Kamar hotel

1756 Kata
Unita dan Gwenza melambaikan tangan, Bayu mengantar mereka pulang setelah makan es krim dan membeli boneka tadi. Gwenza segera berlari masuk, tak sabar untuk segera bermain dengan boneka baru pemberian om Bayu. “Maaf, Nyonya Unita. Bannya tadi bocor, saya dan tuan muda Gevin ke bengkel.” Unita tersenyum, “Gak pa-pa, Pak. Gevin mana?” tanyanya seraya berjalan meninggalkan gerbang. “Di taman belakang, ada teman tuan muda Gevin yang datang, sedang mengerjakan kerajinan lampion.” Unita mengangguk, putranya memang mulai sibuk dengan sekolahnya, berbeda dengan Gwenza yang masih santai di tahap bermain sambil berlajar. Setelah ganti baju, menyuapi Gwenza, dan melihat apa kesibukan Gevin, Unita hanya menemani Gwenza bermain boneka di dekat putranya belajar kelompok sampai hampir senja. Setelahnya mandi dan bersiap untuk makan malam. Baru saja Unita mengambil nasi untuk Gwenza dan Gevin, Nurdin pulang sambil tersenyum dan memamerkan kotak ke udara. Unita terkekeh, menerima kotak yang ternyata isinya donat kesukaan Gwenza, “Mandi, Mas. Kubuatkan s**u jahe dulu.” Unita membuka kotak donat itu, meletakkannya di tengah, antara nasi dan juga lauk. Nurdin mendekat, mengecup kening Unita singkat, Gwenza, dan Gevin juga, baru ke kamar untuk membersihkan diri. Setelahnya bergabung untuk makan malam, menyelesaikannya dengan cepat, dan sengaja mengajak semua untuk menonton TV bersama, Nurdin rindu saat seperti ini. Gwenza sibuk dengan donat dan kartun yang ternyata masih saja tayang meski sudah malam, dan Gevin juga melakukan hal hampir sama. Nurdin suka melihat semua ini. Unita yang duduk dengan menyandar di pundak, membuat semua lebih sempurna. “Aku tidak melihat mobilmu? Mogok?” Nurdin pikir Unita belum pulang tadi. “Di galeri, Mas. Aku tadi meeting dengan Bayu, kami membicarakan acara pameran lukisan sebentar lagi, ban mobil di rumah bocor, jadi Bayu mengantarku menjemput Gwenza tadi.” Unita tertawa sesekali, cartun yang dipilih oleh Gwenza lucu juga ternyata. “Oiya, aku besok mau ke lapangan. Semoga tidak hujan, atau aku harus menginap nanti.” “Lagi?” Unita mendongak, dia benci mendengar berita semacam itu. Nurdin terkekeh, “Untuk siapa? Hm?” Unita memeluk Nurdin, meletakkan kepala itu lebih dekat ke d**a, “Untukku, Gevin, dan Gwenza, tapi aku benci saat Mas harus menginap. Minggu Mas janji kan kalau akan mengajak Gwenza ke play zone?” berat sekali melepas Nurdin meski Unita tahu untuk masa depannya juga. Nurdin mengecup puncak kepala, “Kita akan punya banyak waktu setelah ini, jangan manja, lihat Gevin dan Gwenza, siapa yang kecil di sini?” Unita tertawa, mencubit perut Nurdin. Suaminya memang benar meski rasa rindunya juga harus diperjuangkan. “Mama, Gwenza ngantuk.” Unita terkekeh, “Aku ke kamar dulu, Mas.” pamitnya karena ingat besok Gwenza harus sekolah. Mengajak Gevin juga, membiarkan Nurdin masih di ruang TV dengan sesekali tertawa, membiarkan TV menayangkan kartun kesukaan Gwenza. *** Pagi ini semua sarapan dengan cepat, Unita yang berangkat bersama dengan Gevin dan Gwenza, sedangkan Nurdin yang tak mau terlambat, segera ke kantor untuk menyiapkan berkas yang diperlukan. Unita tak menemukan mobilnya di galeri, dia pun menelepon Bayu, akan pulang dengan apa dia nanti? Bayu menggeliat, ponsel yang sengaja diberi nada khusus, membuatnya tahu siapa yang meneleponnya saat ini, “Ya?” “Apa kamu masih tidur? Aku mengganggu?” Unita menggigit bibir bawah, tidak enak karena tahu Bayu sering tidur lebih larut untuk menyelesaikan lukisannya tiap malam. Bayu terkekeh, menggeliat lagi, “Datanglah, Unita. Badanku tidak terlalu baik. Aku tidak bisa mengantar mobilmu ke galeri.” “Kenapa? Kamu demam?” “Ya, sepertinya begitu?” Unita pun menjadi panik, “Jangan ke mana-mana, aku akan segera di sana dan membawakan obat untukmu, jangan ke mana-mana, okey?” segera memutus sambungan telepon, berjalan ke apotek yang ada di sebelah galeri seni miliknya, tak lupa kue dan makanan yang agak berat untuk Bayu sarapan, menghentikan taksi, dan segera meminta sopir agar melaju cepat. Unita tidak menyangka kalau Bayu demam mendadak seperti ini. “Bayu?” panggilnya saat naik ke lantai dua. Penjaga di bawah bilang belum bertemu dengan Bayu, membuat Unita semakin memikirkan hal yang buruk. Lantai dua terlalu sepi, ruang lukis juga sepi, tak ada sisa apa pun di dapur, Unita meninggalkan semua yang dia bawa di meja makan. Tinggal kamar yang Unita yakini ada Bayu di sana, Unita pun pergi untuk memeriksa. “Bayu?” panggilnya dengan kening mengerut. Ranjang itu kosong, Unita menoleh ke kanan dan juga kiri, kalau Bayu tak ada juga di sini, lalu ke mana Bayu pergi? “Aku merindukanmu sampai rasanya menyakitkan melebihi demam.” Bayu sudah memeluk Unita dari belakang. Setelah Unita menutup telepon tadi, Bayu sengaja mandi dan bersembunyi di balik pintu kamar. Siap bertempur, tangan kanan yang memeluk mulai merayap ke atas, meremas d**a Unita dengan lembut, sedangkan yang kiri dia gunakan untuk membelai pipi itu, mendongakkan Unita, memagut bibir itu untuk merasakan betapa manis dan membara cintanya untuk Unita. Unita menerima lumatan demi lumatan yang diberi oleh Bayu, tidak menyangka kalau Bayu sengaja membuatnya kawatir tadi. Saat tubuh dingin itu terus mendorong diri hingga ke ranjang dan terlentang, Unita hanya pasrah saat Bayu membuatnya sepolos bayi. Udara dingin karena terlalu pagi, membuat gairah yang tak tersulut, semakin panas oleh sentuhan yang diberi Bayu. Bayu terkekeh, melepas celana tak berguna yang membuat semua semakin sesak, kembali menunduk untuk memagut bibir itu lagi dan lagi. Tangannya semakin aktif di bawah sana, menusuk selipan yang basah hingga tak mampu menahan segala bentuk tak beraturan. Bayu menghentikannya, menggoda dengan miliknya yang menegang, dan segera membenamkannya, merasakan remasan kuat di miliknya, menarik kaki Unita agar memeluk pinggang, “Kamu selalu membuatku gila, Unita. Selalu membuatku gila.” Bayu mulai memberi irama, tak henti menikmati Unita yang semakin gelisah dan tak tentu arah di bawahnya. Nurdin... Berdiri dari kursi kebesarannya, Reni baru saja datang dengan pakaian yang lebih pas untuk ke lapangan, “Sudah sarapan? Siap? Nanti di sana akan panas dan bisa saja banyak nyamuk, becek, dan—“ “Mas Herlambang,” Reni tersenyum untuk menghentikan cerita panjang itu, “ayo berangkat!” naik ke mobil Nurdin, Reni mulai nyaman dengan Nurdin, pria di sebelahnya ini sangat banyak topik pembicaraan yang menyenangkan, terlebih dengan hal yang sepertinya hampir sama dengan apa yang dia suka, Reni sangat tertarik. “Ah! Ayo turun!” Nurdin menarik rem tangan, menunggu Reni turun, dan mulai mengajaknya bergabung dengan Manager area di kebun sawitnya yang tengah panen. “Kalau membutuhkan sesuatu, katakan saja, Reni. Jangan sungkan.” Nurdin senang melihat wanita seperti Reni, tak canggung meski medan yang dipijak kadang berlumpur dan juga becek. “Iya, Mas Herlambang. Anggap saja aku tidak ada, aku hanya butuh gambar buah sawit dari dekat, selebihnya aku bisa mengaturnya.” Reni sudah siap dengan kamera di tangan. Saat Nurdin berbincang tentang pekerjaan, Reni juga sibuk dengan jepretan yang dia ingini. Dekat dan fokus, Reni mendapatkan apa yang dia mau. Sepertinya cukup, matahari juga tinggi hingga membuatnya sedikit pening, Reni berdiri, mengercitkan kening sambil menoleh ke Nurdin. Nurdin terkekeh, “Lelah?” mengintip jam di pergelangan tangan kiri, “Makan siang sekarang?” tawarnya saat sadar sudah tengah hari. “Boleh.” Reni tak banyak protes, bahkan saat Nurdin memilih restoran yang tak pernah dia kunjungi, Reni hanya menurut. Menu pun sengaja membiarkan Nurdin yang memilih, yakin kalau Nurdin-lah yang lebih banyak tahu. “Mas Herlambang, jujur saja aku lelah. Di kebun sangat panas dan aku lupa tidak membawa minum tadi.” Reni tersenyum, tak enak rasanya mengatakan itu. “Ya, memang begitu kenyataannya. Apa ... kamu pusing?” Nurdin ingat saat Unita memaksa untuk ikut ke kebun dulu, Unita juga pusing karena tidak kuat dengan panasnya matahari di kebun, dan dalam waktu lama hanya berdiri saja. Reni tersenyum kecut, “Sedikit. Biasanya akan sembuh setelah ... tidur.” meringis, benar-benar tidak enak dengan Nurdin. “Hahahahaha. Santai-lah. Ada hotel di dekat sini, aku akan memastikan kamu pulang dalam keadaan sesegar pagi tadi, atau aku akan malu dengan tuan Harianto kalau kamu pulang di saat seperti ini.” Nurdin tahu dengan baik daerah sekitar sini. Setelah makan segera singgah di hotel terdekat, check-in untuk beberapa jam ke depan, “Dua kamar.” “Mas Herlambang,” Reni menyentuh lengan Nurdin, “aku ... aku takut tinggal sendirian. Satu kamar saja, Mas Herlambang bisa menemani di ruang TV atau apa pun, aku tidak akan membuat ulah, sungguh.” Nurdin yang melihat wajah ketakutan itu, tersenyum ke Reni, “Satu kamar,” setelah mendapatkan kunci, Nurdin pun menoleh ke Reni, “aku akan menemanimu, jangan kawatir. Aku hanya ingin kamu pulang dalam keadaan baik, tidak pucat begini.” Sesampainya di kamar hotel, Nurdin mempersilakan Reni untuk masuk, “Aku memesan yang dua kamar, istirahatlah. Aku juga akan tidur sebentar, kenyang membuatku mengantuk.” Tersenyum, memilih kamar yang paling dekat dengan pintu keluar. Reni tersenyum, Nurdin sudah menutup pintu kamar, dia segera mencari handuk, mandi dan tidur adalah pilihan tepat agar peningnya hilang. “Ahh ... rasanya segar sekali.” Reni sengaja berendam, ini adalah keadaan ternyaman yang paling disukai. Memejamkan mata, sabun yang harum membawa rileks untuknya. Hampir tertidur, dering ponsel yang berteriak dari kamar mengagetkannya. Reni segera bangun, keluar dari bak mandi, dan melangkah cepat ke luar untuk mengambil ponsel itu, “Akh!” Reni meringis, dia yang tak hati-hati malah terpeleset, dan jatuh di lantai basah ini. Nurdin mendengar teriakan itu, dia yang baru saja merebahkan diri, segera bangun. Kamar Reni terbuka dan tak ada Reni di sana, Nurdin memutuskan untuk masuk, hanya pintu kamar mandi yang tertutup rapat, “Reni?! Kamu di dalam?!” tanyanya setengah berteriak agar Reni mendengarnya. “Mas Herlambang?!” Reni mendengar panggilan itu dengan jelas, “Tolong! Aku—aku terjatuh!” pekiknya tak kalah keras. Nurdin dengan panik memutar-mutar gagang pintu itu, bersyukur karena Reni tak menguncinya, tak terlalu senang, Nurdin berbalik membelakangi Reni dengan cepat, meski Reni jatuh di lantai, sosok itu telanjang juga saat ini. “Ma—maaf, Mas Herlambang. Aku—aku terpeleset.” Reni menggigit bibir bawah, tak enak dengan keadaan dirinya saat ini. Tapi apa? Punggung dan bokongnya sangat sakit. “Di mana handukmu, Reni?” Nurdin tetap memunggungi Reni, enggan untuk membalik badan. “Di sana.” Reni menunjuk dengan tangan, tak peduli Nurdin akan menoleh atau tidak. Nurdin yang tahu posisi handuk, segera mengambilnya, menutup tubuh Reni, dan membantunya untuk bangun, “Akh!” lantai yang terlalu basah, dan kaki yang tak beralas, Nurdin yang tadi membopong Reni dan akan menggendongnya ke kamar, malah terjatuh dengan Reni berada di atasnya. Kemalangan macam apa ini? Bibir Reni mendarat dengan pas di bibirnya, membuat Nurdin diam tak bergerak, masih bingung harus bersiap dan melakukan apa saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN