“Hey?” Nurdin baru saja pulang dari kantor, terlambat memang, Nurdin tengah menyiapkan kebun sawit yang sebentar lagi akan panen, dan itu membuatnya begitu sibuk akhir-akhir ini. Melihat istrinya diam di balkon kamarnya, Nurdin pun memeluk wanita yang sangat dia cintai itu. Kulit Unita yang dingin, membuat Nurdin heran, apa yang dipikirkan istrinya hingga rela membuat tubuhnya hampir menggigil begini.
Unita tersenyum, “Mas pulang terlambat lagi?” mengusap tangan yang memeluknya, tetap menyandar, enggan untuk berbalik menatap wajah lelah itu.
“Jangan bicara begitu.” Mengecup pipi istrinya, melepas pelukan itu, dan masuk, “Aku mandi dulu, Unita. Setelah ini temani aku makan, Gwenza dan Gevin sudah tidur dari tadi?” tanyanya sambil melangkah ke kamar mandi, tahu kalau Unita mengekorinya.
“Iya, Mas. Gwenza mulai mengeluh.”
“Jelaskan saja,” mendekat ke Unita lagi, Nurdin mengusap pipi itu, “hari minggu kita akan berlibur, aku janji. Aku mandi dulu.”
Unita bergeming, menunggu hingga suaminya berada di kamar mandi, barulah dia turun untuk menghangatkan makanan. Hidupnya begitu hambar, Nurdin seperti orang lain dengan semua kesibukannya, hanya Gwenza dan Gevin yang membawa tawa untuknya akhir-akhir ini, seolah Nurdin begitu jauh meski setiap malam selalu seranjang bersama. Tak banyak yang dibicarakan, hanya beberapa pertanyaan yang setiap hari terlontar dan hampir sama, hingga melewati malam panjang. Unita tak ingat kapan dia terlelap setelah menemani Nurdin makan malam.
***
Pagi ini, Unita sengaja mengantar sendiri Gevin dan Gwenza ke sekolah, dia ingin melakukannya karena merasa malas datang ke galeri seni miliknya.
“Mama nanti menjemputku?” tanya Gwenza, sedangkan Gevin sudah turun di sekolahnya yang hanya terpisah satu blok saja.
“Tidak, Sayang. Pak sopir nanti yang menjemput, Gwenza kan tahu Mama sibuk di galeri.” Unita berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya dengan putri kesayangannya itu. “Papa bilang, minggu depan kita akan liburan, Gwenza gak boleh cemberut lagi, okey?” saat melihat putrinya melompat kegirangan, Unita pun ikut senang. Melambaikan tangan ke putrinya sampai Gwenza masuk kelas, barulah dia kembali ke mobil untuk berangkat ke galeri.
Unita tak melakukan apa pun, hanya melihat para pekerja yang membersihkan sisa pameran kemarin, dan menyapa beberapa pengunjung yang datang untuk sekedar melihat atau membeli kerajinan seni miliknya sendiri.
“Nyonya Unita, ini ditaruh mana?”
Unita mengerutkan kening, “Apa ini tertinggal?” Unita segera mencari ponselnya untuk menelepon penyewa galeri kemarin kalau ada satu patung yang tertinggal.
“Ini dibeli oleh tuan Bayu, Nyonya ... dihadiahkan untuk Nyonya, katanya.”
Unita bergeming, Bayu selalu memberinya banyak kejutan hingga Unita tak mampu untuk berpaling rasanya. Seperti kemarin saat dia memaksakan diri untuk pergi dan menarik diri, Bayu tak menahan atau mendukung, tapi saat ini, saat Unita ingin melupakan semuanya, kembali ke kehidupannya yang sepi, Bayu terus saja menawarkan kebahagiaan dengan semua rasa yang tak pernah Unita bayangkan. “Taruh di ruanganku.” Unita ikut ke ruangannya juga, mengambil tas yang berisi barang penting, dan pergi ke galeri Bayu. Dia membutuhkan penjelasan saat ini.
Sesampainya di galeri Bayu, Unita hanya tersenyum ke penjaga galeri, terus melangkah ke ruang lukis, dan menemukan sosok itu sibuk seperti hari-hari biasanya. Unita tak bersuara, hanya duduk di kursi biasa dia menemani Bayu, akan diam hingga Bayu menyadari kehadirannya di tempat ini juga.
