3

1413 Kata
Kebiasaan kalau di rumah, pagi-pagi sudah bangun dan ikut turun tangan pegang pekerjaan rumah, setelah menyapu rumah bagian dalam sekarang ganti menyapu teras, ya walaupun tidak kotor tapi setidaknya bersih dari debu. "Kak, lihat deh. Cantik nggak?" Tanya Ayah sembari menunjuk bunga anggrek yang baru beliau gantung "Ihh kok cantik banget warnanya. Baru beli toh, yah? Ya ampun, bagus lhoo Yah ini." Karena Ayah Ibu ku pecinta bunga, sedikit sedikit aku juga mempunyai ketertarikan akan tanam menanam dan merawat bunga, ya berhubung di Madiun nggak ada waktu luang, jadi hobi ku sedikit terbatas "Gratis dong, coba tebak dari siapa bunganya?" "Temannya Ayah atau nggak ya teman Ibu." "Ya mesti kalau itu, kemarin habis kondangan kan Ayah sama Ibu mampir ke rumah Pak Dhe Budi, tau sendiri kan kamu kalau Bu Dhe Lastri hobi banget sama tanaman, anggrek nya kak walah Ayah aja langsung jatuh cinta sama ini kok, waktu mau pulang Ayah bilang 'anggrek di depan itu kayak e bagus juga Mas kalau tak pasang di teras ku, cocok e kayaknya.' eh ternyata malah disuruh bawa, padahal cuma ada dua yang jenis ini katanya sih hadiah ulang tahun dari Dhimas lho, ya rejeki Ayah dong." Jelas Ayah "Ya karena udah teman baik Yah, makanya langsung diikhlaskan." "Oiya, kemarin Ayah juga ketemu Hammas anaknya Pak Dhe Budi, teman mu SMA kan Kak? Atau yang Dhimas nya yang temanmu? Ayah kok lupa." "Yang Hammas Yah, kalau yang Dhimas kan Kakak malah nggak kenal." "Eh iyaa, yang Hammas lak yang agak jahil toh." "Iya, rese banget. Masih aja rese sampai sekarang, kemarin juga kakak ketemu Hammas waktu keluar sama Adek." Kata ku teringat kemarin pertemuan ku dengan Hammas. -flashback on- "Hai Ham, baik baik kabar ku. Iya ya, terakhir ketemu waktu mau merantau semua kan sama anak anak. Gimana kamu? Sekarang di sini aja atau diluar kota?" Sapa ku balik pada Hammas, anak teman Ayah Ibu ku namun kami juga teman satu SMA "Nggak lihat, udah mapan gini ya mesti baik dong, ya gimana ya namanya anak nya Ibu mau kemana pun perginya cari ilmu tetap aja baliknya ke Ibu." Canda Hammas dengan sombong, dasar nggak berubah dari dulu "Masih aja kayak gitu kamu." "Ya jelas dong, aku masih kayak dulu dan nggak berubah, paling berubah ya makin tampan. Eh ini Qila dulu yang gembul gembul itu ya?" Tanya Hammas dan melirik Qila yang sejak tadi hanya menjadi penonton obrolan kami "Kenapa yang diingat orang itu cuma Qila yang gembul gembul, emang segembul itu kecil ku dulu?" Gumam Qila dan disambut gelak tawa oleh Hammas "Emang iyaa, dulu itu kamu gembul banget lucu, eh sekarang kok berubah cantik gini." "Iya lah, orang aku udah gedhe." Jawab Qila dengan cemberut "Eh bentar, Mas Mas Dhimas sini dulu." Panggil Hammas pada seorang laki-laki yang sedang berbicara dengan salah satu barista, jangan bilang lelaki yang aku batin sombong tadi Mas Dhimas, Kakak keduanya Hammas? Ah udah lama nggak ketemu aku lupa wajahnya, emang dulu jarang banget sih ketemu "Kenalin ini Anin, teman aku SMA, masih ingat nggak? Anaknya Om Surya temannya Bapak." Kata Hammas mengenalkan ku pada kakaknya "Dhimas." Kata lelaki yang mengenakan kemeja hitam itu dan mengulurkan tangannya ke arah ku, kenapa dia pakai kemeja hitam sih? Aku kan paling nggak bisa nolak kalau ada cowok pakai kemeja hitam apa lagi hmm orangnya kayak Mas Dhimas gini. "Anin, Anindira." Balas ku dan menerima uluran tangannya, setelah itu ia juga berkenalan dengan Aqila "Masih lama, Ham? Mas tunggu di mobil. Udah di telepon sama Ibu dari tadi." Kata Mas Dhimas pada Hammas "Yaudah duluan aja, nanti aku nyusul." "Saya duluan." Pamit Mas Dhimas entah pada siapa, habisnya nih orang dingin banget sih "Jangan kaget Nin, kan dari dulu udah aku ceritain kalau Mas ku yang satu itu dingin banget sama orang baru. Tapi kalau udah kenal, yaa bakalan biasa aja gitu. Modelannya sok cool dia." "Bukan sok cool sih Ham, emang cool banget." Batin ku "Iyaa, ingat lah aku sama cerita cerita kamu." "Haha emang tempat curhat paling oke kamu, ya udah aku cabut dulu, oiya minta username Ig kamu dong, nanti kirim no wasap juga lewat dm ya?" Pinta Hammas menyodorkan ponselnya pada ku dan aku pun mengetik username ku dan ku follow akun i********: ku "Nih udah aku follow kan juga, nanti aku follback." "Oke Anin cantik, duluan ya. d**a Aqila yang gembul tapi dulu." Goda Hammas membuat adekku semakin cemberut dan Hammas pun meninggalkan kami -flashback end- "Kak, Ibu mau ke pasar, ikut nggak?" Ajak Ibu menyadarkan ku dari lamunan "Boleh, bentar kakak mau ganti baju dulu, Bu." Pamit ku lalu masuk ke rumah untuk ganti baju. -°-°-°-°- "Mau Ibu bekalin apa nanti, kak?" Tanya Ibu disela memilih sayuran segar di depan kami "Hmm, pengen sambal kering teri kacang gitu lho, Bu. Udah lama Kakak nggak dimasakin gitu." "Ya gimana mau dimasakin, kakak aja nggak ada pulang." "Hehe ya maaf Bu, habis kantor lagi sibuk banget." Ujar ku meringis menyadari kalau aku terkadang suka lupa ngabarin rumah juga kalau udah ada pekerjaan "Ini kamu pilihin bawang putihnya kak, Ibu mau ambil kacang di sebelah sana." Pamit ibu dan aku hanya mengangguk mengiyakan "Bawang merahnya satu kilo berapa, Pak Dhe?" Suara ibu-ibu di samping ku terdengar tidak asing, setelah aku lirik ternyata benar beliau adalah Bu Dhe Lastri, Ibu nya Hammas "Bu Dhe Lastri?" Sapa ku dan beliau menoleh ke arah ku dan tersenyum "Eh Anin, ya ampun tak kirain siapa. Lagi di rumah toh?" "Hehe iya Bu Dhe, tapi nanti sore udah balik lagi. Sendirian saja Bu Dhe?" "Iyaa, tapi tadi diantar sama Mas Dhimas. Lha kamu belanja sendiri? Nggak sama Ibu?" Tanya Bu Dhe Lastri setelah aku mencium tangannya "Sama Ibu kok Bu Dhe, itu Ibu." Jawab ku dan bertepatan Ibu ku kembali "Eh Mbak Lastri, borong apa?" "Borong semua yang bisa diborong, hehe .. walah enak ya, kalau ada anak perempuan bisa diajak belanja bareng, Dek." Canda Bu Dhe Lastri pada Ibu "Iya Mbak, apa lagi nanti udah ditinggal balik kerja, itung-itung quality time, Mbak. Mbak belanja sendiri?" "Nggak, tadi diantar Dhimas kok. Tapi nunggu di mobil, katanya mau nyusul kok belum kesini-kesini. Sama aja mumpung lagi di rumah, dijadiin sopir aja sama Ibunya. Nah itu anaknya, Mas Dhimas sini." Panggil Bu Dhe Lastri melambaikan tangan pada Mas Dhimas yang berjalan kebingungan "Ibu nggak bawa handphone, toh?" Kata Mas Dhimas saat menemukan ibunya "Eh iya lupa Mas, tadi ketinggalan di meja tengah. Kamu telepon ya, tadi?" "Iyaa, yang jawab malah Bapak." "Yaa maaf - maaf, eh ini Tante Ratna masih ingat kan? Istrinya Om Surya, nah yang ini Anin, anaknya, temannya Hammas waktu SMA ya, Nduk?" "Iya Bu Dhe, kemarin juga ketemu Hammas sama Mas Dhimas juga waktu keluar." Jawab ku dengan tersenyum, walaupun begitu setelah Mas Dhimas menyapa Ibu ku dia tetap mengajak ku berjabat tangan "Dhimas ini juga merantau Nin, kerjanya pindah-pindah. Kamu kalau ke Madiun hubungi Anin, kan bisa Mas, tau aja bisa jadi pemandu kuliner disana." Kata Bu Dhe Lastri pada Mas Dhimas yang hanya tersenyum tipis menanggapinya, obrolan kami selesai setelah belanjaan kami lengkap dan berpamitan juga dengan Bu Dhe Lastri dan Mas Dhimas, entah kenapa aku sedikit grogi saat berdekatan dengan Mas Dhimas, dan nggak tahu kenapa kayak beda gitu, deg degan, tangan berasa dingin banget, apa aku lagi nggak sehat? -°-°-°-°- "Mas Yudhis apa kabar, Kak?" Tanya Ibu, saat ini kami bertiga sedang tiduran di kamar ku, rutinitas sebelum balik ajang curhat pun dimulai di momen ini "Baik, Bu." "Baik tapi kalau bikin kakak galau terus, namanya mah nggak baik." Celetuk Aqila yang asyik main game di handphone nya "Galau kenapa, Dek?" "Ibu aja tanya sendiri coba, kali aja mau ngaku. Kalau bisa marahin Bu, kerjaannya kakak ngegalau mulu." "Kakak nggak mau cerita ke Ibu?" Tanya Ibu ke aku, kalau kayak gini mah aku lemah banget dihadapan Ibu tapi untuk masalah ini aku belum siap cerita ke Ibu "Nggak ada apa apa, Bu. Ya biasa lah sedikit cek cok." "Kakak nggak bisa bohong sama Ibu. Ibu tau kok, kakak itu mandiri, bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, tapi perlu kakak ingat kalau disekitar kakak banyak orang yang peduli dan perhatian sama kakak, nggak ada salahnya berbagi kisah dan meminta pendapat orang lain kak." Kata kata Ibu berhasil menohok hati ku "Kalau kakak belum siap cerita, nggak masalah. Ibu cuma mengingatkan kalau kakak nggak sendirian, ada Ibu, Adek dan pastinya sahabat-sahabat kakak yang bisa kakak percaya dan siap menjadi pendengar kakak."                                                                 _*_*_*_*_*_
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN