Cia. Aku tidak tahu apa yang direncanakan oleh Nico. Yang jelas, cowok itu--iya, cowok yang akan menjadi suamiku dalam hitungan hari lagi--bertingkah aneh dari sejak dia mengirimiku w******p yang mengatakan, aku harus mengosongkan jadwalku Sabtu ini. "Eh, Cia, baju pesanannya Selina di mana?" Tanya Rara di saat aku melamun. "Cia?" Ulangnya. "CALON ISTRINYA NICO!" Aku bergeming, "Hmm? Ada apa Ra?" "Lo taruh di mana baju pesanannya Selina?" Tanyanya lagi. Aku mengerutkan keningku. "Selina? Selina mana?" "Artawiya!" Aku membentuk huruf 'o' sempurna dengan mulutku sambil mengangguk, "Ah iya, iya. Itu ada di belakang meja kasir udah gue lipat. Manajernya Selin udah dateng ya?" Rara mengangguk, dia ke kasir dan memberikan baju yang sudah kuletakkan di belakan meja kasir. Aku ada di ru

