Lebih dekat lebih baik

1603 Kata
‘Srek.’ Reni memeluk Bayu dari belakang, “Kamu membuatku b*******h, Bayu.” Tangannya dengan lancang segera menyusur ke bawah, otot liat di perut itu terlalu menggoda untuk imajinasinya. Bayu terkekeh, menarik tangan Reni agar menjauh, dan berbalik, “Ingat suamimu, Reni.” Berjalan ke kursi panjang, duduk di sana dengan tatapan tajamnya yang dia hunuskan untuk kelancangan Reni. Reni terkekeh, “Kau tahu, kan? Suamiku ingin memiliki anak, dia mandul, dan aku harus berusaha mencari anak itu sendiri. Bukankah itu seru? Kau bisa melakukan apa pun, dan semua juga aman.” Bayu menggeleng sambil menertawakan lelucon konyol dari Reni, “Kamu ke sini untuk meminta anak dariku? Atau memang ingin aku lukis? Hm?” berdiri dan melangkah ke luar, “Cari saja pria lain, aku juga tidak bisa memberimu anak.” “Jangan munafik, Bayu. Aku bisa memberikan galeri yang lebih besar dari itu, membesarkan namamu, mobil, rumah!” Reni berteriak untuk menghentikan Bayu yang hampir sampai di pintu kamar hotelnya. Bayu berhenti, menoleh hanya dengan kepalanya saja, “Banyak pria miskin dan tak punya harga diri di luar sana, carilah satu yang tampan, kamu akan mendapatkannya, dan itu bukan aku.” “Kau tidak mau namamu besar seperti pelukis lainnya, huh?!” Reni mendekat, dia akan memeluk Bayu lagi untuk memperlihatkan betapa cinta itu tulus untuk Bayu. Ke duanya kenal cukup lama, hanya affair bukankah tidak akan jadi masalah untuk persahabatan ini? Bayu terkekeh, “Hentikan saja, Reni. Uangku cukup untuk bersenang-senang, aku tidak butuh pemberian darimu.” Bayu ke luar, tak memedulikan Reni karena sosok itu menghina harga dirinya saat ini. Teriakan yang Reni tujukan untuknya, diabaikan oleh Bayu, kembali ke galeri dengan taksi, dan akan menyimpan amarahnya. Bayu segera menuju ke ruang lukis sesampainya di galeri, “Jangan biarkan siap pun naik,” ucapnya ke penjaga galeri yang hanya menemaninya sampai pukul sua siang itu, “aku tidak ingin diganggu.” “Iya, Bang. Siap.” Bayu tidak menyangka Reni akan senekat itu. Selama ini apa yang Reni minta selalu dia bantu, Bayu pikir tak ada yang bermain hati, nyatanya? Suami Reni adalah sosok yang Bayu hormati, tak akan dia biarkan Reni merusak semuanya untuk kesenangan Reni saja. Bayu lebih berpihak ke suami Reni, tak akan dia biarkan Reni menjadikannya memuas nafsu saja. *** Unita hanya sebentar di galeri seni miliknya, memberikan selamat untuk penyewa pameran karena patung itu sudah habis terjual, tak menghadiri penutupan karena memilih untuk ke galeri Bayu. Unita sudah berjanji kemarin. Penjaga galeri yang dikenalnya, tak terlalu merepotkan, mungkin Bayu sudah bercerita tentang dirinya. Unita segera ke atas, membuka ruang lukis, tapi tak mendapati Bayu di sana. “Di mana? Mobilnya di luar?” Unita bermonolog sendiri, ke luar dan berjalan ke kamar, ternyata Bayu masih tidur, meringkuk dengan selimut hanya menutupi pinggul ke bawah, sedangkan punggung telanjang itu tetap terlihat begitu kekar. Unita tersenyum, duduk di pinggir ranjang sambil memandangi Bayu yang seperti bayi besar. Wajah tampan itu selalu membuatnya nyaman, Unita tak menyangka akan segila ini dengan Bayu. “Aku memang tampan, Unita.” Bayu membuka mata, melihat Unita yang merona sambil membuang muka. “Terlalu pagi, hm? Merindukanku?” Bayu membuka tangan, meminta Unita agar masuk ke pelukannya. Unita terkekeh, “Ini sudah siang, Bayu. Ah!” Unita berdiri, “Mandilah, aku akan membuatkanmu makanan.” Bayu menunjuk pipinya, “Beri aku semangat, Unita.” Unita terkekeh lagi, memberikan ciuman di pipi Bayu, dan ke luar. Unita tak mau Bayu melewatkan sarapan paginya. Menanak nasi, membuat sayur yang pas untuk sarapan, dan menggoreng ayam. Saat tangan dengan pemilik yang parfumnya menyegarkan, Unita menoleh sambil memamerkan senyum. “Kesayanganku memang luar biasa, dia bisa menyulap apa pun di dapur kecil ini.” Bayu mengeratkan pelukannya, mencium pundak dan punggung itu, Bayu suka saat Unita merinding karena perbuatannya. “Jangan menggodaku, Bayu.” “Tidak, aku hanya suka menciummu.” Terkekeh, mencuri kecupan di bibir Unita dengan cepat dan melepas pelukan itu setelahnya. Bayu akan menjadi anak manis dengan hanya duduk menunggu manakan siap. “Kapan ada waktu? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Bayu punya tempat yang harus dia tunjukkan ke Unita. Unita menyelesaikan ayam goreng itu, membawanya mendekat ke Bayu, “Aku tidak tahu, Bayu. Hm ... mas Nurdin—“ “Ya, kamu memang miliknya.” Bayu menyodorkan piring ke Unita. “Jangan cemburu, Bayu. Bukankah aku milikmu?” Unita mengembalikan piring itu dengan nasi dan lauk ke Bayu, senyumnya tak luntur, dia tak ingin Bayu marah atau bahkan tersinggung karena Nurdin. “Ya, kamu memang milikku.” Bayu tak mau berdebat di awal harinya. Setelah sarapan yang kesiangan, Bayu mengajak Unita ke ruang lukis, ada pesanan yang harus segera diselesaikan, baru setelah ini Bayu akan mengajak Unita ke luar. “Catnya tak terlalu kering, semalam tidur jam berapa?” tanya Unita yang meneliti beberapa lukisan setengah jadi di ruang lukis itu. “Sepertinya jam tiga, mereka akan mengambilnya bersamaan, aku tidak bisa meninggalkannya terlalu lama.” Bayu sudah sibuk dengan kuas dan palet, meski tetap menjawab pertanyaan receh dari Unita. “Aku mengganggu?” Bayu menoleh, terkekeh menanggapi Unita, “Kamu tidak pernah menggangguku, Unita. Meski sibuk atau senggang, kamu tetap ada di sini.” Bayu membusungkan dadanya. “Di mana? Di balik kemeja itu?” “Ya, kalau kamu mau. Masuklah, lebih dekat lebih baik, kan?” Bayu tersenyum untuk menggoda Unita. Apa lagi saat wajah itu tersenyum untuknya, seolah dunia berada di genggamannya. ‘Tok. Tok. Tok.’ Ke duanya menoleh ke arah pintu, “Bang, lukisan hujannya diambil, sudah jadi?” Bayu mengangguk, “Orangnya di bawah?” tanyanya sambil menaruh palet dan kuas, mencuci tangan meski tak melepas celemek yang dipakai. “Di bawah, Bang. Sopir yang ke sini.” “Turunlah, aku akan ke sana sebentar lagi.” Bayu menoleh saat penjaga galeri turun, “Ayo turun!” ajaknya ke Unita. “Aku akan mengganggumu nanti.” Unita tidak ingin diikut campurkan dalam pekerjaan Bayu. Bayu mendekat, mengusap pipi itu dengan tangannya yang sudah bersih dan kering, “Bukankah lebih dekat lebih baik? Aku tidak bisa membawa lukisan itu sendirian, bantu aku.” Pintanya ke Unita. Unita tersenyum, banyak mantra dari bibir Bayu, dan dia tidak pernah mampu untuk menolak. Membantu membawa lukisan tak terlalu lebar itu ke bawah, meski yakin Bayu tetap bisa melakukannya sendiri, Unita tak keberatan nyatanya. Saat Bayu sibuk dengan pembeli karyanya, Unita mengedarkan pandangan, di lantai dasar ini ada beberapa lukisan dari yang terbaru dan spesial, sekitar tujuh buah, Bayu sengaja tidak menjualnya. Unita mendekat ke salah satunya, anak kecil berpakaian sederhana yang berjongkok dengan memamerkan permen lolipop di tangan kanan, lukisan itu menggambarkan betapa bahagia anak dalam lukisan, meski hanya hal receh saja. “Apa dia memang ada di dunia ini?” Unita ingat kalu Bayu sering mendapatkan pesanan lukisan wajah, bisa jadi anak dalam lukisan ini juga nyata, kan? “Ya.” Bayu memeluk Unita dari belakang, sopir dari pembeli lukisan itu baru saja keluar, dibantu oleh penjaga galeri ini, “Namanya Lana, kamu akan bersemangat setiap berada di dekatnya.” Bayu mengeratkan lagi pelukannya, mendekatkan bibir karena tergoda oleh bibir itu. “Bayu, ada penjaga galeri kan di sini?” Unita menarik wajah, kalau hanya berdua terserah Bayu memang, tapi kalau di tempat umum, Unita tidak mau Bayu dicap buruk, terlebih dengan posisinya saat ini. Bayu terkekeh, “Dia sudah tahu tentang semua ini, Unita. Hanya sedikit saja, aku merindukan bibirmu.” Bayu menarik tengkuk Unita, memagut bibir itu dengan permainan lidah yang jadi keahliannya, sangat menyukai saat Unita mulai memejamkan mata, meresapi apa yang dia beri dan lakukan. Melepasnya, menghapus jejak basah sambil terus tersenyum ke Unita, “Sepertinya di kamar akan lebih seru, Unita. Apa aku perlu menggendongmu?” Unita terkekeh, “Aku berat, Bayu.” Berbalik, menyampirkan ke dua tangan ke pundak Bayu, kenapa Bayu terus saja manis? Unita selalu melambung saat ada di depan Bayu. “Benarkan? Dari mana aku tahu kamu berat, kalau belum mencobanya?” Bayu melumat lagi bibir itu, beradu lidah dan bertukar liur, Bayu menggerakkannya agak liar. Tak hanya itu, tangannya pun mengangkat b****g Unita, membuat Unita naik ke gendongannya dan membelit pinggangnya. Bayu mulai berjalan, dia akan menyelesaikan di kamar setelah ini. “Bayu!” Teriakan itu menghentikan semuanya. Unita segera turun, tak pernah menyangka akan tiba saat seperti ini. “Reni,” Unita pikir tak akan pernah bertemu dengan sahabatnya di sini, “semua tidak seperti yang kamu pikirkan , ini hanya salah paham saja.” “Oiya?” Reni menoleh ke Bayu yang tetap acuh meski dirinya menangkap basah ke duanya. “Kalian berciuman, kamu naik ke tubuh Bayu, dan itu salah paham, huh?! Apa kamu pikir akan gila?!” Reni menggeleng, “Kalian menjijikkan!” keluar dari galeri Bayu. Masuk ke mobil dan menghidupkan mesin mobilnya, “Bahkan kalian tidak mengejarku untuk menjelaskan semua ini.” Reni mengusap air matanya kasar, melajukan mobilnya dan pergi. Dia tahu kenapa Bayu menolaknya kemarin, dan semua hanya karena Unita saja, “Aku tidak akan membiarkanmu memiliki semua yang kamu mau, Unita. Aku akan merebutnya.” Mengemudi sambil terus menangis meski hanya isakan saja. Di galeri, Unita tengah menarik tangannya dari Bayu, “Lepas, Bayu! Aku harus menjelaskan semuanya ke Reni, semua ini salah paham, aku tidak mau dia—“ “Ssssstttt!” Bayu menggeleng saat Unita malah menangis, tubuh itu bergetar, Bayu tahu kalau Unita ketakutan saat ini, “Tidak akan terjadi apa pun, percayalah, hm?” mengusap air mata itu agar wajah yang selalu cantik, diam dari tangisan tidak perlu itu. Unita semakin deras tangisannya, segera memeluk Bayu untuk meredam gejolak emosinya sendiri. Bayu yang membalas pelukannya membawa nyaman memang, Unita merasa begitu buruk saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN