Dia mencintaiku

1759 Kata
“Hey!” “Bang Bayu?” Mata Unita membola, wajah itu sama dengan gadis kecil dalam lukisan, dia adalah, “Lana?” lirih, meski begitu mampu membuat gadis yang baru saja berdiri dari tempat duduknya, menoleh dan menulurkan tangan. “Lana.” Memperkenalkan diri dengan teman wanita yang dibawa oleh bang Bayu. “Unita. Aku—“ “Dia kekasihku.” Bayu memotong kalimat yang entah akan diucap seperti apa oleh Unita, memeluk pinggang sambil tersenyum ke Unita, sangat tahu kalau wanita yang dia cintai tengah gugup saat ini. Lana tersenyum, menganguk, mengiyakan. “Bang Bayu, datang gak ngabarin dulu, biasanya chat atau telepon.” Lana ke dapur, berniat membuatkan minum untuk kekasih bang Bayu, Unita. “Iya, hari ini semua serba mendadak. Anak-anak tidak ke sini?” tanya Bayu, mengajak Unita untuk duduk, meninggalkan Unita karena menyusul Lana ke dapur. Unita tak mendengar percakapan itu dengan jelas. Tetap duduk di tempatnya sambil mengedarkan pandangan, tempat apa ini? Di sini juga banyak lukisan. Tak terlalu bagus memang, hanya gambar sederhana seperti vas bunga dan juga pemandangan gunung seperti gambar yang sering dibuat oleh Gwenza, dan beberapa cat yang berserakan, palet yang kotor dengan sisa cat di pinggirnya, serta tumpukan kanvas di rak yang ada di sudut ruang. Unita seolah melihat ini seperti— “Minumlah.” Unita menoleh, Bayu datang dengan cangkir berisi teh hangat. “Ke mana Lana?” tanyanya menerima uluran teh itu, airnya yang tak terlalu panas sekali, Unita pun menyeruputnya, manisnya pas, Lana membuatnya dengan sempurna. Seperti ... ah! Unita menyingkirkan kata ‘wanita idaman’ di otaknya. “Dia ke belakang. Tempat ini sepi, tapi aku sering ke sini saat suntuk.” Bayu mendekat ke jejeran lukisan sederhana, tersenyum melihat beberapa yang menurut matanya cukup bagus. “Bukankah kamu suka ke danau? Apa sekarang ganti ke tempat ini?” Bayu menoleh dan terkekeh, ”Danau berbeda dengan rumah ini. Di danau kita akan mendapatkan ketenangan jiwa, di rumah ini kita bisa mendapatkan ketenangan hati.” Kembali menoleh ke jejeran lukisan, mulai memilah mana kiranya yang bisa dibawa ke galeri miliknya. “Maksudmu? Aku tidak paham, Bayu.” Unita berdiri, ikut mendakat ke jejeran lukisan itu, dia merasa punya hak untuk memilih kalau Bayu mencari yang bagus. Bayu terkekeh lagi. “Ini adalah rumah orang tua Lana, Lana yatim piatu, orang tuanya masih saudara jauh denganku, aku mengasuhnya bersama dengan kak Pras—“ “Pras?” Unita mulai mengenal nama baru yang bahkan tidak pernah dia dengar selama dekat dengan Bayu. Bayu mengulurkan tangan, mengusap pipi Unita, “Kak Pras yang mobilnya sering kupinjam dulu.” Barulah Unita tersenyum, “Maafkan aku, Bayu.” Tidak enak dengan pikirannya yang terlalu negatif ini. Bayu kembali memilih lukisan, senyuman Unita melegakan untuknya, “Lana punya banyak teman, kebanyakan anak jalanan juga, aku yang mengajak mereka untuk belajar melukis, aku menjualnya untuk kebutuhan rumah ini, bukankah itu bagus?” Unita mengangguk, mendekat ke sebuah lukisan dan mengambilnya, “Aku boleh membeli yang ini?” Bayu menoleh dengan cepat, “Kamu mau menghinaku?” saat Unita mulai pucat dengan gelengan cepat, Bayu tertawa, “Jangan memberiku uang, Unita. Ambil mana yang kamu suka.” “Lalu bagaimana dengan mereka? Bukankah ini—“ “Bang Bayuuuu ... .” “Hey ... .” Bayu tertawa, anak-anak yang biasa di sini baru saja datang dan memeluknya. Bayu menoleh ke Unita, melihat wajah kebingungan itu, membuatnya tergelitik. Entah apa yang dipikir oleh Unita, Bayu hanya akan menikmatinya saja saat ini. “Bang Bayu membawa pacar tadi saat ke sini.” Bayu menunjuk Unita dengan ke dua tangannya, seolah mempersembahkan sebuah patung dengan harga yang sangat mahal untuk anak-anak di depannya. Unita tentu saja tersipu, bagaimana bisa Bayu membuatnya begitu malu begini, “Hey ... namaku Unita.” Tak lama, mulai banyak pertanyaan yang terlontar untuknya, Unita hanya bisa menoleh beberapa kali ke Bayu, seolah pria itu tengah mengerjainya saat ini. Meski mungkin lebih dari dua puluh lima menit sesi tanya jawab itu, Unita bisa bernapas lega setelah Lana datang dengan makanan di kantong yang dibawa, baru tahu, mungkin ini yang dilakukan Lana hingga meninggalkannya hanya berdua dengan Bayu di rumah ini tadi. “Habis makan kita melukis lagi, lusa ada pameran di dekat galeri Bang Bayu, Bang Bayu akan jemput kalian, kita harus ikut ke pameran itu, okey?!” Bayu senang saat melihat semua anak ini penuh semangat. Meski ada Unita di sini, tak terlalu memperhatikannya dengan berlebih sepertinya tidak masalah, toh! Bayu tetap menatapnya sesekali sambil melempar senyum. Setelah anak-anak selesai makan, kembali dengan kuas dan palet mereka, barulah Bayu mendekati Unita yang belum menghabiskan makanan yang dibelikan oleh Lana tadi, “Moodmu kembali baik?” saat Unita tersenyum sambil mengangguk, “Aku senang kalau kamu juga nyaman di rumah ini, kalau aku tidak di galeri, aku pasti ada di sini.” imbuhnya. “Aku akan mengingat jalan—oh! Sebentar, Bayu.” Unita berhenti, ponselnya berdering saat ini, guru Gwenza menelepon, dan itu membuat Unita mengerutkan kening karena bukan hal yang biasa menurutnya, “Selamat siang, Bu.” sapanya. Saat guru Gwenza memberitahukan apa yang membuatnya menelepon, Unita pun menjadi panik. Segera meninggalkan piring yang bersisa beberapa suap lagi, dan mengambil tasnya. “Ada apa?” Bayu ikut panik kalau sudah begini. “Gwenza tidak ada yang menjemput, Bayu. Kita harus kembali ke galeri, mobilku—“ “Aku akan mengantarmu.” Bayu pun meninggalkan piringnya juga dengan segera. “Tapi—“ “Nurdin sudah tahu aku, kan? Kenapa dengan Gwenza? Apa menurutmu aku bukan orang yang menyayangi anak kecil? Bahkan Gwenza akan mencintaiku juga setelah bertemu nanti.” Bayu tidak peduli, berpamit ke Lana, dan ke mobil. Unita yang tak mau Gwenza terlalu lama menunggu, tak lagi meributkan apa yang tidak penting. Membiarkan Bayu mengantarnya dengan mobil Bayu karena mobilnya sendiri di galeri Bayu tadi, Unita tak pernah mengira ini akan terjadi, dengan cemas dia pun membiarkan apa yang akan terjadi saat Gwenza bertemu dengan Bayu nanti. Mobil semakin dekat, tapi ponselnya pun berdering kembali. Unita tak mungkin mengabaikannya karena itu dari galeri, biasanya akan penting kalau pekerjanya sudah berani meneleponnya begini. Bayu tersenyum. Unita terdengar begitu sibuk dengan galeri. Saat mobil itu berhenti sempurna, Bayu melihat Gwenza duduk bersama satpam sekolah, kaki gadis manis itu mengayun-ayun, seolah bosan karena menunggu terlalu lama. “Unita, aku—“ Bayu mencoba menyela obrolan yang terdengar begitu penting antara Unita dan penelepon. “Sebentar, Bayu. Aku tidak bisa meninggalkan ini.” Unita kembali fokus dengan ponselnya karena akan ada penyewa yang saat ini ada di galeri, tengah berbicara dengannya lewat telepon di galeri. Bayu terkekeh, turun lebih dulu, mendekat ke satpam, dan segera tersenyum ke gadis manis yang ikut menatapnya dengan awas, ”Hey, Gwenza. Apa aku terlambat?” Bayu menoleh ke satpam lagi, “Saya teman nyonya Unita, dia sedang di mobil, menelepon.” Tak ingin dianggap akan menculik gadis manis di depannya ini. Satpam pun menoleh, melihat mama dari nona Gwenza yang memang tengah menelepon saat ini. Hanya tersenyum dan mengangguk, tapi tak meninggalkan nona Gwenza sendirian juga. “Tapi mama gak pernah cerita soal Om. Gwenza juga dilarang mengobrol dengan orang asing, Om. Jadi Om pulang saja, Gwenza mau menunggu mama.” Gwenza kembali bermain dengan pop it di tangannya, dia memang membawa satu mainan setiap ke sekolah, dan hari ini dia membawa pop it karena tadi sempat bertukar pop it juga dengan teman karibnya. Bayu terkekeh, tahu kalau satpam juga menjaga Gwenza dengan baik, Bayu tak ingin memaksa atau apa pun. Ikut duduk di sebelah satpam dengan Gwenza di sebelah satpam juga di sisi lain, sengaja mengambil jarak agar Gwenza nyaman, seolah tak sungkan berada di posisi itu, “Ya, Gwenza benar. Kita tunggu mama saja kalau begitu.” Saat satpam tersenyum tak enak, Bayu memilih untuk mengajak satpam itu membicarakan hal lain, tak ingin situasi ini semakin canggung. Unita menghela napas, galeri semakin melambung sekarang, banyak jatuh bangun membesarkan galeri itu sendiri, dan kini Unita bisa bernapas lega karena penyewa sendiri yang mencari dirinya, bukan dia yang harus kebingungan mencari penyewa seperti dulu. Baru saja menyandarkan punggung, Unita ingat apa tujuannya datang ke sini, segera turun, berjalan cepat ke gerbang sekolah, dan tersenyum ke Gwenza yang cemberut sambil melirik sinis ke arahnya. “Maaf, Sayang. Mama mengangkat telepon tadi. Pak sopir belum datang? Bu guru tidak menelepon pak sopir?” mengusap lengan Gwenza, merayu agar putrinya tidak cemberut terus. Gwenza menggeleng, “Mama harus membayarnya dengan es krim.” bersedekap d**a, mengerucutkan bibirnya sebagai aksi protes ke sang mama. Unita terkekeh, “Kami pulang dulu, Pak.” berpamit ke satpam, menggandeng Gwenza ke mobil Bayu. Bayu tak mengatakan apa pun, hanya tersenyum sambil mengedipkan mata dengan gerakan cepat saat Gwenza menoleh ke arahnya untuk menelisik. “Ke mana kita akan membeli es krim?” tanyanya setelah mobil yang dia kendarai melaju, berbaur dengan mobil lain di jalan raya. Unita tersenyum, “Sayang, ini Om Bayu, teman Mama, Om Bayu pelukis yang hebat, kita bisa melajar melukis darinya.” “Hahahaha.” Bayu merasa kalimat itu sangat lucu. “Mama punya teman yang bisa melukis? Menggambar gunung dan juga laut? Ratu dengan istana salju?” “Iya dongggg. Om bisa melukis apaaaaa saja, termasuk Gwenza saat cemberut tadi.” ledek Bayu, tertawa ringan setelahnya. “Ahhhh ... Gwenza gak percaya.” melipat tangan, menyandar ke mamanya karena dia juga duduk di sebelah om Bayu yang baru saja dia kenal. “Okey. Besok Om Bayu bawakan lukisan Gwenza kalau kita bertemu lagi.” Bayu akan melakukannya, dia ingin tahu, apa yang akan Gwenza katakan setelah melihat lukisan Gwenza sendiri. Gwenza tertawa, “Om Bayu, itu es krimnya!” teriak Gwenza sambil menunjuk sebuah toko es krim kesukaannya. Dia sering lewat sini dan itu membuatnya sangat hafal dengan toko es krim yang satu ini. “Siap, Putri Gwenza!” Bayu segera menepikan mobilnya. Setelah turun, berjalan beriringan dengan Unita yang tak henti tersenyum sejak tadi, Gwenza sudah berlari, terlihat memilih menu yang Bayu yakini kesukaan gadis manis itu. Bayu menyenggol pundak Unita dengan pundaknya, tertawa saat Unita menoleh ke arahnya. Unita terkekeh, “Kamu benar-benar mengambil hatinya.” puji Unita. Sikap manis yang Gwenza gunakan di pertemuan pertama ini, sangat sulit dipercaya, Bayu seolah kenal lama dengan Gwenza. Putri kesayangannya terlihat begitu akrab, padahal dia tak pernah membicarakan Bayu selama ini saat dengan Gwenza. “Bukankah aku sudah bilang, Gwenza pasti akan mencintaiku juga.” Bayu sangat percaya diri. Tangan yang tadinya dia masukkan di saku celana, kini menggapai tangan Unita, mencuri satu kecupan di punggung tangan itu. Unita menggeleng, “Kamu menang, Bayu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN