Membuka kaki

1698 Kata
“Ma—maaf, Mas Herlambang.” Reni segera bangun, membuat handuk itu meloloskan tubuhnya lagi. Antara tubuh yang telanjang atau bibir yang terus mendarat di bibir Nurdin, Reni merasa tak ada yang lebih baik. Bangun dengan kaki juga luar biasa sakit, dia kembali menarik handuk dari atas tubuh Nurdin untuk menutup tubuhnya kembali sambil membuang muka. Nurdin terkekeh, “Anggap saja ini tidak pernah terjadi,” berdiri, mengulurkan tangan ke Reni untuk membantunya berdiri, “aku akan membantumu ke kamar.” Merangkul Reni, mengajaknya berjalan perlahan. “Ada kotak P3K di luar, tunggu sebentar.” Nurdin dengan cepat mengambilnya, selain perban dan obat merah, untung ada minyak gosok juga. Nurdin dengan telaten segera mengusap pergelangan kaki Reni dan memijitnya. Reni sungguh tak enak hati, “Aku tidak merencanakan ini, sungguh. Aku bahkan tak ingin terpeleset dan membuatku terkilir begini.” Nurdin terkekeh, “Jangan dipikirkan, siapa yang mau kena musibah, ini akan lebih baik, jangan sungkan, aku juga biasa melakukan ini ke Unita. Saat dia terkilir, aku juga memijitnya seperti ini.” Mendengar nama itu, Reni merasa kesal, ingat akan Unita yang merebut mainannya, dia pun mengepalkan tangan, otaknya yang licik mulai berpikir jahat. Nurdin yang terlihat sibuk dengan pergelangan kakinya, Reni segera melebarkan paha, sengaja karena wajah Nurdin tepat di depan lututnya saat ini, ”Akh! Sakit, Mas Herlambang. Pelan-pelan.” ucapnya sambil mendesah manja. Nurdin tersenyum sambil mendongak, betapa kagetnya, tepat di depannya malah terpampang apa yang harusnya tak dia lihat, terlebih itu milik orang yang bukan haknya. Nurdin kembali menunduk, menyelesaikan pijatan itu, dan segera berdiri, “Kurasa sudah lebih baik, aku akan mengembalikan ini dan istirahat, kamu juga istirahat, nanti malam kita makan di luar.” Tersenyum dan ke luar, masuk ke kamarnya serta menguncinya dengan rapat. Nurdin segera membersihkan diri dan berbaring di ranjang, dia tak ingin terus memikirkan kejadian yang baru saja dia alami. “Unita.” Dia lupa belum mengabarkan kalau kemungkinan besar harus menginap. Mengambil ponsel dan segera menelepon Unita, bersiap dengan rambut yang baru saja dirapikan agar terlihat setampan biasanya. Bayu mendengar dering ponsel, membuka mata perlahan karena masih tidur dengan memeluk Unita setelah pertempurannya barusan. Tubuh ke duanya sama-sama telanjang, Bayu hanya mengusap pipi Unita sebentar dan mengambil ponsel Unita, satu nama yang membuatnya membara terpampang di layar ponsel itu, Bayu mengubah mode suara menjadi diam, melempar ponsel Unita kembali ke dalam tas, dan naik ke ranjangnya lagi. Segera memagut Unita lembut di bibir, awalnya hanya perlahan, semakin lama mulai menuntut hingga Unita yang terlelap terbangun kembali. Unita menggeliat, “Ba—yu ... .” gumamnya tak terlalu jelas karena mulutnya terlahap oleh Bayu. Tangan nakal itu kembali membuatnya basah, membiarkan Bayu terus menghujam dirinya hingga sisa tenaga yang baru saja penuh, kembali habis karena Bayu membuatnya terus berkeringat. Bayu terkekeh, baru saja mengguyur rahim Unita untuk ke dua kalinya, memberi hadiah ciuman di punggung berkeringat oleh ulahnya itu, “Kamu sangat hebat, Uniata.” Melepas miliknya perlahan, membiarkan Unita tetap terkelepai di ranjang, “Setelah ini aku akan mengisi perutmu, kita jalan-jalan, dan aku akan mengajakmu ke suatu tempat.” Mengecup kening Unita setelah Unita mengangguk, dan segera ke kamar mandi. Bayu memberikan makanan yang tadi dibawa Unita ke pekerja yang menunggu galeri, sedangkan dirinya sendiri segera mengajak Unita ke kafe dekat galeri dengan mobil Unita, makan ikan filet dan saus nanas, makanan yang paling ringan dan mudah diterima oleh perutnya. “Aku akan melukis Gwenza, tapi bagaimana dengan Gevin?” Bayu mengulurkan sesuap makanan ke Unita. Unita melahap suapan itu, “Apa perlu kukirimkan foto Gevin?” Bayu menggeleng, “Bagaimana dengan pertemuan? Aku bisa menyimpannya dalam otakku.” Unita diam sejenak, “Gwenza dan Gevin berbeda, aku tidak yakin dengan Gevin.” “Kenapa? Kamu tidak mempercayaiku?” Unita terdiam, dia tak tahu harus mengatakan apa untuk pertanyaan Bayu. Bayu mengulurkan tangan, menggenggam tangan Unita yang diam di atas meja dengan memegangi sendok, “Aku akan menemuinya dengan caraku, antar saja aku ke sekolahnya, okey? Aku janji, Gevin tidak akan curiga.” Unita yang mengangguk, Bayu juga ikut tersenyum, “Makanlah, aku tidak mau kamu pulang terlalu malam, ada satu tempat yang harus kita datangi, Unita.” Unita pun mengangguk, segera menghabiskan makanannya dan menurut saat Bayu mengajaknya berkendara lagi. Unita pikir dia akan di rumah yang kemarin didatangi, ternyata dia salah, ini adalah tempat mewah, “Kenapa kita ke sini?” “Aku memesan sesuatu, ayo!” Bayu menggandeng tangan Unita dan mengajaknya masuk, “Pesanan Bayu Bimantara.” ucapnya ke pekerja toko yang berjaga untuk menyambutnya. Setelah sebuah kotak kecil disodorkan, segera diterima dengan melepas tangan Unita, membukanya, menoleh ke Unita dan menutup kotak itu kembali, “Ayo! Aku akan mengantarmu ke galeri, aku ada pekerjaan di dekat sana.” Kembali ke mobil dan melajukannya dengan kecepatan standart. Unita hanya diam, dia pikir apa yang dibeli Bayu tadi adalah untuknya, ternyata dia salah, “Hm ... bagaimana kamu pulang? Apa aku perlu mengantarmu?” Bayu terkekeh, menoleh sekali dan kembali fokus ke depan, “Aku akan melihat tempat pameran untuk lukisan anak-anak, aku akan ke sana dengan temanku, sepertinya dia yang akan mengantarku nanti. Oiya, apa aku bisa bertemu dengan Gevin besok lusa? Semakin cepat lebih baik, kan?” Unita mengingat apa jadwal Gevin, “Sepertinya Gevin latihan renang,” Unita menyebutkan salah satu nama kolam renang mewah di kota ini, “kamu tahu tempatnya?” Bayu mengangguk, “Aku akan ke sana.” “Tapi aku tidak bisa, lusa ada orang yang akan menyewa galeri, aku harus menunggunya karena dia belum tahu akan siang atau bahkan sore tapi dia meyakinkan kalau hari itu akan ke galeri. Aku tidak bisa pergi seharian itu, Bayu.” Unita hanya tidak ingin Gevin yang wataknya seperti papanya itu, malah berkelahi nanti kalau tahu siapa Bayu. “Jangan kawatir.” Bayu menarik rem tangan, membuka pintu untuknya sendiri dan untuk Unita juga, mengantar Unita hingga ke pintu galeri, “Aku pergi,” ucapnya sambil mengusap lengan Unita, “ini untukmu, pakailah di mana pun dan ke mana pun kamu suka.” Menyerahkan apa tadi yang dibelinya, dan beranjak, Bayu tak mau terlambat karena sudah ditunggu oleh temannya, ponselnya sudah bergetar sejak tadi, Bayu pun melangkah dengan cepat. Berjalan menyusur di trotoar di deretan galeri Unita. Unita tersenyum memegangi kotak itu, punggung yang kian menjauh tak membuatnya berpaling, terus menatap hingga tak lagi mampu dijangkau oleh pandangannya, barulah Unita masuk. Setelah di ruangannya, Unita membuka kotak itu, kalung dengan liontin yang begitu indah, dia tak menyangka kalau Bayu membelikan semua ini untuknya, “Ini pasti mahal, kenapa dia mau membeli ini?” ucapnya sambil mengusap liontin berwarna ungu, biasnya begitu indah saat terkena sinar matahari sore. Unita mengambil ponselnya, dia akan memotretnya dan mengabadikannya di laman sosial media miliknya, “Astaga!” Unita terkejut saat melihat banyaknya panggilan tak terjawab yang tertera di layar ponsel. Bukan hanya dari Nurdin, bahkan dari bibi juga, Unita memilih untuk menelepon orang rumah dari pada Nurdin. Telepon yang diangkat di dering ke dua, “Bibi? Kenapa tadi menelepon? Aku sangat sibuk hari ini.” membuatnya kawatir akan Gwenza atau bahkan Gevin. “Maaf, Nyonya Unita. Tuan Herlambang tadi telepon, malam ini ada pekerjaan yang mendadak, telepon Anda tidak diangkat, jadi mengabarkan ke rumah.” Unita menghela napas, pilihannya sepertinya salah, “Gwenza sudah makan? Gevin sudah pulang?” “Sudah, Nyonya Unita. Nona Gwenza baru bangun tidur siang dan tuan muda Gevin bermain game.” “Baiklah, aku tutup dulu, sebentar lagi aku pulang.” Unita berganti menelepon Nurdin sekarang. Cukup lama dan berkali-kali, hanya dering panjang yang Unita temui, dia pun menghela napas, “Ke mana kamu, Mas Nurdin?” monolognya sendiri sambil terus mengusap layar ponselnya. Nurdin Herlambang... Terkejut mendengar ketukan di pintu kamarnya, segera membuka pintu itu, Reni sudah tersenyum sambil menatapnya, “Ya, Reni? Kakimu sudah lebih baik?” tanyanya sambil mengucek mata, masih mengantuk rasanya. “Ya, lebih baik. Aku bisa berjalan meski hanya pelan, terima kasih sudah memijitku tadi.” Reni tersenyum, kakinya memang lebih baik, tapi perutnya jadi lapar sekarang. Nurdin yang tahu ini sudah waktunya makan malam, segera mengajak Reni ke luar, hanya di restoran hotel karena Reni terlihat begitu kesakitan saat berjalan seperti ini. Di restorsan hotel in cukup menarik, ada hiburan musik yang dimainkan secara langsung, dan beberapa lagi yang cukup berirama keras hingga membuat pengunjung berdiri dan menari. Nurdin yang tertarik, ikut berdiri dan menari karena lagu yang dia suka tengah dinyanyikan saat ini. Reni tersenyum, dia melihat sisi lain dari Nurdin saat ini. Apa yang dia siapkan segera dituangnya ke minuman Nurdin, melakukannya dengan cepat, dan segera menoleh lagi ke Nurdin yang menari, menikmati tarian itu sambil terus menari. *** Hari berganti, Unita bangun dan segera mengambil ponselnya, tetap tak ada kabar dari Nurdin. Panik? Tentu saja, tapi Unita tak bisa protes untuk saat ini. Dia juga tak berniat ke galeri, hanya menunggu kepulangan Nurdin dengan gelisah. Gwenza dan Gevin yang berangkat dengan sopir, Unita tetap diam di depan TV dengan mengganti siaran TV entah beberapa kali, tak ada yang menarik menurutnya. Jam dinding yang terletak di atas TV dan menggantung, seolah lebih menarik dari pada siaran TV itu sendiri. Hingga dentang jam di ruang tamu sebanyak dua belas kali, Unita tetap tak beranjak, tak juga makan siang. Tak ada yang menarik meski Gwenza dan Gevin sama-sama belum pulang saat ini. “Hey, Sayang.” Unita segera menoleh saat suara itu memecah keheningan, berdiri dan segera memeluk sosok itu, “Mas Nurdin, semalam di mana? Aku menelepon Mas tapi tetap tak ada jawaban.” Nurdin terkekeh, mengurai pelukan itu, mengecup keningnya, “Ponselku tertinggal saat makan malam, kupikir kamu sudah tidur, jadi aku tak mengabarimu setelah makan.” Nurdin memberikan tas kerjanya ke Unita, mengajaknya ke kamar, dia ingin membersihkan diri. Unita hanya mengekor, “Mas, sudah makan?” “Ya—ahhh ... .” Nurdin membuka jas yang dikenakan, cukup membuatnya gerah, “Tapi buah sepertinya segar, aku mau itu setelah mandi.” Unita bergumam untuk menjawabnya, menaruh tas kerja Nurdin, membantu suaminya untuk membuka jas, ‘Deg.’ Noda merah yang menghias di kemeja berwarna biru muda di punggung suaminya, membuat hatinya panas. Unita hanya bisa menahan, entah Nurdin berkata apa lagi, telinganya berdengung saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN