Nico. Harusnya hari ini aku menikah dengannya. Harusnya hari ini dia sudah resmi menjadi istriku, dan calon ibu untuk anak-anakku. Harusnya hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untukku dan Cia. Tapi apa? Tubuh Cia masih lemah tak berdaya di dalam ruang ICU. Dia bahkan tidak bergerak sama sekali, dan kata tiap perawat dan dokter yang mengecek keadaannya, tetap sama. Keadaannya masih tidak sadarkan diri, dan hanya keajaiban yang bisa membangunkannya. "Kalo Cia bangun, kemungkinan dia bakal cacat Nic. Mungkin juga, dia buta dan nggak bisa bicara lagi," kata Eric yang keluar dari ruang konsultasi dokternya Cia. "Apa lo yakin Nic tetap mau sama Cia walaupun dia bangun dalam keadaan begitu?" Aku tidak peduli. Dokter-dokter bodoh itu boleh saja memprediksi apapun. Termasuk, Cia

