Tiga hari ini Mas Yudhis terkesan menghindar, terlebih sejak kemarin dia berangkat ke Jakarta untuk mengurus pekerjaan. Meskipun ku sudah bilang ingin membicarakan sesuatu yang penting mengenai hubungan kami, namun setiap di telepon entah chat Mas Yudhis terkesan mengalihkan pembicaraan. Aku pun hanya diam tanpa mau membahas lagi, mungkin aku harus menunggu sampai dia pulang dan kami bisa berbicara langsung.
Hammas :
Gimana Nin? Weekend kosong kan? Hari Kamis pagi Mas Dimas berangkat dari Surabaya, kemarin dia ada kerjaan di Surabaya jadi sekalian berangkat dari sana.
Ah
Iya
Aku lupa, kalau hari Kamis Mas nya Hammas bakal ke Madiun, kenapa nggak Mas Dhimas nya aja sih yang ngabarin aku, kan kalau gini ribet juga harus lewat Hammas, yang mau ketemu siapa yang ribet siapa.
Sepertinya aku harus meminta pendapat Selly terlebih dahulu, aku bingung mau menerima atau tidak, kalau pun Selly jawab tidak, menurut ku tidak masalah bisa saja aku beralasan weekend ini kantor ada acara mendadak dan lagi pula aku tidak begitu akrab dengan Mas Dhimas, jadi tidak sungkan juga untuk menolak, tapi gimana dengan Hammas dan Bu Dhe Lastri, apa iya aku membohongi mereka? Ah nunggu waktu makan siang aja, nanti aku tanyakan ke Selly.
-°-°-°-
"Kalau menurut aku yah Nin, nggak masalah sih kalau kamu terima permintaan dari teman kamu itu, toh Minggu ini kantor lagi nggak ada acara apa apa kan, lumayan lah buat penguras penat dan lengalih pikiran mu biar nggak mikiran si kutu kupret mulu." Kata Selly, si kutu kupret yang dimaksud Selly adalah Mas Yudhis semenjak kejadian makan siang kemarin dia semakin kesal dan tidak suka dengan Mas Yudhis padahal dulu waktu kami satu organisasi Selly adalah salah satu penggemar Mas Yudhis, secara Mas Yudhis dari penampilan saja sudah memiliki kategori good looking udah gitu ramah lagi, tidak membedakan antara senior dan junior.
"Gitu ya? Tapi masalahnya tuh nggak kenal banget sama orangnya Sel, ketemu kemarin aja dia kelihatan kek dingin gitu, beda jauh sama Hammas Adeknya yang teman aku itu."
"Eh justru itu, mungkin dia kan masih agak segan gitu, karena masih ada Ibunya atau Adeknya waktu ketemu kamu, nah kalau nanti kan kalian berdua bisa aja lho dia malah bisa nyambung sama kamu."
"Tapi aku nggak yakin, dari cerita Hammas dulu emang Masnya yang satu itu nggak banyak ngomong, terkesan cuek gitu, apa nggak usah aja ya?"
"Lha anak ini ya ampun, dikasih tau juga masih aja ragu. Yakin deh sama aku, nggak nggak kalau kalian bakal krik krik berani taruhan?"
"Apaan, pakai taruhan segala."
"Nah kan kamu nggak berani, yakin sama Sellyana kalau dia nggak sekaku yang kamu bayangkan." Kata Selly meyakinkan ku
"Iyaa deh iya, biasanya insting kamu kuat."
"Kali aja malah kalian jodoh." Katanya dengan menahan tawa dan seketika aku melotot ke arahnya, dan tawa Selly langsung meledak melihat ekspresi ku
"Eh ya ampun biasa aja kali ekspresinya, kabarin kalau kamu mau ketemu dia, nanti pap ke aku ya." Ujar Selly masih dengan tawanya yang khas.
-°-°-°-°-
Anindira :
Sorry Ham baru bales, aku baru pulang kerja tadi kerjaan banyak banget, bisa kok, kebetulan weekend ini aku kosong. Iya besok kabarin aja kalau ada apa-apa.
Pesan Hammas baru ku balas setelah aku sampai kos. Setelah itu ku tinggal mandi dan merebahkan diri sembari mendengarkan musik dari laptop.
Sadarkah dirimu akan apa yang ku rasa
Haruskah diriku menyatakan yang sesungguhnya
Malu manisnya ucapanmu, membuatku tak menentu
Ku tak tahu bagaimana
Sungguh kau buatku bertanya-tanya
Dengan teka-teki teka-tekimu
Mungkinkah ku temukan jawaban
Teka-teki teka-tekimu
(Teka Teki - Raisa)
Eh apa - apaan ini, kenapa lagunya sedikit mengena? Ah bikin badmood saja
Tring
+62****
Selamat malam Anin, saya Dhimas.
Eh Mas Dhimas? Nah gini kan enak dia wasap aku sendiri tanpa perantara Hammas.
Anindira :
Iya selamat malam, Mas Dhimas.
Mas Dhimas :
Saya dapat nomor kamu dari Hammas.
Udah gitu aja? Terus aku harus jawab apa coba, ngeselin banget kalau cuma gini. Aku baca pesannya tanpa ada niatan untuk membalas. Namun tak lama selang lima menit dia mengirim pesan baru
Mas Dhimas :
Saya berangkat dari Surabaya Kamis pagi, bisa menemani Saya selama di Madiun?
Anindira :
Ah iya Mas, besok kabarin saja Mas.
Mas Dhimas :
Terimakasih sebelumnya.
Aku tidak membalasnya dan memilih untuk bersiap cari makan diluar, biasanya sih masak nasi tapi hari ini rasanya malas untuk masak.
-°-°-°-°-°-
Esoknya aku berangkat kerja dengan biasa, setelah semalam aku bingung memilih pakaian, pakaian apa yang mau aku kenakan untuk ketemu dengan Mas Dhimas, jujur saja baru kali ini aku merasa bingung sendiri untuk bertemu seseorang, padahal kan seharusnya ini biasa saja, terlalu berlebihan rasanya. Bahkan Selly pun merasa heran dengan tingkah ku, yang sejak pagi tadi sudah ku rundung banyak pertanyaan mengenai nanti pertemuan ku dengan Mas Dhimas.
"Sel, gimana?"
"Apalagi Anindira Kayla, kurang apa lagi yang mau kamu tanyain? Dari lagi tadi kamu udah nanya macam-macam pun udah aku jawab." Balas Selly dengan sedikit kesal karena kegiatan makan siangnya aku ganggu dengan pertanyaan ku
"Ih, kamu mah nggak tau Sel gugupnya aku, kamu belum jawab nanti aku pakai baju yang mana?"
"Intinya ya jawaban aku tuh, pakai baju senyaman kamu dan sesuai dengan karakter kamu sendiri. Please, jangan jadi orang lain untuk menjadi sempurna di depan orang baru, karena nggak akan menjamin kamu bakal bahagia endingnya." Bener juga kata Selly, kenapaa aku jadi parnoan gini ya.
Tring
Mas Dhimas :
Anin, pulang kerja jam berapa ?
Nanti sore saya mau ke Prague bertemu dengan teman, mau saya jemput atau nyusul?
"Tuh, Sel, dia udah wasap."
"Giwmawmaw?" Tanya Selly dengan mulut penuh sibuk mengunyah
"Ih, Sel, ditelan dulu lah baru ngomong."
"Hmm, apa dia bilang gimana?" Tanya Selly lalu ku sodorkan ponselku yang menampilkan chatting dari Mas Dhimas
"Balas aja."
"Balas gimana?"
"Ya ampun Anindira, semalam kamu makan apa sih? Kenapa hari ini kelihatan linglung banget? Gupuhan banget nih anak."
"Aku bingung Sel, nggak tahu kenapa. Dari semalam nggak bisa tidur, Aku lho juga nggak paham sama diri aku.",
"Ya udah sekarang kamu rileks, balas sesuai hati kamu. Udah deh lakukan apa yang hati kamu inginkan. Udah itu poinnya." Kata Selly lalu meneruskan makan siangnya, berbeda denganku yang tidak mood makan dan memilih untuk menikmati segelas jus jambu sebagai pengganjal perut
Anindira :
Nanti sekitar pukul empat Mas
Hmm kayaknya aku nyusul aja deh, Mas kabarin aja nanti waktunya.
Terkirim
Ku tunggu sampai di baca dia karena kebetulan dia sedang online, namun tidak ada balasan hanya di baca saja setelah itu dia tidak online.
-°-°-°-°-
Anindira :
Mas, aku udah di depan Prague.
Mas Dhimas :
Tunggu sebentar, saya turun.
Setelah melihat balasannya aku melepas helm ku dan menata sedikit rambutku, malam ini aku memilih memakai blouse dan ku padukan dengan celana jeans. Menurut ku itu yang ternyaman sesuai dengan kata Selly siang tadi.
Tak lama aku melihat seseorang laki laki turun dari tangga, dia mengenakan kemeja dan bawahan jeans hitam terlihat rapi, menghampiri ku.
"Ayo, ke atas." Ajaknya membuatku sedikit bingung
"Eh, hm bukannya kita mau jalan-jalan Mas?"
"Iya, makan malam dulu. Saya kenalkan sama teman saya." Kata dia dan aku hanya mengangguk mengikuti dia ke lantai atas, aku pun berkenalan dengan temannya dan dia memesankan makan malam untuk ku kami mulai dengan ngobrol-ngobrol ringan sejauh ini aku merasa nyambung dengan Mas Dhimas, ternyata tidak seperti yang aku pikirkan sebelumnya, namun ditengah kami menikmati makan malam, seseorang yang beberapa hari tidak ku temui menatap ku dari ujung tangga bersama dengan sahabat perempuannya, dan si perempuan itu pun menyadari keberadaan ku yang sedang menatap mereka.
"Hai Nin, ehh ketemu disini." Sapa Mbak Widi menghampiri aku dan Mas Yudhis berada dibelakangnya, lihat lah bahkan untuk mengabarkan dia akan pulang hari ini saja tidak ada sama sekali pada ku, tapi sekarang dia malah keluar dengan Mbak Widi, ada apa sebenarnya dengan mereka? Benar kah yang di katakan Selly?
"Hai Mbak, iya nggak sengaja ketemu disini. Eh Mas Yudhis udah balik toh?" Tanya ku basa basi walaupun sebenarnya dalam hati agak sedikit risih dengan tingkahnya yang memandang ku dan melirik Mas Dhimas tidak suka
"Iya, baru aja dijemput Widi. Siapa?" Tanyanya menunjuk Mas Dhimas dengan dagunya
"Ah iya, Mas Dhimas ini Mbak Widi dan Mas Yudhis senior aku dikantor, dan Mbak Widi Mas Yudhis kenal kan ini Mas Dhimas." Kata ku mengenalkan mereka, Mas Dhimas pun berperilaku sewajarnya mengulurkan tangan untuk berjabat namun saat dengan Mas Yudhis, aku dapat melihat kalau senyuman yang Mas Yudhis keluarkan adalah senyuman terpaksa, tidak ikhlas.
"Beneran teman, Nin?" Goda Mbak Widi pada ku aku hanya tersenyum saja
"Ya sudah kalau gitu silahkan dilanjut, maaf lho ganggu."
"Iyaa gapapa kok Mbak."
Mereka pun pergi meninggalkan kami dan kami meneruskan makan malam kami.
"Anin?"
"Iya Mas?"
"Kamu sudah punya pacar? Atau sedang menjalin hubungan dengan seseorang?"
Eh apa nih? Kok tanya gini?
Aku harus jawab apa, kalau di tanya hubungan aku tidak sedang berhubungan dengan berhubungan dengan siapa pun, Mas Yudhis pun semakin jauh dari ku komunikasi kami juga semakin jarang, apa itu yang dinamakan hubungan? Tapi bagaimana dengan janjinya dulu? Namun jujur saja aku sangat ragu dengan janjinya, apalagi dia dengan Mbak Widi semakin dekat.
"Nin?"
"Ah, iya Mas."
"Melamun?"
"Nggak kok, hmm aku tidak sedang menjalin berhubungan dengan siapa pun dan tidak punya pacar."
Maafkan aku Mas Yudhis
"Kalau saya mengajak kamu menikah bagaimana?"
-°-°-°-°-