“Sayang? Bayu?”
“Hey, Tuan Herlambang?” Bayu mengulurkan tangan, membiarkan Unita yang masih menggandeng tangannya, masih saja membatu, “Kami mau makan siang, Anda datang, dan sepertinya ide yang bagus untuk makan siang bersama,” Bayu menoleh ke Unita, “bukan begitu, Unita?” tanyanya menyadarkan Unita dari bimbang.
“Ya, itu ide yang bagus.” Nurdin terkekeh, dia juga akan mengajak istrinya makan siang tadi. Unita berangkat dengan jengkel tadi pagi, Nurdin ingin mengajaknya makan di luar dan meminta maaf, tapi saat melihat Bayu, sepertinya rencananya akan berjalan lebih mudah.
Unita melepas lengan Bayu, senyumnya seolah mencekik tenggorokan, “Mas ikut?” entah pertanyaan macam apa itu. Unita sendiri tidak tahu harus berlaku seperti apa.
Bayu terkekeh, menepuk lengan Unita, “Ayo! Tuan Herlambang, ayo!” ditariknya si pemilik istri, mengajaknya melangkah lebih dulu tak membiarkan mencium atau bahkan apa pun ke Unita. “Anda tahu? Akhir-akhir ini cuaca cukup panas, beberapa orang berlibur dan saya sibuk melukis kegiatan mereka.” canda Bayu ke Nurdin Herlambang.
“Hahahaha. Kamu benar, ah! Jangan terlalu formal, sepertinya kita seumuran, aku tidak mau keakraban kita menjadi aneh saat makan siang nanti.” Nurdin menuju ke mobilnya, “Pakai mobilku, ya?”
“Tidak, aku akan pulang setelah makan siang, aku akan membawa mobilku, dan mengikuti ke restoran mana nanti. Bukankah aku akan ditraktir?” tanya Bayu yang berjalan ke mobilnya juga.
“Hahahaha. Tentu saja. Lain kali baru kamu yang mentraktir.” Nurdin masih saling melempar canda karena Unita belum juga ke luar.
Bayu ikut tertawa, mengangguk untuk menyetujui hal kecil itu. Saat Nurdin Herlambang akan masuk ke mobil, “Ah!” berhenti untuk menunggu Nurdin menoleh ke arahnya, “Aku lebih muda darimu. Hahahahaha.” Terbahak-bahak, itu memang kenyataannya.
Nurdin menggeleng, ternyata Bayu memang sosok yang menyenangkan, tak salah Unita memilih teman. Bersamaan dengan Unita yang ke luar dengan begitu lamban, “Ayo, Sayang! Kita sudah lapar.” Nurdin menoleh ke Bayu, mencari dukungan atas argumennya.
Berganti Bayu yang menggeleng, masuk ke mobilnya, dan duduk di balik kemudi, mencengkeram kemudi itu kuat hingga kuku jarinya memutih, “Tertawalah, Nurdin Herlambang. Kau akan menangis darah sebentar lagi.” Bayu akan merebut Unita dengan permainannya yang cantik. Setelah beberapa saat, Bayu ikut menepi di restoran sea food, duduk tanpa memesan, dan ikut berselera saat sekantong sea food penuh bumbu dituang di meja yang berlapis kertas plastik untuk makan. “Kau suka sea food, Tuan Herlambang?” tanya Bayu yang sudah memulai acara makan siang itu.
“Ya, Unita juga suka, kita sering ke sini.”
Bayu menoleh ke Unita, mengedipkan sebelah matanya, “Aku akan mengajaknya ke sini juga kapan-kapan.”
“Ya, sea food, es krim, makanan pedas, bakso, semua yang enak, Unita menyukainya.”
“Mas.” Unita menghentikan apa yang tidak perlu untuk diceritakan. Menjaga Bayu dan Nurdin di jarak yang sama, Unita tak mau apa yang baru saja baik, akan memburuk seperti kemarin lagi.
“Aku akan mengingatnya, Tuan Nurdin. Kami sering bingung untuk menentukan makanan saat bersama—ah! Kami juga sering bertemu, membicarakan masalah seni, lukisan, pameran, apa tidak masalah? Aku akan menjaga Unita dengan baik.” Bayu mengedipkan matanya lagi ke Unita, membuat sosok itu hanya membuang napas kasar.
“Ya, kenapa tidak? Pekerjaan kalian di bidang yang sama, kan? Pasti sering bertemu, aku malah senang karena Unita memiliki teman sepertimu yang akan menjaganya saat aku tidak mengerti apa pun tentang seni dan pameran yang kalian bicarakan. Hahahaha.” Nurdin melahap lagi daging kerang dengan saus lada hitam yang dipesannya tadi.
Bayu terkekeh, ikut menikmati makan siang. Meski begitu dia tak abai dengan Unita, sangat paham kalau Unita tak menikmati apa pun siang ini. Bayu mengambil capit kepiting, menghancurkan cangkangnya, hingga menyisakan daging tebal saja, menyodorkannya ke Unita, meski hanya menaruhnya di sebelah tangan Unita saja. Saat Unita menatapnya, Bayu tersenyum, berharap wajah masam itu segera pergi.
‘Drrrttttt.’ Ponsel Nurdin berdering, tangannya segera dia lepas dari plastik pembungkus agar telapaknya tak kotor, mengangkat telepon itu tanpa beranjak dari kursinya, “Ya? Aku sedang makan.” jawabnya. Segera menoleh ke Unita yang saat ini juga menatapnya dengan pandangan heran, “Ya, ya, aku ke sana sekarang. Pastikan menyambutnya dengan baik, lakukan apa pun juga, aku akan tiba secepatnya.” Nurdin menutup sambungan telepon itu, mendorong sisa makanan yang tersangkut di tenggorokan dengan minumannya, segera berdiri, “Sayang, ada klien yang datang lebih awal, aku harus segera kembali ke kantor, sepertinya semua sawit itu menjadi berlian sekarang.” ucapnya sambil terkekeh, menguarkan aura kemenangan.
Unita tersenyum, saat melihat Nurdin seperti ini, dia ikut bangga rasanya. Meski Nurdin sering pergi meninggalkannya, Unita tetap mendukungnya, tahu kalau Nurdin melakukan semua hanya untuknya dan anak-anak, “Selamat ya, Mas.” Unita siap menghambur ke Nurdin, memberinya pelukan sepertinya adalah pilihan yang bagus.
“Hm!” Bayu, terkekeh saat dia orang yang sama-sama membuka tangan, tak jadi berpelukan, malah menoleh ke arahnya, “Ayolah! Kalian tidak mau mengotori mataku yang masih suci ini, kan?” Bayu mengambil kerang, menyeruput saus dengan sedikit kuah, bersamaan dengan dagingnya, membuat kulit kerang itu bersih di sisi dalam.
“Hahahahaha.” Nurdin memberikan kecupan di kening Unita, “Aku pulang dulu, Sayang. Bayu,” panggilnya ke Bayu yang sibuk makan, seolah tak ada kejadian penting di depannya, “antarkan Unita ke galeri, aku pulang dulu.” Mengangguk saat Bayu juga mengangguk, “Ah! Makanan sudah kubayar.” ucapnya hampir melupakan hal terpenting di sesi makan siang ini.
“Jangan kawatir, Tuan Nurdin. Unita akan aman di tanganku, terima kasih traktirannya.” Bayu mengangguk kembali, mungkin dengan begitu Nurdin akan segera pergi, dan benar saja si suami itu berbalik dan sibuk dengan pekerjaannya lagi, membuat Bayu terkekeh sambil menggeleng ke Unita.
“Apa itu tadi?” tanya Unita dengan nada mengejek.
“Apa? Hanya melihat suami istri yang tidak jadi berpelukan.”
“Bayu!”
“Hahahahaha. Kalian sangat lucu. Hak!” Bayu mengulurkan tangan yang tengah memegangi daging kerang, dia ingin menyuapi Unita sejak tadi.
Unita yang ingin marah, malah membuka mulut untuk menerima suapan itu. “Bolehkah aku bertanya?” Unita juga sibuk memilih kerang, dia akan menyuapi Bayu juga dengan kerang pilihannya.
Bayu mengangguk, tak terlalu peduli karena merasa harus menikmati apa yang ada di depannya sebelum kembali lagi ke galeri untuk menyelesaikan lukisan yang tertunda tadi.
“Kamu ... tidak cemburu?” Unita bertanya agak ragu. Apa lagi saat Bayu menghentikan kunyahan dan menatapnya, membuat Unita merasa tak enak, tapi dia memang ingin tahu, kenapa Bayu tidak marah seperti kemarin.
Bayu menggeleng, “Tidak. Bukankah kamu memang miliknya?’
“Maksudmu?”
Bayu terkekeh, “Saat Nurdin Herlambang di sana, kamu miliknya, dan saat hanya ada aku di sini, kamu hanya milikku.” Bayu menyodorkan lagi daging kerang ke Unita, “Jalani saja yang ada, Unita. Aku suka melihat senyuman itu. Hm?” mengangguk agar Unita segera menerima suapannya.
Unita pun tersenyum, membuka mulutnya, dia senang melihat Bayu yang seperti ini. Makam siang ini pun lebih menyenangkan sekarang. Entah berapa kerang yang masuk ke mulutnya, kepiting itu, udang itu, bahkan hingga perutnya jadi terlalu penuh. Tak hanya Bayu yang menjadikannya ratu, Unita juga ikut menyuapi Bayu, hari di mana hanya miliknya dan Bayu telah kembali, membuat kebahagiaan itu menyelimut lagi.
Bayu tak ke mana pun, segera mengantar Unita ke galeri setelah makan siang, “Apa aku perlu mengantarmu pulang nanti?” tanyanya saat mobil itu berhenti di pelataran parkir galeri seni milik Unita.
“Mobilku? Aku akan pulang sendiri saja, Bayu. Oiya, kamu sibuk? Besok?” Unita masih enggan turun dari mobil, mengakhiri kebersamaan ini? Yang benar saja?
“Ya, apa lagi selain kuas dan cat itu? Tapi waktuku akan banyak saat kamu ada di sana, sungguh.” Bayu tersenyum, mendekat dan memasang wajah lucu di depan Unita, “Cium aku, dengan begitu akan lebih mudah untukmu turun dari mobilku, Unita.” Ledeknya yang tahu kalau Unita tak ingin pergi.
Unita tersenyum, membingkai wajah Bayu, mencium bibir itu, sedikit bermain lidah, dan melepasnya, “Aku turun dulu, Bayu. Hati-hati di jalan.” Ucapnya sambil membuka pintu, memang tak mungkin terus begini saja meski dia sangat menginginkannya.
“Datanglah besok, pagi, atau apa pun, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”
Unita mengangguk, turun dari mobil, mengangguk, melambaikan tangan karena ada beberapa pekerjaan yang dia tinggalkan tadi. Unita akan ke galeri Bayu besok.
Setelah Unita tertelan pintu galeri, barulah Bayu kembali ke galeri miliknya, menemukan mobil yang dia tahu milik siapa, dengan enggan turun dan tersenyum saat tamu itu berdiri untuk memeluknya.
“Dari mana?” tanyanya sambil memberikan ciuman di pipi kanan dan kiri Bayu, “Aku menunggu sejak tadi, untung saja ada pekerjamu, biasanya kamu mengunci galeri ini, kan?”
Bayu tersenyum lagi, “Aku cari makan siang, ada yang kamu cari di sini, Reni?” ya, itu memang Reni, istri dari salah satu pembeli setianya.
“Suamiku mau memulai lukisan itu, kapan? Kamu terlalu lambat menentukan hari, Bayu.” Reni ikut Bayu ke ruang pameran, ada kursi santai di sana, beberapa lukisan dengan tema acak tergantung rapi, Reni senang duduk di sini, seolah dia berada di atas dunia dengan banyak pemandangan indah di sekelilingnya.
“Aku rasa lusa aku bebas, aku pikir akan menunggumu dulu, Reni.” Bayu tak menyangka Reni ingin secepatnya lukisan itu dimulai.
“Baiklah, aku akan mengatakannya ke suaminya, kita bisa melihat lokasinya sekarang?” Reni berdiri, dia tak mau membuang waktu karena tahu Bayu orang yang sibuk.
“Ya.” Bayu ikut ke mana Reni pergi, menurut saat sosok itu mengajaknya naik ke mobilnya saja, tapi jadi terkejut saat mobil itu malah masuk ke halaman hotel, “Kenapa di sini?” tanya Bayu yang masih mengedarkan pandangan setelah Reni mengajaknya turun.
“Suamiku yang menentukan tempat ini, kamu bisa meneleponnya kalau tidak percaya.”
Bayu terkekeh, “Tidak. Ayo masuk! Aku akan memilihkan mana tempat yang tepat untuk berpose.” Ini memang hotel mewah, lukisannya pasti akan elegan, dan Bayu sangat tahu bagaimana selera pemesannya. Saat Reni membukakan pintu kamar hotel itu, Bayu segera berkeliling, membuka gorden di jendela, memperhatikan kaca lebar dengan pemandangan kota dan gedung-gedung tinggi di depannya. Tersenyum karena menemukan apa yang dicarinya.
‘Srek.’ Reni memeluk Bayu dari belakang, “Kamu membuatku b*******h, Bayu.”