Sedangkan Nurdin...
Baru saja menyiapkan berkas untuk dibawa ke lapangan, dia sering jalan sendiri meski memiliki karyawan di perusahaan sawitnya. Hanya untuk memeriksa dan bertemu dengan beberapa petinggi di lapangan, membuatnya lebih bersemangat setiap kali lelah menghilangkan semangatnya yang hampir pudar.
“Selamat siang, Mas Herlambang.”
Nurdin segera mendongak mendengar panggilan aneh itu. Meski tidak mengenalnya, tetap tersenyum, berdiri untuk menyambut tamu yang cukup asing di matanya, “Ada yang bisa saya bantu, Nona ... .” Nurdin menggantung kalimatnya, benar-benar tak kenal dengan sosok di depannya ini.
“Reni Harianto, panggil saja Reni.” Mengulurkan tangan untuk memperkanalkan diri.
Nurdin pun terkekeh sambil menerima uluran tangan, “Harianto. Apakah itu tuan Harianto yang memiliki pabrik tekstil dengan kain sutranya yang terkenal itu?” tak terlalu mengenal memang, tapi Nurdin merasa nama itu tidak asing baginya.
“Iya, Mas Herlambang. Aku temannya Unita, dia bercerita kalau Mas Herlambang memiliki kebun sawit yang sebentar lagi akan panen, aku ingin melihat buah sawit itu dari dekat, mungkin dengan begitu aku bisa menciptakan motif indah seperti sawit. Apa Mas Herlambang bisa membantu?” Reni duduk di seberang kursi kerja Nurdin tanpa disuruh lebih dulu.
“Ooo ... Reni teman Unita yang sering nge-gym bareng?” terkekeh lagi, duduk agar obrolan ini lebih santai, “Aku tidak terlalu perhatian dengan Unita, pekerjaanku—ah! Lebih baik kita membicarakan tentang bisnis.” Nurdin dan Reni pun saling bertukar rencana. Nurdin tidak pernah menyangka kalau Reni ternyata sangat gigih, mencintai pekerjaan yang hampir sama dengan dirinya. Unita memang pekerja keras, tapi istrinya itu tidak akan pernah mau kalau diajak ke kebun, dan Reni sepertinya berbeda. Ditambah dengan pembawaan yang mudah akrab, Nurdin merasa Reni akan menghilangkan kantuk saat di kebun nanti. Dia pun mendapatkan ide bagus, “Baiklah, besok kita akan berangkat, bagaimana? Apa tuan Harianto—“
“Ya, suamiku sendiri yang memintaku. Kita akan berangkat besok.” Reni segera memotong ajakan itu, apa yang ditunggunya datang juga.
“Ya. Aku akan membuatkan surat, bagaimana pun juga ini adalah perjalanan bisnis, kan? Jangan sampai tuan Harianto salah paham nanti.” Nurdin pun mengangkat gagang teleponnya untuk memangil seseorang.
“Tentu saja.” Reni tertawa. Tak lama sosok yang Reni tebak adalah sekretaris Nurdin, masuk dengan membawa sebuah proposal, Reni menanda tanganinya, berjabat tangan sebagai simbol kerja sama ini. “Aku akan datang besok pagi, mobilku tidak cocok dengan medan di kebun, sepertinya aku akan ikut dengan mobilmu saja besok.” Reni berjalan ke luar, sudah cukup membicarakan tentang pekerjaan dengan Nurdin untuk hari ini.
“Dengan senang hati.” Reni yang mengulurkan tangan untuk berpamit, Nurdin pun menyalaminya. Ikut mengantar sampai ke luar ruang kerjanya, senang dengan kerja sama ini karena tuan Harianto adalah orang yang bisa mengangkat namanya juga.
“Akh!” entah kenapa, Reni yang biasa memakai sandal hak tinggi, malah sandal itu sendiri yang membuatnya hampir jatuh tadi, “Oh! Maaf, Mas Herlambang.” Untung saja ada Nurdin di belakangnya, membuatnya tak sampai jatuh ke lantai.
