d**a Nurdin

1517 Kata
Unita diam di tepi kolam renang di rumahnya, dia menemani tukang kebun yang tengah menata bunga kesayangannya, dan itu yang membuatnya enggan beranjak ke mana pun. Terlebih lagi berkelana dengan pikirannya di bibir kolam seperti ini sangat menyenangkan, Unita akan menghabiskan beberapa menit sampai kepalanya kembali dingin, baru ke dalam lagi. “Unita?!” panggil Nurdin dengan berteriak, melihat istrinya hanya diam di samping kolam, dia pun mendekat, duduk di sebelah Unita, “Aku mencarimu.” Unita menoleh, tersenyum meski sangat terkejut saat ini, “Aku lihat bungaku banyak yang kuncup, sebentar lagi mekar, aku tidak sabar, jadi aku menunggunya di sini.” “Biasanya jam berapa anak-anak pulang?” tanya Nurdin. “Jam dua-an ... Mas, tidak ke kantor?” jawab Unita. Nurdin menggeleng, “Aku merindukanmu.” tahu jam masih lama, Nurdin pun menarik tangan Unita agar mengikutinya ke kamar, dia ingin berbagi peluh bersama meski ini terlalu pagi. Unita tersenyum semakin lebar, menurut, membiarkan Nurdin menggendongnya setelah sampai di kamar. Tak banyak membuang waktu, Nurdin merebahkan Unita di ranjang, membuka dres selutut yang dikenakan Unita, membuat istrinya hanya mengenakan bra dan celana dalam yang sama berwarna merah, senada dan cantik. Kulit putih itu terhias semakin indah di matanya. Nurdin tersenyum, “Aku ingin mengajakmu ke tempat kerjaku kalau aku menginap, tapi Gwenza akan protes nanti.” Nurdin melepas pakaiannya sendiri, membiarkan dirinya telanjang lebih dulu, baru naik untuk menaikkan bra Unita agar menampakkan indah yang selalu dia rindui. “Mas, kan tahu, aku tidak bisa di tempat yang seperti itu, banyak nyamuk, dan, ahhhh ... Mas Nur—din, ough ... .” Unita tak bisa melanjutkan kalimatnya karena isapan dan jilatan di dadanya. Nurdin terkekeh, tangannya yang tadi memijat, kini merayap ke bawah untuk meloloskan celana kekecilan itu. Berganti dengan memijit apa yang sudah dibuka oleh Unita, menusuk serta memainkan inti Unita dengan bibirnya yang sibuk menyusu. Nurdin jeda sebentar, “Aku akan memastikan semua nyamuk itu pergi saat kamu tiba di sana.” menatap Unita penuh cinta. “Ough ... i—ya, Ma—Mas. Ahhh ... .” Unita semakin tak kuasa atas dirinya sendiri. Nurdin yakin Unita sudah siap sekarang, “Aku ingin merasakan goyanganmu, Unita.” Menarik tubuh istrinya agar mendudukinya, Nurdin suka dengan tarian Unita seumur hidupnya. Unita tersenyum, segera naik, melahap milik Nurdin dengan miliknya, dan mulai berputar dengan irama yang dia kuasai. “Hm ... ough, Mas. Ja—ngan pernah ... hilang ... la ... gi—ihhh.” Unita mengucapkannya sambil mengerang, merasai nikmat buatannya. Matanya sayu, menatap tubuh Nurdin, merabai setiap inci kulit bagian depan, dan matanya tertarik oleh jejak yang baru saja dia temukan. Unita menutup mulutnya, di saat yang seperti ini, ada luka yang membuatnya tak ingin bergerak lebih lama lagi. Nurdin terkekeh, “Lelah, Sayang? Hm?” menarik Unita, melumat bibir itu, membalik tubuh Unita dan mengambil semua kendali dari Unita. Nurdin merasa sangat bahagia memiliki Unita di dunia ini, tak akan pernah dia sia-siakan. Hingga apa yang tertahan meluap membasahi rahim Unita, Nurdin memeluk Unita di bawahnya, “Aku mencintaimu, Sayang.” Melumat lebih mesra di bibir Unita yang bergetar. Nurdin menyudahi aksinya meski belum ingin melepas apa yang tertancap, “Kenapa menangis?” tanya Nurdin bingung dengan sikap istrinya ini. Unita menggeleng, “Aku senang melihatmu kembali.” jawabnya sambil terus meraih tubuh Nurdin dan memeluknya lebih erat. Menyembunyikan satu kenyataan yang entah kapan akan terungkap. Nurdin tertawa, “Maaf, semalam ponselku benar-benar ketinggalan, aku tidak mau mengganggumu tidur, jadi aku sengaja tidak telepon. Maafkan aku, Unitaku Sayang.” Merasakan Unita mengangguk dalam pelukannya, Nurdin mengecup puncak kepala Unita berkali-kali. Setelah denyutan di miliknya mereda, Nurdin mencabutnya perlahan, “Kita mandi, setelah ini jemput Gwenza.” mengulurkan tangan ke Unita. Merasakan Unita terlalu lama, Nurdin pun segera menggendong istrinya itu, “Kamu membuatku semakin gemas, apa kita harus melakukannya lagi di kamar mandi?” itu adalah penawaran yang sempurna, kan? Unita tertawa, “Apa kamu tidak lelah, Mas?” “Lelah? Untuk menyenangkanmu? Tentu saja tidak, apa kita akan melakukannya?” goda Nurdin semakin gencar, bahkan dia sesekali mencuri lumatan-lumatan singkat di bibir Unita. “Mas Nurdin,” rengek Unita yang mulai geli, “kita akan terlambat nanti.” rengeknya. “Hahahaha.” Nurdin pun mengalah. Benar-benar mengajak Unita mandi dan segera berangkat menjemput Gwenza. Bayu... Banyak waktu dia buang dengan hanya diam di depan kanvas. Lukisan abstrak juga tak tahu akan jadi apa, sedangkan tangannya sudah kotor dengan beberapa warna tak jelas, Bayu sedang buntu. “Ada apa? Kau seperti tidak berguna. Hahahaha.” Pras yang sedari tadi di rumah lukis, sangat tahu kalau Bayu kehilangan fokusnya. Bayu membuang napas kasar, “Entahlah. Unita tidak mengabariku seharian ini, itu sangat aneh.” Bayu kembali menyapukan kuasnya, berharap bisa menghasilkan sebuah karya hari ini. Pras tertawa lagi, “Bayuuuuu, Bayu ... kita ini sudah tahu, Unita itu istri orang, apa kamu tidak bisa cari wanita lain? banyak wanita di sekitarmu, janda, perawan, bahkan anak kuliahan saja banyak yang mengejarmu, kenapa harus Unita? Lagi pula Nurdin bukan orang sembarangan, kamu tahu itu, kan?” Bayu menoleh ke kakaknya, “Unita berbeda, Pras. Dia sangat anggun. Nurdin memang kaya, tapi aku yakin Nurdin kalah saing jika dibandingkan denganku.” Bayu tersenyum, dia memikirkan satu pola yang akan menjadi indah jika disatukan dengan abstrak di depannya. “Masalahnya, semua perempuan itu menyukai uang dan berlian, kau lupa?” Pras ingin Bayu sadar kalau langkahnya salah sudah menggoda istri orang. Bayu malah tertawa sekarang, “Pras, aku tidak akan pernah melepaskan Unita. Dia terlalu sempurna untuk kutinggalkan. Aku mencintainya dan hanya dia yang bisa mengerti keadaanku selama ini, dia sangat penyayang, aku membutuhkan wanita seperti itu.” “Bagaimana dengan Lana?” tanya Pras. “Jangan pernah mengingat masa lalu, Pras. Jika kau melakukannya semua kehidupanmu tidak akan pernah benar karena terus terikat dengan masa lalu itu.” Bayu sempat diam sejenak dan setelahnya kembali melanjutkan lukisannya lagi, “Bukankah kamu sibuk dengan anak-anak? Di mana pameran lukisan itu? Kau sudah menemukan tempat yang bagus?” tanya Bayu. “Kau mengusirku?” Pras sangat tahu diri, “Hahahaha. Aku akan mengabarimu secepatnya.” Pras pun beranjak sebelum Bayu marah. “Aku tidak bisa membantu besok, ada hal yang harus kulakukan!” teriak Bayu karena Pras semakin jauh. Tak ada jawaban dari Pras, hanya lambaian tangan, bahkan tanpa menoleh ke arahnya juga. Bayu pun menghela napas, kembali menyelesaikan lukisannya, dia akan memeriksa anak-anak setelah ini dari pada besok Pras akan membuatnya repot lagi dan lagi. *** Hari berganti. Bayu sudah siap dengan pakaian rapinya saat tuan Harianto datang. Dia tersenyum dan menjabat tangan untuk menyambut kedatangan tuan Harianto, “Ini lukisan Anda dan yang satu lagi, saya belum bisa mengerjakannya.” kata Bayu sambil mengajak tuan Harianto mendekat ke deretan lukisan, menuju ke yang paling indah, seorang peri yang turun dari langit dengan melewati pelangi, itu adalah lukisan yang sesuai dengan permintaan tuan Harianto. Tuan Harianto tertawa, “Ya, ya, ini sangat indah. Lalu ... kapan kamu akan melukis Reni?” tanyanya sambil menyentuhkan jemarinya ke bingkai lukisan itu. Bayu menunduk sesaat, kembali menoleh ke tuan Harianto lagi, “Nyonya Reni ingin saya melukisnya saat ... hm ... maaf, saat telanjang, apakah itu—“ “Ya, memang aku yang menyuruhnya.” jawab tuan Harianto membuat ucapan Bayu terhenti, “Reni adalah istriku yang paling pengertian, aku akan menaruh lukisan indah itu di kamar rahasiaku nanti. Kapan kamu menyelesaikannya?” tuan Harianto kembali menarik tangannya, berganti dengan menoleh ke Bayu. Bayu pun menelan ludah, “Saya bisa melukis sebagus dan sedetail ini tanpa pernah sekali pun bertemu dengan bidadari, tapi untuk tubuh secara keseluruhan, saya tidak bisa, hm ... hanya membayangkannya saja, dan nyonya Reni—“ “Ya, lakukan saja. Berikan aku yang terbaik. Reni wanita yang baik dan kamu pun juga sama, aku yakin kamu bisa membedakan antara pekerjaan dan hal yang tidak benar, kan?” tanya tuan Harianto masih penuh senyum. “Saya akan melakukannya saat Anda ada di sana, Tuan Harianto. Maafkan saya.” Bayu tidak ingin hanya berdua saja dengan Reni. Setelah rayuan beberapa waktu yang lalu, dia yakin Reni akan lebih gila lagi, dan Bayu tidak akan membiarkan hal itu terjadi. “Tidak masalah, kita akan melakukannya besok. Aku punya banyak waktu, bukankah tempatnya Reni sudah memberi tahumu?” tanya tuan Harianto lagi. Melihat Bayu mengangguk, tuan Harianto pun tersenyum, segera mengeluarkan cek dari jas-nya, itu adalah benda yang selalu dia bawa ke mana pun, “Aku harus kembali sekarang.” imbuhnya setelah menyerahkan cek itu ke Bayu. Bayu menerimanya, melihat jumlah pembayaran dari tuan Harianto, “Tuan Harianto, ini—“ Tuan Harianto segera menaikkan tangan untuk menghentikan ucapan Bayu, “Aku sangat puas, anggap saja itu hadiah kecil dariku, jangan menolaknya.” Menepuk pundak Bayu beberapa kali dan pergi setelahnya. Tak lupa menyuruh pengawalnya untuk membawa lukisan yang baru saja diselesaikan oleh Bayu itu juga. Bayu tersenyum semakin lebar, dia tak sabar menceritakan semua ini ke Unita, Unita harus tahu betapa bahagia dia mendapat hadiah besar ini. Bayu segera ke atas, mengambil jaket dan kunci mobilnya, segera berangkat untuk memberikan kejutan ke pada seseorang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN