8

1206 Kata
"Terus apa hubungannya sama Mas Dhimas?" Tanya ku dan Ibu hanya tersenyum sembari mengelus kepala ku "Pastinya Ayah mu lah yang mulai." "Kok Ayah, Bu? Kakak makin nggak paham." *Flashback Ibu Ratna* Dhimas menyalami kedua orang tua Anin saat mereka berkunjung di rumah orang tua nya. "Lho, di rumah toh Mas Dhimas?" Tanya Surya Ayah Anin "Iya Om, kemarin baru saja sampai." "Harus diomelin dulu Om baru pulang, setelah menghindari Ibunya." "Lha kok menghindari Ibu Mas, kenapa? Disuruh cepat-cepat nikah ya?" Sahut Ratna, Ibu Anindira berniat menggoda Dhimas namun Dhimas hanya tersenyum membenarkan "Ya kalau nggak gitu ya nggak nikah-nikah nanti Dek, lagian nunggu apa lagi umur juga udah pas, kerjaan ya udah mapan, tabungan juga udah punya, Ibu sama Bapak juga siap kalau kalau menambah biaya pernikahan, apa lagi gitu yang kurang." "Jodohnya belum ada kali Mbak, yang siap diajak nikah." Celetuk Surya "Lho, iya kali ya." "Lha gimana? Sama Anak ku? Anin juga sudah saatnya menikah, tapi sampai sekarang malah sibuk kerja dan belum ada tuh mengenalkan laki-laki ke keluarga." Ratna terdiam mendengar perkataan dari Surya suaminya, yang sepertinya ditanggapi serius oleh Lastri dan Budi orang tua Dhimas. "Lha iya, nanti kita bisa besanan. Udah Anin sama Dhimas saja, nggak jadi sama Hammas. Yang penting Anin jadi menantu ku. Ya Mas Surya, biar kita besanan." Kata Lastri dengan semangat "Lho, saya kan terserah balik lagi ke anak anak. Kalau Nak Dhimas sama Anin sama sama setuju ya monggo. Ya kan, Bu?" Jawab Surya meminta persetujuan juga dari istrinya "Iyaa, kami sebagai orang tua ya tidak mau memaksa anak anak Mbak, terserah nanti Nak Dhimasnya bisa menaklukkan Anin tidak." Canda Ratna yang akhirnya membuka suara walaupun dalam hati dia juga berharap putrinya segera dipinang oleh lelaki yang tulus dan serius untuk membina rumah tangga. *Flashback end* "Terus, duh Ibu tau nggak Mas Dhimas langsung tanya ke aku waktu di Madiun kemarin, dia bilang 'kalau saya mengajak kamu menikah bagaimana?' gitu Bu." Jelas ku namun Ibu malah tersenyum sembari terkekeh geli, bukannya terkejut seperti yang ku bayangkan "Lah, kok Ibu malah ketawa sih, kok nggak kaget." "Ibu lagi bayangin ekspresinya kakak saat itu, pasti lucu banget." Kata Ibu masih dengan tertawa terbahak namun tidak sampai keras kelepasan tawanya, bisa-bisa membangunkan Ayah, Qila sama Nenek yang sudah tertidur. "Ibu kakak tuh lagi serius lho. Jangan-jangan emang Ibu sudah tau ya kalau Mas Dhimas nemuin aku?" Tanya ku curiga dan dengan santainya Ibuku mengangguk dan tersenyum "Malam hari setelah kakak balik, Pak Dhe Budi, Bu Dhe Lastri dan Dhimas ke sini." "Ngapain Bu?" Tanya ku spontan "Makanya Ibu didengar dulu, jangan main potong aja toh." "Hehe iyaa, maaf Bu." Ibu mulai menceritakan kalau malam itu keluarga dari Pak Dhe Budi memiliki niat yang serius mengenai aku dan Mas Dhimas, dimalam itu juga Mas Dhimas bilang ke Ayah dan Ibu ku untuk menemui ku dan mengenalku lebih jauh. Namun Ibu juga sebenarnya kaget juga kalau Mas Dhimas langsung menanyakan pada ku tentang pernikahan, kata Ibu mungkin Mas Dhimas ingin segera berkeluarga seperti yang diminta Ibunya dan Ibu ku berfikir kalau Mas Dhimas bukan tipikal cowok yang main main juga, makanya beliau merasa bahwa Mas Dhimas orang yang tepat untukku. "Sekarang terserah kakak, kakak udah dewasa dan ini menyangkut masa depan kakak, pernikahan bukan main main kak, kalau bisa sekali seumur hidup. Kakak pikirkan matang-matang, jangan ambil keputusan karena situasi dan kondisi kakak merasa terdesak. Ibu percaya kakak bisa ambil keputusan yang terbaik." Tutur Ibu membuat ku sedikit tenang "Hm, Ibu kecewa nggak sama Mas Yudhis?" Tanya ku pada Ibu, karena pernah sekali Ibu saat mengunjungi ku dan menginap di kos, kami makan malam bersama dan Ibu pun sangat welcome dengan Mas Yudhis, tanpa aku kasih tau beliau sudah dapat menebak kalau aku sedang dekat dengan Mas Yudhis "Sebenarnya perasaan kecewa ya tetap ada lah Kak, tapi kalau memang ini bukan jalannya kakak sama Yudhis ya sudah. Kita mau bagaimana lagi? Setidaknya kan kakak udah menanyakan dan meminta kepastian terhadap Yudhis, tapi memang Yudhisnya sendiri kan yang memilih untuk bungkam dan membiarkan kakak pergi?" Tutur Ibu membuat ku sedih, bagaimana bisa aku sebodoh itu selama tiga tahun belakangan ini, seharusnya status kami sudah aku pertanyakan semenjak awal kami dekat sehingga aku tidak merasakan kekecewaan seperti ini, terlebih Ibu ku pun juga ikut merasakan kekecewaan terharap lelaki itu. "Udah jangan dipikirkan, sekarang waktunya tidur, besok beneran mau balik?" "Iya Bu, kan Senin udah masuk kerja, kakak ngebis aja deh." "Jangan, besok biar dianterin Ayah. Mesti capek kalau ngebis." "Nggak usah, Ayah malah yang capek nanti. Kakak udah biasakan. Paling besok mau keluar bentar mau ketemu Hammas." "Ya sudah, terserah kakak. Wes ayo tidur, udah malam, lho kan jam setengah satu." "Ya ampun nggak terasa ya Bu, hehe." -°-°-°-°- "Jadi, dalang dibalik semua ini tuh kamu?" Tanya ku pada Hammas yang sejak tadi tertawa bahagia "Lha kalau nggak gitu Mas ku nggak ada inisiatif buru-buru nikah Nin, kan kamu tahu modelannya Mas Dhimas dari yang aku kasih tau dulu. Ya nggak nyangka aja sih dia langsung gercep." "Dan itu gara-gara kamu lihatin komentar-komentar Mas Yudhis di i********: aku?" Tanya ku lagi memastikan, dan Hammas mengangguk tertawa mengiyakan "Mas ku itu orangnya nggak neko-neko Nin, anaknya Bapak sama Ibu yang paling nurut itu ya Mas Dhimas. Kalau Mas Diaz sama Si Bagas itu sama aja ya agak bandel lah, kalau aku kamu tau sendiri kan. Aku juga nggak bakalan setuju kalau misalnya Mas ku orangnya b*****t di jodoh-jodohin sama kamu, mending aku sendiri lah ya yang maju?" Canda Hammas dan membuat ku melotot ke arahnya "Kayak aku mau sama kamu aja." "Haha, iya iyaa kok paham aku, kamu mah sukanya yang berumur diatas mu." "Iya biar lebih dewasa dan bisa ngemong aku." "Iyaa udah, intinya udah siap ini jadi Mbak ipar ku." Goda Hammas membuat ku geleng-geleng kepala "Eh belum ya, orang aku belum kasih jawaban ke Mas mu kok. Nanti aja kalau aku udah balik ke Madiun, aku kasih dia jawaban." "Mau balik nanti toh?" "Iya, kan besok udah makaryo lagi Ham." "Lha naik apa? Kan kamu semalam baru dari Semarang toh?" "Ngebis nanti, mau diantar Ayah sebenarnya tapi aku nggak mau. Kasihan Ayah kalau bolak balik." "Eh eh yakin mau nge bis sendiri?" "Kenapaa nggak? Ya udah lama juga sih nggak nge bis, tapi gapapa lah. Anak pemberani kok." Kata ku dengan percaya diri "Video call Mas Dhimas, yuk?" "Ngapain? Jangan lah Ham, ganggu Mas mu istirahat nanti." "Aduduh perhatian banget sih, jangan jangan udah jatuh cinta ya?" Goda Hammas membuat ku malu, nggak tau sih spontan aja aku bilang gitu "Iyaaa godain aja terosss. Ya udah telepon aja, aku mau diam aja." "Lihat aja nanti." Dan bohong kalau aku diam saja mengamati kakak beradik itu ngobrol di via video call, bisa bisanya Hammas bilang dan mengompori Mas Dhimas kalau aku akan balik ke Madiun sendiri dan naik bis, dia mengompori Masnya kalau itu bahaya untukku, sampai pada akhirnya Mas Dhimas meminta bicara denganku agar aku mau diantar Hammas dan Bagas Adek mereka. Entah kenapa dilingkup mereka aku merasa terlindungi selalu diperlukan dengan baik, setelah selama ini apa apa aku lakukan dengan sendiri dan tanpa ingin merepotkan kedua orang tua ku khususnya. -°-°-°-°-°-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN