7

1328 Kata
Aku merasa bersalah dengan Mas Dhimas, bagaimana bisa aku semalaman mengabaikan setiap pesan dan telepon darinya. Padahal aku sudah berjanji untuk menemani dia selama di Madiun, namun malam itu aku memilih menenangkan diri sampai Sabtu sore dia akan kembali ke kota tempat dia kerja. Aku benar benar merasa bersalah yang terkesan mengabaikan dan ingkar janji. Namun Mas Dhimas tidak mempermasalahkan itu, dia paham jika aku punya kesibukan lain. Untuk Mas Yudhis sejauh ini aku masih bersikap berusaha untuk biasa saja, walaupun dia sering meminta waktu untuk ngobrol bareng dan ditemani makan, itu pun aku mengajak Selly agar tidak menciptakan suasana canggung. Namun, tidak bisa aku pungkiri hati ku masih bimbang dan belum sepenuhnya yakin untuk memberi jawaban ke Mas Dhimas. "Jumat depan libur, rencana mau kemana Nin?" "Rencana mau ke Keyra sih, kalau jadi." "Eh enak nih, ke Semarang. Sendiri?" "Huum, suntuk aku Sel." "Masih bimbang?" Tanya Selly memandang ku dengan serius sampai menghentikan kegiatan makannya "Entah lah, rasanya takut kalau langkah yang aku ambil salah." "Setiap pilihan ada resiko masing-masing. Yakin kan dulu hati kamu. Kamu nggak cerita ke Ibu mu?" "Rencana aku berangkat ke Semarang kan kamis sore, Sabtu malam balik ke rumah, dan Minggu sore ngebis Madiun lagi." "Yakin Nin? Nggak capek?" "Capek nggak capek, biar aku bisa tenang, Sel." "Emang Keyra itu pawangnya Anin yang paling kuat." Gumam Selly, dia tahu kalau tujuan Ku ke Semarang bukan untuk liburan, tapi untuk mencurahkan isi hati ku ke Keyra. Aku hanya terkekeh mendengar perkataan Selly. -°-°-°-°-°- "Berarti hari Jumat itu udah di Semarang?" "Iya, terus Sabtu malamnya balik rumah. Mas sekarang lagi dimana?" "Di Surabaya. Udah netap disini sampai beberapa bulan ke depan, rencananya mau minta pindah dekat rumah aja nggak usah ke luar kota, ya belum ada kabar dari atasan." "Lebih dekat dong, daripada di Bandung." "Iyaa, dekat lagi sama Madiun." "Hmm, Mas?" "Iya?" "Maaf, aku belum kasih jawaban." Ku dengar Mas Dhimas tertawa kecil "Iya, aku tahu kamu masih bimbang. Aku tunggu kok." "Tapi secepatnya aku akan kasih jawaban kok." "Iyaa, sudah malam, tidur gih." "Iyaa, selamat malam." "Selamat malam juga, Nin." Telepon kami pun berakhir, sejak hari itu hubungan ku dengan Mas Dhimas terjalin dengan baik.  -°-°-°-°- Keyra :  Nggak usah pakai ojol, tunggu di stasiun aja, biar dijemput Mas Nanda. Pesan dari Keyra mengurungkan aku untuk memesan ojol. Menunggu di stasiun adalah salah satu pekerjaan yang sedikit aku suka, melihat banyak orang yang datang untuk mengantar entah saudara atau pun orang terkasihnya pergi melihat cara mereka untuk perpisah membuat ku mengerti bahwa perpisahan adalah hal yang menyedihkan, menyambut hari hari selanjutnya dengan kerinduan yang semakin hari kian membesar, bahkan kita sendiri tidak tahu kapan rindu itu akan menumpuk dengan sendirinya, dan akan bertemu dengan sebuah pelukan hangat. Mas Rinanda ( suami key) memanggil Mas Nanda mengabarkan kalau telah sampai di depan stasiun, aku segera keluar dan menemui suami sahabat ku yang telah menjemput ku. Sampai rumah Keyra aku disambut hangat oleh keluarga sahabat ku, apalagi dengan Ibunya Keyra sahabat ku sewaktu SMA ini sudah ku anggap keluarga ku sendiri begitu pula mereka. Malam ini Keyra memberi waktunya khusus untuk ku dan Mas Nanda pun menghargai keinginan istrinya, karena dia paham maksud kedatangan ku dan kalau aku main ke sini dia akan memberi kesempatan waktu Keyra khusus untuk aku. "Jadi sekarang kamu bingung, mau ambil keputusan apa?" Tanya Keyra setelah aku menceritakan secara detail mulai dari pertemuan ku dengan Mas Dhimas dan perilaku Mas Yudhis akhir-akhir ini setelah aku mengatakan mengakhiri hubungan kami yang selama ini tidak ada status yang jelas. "Ya, jujur saja aku kagum dengan Mas Dhimas namun aku juga kaget dan takut untuk mengambil keputusan, gimana kalau aku salah pilih?" "Ya ampun Anin, bukannya dari dulu kamu tuh kepengennya dapat jodoh tanpa harus pacaran-pacaran, tiba-tiba ada yang lamar gitu terus ngajakin nikah, nah sekarang giliran udah ada kamu malah bingung gini?" "Apa yang kamu bingung kan?" Tanya Keyra sekali lagi "Alasan. Ya, alasan Mas Dhimas tiba-tiba mengajak aku menikah, padahal sebelumnya kita tidak begitu kenal dan alasan Mas Yudhis sampai sekarang aku belum tahu apa yang sedang dia perjuangkan untuk hubungan kami yang tidak berstatus kemarin." "Udah tanya?" " Ke siapa?" "Dhimas lah, kalau Yudhis mah yakin aku, kamu udah nanya-nanya berpuluh kali tapi dia masih diam aja." "Nggak berani nanya, Key. Tapi ya anehnya, Si Qila tuh kemarin nanya ke aku kayaknya dia tuh keceplosan masak tiba tiba dia nanya gini, 'gimana kak sama Mas Dhimas?' padahal aku belum cerita ke siapa pun tentang Mas Dhimas sama orang rumah. Cuma kamu, Selly dan Hammas yang tahu kalau kemarin aku dan Mas Dhimas ketemuan. Aneh nggak sih?" "Kepikiran nggak, kalau Dhimas itu sebelumnya udah ke orang tua mu dulu? Terlebih ya, orang tua Dhimas itu temannya Ayah sama Ibu, dan orang tua kalian itu berteman baik lho. Oiya, apalagi Ibunya Hammas itu sering banget kan becanda kepengen jodohin kamu sama Hammas dulu, padahal kan kalian real sahabatan mana bisa jadi pasangan gitu." Kata Keyra ada benarnya juga, namun apa Ayah dan Ibu tahu ini sebelumnya "Iya juga sih, tapi- tau ah pusing aku, capek rasanya hampir satu minggu ini otak ku penuh dengan masalah ini terus." "Makanya besok kita jalan-jalan aja, dua hari ini alihkan perhatian dari laki-laki capek sendiri kan mikirin laki laki mulu, mending momong Gendhis nih." Canda Keyra yang sedang menyusui bayi gembul berumur satu tahun ini "Gimana rasanya jadi ibu, Key?" "Sebelum jadi Ibu, rasakan dulu gimana jadi seorang Istri. Semua itu akan berjalan dengan sendirinya, Nin. Tapi aku yakin, kamu akan jadi istri dan ibu yang baik nantinya." "Doakan aja Key, aku bisa mengambil keputusan yang tepat." "Yang penting yakin kan dulu hati kamu, jangan terburu-buru mengambil keputusan, Nin. Tidur gih, kamu kan pulang kerja langsung berangkat tadi, dipakai istirahat, jangan mikir berat-berat, kayak Gendhis nih hidupnya cuma nangis, nen, sama ketawa aja." "Ya kali Bu, dia masih bayi. Biarin tidur sini aja Key sama aku." "Kalau dia bangun cari nen, susuin sendiri ya, jangan bangunin aku. Gapapa sih aku, malah bisa pacaran sama Papanya." Balas Keyra dengan tertawa kecil "Enak aja, mana ada susunya. Ya udah sana gih, tuan putri mau bobok." Canda Ki mengusir Keyra dari kamar "Eh eh, perasaan ini rumah ku kenapaa aku yang diusir." Gumam Keyra keluar kamar dan meninggalkan ku sendiri. -°-°-°-°-°- Dua hari di Semarang membuat ku dapat berfikir jernih, rasanya beban ku sedikit berkurang, kini saatnya aku untuk meminta pendapat Ibu sebagai penasihat final ku. Sejujurnya aku bingung harus memulai dari mana untuk menceritakan dengan Ibu, biasanya aku tidak pernah menyembunyikan masalah ku dengan Ibu, namun kali ini aku harus bisa menahan diri untuk tidak menambah beban pikiran Ibu dan memberi penilaian negatif Ibu ke Mas Yudhis. "Jadi, kakak udah pernah bilang ketemu sama Mamanya Yudhis?" Tanya Ini setelah aku cerita kan semua, karena malam ini aku meminta untuk tidur bersama Ibu agar enakan ngobrolnya sampai kami tertidur "Pernah, ya sekali itu Bu, dari gelagatnya tuh nggak enak banget. Kayak sinis gitu lho, padahal kan kakak udah berusaha buat mengakrabkan diri." Jawab ku dan ibu hanya merespon dengan tersenyum tipis dan membuang nafas beratnya "Terus, kenapa nggak cerita ke Ibu yang tentang Mas Dhimas main ke sana?" Tanya Ibu dan sepertinya mulai menggoda ku "Hm, ya- ya gimana ya Bu, Kakak bingung mau ceritanya gimana." "Justru kali ini gantian Ibu yang mau cerita." Kata Ibu dengan tersenyum "Cerita apa? Kok kayaknya ada yang nggak aku tahu, jangan-jangan Ibu udah tahu sesuatu ya?" Tebak ku "Kakak ingat waktu kemarin Kakak pulang, kan Ibu sama Ayah masih kondangan terus mampir ke rumah Pak Dhe Budi. Kakak tau kan, modelannya Bu Dhe Lastri sejak dulu suka banget ngajakin jodoh-jodohin kakak sama Hammas, tapi Ibu tau kalian itu real sahabatan nggak bakal bisa di jodoh-jodohin gitu." "Terus apa hubungannya sama Mas Dhimas?" -°-°-°-°-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN