6

1579 Kata
"Kalau saya mengajak kamu menikah bagaimana?" Aku terdiam dan berusaha mengerti apa yang barusan dia tanyakan "Kamu tidak perlu jawab sekarang, saya tau kamu pasti kaget, namun perlu kami tahu kalau saya benar-benar serius." Tambah Mas Dhimas membuat ku semakin bingung "Hai, jangan diam saja. Saya malah merasa tidak enak kalau kamu jadi begini." Kata Mas Dhimas dengan senyum tipis terlihat dari ekspresinya dia kebingungan melihat ku terdiam "Hmm, bukan gitu Mas. Aku -hmm Aku masih kaget aja, secara kita baru kali ini lho ngobrol." "Iyaa, saya tahu yang kamu pikirkan. Tapi saya yakin kalau kamu mengizinkan saya untuk mengenal kamu lebih lanjut, kamu dapat meyakinkan diri kamu untuk kedepannya." "Kasih aku waktu Mas, masih ada sesuatu yang mesti aku urus." "Selesai kan. Saya menunggu jawaban dari kamu, secepatnya." Jawab Mas Dhimas dan aku hanya tersenyum tipis dengan susah payah menyembunyikan kegugupan ku, tangan dingin gemeteran kaki pun rasanya lemas, gini toh rasanya diajak nikah? Malam itu setelah makan kami menikmati malam dengan mengelilingi sekitar Jalan Pahlawan dan Alun-alun kota, bahkan dia dibela-belain membeli helm karena memang aku hanya punya satu helm dan itu pun aku pakai, akhirnya Mas Dhimas memutuskan untuk membeli saja, daripada salah satu dari kami tidak memakai helm sebagai pelindung diri. -°-°-°-°- "Jadi gimana nih kencan semalam kok nggak ada kabar-kabar?" Bisik Selly mendekati ku saat aku baru sampai di kantor "Pengen cerita tapi nanti aja ya?" Pancing ku ingin membuat Selly semakin penasaran "Anin, please deh buru sekarang mumpung belum ada kerjaan nih, seneng banget sih bikin orang kesal." "Sabar Ibu Selly, nanti saya cerita kan sekarang kerja dulu, makan siang nanti saya traktir." "Eh, apa nih? Pasti ada sesuatu ya semalam?" "Udah deh, sekarang kerja dulu." Kata Ku lalu mendorong Selly pelan untuk kembali ke mejanya  "Kan, nggak bisa tenang nih hati." Gumamnya membuat ku terkekeh -°-°-°-°- "Sadar nggak sih Nin, hari ini kamu tuh sumringah banget. Nggak kayak kemarin-kemarin layu gitu." "Masak sih? Perasaan mu aja kali Sel, aku biasa aja kok." "Lah nggak percaya dia, buru bilang apa yang terjadi semalam." Aku pun mulai menceritakan apa yang terjadi semalam mulai aku datang ke Prague, bertemu Mas Yudhis dan Mbak Widi, sampai Mas Dhimas mengantarku ke kos dan dia kembali ke hotel dengan ojek online. "Jadi dia nggak mau kamu antar ke hotel, dan milih nganter kamu ke kos terus dia balik naik ojol?" Tanya Selly memperjelas perkataan ku "Huum, padahal aku udah nawarin juga, gapapa kali ya nganterin dia sampai depan hotel. Eh dia nolak, malah nganter aku sampai kos. Ya sudah kami juga sempat ngobrol di depan kos sambil nunggu ojol datang." "Terus waktu ketemu sama Si kutu kupret, gimana? Mas Dhimas kelihatan kek curiga atau gimana gitu, karena aku yakin ekspresi si Kutu kupret pasti nggak bisa biasa aja." "Iya, Mas Yudhis kek tiba-tiba tuh dingin banget, galak gitu, kayak sinis gitu lho, gimana ya jelasinnya. Tapi Mas Dhimas biasa aja sih, emang dasarannya dia orangnya cuek sama orang baru ya, jadi cuma jabat tangan dan senyum tipis gitu, nggak ada basa basinya." "Iya iya tau aku, nih di kepala udah kelihatan ekspresinya si kutu kupret kek gimana. Hahaa.. oiya terus, sekarang dia nggak ada kabar ke kamu gitu Nin?" "Siapa? Mas Dhimas?" Selly menggeleng sambil menyesap kopi miliknya "Yudhis." "Semalam telepon waktu aku sama Mas Dhimas, tapi aku biarin dan setelah itu nggak ada telepon lagi sampai sekarang." "Oiya, bagian terpenting sengaja aku lewati, jadi waktu di Prague habis disapa Mbak Widi dan Mas Yudhis, Mas Dhimas bilang sesuatu ke Aku, Sel." "Bilang apa?" "'kalau saya mengajak kamu menikah bagaimana?' gitu." "Subhanallah Anin, Gila Gila Gila Gila!  Ini mah laki laki beneran, Nin seriusan dia bilang gitu? Terus terus kamu jawab apa? Iya kan pasti?" "Husstt jangan kencang-kencang, malu dilihat orang. Ya belum aku jawab lah, secara aku masih belum menyelesaikan permasalah ku dengan Mas Yudhis. Aku masih bingung Sel, di hati ini ada siapa, satu sisi aku masih ada rasa dengan Mas Yudhis dan dia memintaku untuk menunggu dia berjuang entah berjuang dari apa aku tidak tahu, di sisi lain keadaan memdukungku untuk menerima Mas Dhimas begitu juga hati ku entah kenapa merasakan kenyamanan saat ngobrol dan didekat Mas Dhimas. Jadi aku minta waktu sama Mas Dhimas, untuk membereskan sesuatu yang mesti aku urus." Kata ku dan Selly mengangguk mengerti "Iya, kamu bener, tapi saran aku ikuti kata hati kamu, jangan ambil keputusan dengan setengah hati, ini menyangkut hidup kamu selanjutnya dan bahkan selamanya, karena kita memilih pasangan untuk menikah bukan main-main. Emang sih aku nggak ada pengalaman, setidaknya kita bisa saling mengingatkan bahwa menikah itu bukan hal yang dianggap gampang. Kita sama sama belajar juga, Nin. Aku mendukung mu, aku yakin kamu pasti tidak akan salah pilih." -°-°-°-°- Mas Yudhis :  Pulang kerja nanti jangan pulang dulu, aku pengen bicara sama kamu, kita ke cafe depan kantor.  Ini penting Nin Anindira :  Iya Mas. Rasanya gugup dan takut, gimana caranya memulai bicara sama Mas Yudhis nanti, aku takut kalau nanti aku tidak bisa menuntut kepastian dari Mas Yudhis. "Maaf ya Nin, nunggu lama. Tadi ada sesuatu yang harus aku selesai dulu." Ujar Mas Yudhis setelah membuat ku menunggu kurang lebih lima belas menit dari aku sampai dan duduk di cafe depan kantor ini Aku tersenyum tipis menanggapinya, terlalu biasa kalau kami janjian ketemuan selalu aku yang menunggu "Udah pesan makan?" "Hm, nggak Mas. Aku cuma pesan minum aja." "Kenapa? Nggak sekalian makan aja? Biar nanti nggak keluar lagi cari makan." "Masih kenyang kok, ini aja udah cukup." Kata ku dengan menunjuk segelas kopi s**u aren favorit ku "Ya sudah aku pesan dulu." Dia beranjak untuk memesan minumannya, aku semakin gelisah bagaimana menyikapinya "Jadi, gimana hari ini?" "Hmm, baik. Mas sendiri? Gimana kemarin kerjaan di Jakarta? Lancar?" "Ya begitulah, ada sedikit kendala, tapi sekarang udah teratasi dan lagi lagi Widi yang membereskan, makanya kemarin aku pulang bareng dia. Hari Rabu dia menyusul aku dan kita pulangnya bareng, sampai sini langsung cari makan taunya ketemu kamu." Aku hanya mengangguk dan tersenyum paham, walaupun sesungguhnya sulit sih buat senyum karena gelisah banget "Hm Mas." "Nin" Kami tersenyum "Gini terus deh kayaknya." Gumam ku dia tertawa dan menyuruhku untuk lebih dulu berbicara "Kamu duluan aja, kayaknya ada sesuatu penting yang ingin kamu bicarakan." PENTING BANGET!! "Aku- hmm, huh... Mas tahu kan umur aku sekarang berapa?" "Mau dua lima kan?" "Huum, dan untuk seorang wanita, umur segitu sudah saatnya untuk menikah." Sengaja ku jeda perkataan ku untuk melihat ekspresi dia, terlihat dari wajahnya dia mengalihkan pandangannya dari ku "Kemarin Ayah dan Ibu sudah menyingung lagi tentang asmara ku, ah lebih tepatnya keluarga besar ku menanyakan tentang adanya seorang laki-laki yang dekat dengan ku, dan lagi lagi aku belum bisa menjawab. Aku belum bisa memberikan mereka jawaban karena pada dasarnya, aku  belum mendapat kepastian dari lelaki itu. Dia yang meminta ku untuk menunggu dia berjuang, namun aku sendiri tidak tau dia berjuang melawan siapa dan apa yang akan dilawan, bahkan bodohnya aku hanya mengiyakan entah sampai kapan aku dibodohi seperti ini." Ah s**l, kenapa harus menangis sih "Tiga tahun Mas, kamu memperlakukan aku layaknya orang spesial dalam hidup kamu. Kita tidak ada status, karena memang aku sendiri juga tidak mementingkan itu sebenarnya, namun setelah kesini aku paham status itu sangat penting, nggak bisa aku terus-terusan seperti ini, kehidupan ku tidak stuck disini saja. Ada keluarga, keluarga yang harus aku bahagia, ada orang orang disekitar ku juga yang ingin aku bahagia, sudah saatnya aku menemukan sosok lelaki yang bisa aku bebani dalam hidupnya, aku tidak memaksa Mas Yudhis untuk mengambil keputusan, namun kali ini aku yang akan memutuskan, aku memilih untuk mundur. Sebenarnya aku bingung juga, apa yang harus aku selesai kan padahal kita nggak ada status sama sekali, namun sebelum itu aku ingin tahu apa yang sesungguhnya Mas perjuangkan?" Pertanyaan ku membuat dia mendongak menatapku, setelah sedari tadi dia menunduk menumpukan kedua tangan nya di meja, sembari menatap meja tanpa memandang ku barang sebentar "Nin." "Huhh." Dia membuang nafas nya yang terlihat sangat berat "Kaget, aku benar benar kaget mendengar kamu mengatakan hal ini secepatnya ini. Apa- lelaki kemarin yang membuat kamu seperti ini?" Ha? Kenapa jadi bawa-bawa Mas Dhimas? "Maksudnya Mas Dhimas? Mas, kalau pun kemarin aku tidak bertemu dengan Mas Dhimas, aku juga akan mempertanyakan ini kok ke kamu dalam waktu dekat ini juga, karena aku mau segera mendapat kan kepastian dari kamu. Sekarang gini aja deh, aku hanya ingin tau, pengen banget tau sebenarnya kamu sedang memperjuangkan hubungan kita dari apa? Dari siapa?" Dia hanya diam dan membuat ku semakin kecewa, dia masih memilih bungkam dan tidak berterus terang denganku. "Aku anggap, pembicaraan kita sudah jelas Mas. Sampai sekarang pun Mas masih tetap bungkam walaupun aku sudah menanyakan dan menyinggung ini beberapa kali, Maaf Mas, kita masih bisa berteman baik, sebagai senior dan junior tanpa melibatkan perasaan lagi, sekali lagi maaf, entah apa pun itu salah ku, semoga kita bisa bahagia dengan kehidupan kita nantinya. Udah jam segini, aku permisi dulu." Aku meninggalkan dia tanpa menunggu jawaban atau pun Mas Yudhis angkat suara, dia hanya terdiam tanpa mencegahku untuk pergi dan memberikan penjelasan. Malam ini aku putuskan untuk berdiam diri di kos tanpa keluar, toh aku juga tidak merasakan lapar dan keinginan untuk makan malam, bahkan aku sampai mengabaikan pesan pesan dari Mas Dhimas, Selly, Keyra dan bahkan Ibu ku. Aku hanya butuh sendiri. -°-°-°-°-°-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN