4

1550 Kata
"Selly mana? Jadi ikut kan?" Tanya Mas Yudhis menghampiri meja ku "Jadi Mas, masih di kamar mandi dia." "Hm, Nin, Widi ikut nggapapa kan?" Pertanyaan dari Mas Yudhis membuatku mendongak menatapnya yang berdiri di depan meja ku, ya bukannya aku menolak kehadiran Mbak Widi, namun gerak gerik dari Mas Yudhis berhasil mencuri perhatian ku tidak biasanya dia seperti itu, dari nada bicaranya saja terlihat berbeda Belum sempat aku menjawab, ternyata Mbak Widi sudah berjalan ke arah kami "Hai, Nin. Aku ikut gabung gapapa kan?" Tanyanya "Eh iya Mbak, nggapapa kok." Jawab ku berusaha untuk tenang, walaupun sebenarnya dalam hati dirundung perasaan tidak tenang "Nunggu siapa? Yuk sekarang aja, aku udah lapar." Ajak Mbak Widi, yang sebenarnya aku sendiri tidak begitu akrab dengan senior ku ini, dan mengenai kedekatan ku dengan Mas Yudhis orang kantor tidak mengetahui, mereka hanya tahu bahwa kami sebatas senior dan junior di kampus yang sudah akrab lalu berteman baik, hanya Selly yang tahu tentang kedekatan kami, aku tidak ingin orang kantor tahu kalau kami memiliki hubungan yang lebih dari teman, walaupun aku tidak tahu kejelasannya hubungan kami ke depan. "Masih nunggu Selly Mbak, teman ku. Atau Mbak Widi sama Mas Yudhis duluan aja nggapapa, nanti aku nyusul. Kalau mau pesan makan dulu,  kebetulan hari ini aku bawa bekal dengan Selly." "Oh gitu? Ya udah kita ke kantin dulu aja ya, Dhis?" "Gapapa kita duluan?" Tanya Mas Yudhis pada Ku "Gapapa, nanti palingan bentar lagi Selly selesai kok." "Ya sudah, kita ke kantin dulu. Aku duluan ya, Nin?" Pamit Mas Yudhis dan Mbak Widi hanya tersenyum pada ku, sebelum meninggalkan ku. Tak lama Selly kembali dan kami pun menyusul Mas Yudhis dan Mbak Widi yang sudah duduk di kantin kantor. "Yakin Mbak Mbak itu mau makan bareng kita?" Tanya Selly dan aku hanya mengangkat bahu tanpa menjawab pertanyaannya, karena aku sudah tau kalau Selly sebenarnya sedikit tidak menyukai Mbak Widi, entah apa yang dia pikirkan dari seorang Mbak Widi yang cantik dan anggun, tidak disukai oleh Selly. Kami menghampiri mereka yang sedang mengobrol dan tertawa kecil dengan duduk bersebelahan, membuat ku dan Selly memilih untuk bergabung duduk di seberang mereka aku tepat didepan Mas Yudhis. "Eh maaf ya, kami udah nyicip dulu makanannya, habis udah lapar banget ini." Kata Mbak Selly membuat ku melirik makanan mereka sudah tersisa setengah "Gapapa kok Mbak, santai aja. Silahkan dilanjut." "Kamu bawa sambal dari Ibu, Nin?" Tanya Mas Yudhis saat aku mulai membuka bekal ku hari ini, yang sengaja aku bawa banyak, karena sesuai request dari sahabat ku tercinta yang gila sama sambal teri kacangnya Ibu ku, nggak tandingannya katanya "Iya Mas."Jawab ku singkat dan sedikit tersenyum tanpa menawarinya, karena aku sudah tau dia tidak suka dengan segala hal yang berhubungan dengan sambal, dia tidak suka makanan yang pedas, makan siang kami dipenuhi dengan obrolan Mas Yudhis dan Mbak Widi walaupun sesekali kami juga menjawab pertanyaan dari mereka jika kami dimintai pendapat. Tak heran kalau mereka sangat akrab, karena Mas Yudhis pernah cerita kalau Mbak Widi dulu teman SMP dan SMA nya, setelah itu mereka pisah untuk mencari ilmu Mbk Widi di Surabaya dan Mas Yudhis tetap di Madiun, tidak ingin jauh dari keluarga yang ada di Ponorogo, selain itu keluarga mereka juga sudah saling kenal karena Mama Mas Yudhis teman baik orang tua Mbak Widi. "Oiya, Dhis. Weekend besok Mama kamu ngajak aku ke Solo, dan katanya mau cari batik. Kamu ikut kan?" "Eh i-iya, kapan Mama ngajak?" "Semalam kami video call an, ngobrol sana sini entah apa aja diobrolin kalau sama Mama. Emang mau ada acara ya?" "Hmm, i-itu mau ada nikahannya sepupu aku. Mama kebagian yang milih seragam buat keluarga besar." Jawab Mas Yudhis dengan sedikit gelisah menurut ku, namun aku berusaha untuk tidak merespon atau pun melirik ke arah mereka yang aku rasakan Mas Yudhis juga sesekali melihat ku, dapat ku rasakan tangan Selly menyenggol paha ku seolah memberi ku kode agar mendengar pembicaraan mereka, segitu akrab kah Mamanya Mas Yudhis dengan Mbak Widi? Seolah berbanding balik saat bertemu dengan ku, padahal Mas Yudhis sendiri juga pernah bilang sebelum mempertemukan ku dengan Mamanya, bahwa Mama nya tipikal orang yang asyik diajak ngobrol walaupun itu orang yang baru, namun entah kenapa saat bertemu dengan ku beliau sangat berbeda dari yang diceritakan putranya. "Aku harap, kamu sudah cukup paham Nin, atas apa yang mereka bicarakan tadi, sedikit banyak aku dapat menyimpulkan kalau mereka tidak hanya berteman namun Mas Yudhis mu saja yang belum menyadari, kamu dapat lihat dari tatapan Mbak Widi ke  Mas Yudhis terlebih Mama nya Mas Yudhis yang sudah dekat dengan Mbak Widi, seakan berbanding balik dengan saat bertemu dengan mu. Bukannya aku ingin kamu sedih, namun aku hanya mau kamu untuk bersiap diri, aku tidak ingin kamu semakin sakit dan tidak siap untuk menghadapi apa yang tidak diinginkan terjadi. Aku bilang kayak gini, karena aku sayang kamu, kamu sahabat ku. Aku tidak ingin sahabat ku sakit, tapi aku selalu bersama mu, kamu tidak sendirian, kalau mau cerita, ceritakan saja, jangan kamu pendam sendiri." Kata Selly sebelum kami meninggalkan kantin, menyusul Mas Yudhis dan Mbak Wdi yang sudah lebih dulu kembali. "Apa ini saatnya aku untuk mundur dan mengikhlaskan, Tuhan berikan jawabanmu." -°-°-°-°- Sepulang kerja aku langsung kembali ke kos, rasanya hari ini aku lelah sekali, entah hari ini pekerjaan ku terlalu banyak atau memang suasana hati ku yang sedang tidak nyaman. Bahkan sampai sekarang pun Mas Yudhis tidak ada kabar sama sekali, apa ini saatnya aku harus mundur ? Tidak bisa lama-lama aku digantung seperti ini, aku juga butuh kepastian. Seketika aku teringat permintaan Mbah Uti dan Mbah Yi ku, terlebih Mbah Uti yang sudah sakit-sakitan, membuat ku sedih bagaimana jika aku tidak bisa mewujudkan keinginannya yang begitu sederhana dan sudah semestinya sudah bisa aku wujudkan, di sisa hidup beliau hanya ingin melihat aku menikah, aku bersanding di pelaminan bersama lelaki pilihan ku. Kalau seperti ini terus, bagaimana bisa aku dapat mewujudkannya, karena bagi ku Mbah Uti dan Mbah Yi adalah orang yang berjasa dalam hidup ku setelah kedua orang tua ku, dari mereka aku dapat merasakan kasih sayang dan kesabaran, belajar untuk selalu menerima dan mengalah, disaat kecil ku Ibu masih sibuk bekerja. Saat ini aku hanya ingin berkeluh kesah dengan Keyra, sahabat ku dari SMA  yang hingga saat ini masih menjalin komunikasi dengan ku bahkan setiap hari hanya untuk berbasa basi. Walau pun terkadang dia sudah sibuk dengan keluarga kecilnya terlebih sekarang dia telah memiliki malaikat kecil yang masih berumur satu tahun, namun dia masih menyempatkan waktu untuk ku jika ingin bercerita, atau pun membagi keluh kesah ku yang selama ini aku pendam sendiri, hanya dengan Keyra aku bisa menumpahkan semua. Keyra Berdering "Hallo Nin?" Hanya mendengar sapaan Keyra aja udah bikin aku mewek, sedahsyat itu kan sosok Keyra untuk ku "Key... Help me.." "Eh eh kenapa? Bentar bentar, aku mau kasihin Gendhis ke Ayahnya." "Gimana, Nin? Cerita coba." Aku pun mulai menceritakan semua yang aku rasakan apa yang aku alami belakangan ini, mulai pertemuan ku dengan Mama Mas Yudhis, permintaan Mas Yudhis untuk menunggunya memberikan kepastian dalam hubungan kami, keinginan dari keluarga ku untuk segera menikah, dan yang terakhir ialah kejadian siang tadi waktu makan siang, aku ceritakan semua tanpa ragu. Bagi ku Keyra adalah pendengar terbaik ku setelah ibu, namun untuk masalah ini aku tidak ingin bercerita pada beliau, takutnya malah menjadi beban pikiran beliau. "Udah? Ada lagi nggak yang mau diomongin?" "Udah Key, capek nangis aku." "Apa yang kamu rasakan sekarang? Lega nggak?" "Huum, mendingan dari pada tadi." "Kamu cuma butuh didengar Nin, kamu nggak bisa selamanya memendam perasaan dan menyembunyikan apa yang kamu rasakan sendirian, ada kalanya kamu harus mengutarakan apa yang ada di dalam hati kamu, kalau kamu sakit bilang sakit, jangan seolah olah kamu itu kuat dan nggak ada apa-apa, ini nih resiko kamu terlalu mengalah dan nggak enak hati sama orang, kamu sendiri yang akan sakit, Nin. Aku bilang gini bukannya marahin kamu, aku cuma kasih tau kamu aja, cuma mengingatkan ada banyak orang disekitar kamu yang perhatian sama kamu, jangan merasa sendiri dan menanggung beban kamu sendiri, untuk yang masalah Yudhis kamu pasti tahu jawaban Ku. Aku selalu mendukung apa yang kamu ambil, dan aku yakin pilihan kamu tidak salah." Jawaban Keyra masih sama sejak aku menceritakan sosok Mas Yudhis padanya, dia sangat meragukan keseriusan Mas Yudhis dalam menjalin hubungan denganku, namun meskipun begitu dia masih mendengar setiap cerita ku yang selalu menyangkut akan sosok Mas Yudhis. Mungkin ada baiknya aku segera meminta waktu Mas Yudhis untuk berbicara berdua dengan serius, dan untuk kali ini aku harus tegas dengannya, mau sampai kapan aku seperti ini, di gantung tanpa diberi kepastian untuk ke depannya. Selesai telepon dengan Keyra ku rebahkan diri Ku dan sembari memilih film yang dapat mengalihkan pikiran ku dari obrolan Mas Yudhis dan Mbak Widi siang tadi yang masih terngiang-ngiang di pikiranku. Namun disela pertengahan film, aku membuka wassap dan menerima pesan dari Hammas :  Anin, weekend free nggak? Stay di Madiun kan?  Mau minta tolong dong, ajakin Mas Dhimas main disana, Kamis nanti dia ada kerjaan di Madiun, aku disuruh Ibu ngabarin kamu, kali aja kamu mau direpotkan Mas ku yang satu itu kali aja kamu bisa jadi Mbak ipar ku, haha Canda Anin Cantik. Kabarin aku ya kalau kamu free Deg Deg Deg Mas Dhimas? -°-°-°-°-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN