panjang, mulai mendekat dan akan memeluknya lagi, Bayu menatap dengan sorotnya yang tajam, “Apa kedatanganmu hanya ingin mengajakku bertengkar? Pulanglah, Unita? Biarkan aku tenang untuk beberapa hari dulu.” Bayu tak mau kemarahannya berakhir buruk untuk Unita.
Unita tidak mau dengar, dia yang tadinya duduk di samping Bayu, beralih, naik ke pangkuan Bayu, tersenyum sambil terus menggoda Bayu yang belum juga melunakkan wajah marah itu. Menarik tangan Bayu agar memegangi pinggulnya, Unita tak mau terjatuh dari pangkuan ini karena Bayu tak mau menyandar dengan benar.
Bayu yang geram segera melumat bibir yang tersenyum mengejeknya itu. Melakukannya dengan kasar, tak peduli andai akan bengkak nanti setelah aksinya ini. Tangannya juga semakin erat memeluk, Bayu ingin egois, tak mau membagi Unita dengan siapa pun, termasuk dengan hati itu juga, Bayu ingin memiliki untuk dirinya sendiri.
Unita kewalahan, lidahnya seolah kelu dan nyeri di waktu yang bersamaan. Meski begitu Bayu memang pencium handal, tak perlu berhenti karena dirinya masih bisa bernafas meski Bayu terus saja mengajaknya beradu lidah dan bibir bersamaan.
Bayu berdiri dengan Unita masih di pangkuannya, membaliknya hingga terbaring di kursi panjang itu, Bayu akan menghapus semua jejak milik pria sialan yang berani menyentuh Unita kemarin. Berhenti sejenak untuk membuang pakaian yang dia kenakan, beralih ke Unita lagi, mulai mencium apa pun yang dia mau.
Bayu ingin melakukannya dengan cepat, mungkin dengan begitu dia bisa melupakan semua dengan cepat juga. ‘Hust. Hust.’ Napas Bayu menerpa wajah Unita yang sama tersengalnya, amarahnya sedikit reda, Bayu mengusap wajah Unita penuh cinta, dibingkai dengan kasih, menunduk untuk menyatukan kening ke duanya, “Jangan lakukan lagi, Unita. Jangan lagi. Aku bisa melakukan hal yang tidak kamu suka jika kamu melakukannya lagi dan di depanku. Sungguh, aku tidak mau itu terjadi.” ucap Bayu tepat di depan bibir Unita yang membengkak karena ulahnya.
Unita tersenyum, mengangguk sambil menarik tubuh Bayu, memeluknya erat juga, “Aku mencintaimu.” Itu adalah kata ajaib yang mampu dia ucap setelah sekian lama dia memendamnya. Bukan karena perasaan yang dulu berbeda, tapi karena rasa yang takut dia ucapkan. Setelah Bayu memberinya surga lain yang lebih indah dan nyaman, Unita menghancurkan tebing tinggi itu, melangkah untuk mengejar, dan kini terjatuh tepat di relung Bayu. Dia tak akan pernah pergi dari tempat impiannya ini.
Bayu terkekeh, “Itu bukan cinta, Sayang.” Mengecup bibir Unita singkat, berdiri sambil terkekeh saat melihat Unita menatapanya penuh heran dengan kening yang mengerut. “Aku akan memberi tahumu apa cinta itu, Sayangku ... Unita.” Menyeringai nakal, menarik kaki Unita dan membuang pakaian itu juga.
“Bayu! Lakukan dengan pelahan.” rengek Unita manja.
Bayu tertawa, tak terlalu peduli, lebih memilih untuk kembali dan mengajak Unita untuk berciuman lagi. Bibir itu, leher itu, ah! Bayu tak akan membiarkan apa pun luput dari bibirnya. Saat dia akan bergelirya di d**a Unita, ‘Deg.’ Noda itu sangat kentara, membuat dadanya bergemuruh lagi, Bayu segera duduk, menyelesaikan apa yang bahkan belum dia mulai.
Unita yang kebingungan, ikut duduk, ke duanya sama-sama hanya memakai pakaian dalam saja saat ini. “Hey? Ada apa?” tanya Unita yang bingung karena Bayu berhenti di saat yang tidak tepat.
“Pulanglah, Unita.” usir Bayu meski dengan nada yang sangat pelan.
Unita lebih tidak mengerti lagi, merjongkok di depan Bayu, ingin bertemu dengan tatapan itu, “Hey? Kenapa, hm? Kamu tidak ingin melakukannya sekarang? Ingin kita makan lebih dulu? Atau ke kamar saja agar nyaman? Hm?”
“Pulanglah, Unita.” ulang Bayu dengan nada yang masih sama.
Unita menggeleng, mengulurkan tangan untuk merayu pemilik rahang tegas di depannya.
Bayu menepisnya dengan cepat, bahkan tangan Unita segera pergi begitu jauh dari wajahnya, “Hilangkan noda itu, Unita.” Bayu berdiri, meski begitu tetap menghadap ke Unita, “Tak perlu kamu memamerkannya padaku!” membentak Unita yang terlihat tetap saja tak paham dengan apa yang dia maksud sejak tadi.
Unita terkejut, apa yang diucapkan Bayu seolah menodongnya atas sisa-sisa semalam yang dia lewati dengan Nurdin. Unita segera berdiri, mendekat dan siap menjelaskan, “Semua tak seperti yang kamu pikirkan, Bayu. Aku dan mas Nurdin—“
“Nurdin, Nurdin, Nurdin, dan Nurdin!” bentak Bayu lagi, “Bahkan saat ada aku di depanmu kamu tetap memanggilnya ‘mas’? hm? Pulanglah, Unita. Jangan membuat aku semakin marah padamu.” Bayu memakai kembali pakaiannya dengan cepat. Dia akan meninggalkan Unita di ruangan ini sendiri.
“Bayu? Ada apa denganmu? Bukankah kita sudah berjanji akan saling memiliki di tempat ini? Hanya aku dan dirimu saja? Aku tidak mau pergi, Bayu. Kamu pun juga jangan meninggalkanku, aku tidak mau, Bayu. Aku tidak mau!” Unita terus menghalangi pergerakan Bayu, tak ingin sosok itu benar-benar pergi. Tapi apa? Tenaganya yang tak seberapa. Tentu saja kalah. Saat Bayu sudah melenggang, Unita memakai kembali pakaiannya, Bayu sudah mengurung diri di ruang lukis. Unita tak mau memaksakan diri, memilih untuk pulang dan menghapus semua sebisanya. Mungkin dengan begini apa yang sedari dulu sudah berjalan dengan benar, akan kembali normal meski hatinya begitu terluka saat ini.
Bayu melihat Unita pergi dari jendela yang terpasang di ruang lukis. Dia marah, tidak terima, menyesal, sedih, dan semua rasa yang terlalu menjadi satu. Bayu tahu dia memang bukan siapa pun, tapi dia juga ingin memiliki Unita untuk dirinya sendiri. Meski jalannya mungkin akan sulit, setidaknya jangan menamparnya secara terang-terangan begini. Tak perlu memperlihatkan apa yang Bayu pun paham, dia juga punya hati, bukan begini untuk menjatuhkannya sebagai seorang pria, rasanya Bayu ingin mengiris kulit itu tadi.
Kini hanya sesal, dia akan meminta maaf setelah bisa menguasai dirinya sendiri. Cintanya ke Unita bukan sikap kekanak-kanakan begini, dia harus dewasa untuk merebut kembali hati Unita. Dengan begitu dia akan bisa mengajak Unita untuk pergi dan hidup bersama hanya berdua saja. Memiliki Unita seutuhnya.
***
Tak ada yang baik-baik saja. Unita sejak semalam uring-uringan. Dia tak tahu bagaimana agar sosok Bayu segera enyah dari pikirannya, dampaknya begitu besar, hingga ke Gwenza dan juga Gevin yang ikut tak pernah benar apa pun yang dilakukan ke duanya. Ditambah dengan Nurdin yang juga mulai banyak tuntutan tak terlalu penting, sukses memperburuk keadaan.
Hari ini pun Unita sudah memarahi semua pekerja di galeri seninya. Mengurung diri di ruangannya setelah terlalu lelah membuang tenaga, hingga memejamkan mata dengan menyandar di kursi kebesarannya.
‘Ceklek.’ Unita hanya berdecap, tak jua membuka mata, saat sosok lancang itu bersuara, dia akan menghabisinya nanti.
‘Cup.’ Unita membuka mata saat kecupan singkat di bibirnya dicuri tanpa permisi, menemukan seseorang dengan wajah tanpa dosa tengah tersenyum begitu manis ke arahnya. Unita membuang napas kasar, membuang muka karena malas melihat wajah itu.
“Maafkan aku.” Disodorkannya buket bunga yang dia bawa, Unita yang tetap diam, membuatnya memutar kursi itu hingga menghadap ke arahnya, “Aku terlalu mencintaimu, Unita. Kecemburuanku membuatku buta, maafkan aku. Aku tidak akan menjadi bodoh seperti kemarin lagi, sungguh.” Bayu masih berlutut di depan Unita dengan buket bunga yang dia sodorkan untuk wanita yang dia cintai itu.
“Itu bukan cinta, Bayu.”
Bayu terkekeh, “Mau membalasku? Hm?”
Mantra itu sangatlah dahsyat, Unita yang masih ingin marah, nyatanya luluh juga. Senyumnya mengembang, diterimanya buket bunga itu, menghirup wangi, mampu luluh dengan manis yang selalu Bayu tawarkan untuknya. Setelah puas mencium wangi bunga segar itu, Unita meletakkannya di meja kerja, menghambur dalam pelukan Bayu yang tengah membuka lengan saat ini. “Jangan pernah pergi lagi, Bayu. Jangan.” Erat, sangat erat, tak akan dia rela Bayu menghilang.
Bayu membalas pelukan itu tak kalah eratnya, mengusap punggung Unita, tak mau Unita bersedih karena amarahnya kemarin. “Aku akan tetap di sini, Unita. Kita makan di luar?” tanya Bayu sambil mengurai pelukan itu, menyelipkan rambut Unita ke belakang telinga karena menutup separuh wajah, gerakan Unita terlalu berlebihan tadi.
Unita tersenyum, mengangguk karena menerima ajakan Bayu barusan.
“Yuk! Ke mana pun kamu mau, aku akan menurut. Hari ini milik kita, Unita.” Bayu memberikan kecupan singkat di bibir itu lagi.
Unita mengambil tasnya, menggandeng lengan Bayu dan mengajaknya melangkah, “Baiklah.” ucapnya sambil membuka pintu ruang kerjanya, “Aku mau—“
“Sayang? Bayu?”
Ke duanya membatu, tidak menyangka kalau Nurdin sudah berdiri di depan pintu yang baru saja dibuka oleh tangan Unita sendiri.