Nurdin tersenyum, “Besok pakai sepatu saja, medan di sana tanah basah.”
“Iya, Mas Herlambang. Maaf.”
“Jangan begitu. Ayo, kuantar!” Nurdin hanya ingin Reni nyaman saat di kebun besok.
Unita...
Masih saja diam di tempatnya. Saat Bayu menaruh kuas dan palet, menoleh ke arahnya sambil memamerkan senyum seperti biasanya, Unita melempar senyumnya juga meski masam.
“Dari tadi?” Bayu berlalu untuk mencuci tangannya. Unita yang mengangguk tanpa suara, membuat Bayu tahu ada yang mengganggu kekasihnya itu, “Mau makan di luar?” tawarnya saat duduk di sebelah Unita sambil mengeringkan tangan dengan handuk.
“Aku ... tidak selera, Bayu.”
Bayu mengerutkan kening, “Benarkah? Ada orang yang tidak berselera makan di sini? Bagaimana dengan sea food? Bukankah kamu menyukainya? Hm?”
“Kamu membeli patung lilin itu untukku?” Unita enggan menjawab, lebih suka membahas hal yang benar-benar dia ingin tahu saat ke sini tadi.
Bayu mengangguk, “Bukankah kamu menyukainya?” Unita yang hanya tersenyum kecut, membuat Bayu mengulurkan tangan untuk mengusap pipi itu, “Jangan terlalu memikirkan Reni,”
‘Deg.’ Unita terperangah, tak pernah menyangka kalau Bayu bisa membaca pikirannya.
“... apa yang bisa dia lakukan, tak akan mengubah apa pun juga. Kamu dan aku, Nurdin, semua akan baik-baik saja. Percayalah.” Bayu tahu sekuat apa akibat, andai apa yang tersembunyi ini terungkap, Unita tak harus mengkhawatirkan yang tidak perlu karena semua akan tetap seperti ini.
Unita memeluk Bayu, dia sangat ketakutan saat ini, “Aku merasa begitu buruk, Bayu. Mas Nurdin—“
“Sssstttt.” Bayu menusap punggung Unita, “Di sini ada aku, Unita. Aku yakin tidak akan ada kejadian apa pun, kalau Nurdin tahu soal ini, datanglah padaku, aku akan selalu ada di sini, tetap di sini menerimamu. Apa pun kamu." Mempererat pelukannya, mengecup puncak kepala Unita beberapa kali tanpa mengurangi usapan di punggung. Bayu ingin Unita tenang karena tak akan ada yang terjadi setelah kejadian kemarin. Setelah tubuh Unita tak bergetar lagi, Bayu pun mengurai pelukannya, “Apa kamu makan dengan benar kemarin? Tadi pagi?” menyisihkan rambut Unita yang menutupi wajah ayu itu.
Unita menggeleng. Jangankan makan, perutnya saja tidak lapar karena terus memikirkan Reni.
“Baiklah.” Bayu berdiri, mengulurkan tangan ke Unita, “Aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Di sana menyenangkan, dan kamu akan merasa lapar saat di sana nanti.”
Unita mengertukan kening, “Ke mana?”
Bayu terkekeh, “Ikutlah dulu. Kamu akan senang.” Bayu mengajak Unita ke tempat yang harusnya bukan hari ini dikunjungi. Tapi karena Unita tak juga mendapatkan senyuman itu, Bayu pun memajukan jadwal untuk kemari. Tak terlalu jauh memang, tapi kalau pas dengan jadwalnya, Unita pasti akan lebih senang lagi. “Sepi, tapi kita akan tetap menemui seseorang di sana.” Bayu mengangguk, mengajak Unita turun juga. Menggandeng tangan itu, mengajak Unita masuk ke rumah sederhana dengan halaman luas serta pohon mangga di depan sebagai menyambut.
“Tempat apa ini? Apa ini rumahmu?” Unita bahkan tak melihat kehidupan di sini.
“Ya, ini adalah rumah ke duaku.” Bayu mengajak Unita masuk setelah membuka pintu, tak perlu mengetuk karena dia bukan orang asing di tempat ini. “Hey!” sapanya ke sosok yang tengah memunggunginya.
“Bang Bayu?”
Mata Unita membola, wajah itu ... .