9

1622 Kata
Mas Dhimas tidak ingin mendengar jawaban ku melalui via telepon, dia ingin mendengarkan jawaban ku secara langsung. Untuk itu, dia meminta ku untuk menemuinya di salah satu cafe dekat kantor ku sepulang kerja nanti, dia dibela-belakan izin kerja sehari untuk ke Madiun dan menemui ku. Dia hanya beberapa jam saja di Madiun dan tidak sampai satu hari. "Habis makan siang jadi cabut, Nin?" "Ya jam satu cabut lah, tadi Mas Dhim nge pap jadwalnya jam 2 sampai sini sih." "Kereta?" "Huum, dan besok pagi udah balik surabaya lagi." "Jadi? Ke sini cuma pengen dengar jawaban kamu?" Tanya Selly dengan heran "Hehe, katanya sih gitu." "Gilak sih, dibela belain lho dia kesini. Wahh, keren banget tau." "Doakan ini yang terbaik ya, Sel." Pinta ku pada Selly, dia pun tersenyum tulus "Selalu, semoga kamu segera mendapat kebahagiaan versi kamu sendiri ya, Nin." Balas Selly membuat ku haru, teman awal masuk kuliah ku sampai sekarang kami kerja bareng dan dia tau seluk beluk hubungan percintaan ku dan kadang juga drama drama keluarga ku -°-°-°-°- Sebelum Mas Dhimas sampai di stasiun aku lebih dulu datang, kasihan dia kalau harus menunggu lama. Sudah dua puluh menit aku menunggu dan terdengar kereta yang ditumpangi Mas Dhimas telah datang, aku berdiri menuju pintu keluar. Tring Mas Dhimas :  Aku sudah sampai di stasiun, Nin. Pesan Mas Dhimas ku buka saat itu juga aku melihat sosoknya, namun dia belum menyadari keberadaan ku yang berada di depannya, dia masih berdiri bersandar di tembok dengan menundukkan kepala menatap ponselnya "Iya, aku juga sudah lihat Mas Dhimas." Jawab ku setelah berada disampingnya "Eh, kaget lho aku. Kirain kamu masih kerja." "Hehe, nggak. Aku sengaja cabut dulu." "Duh jadi nggak enak, dibela-belain cabut duluan." Canda Mas Dhimas "Nggak enak lagi aku, Mas Dhimas bahkan dibela-belain ke sini, izin nggak masuk kerja lagi." "Gapapa lah, demi masa depan." Bisik Mas Dhimas dengan menaikan kedua alisnya, Parah sih dia kenapa suka bikin orang lemas sih, harus banget gitu main alis, paling nggak bisa diginiin tau nggak? "Bisa aja, ya udah yuk cari makan." "Haha, oiya, helm nya kamu bawa kan?" "Iyaa dong, aku bawa pasti." Jawab ku, karena helm Mas Dhimas yang sengaja dia beli waktu malam itu dia tinggal di kos ku, katanya suruh simpan aku aja, jaga jaga kalau ada yang main ke sini lagi katanya, bisa aja kan dia ? Padahal mah aku tau siapa yang dia maksud. "Pintar." Puji nya dengan mengelus kepala ku, tiba tiba stok oksigen disekitar ku rasa berkurang Setelah itu kami pergi untuk cari makan siang lebih dahulu sebelum aku mengutarakan jawaban atas permintaannya. "Terus nanti mau nginap dimana?" Tanya ku memulai obrolan setelah kami menyelesaikan makan siang "Enaknya nginap dimana? Jadwal ku jam satu pagi, lho." "Kok pagi bener Mas? Nggak yang jam lima itu to? Kan ada." "Kalau jam segitu kan bisa istirahat dulu sebelum masuk kerja." Jawab Mas Dhimas dengan senyum "Iyaa sih, tapi kalau nginep hotel jam segitu nanggung banget Mas." "Ada solusi?" Apa aku tawarin ke kos aja ya? Lagian kos ku bebas, dan kadang anak anak kos juga bawa pacarnya ke kos sampai malam juga. Toh lagian kami tidak ngapa-ngapain, kasihan juga kan Mas Dhimas kalau harus nunggu di stasiun sampai jam segitu. Tapi gimana cara nawarinnya, aku takut kalau dia mikir yang nggak nggak sama aku, bawa cowok ke kos, padahal baru kali ini aku bakal ngajak cowok ke kos. "Kok melamun? Atau nggak nanti gampang lah, Mas bisa nunggu di stasiun aja. Santai aja." Kata Mas Dhimas dengan terkekeh "Hmm, ja-jangan. Nanti lama lho kalau nunggu di stasiun, hmmm Mas Dhimas jangan mikir aneh-aneh ya tapi, kalau aku nawarin Mas Dhimas nunggu di kos ku gimana? Jangan mikir aneh-aneh ya Mas, seriusan baru kali ini aku ngajakin cowok masuk ke kos ku." Kata ku dengan gugup, namun Mas Dhimas malah tertawa "Kenapa kayak takut gitu sih? Santai aja, aku juga nggak mikir yang aneh aneh tentang kamu." "Ya aku juga baru kali ini ngajak orang lain ke kos, biasanya cuma teman aku cewek, Ibu sama Adek aja." "Tapi emang boleh bawa cowok ke kamar?" "Kos aku itu bebas Mas, tapi sejauh ini nggak ada tuh penghuni kos yang berbuat ya gitu lah, mereka semua juga menjaga keamanan kos kami, nggak mau ganggu satu sama lain." "Ya kalau boleh gapapa sih, nanti malam aku pakai gojek aja ke stasiunnya." Kata Mas Dhimas dan aku hanya tersenyum menanggapinya, antara bingung dan canggung, setelah ini mau bahas apa, masak iya tiba-tiba aku langsung jawab ajakannya yang dulu "Hem, boleh aku minta jawabannya sekarang?" Tanya Mas Dhimas dengan tenang, seperti tidak ada kegugupan sama sekali Aku mengalihkan pandanganku dari wajahnya, aku hanya berdoa dalam hati kalau keputusan yang aku pilih ini benar dan tidak akan ada penyesalan sedikit pun kedepannya nanti. Aku niatkan dan aku lakukan semua ini demi kedua orang tua ku, keluarga ku dan diri ku sendiri. "Mas- hmm.." "Iya." Huh "Bisa ulangi nggak permintaannya Mas Dhimas saat itu?" "Oh, oke. Aku ulangi lagi, kali ini aku meminta dengan sungguh-sungguh, Anindira, mau kah kamu menjadi istri ku ?" Tanya Mas Dhimas dengan meraih tangan ku yang sebenarnya ingin aku tarik lagi, karena aku malu tangan ku dingin sekali dan gemetaran namun tangan Mas Dhimas begitu erat menggenggamnya, aku yakin dia tahu kalau aku benar-benar gugup "Mas Dhimas tau kan aku anak pertama dan aku cucu tertua dari kedua keluarga besar, selama ini aku diberikan tanggung jawab dari kedua orang tua ku secara tidak langsung aku dituntut untuk selalu mandiri, memberikan contoh yang terbaik, dan yang selalu diminta untuk memberikan yang terbaik untuk mereka, terkadang aku terlalu nyaman untuk hidup sendiri karena sudah terbiasa untuk melakukan semuanya sendiri, ada masalah pun aku berusaha pendam dan menyelesaikan sendiri, karena aku nggak mau membebankan orang lain dan terlebih kedua orang tua ku, jujur aja aku capek, aku juga ingin layaknya orang lain yang tanpa harus memikirkan nama baik keluarga, bah kan aku ingin sekali menutup telinga ku agar aku tidak bisa mendengar semua komentar komentar keluarga besar untuk hidup ku, aku selalu berusaha memberikan yang terbaik namun terkadang masih saja kurang. Maaf, aku selalu cengeng kalau masalah kayak gini." Jelas ku dan ku potong karena aku tidak kuat menahan air mata ku yang ingin keluar, Mas Dhimas sejak tadi hanya diam memperhatikan ku dan tangannya masih erat menggenggam tangan ku sesekali mengelus punggung tangan ku dengan ibu jarinya "Jadi, sebelum aku menjawab ajakan Mas Dhimas, aku ingin tanya, siapkah Mas Dhimas jadi seseorang yang dapat aku jadi kan teman untuk berkeluh kesah, membimbing aku, dan memberikan perlindungan untuk ku, secara nggak langsung aku butuh orang untuk aku bebani. Siapkah Mas Dhimas untuk menjadi orang tersebut?" "Sejak awal aku mengajak kamu menikah, aku sudah siap untuk menjalani hidup bersama dengan kamu apa pun yang terjadi nanti di depan aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk kehidupan kita kelak." Jawab Mas Dhimas dengan tulus terlihat dari dia berbicara dan menatap mata ku, aku dapat melihat ketulusan dari cara pandangnya "Kita bisa saling mengenal lebih jauh dengan berjalannya waktu, dan aku cuma mengingatkan Nin, di usia ku yang akan menginjak di kepala tiga ini sudah saatnya aku bersungguh sungguh, ini di luar keinginan dan paksaan Ibu memintaku untuk menikah, jujur dari hati ku sejak Ayah kamu dan orang tua ku membicarakan rencana mereka untuk mendekatkan kita, aku sudah memikirkan apa yang diinginkan Ibu ku benar, sudah saatnya aku untuk menikah, dan mungkin sebelumnya kita memang pernah bertemu walaupun tidak intens saling memperhatikan, tapi tanpa kamu ketahui aku selalu memperhatikanmu memalui Hammas. Ah mungkin kapan-kapan akan aku ceritakan, intinya aku mengajak kamu menikah itu tulus dan bersungguh-sungguh bukan karena atas permintaan Ibu ku." Jelas Mas Dhimas dengan panjang, membuat ku lega bahwa dia tidak terpaksa untuk menikah "Aku percaya sama Mas Dhimas, aku percaya kalau Mas Dhimas jujur dan tulus." "Jadi jawabannya?" "Hmm, iya. Aku mau." "Mau apa?" "Ya mau, mau jadi hmm jadi Nyonya Dhimas." "Akhirnya, lega jugaaa, huhhhh.. makasih ya, bisa nggak kita nikahnya besok atau lusa?" Tanya Mas Dhimas masih dengan menggenggam tangan ku "Ya mana bisa lah Mas, kamu ini. Sabar lah, temuin dulu orang tua ku." "Nggak sabar Nin, pengen tau gimana sih rasanya punya istri." "Ya sabar dulu, dikira ngurus nikah itu mudah apa?" "Iya iya, besok jumat aku kesini, kita pulang dan weekend di rumah, aku bakalan ngajak Bapak dan Ibu ke rumah kamu membicarakan hubungan kita selanjutnya." "Secepat itu Mas?" Tanya ku dnegan heran dan terkejut mendengar perkataan nya "Kenapa? Nunggu apa lagi, kamu masih ragu? Apa weekend ada acara kantor?" "Hmm, nggak sih, ya cuma kaget aja gitu, buru buru banget." "Keburu umur ku sudah tiga puluh tahun, Nin. Lagian ya, kalau Ibu tau kamu sudah menerima ku pasti Ibu bakalan melangkah lebih depan dibanding kita. Lihat aja nanti, aku yakin yang paling heboh mengurus pernikahan kita ya para Ibu Ibu kita." Kata Mas Dhimas dan aku tersenyum membayangkan apa yang dibilang Mas Dhimas, benar sih sepertinya yang bakal excited adalah Ibu Ibu kami. Malam itu kami pulang ke kos ku dan kami ngobrol ngobrol membicarakan tentang diri kami, bahkan sebelum Mas Dhimas berangkat ke stasiun dia meminta izin dengan ku untuk memeluk ku "Boleh hmm, boleh nggak kalau aku peluk kamu?" Tanya Mas Dhimas ragu Aku pun juga ragu, tapi sepertinya tidak masalah toh hanya peluk saja kan? Lalu aku berjalan mendekat ke arahnya dan masuk ke dalam pelukannya, dia mengeratkan pelukan kami dan aku merasakan kecupan di kening ku sebelum dia berbisik "Jaga diri baik-baik ya, sampai ketemu lagi." Bisiknya dan aku hanya mengangguk dalam dekapannya Gila sih, nih orang nggak bisa ditebak banget, aku kira dia orang yang dingin dan susah banget di sentuh, eh taunya awwww bikin meleleh terus:( -°-°-°-°-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN