Dua minggu sejak kedua orang tua Mas Dhimas datang kerumah, kami nengadakan pertunangan resmi dan membawa kedua keluarga besar. Pernikahan kami akan diadakan tiga bulan ke depan mulai dari hari pertunangan. Aku sendiri mulai menyiapkan segala hal untuk pernikahan kami. Namun, hanya satu yang belum aku ambil keputusan. Keluarga Mas Dhimas menginginkan aku untuk resign dari pekerjaan ku dan sebenarnya mereka juga meminta ku untuk menjadi Ibu rumah tangga saja, tetapi setelah membicarakan ini ke Mas Dhimas aku katakan padanya aku mau resign tapi aku nggak mau jadi Ibu rumah tangga, aku tetap ingin berkarier walaupun sudah berumah tangga. Mas Dhimas pun setuju dan dia siap membayar pinalti yang harus aku bayarkan jika aku resign sebelum kontrak ku habis, padahal bulan depan saja kontrakku sudah habis, tapi aku belum mengatakan ke Mas Dhimas, dan saat itu aku mulai mengurus ke atasan. Beberapa hari setelah aku mengurus resign ku teman teman kantor heboh, banyak yang mengira aku mengundurkan diri dari kantor karena mendengar kabar bahwa Mas Yudhis dan Mbak Widi akan menikah. Ya, mereka akan menikah bulan depan. Aku belum tahu pastinya kapan, dari yang aku dengar mereka akan menikah dengan sederhana hanya keluarga saja yang datang, kedua keluarga mereka menginginkan acaranya lebih intim, untuk alasan tersebut semakin membuat anak anak kantor bertanya-tanya, mereka merasa aneh atas hubungan Mas Yudhis dan Mbak Widi.
"Kamu curiga nggak sih Nin?"
"Curiga apa, Sel?"
"Itu yang pagi tadi, kata anak anak magang dia pernah lihat Mbak Widi itu mual mual waktu mau bikin kopi di pantry."
"Masuk angin kali." Celetukku asal
"Ih, kamu mah terlalu positif thinking banget. Jangan jangan emang, itu kali ya?"
"Heh, jangan sembarang, bukannya aku terlalu positif thinking malah aku itu berusaha untuk tidak peduli, menyiapkan hati aja kalau ternyata kenyataannya mereka sudah memiliki hubungan saat Mas Yudhis masih dekat denganku, ya nggak munafik lah Sel meskipun sekarang aku udah ada Mas Dhimas tetap saja, kalau pun tau kenyataannya mereka memiliki hubungan dibelakang kan ya kamu tau pasti rasanya."
"Benar sih, untung ya Nin. Sekarang kamu sudah ada pujaan hati yang benar benar tulus." Goda Selly dengan menunjuk cincin di jari manis ku
"Huh, bentar lagi udah nggak ada yang nemenin makan siang ku dong." Gumam Selly membuat ku sedih juga, hampir tujuh tahun lah kurang lebihnya kami kenal, satu kelas selama empat tahun kuliah, magang pun kami bersama, dan sampai kerja hampir tiga tahun ini kami juga masih tetap bersama.
"Jangan gitu lah Sel, mau bikin aku nangis ya?"
"Ah cengeng kamu mah, tapi beneran lho Nin, nanti gimana ya kalau kamu udah nggak kerja dan kita udah nggak bisa ketemu-ketemu lagi kayak gini, duh bakalan kangen banget pasti."
"Hei, kita masih bisa ketemuan. Aku masih bisa kok main main ke sini, duh jangan mikir yang kejauhan dong Sel, kita masih bisa kok temenan baik." Kata ku dan Selly mengangguk mengerti walau pun dia masih memasang wajah lesunya
Pulang kerja aku habiskan untuk me time udah lama juga aku nggak belanja. Rencananya aku mau cari kemeja buat Mas Dhimas, karena kata Hammas besok adalah ulang tahun Mas Dhimas jadi, aku berencana untuk mengucapkan selamat nanti tengah malam dan untuk kadonya akan aku beri saat nanti kami ketemu dan pulang bareng.
"Cari apa, Nin?"
Suara ini familiar di telinga ku, mau tidak mau aku harus menjawab untuk memberi tahukan bahwa aku baik baik saja tanpa dia, walaupun sebenarnya aku enggan untuk berbicara dengan sosok ini
"Eh, Mas Yudhis. Ini lagi cari kemeja. Sendirian aja, Mas?" Jawab ku berusaha untuk ramah, Mas Yudhis pun ikut tersenyum namun dia tersenyum sinis setelah melirik cincin dijari manis ku
"Seharusnya cincin dari ku yang terpasang di jari manis mu itu, Nin." Gumam nya membuat ku kesal
"Hmm, maaf ya Mas, aku rasa nggak pantas Mas Yudhis bilang gitu ke aku. Karena kita udah beda, nggak kayak dulu lagi Mas."
"Nin, kita butuh bicara. Please kali ini aja."
"Apa lagi Mas? Bukannya hari itu aku sudah memberikan Mas kesempatan? Semua sudah jelas, kalau Mas nggak mau terbuka dengan aku. Mas nggak mau kasih tau aku apa yang sebenarnya terjadi pada Mas."
"Oke, aku akui saat itu aku memang belum siap. Tapi, izinkan aku hari ini untuk membacakan semua Nin, aku mohon,janji ini yang terakhir." Kata Mas Yudhis dengan memaksa dan mungkin tidak ada salahnya aku mengiyakan.
Disini lah kami berakhir di tempat makan yang tak jauh dari tempat belanja ku, Mas Yudhis memilih tempat yang paling pojok dan agak menjauh dari keramaian. Aku hanya memesan minuman untuk penghilang dahaga, sebelum nya tadi Mas Yudhis menawarkan aku untuk makan juga namun aku tolak dengan alasan aku sudah ada janji dengan Selly nanti, padahal itu hanya alibi ku untuk segera mendapat penjelasannya dan setelah itu aku akan pergi untuk kembali ke kos, rasanya tidak ingin lama lama dengannya terlebih juga aku sudah mendengar dia akan menikah dengan Mbak Widi.
"Kamu bahagia, Nin?" Tanya Mas Yudhis setelah kami sama sama bungkam sejak awal kami duduk
Aku tersenyum sebelum menjawab pertanyaannya, "Aku rasa Mas Yudhis sudah tahu jawabannya."
"Ya, sangat. Aku dapat melihat dari mata kamu, kalau kamu saat ini sangat bahagia, tapi asal kamu tahu sejak kita selesai, aku tidak merasakan kebahagiaan dalam hidup ku, hampa semua terasa datar dan membosankan."
"Mas, Mas Yudhis kan bilang mau menjelaskan apa yang tidak aku tahu selama ini, jadi tolong kita langsung ke topiknya saja." Kata ku menyela pembicaraannya
"Oke, aku akan menceritakan semua yang mungkin selama ini membuat kamu bertanya-tanya mengapa aku tidak berani untuk meresmikan hubungan kita. Kamu masih ingat bukan kalau aku pernah cerita, bahwa Mama aku dan orang tua Widi teman baik?"
Aku mengangguk, masih sangat ingat dengan ceritanya makanya aku tidak kaget saat melihat Mas Yudhis dengan Mbak Widi dari dulu sudah akrab.
"Mama menginginkan aku untuk menikah dengan Widi, Mama ingin menjalin hubungan lebih dekat dengan keluarga Widi dengan cara menjodohkan kami, Mama dan orang tua Widi sudah sepakat untuk menjodohkan kami, padahal kami sudah dekat walaupun sebagai teman, namun saat Mama mengatakan niatannya pada ku langsung ku tolak dan minta kesempatan memilih gadis pujaan hati ku sendiri, lalu di hari dimana kita dinner sama Mama saat itu hari dimana Mama menilai kamu sebagai gadis pilihan ku, namun setelah itu Ma-Mama masih menginginkan aku untuk menerima perjodohan itu dan menikah dengan Widi. Aku kira setelah aku berbicara dengan Widi dia sama menolaknya dengan ku, namun ternyata aku salah. Dia malah menerima perjodohan ini karena keluarganya juga sangat menginginkan adanya pernikahan antara kami, aku semakin merasa bersalah dan bingung. Satu sisi aku ingin memperjuangkan kamu Nin, tapi aku juga bingung ini menyangkut nama keluarga ku. Makanya sampai hari itu aku masih belum ada kepastian, dan saat hari itu kamu pergi aku sadar kalau selama ini aku benar benar jadi pengecut, bisa bisanya aku menggantung kamu hampir tiga tahun ini, aku kira awalnya tidak ada masalah tentang status ternyata aku salah bahwa status itu sangat penting untuk menjalin hubungan." Aku hanya terdiam mendengarkan penjelasan Mas Yudhis dengan seksama
"Semakin kalut lagi saat aku pulang dari Jakarta, aku melakukan kesalahan besar. Aku melakukan dosa besar yang seharusnya tidak aku lakukan, aku khilaf Nin. Aku khilaf, aku tidak sadar melakukannya. Aku merasa tidak pantas untuk kamu, aku bingung antara aku tetap lanjut atau aku akan mundur membiarkan kamu bahagia, dan karena kesalahan itu mengharuskan aku untuk bertanggung jawab dan menikah dengan Widi." Penjelasan Mas Yudhis membuat ku terkejut, ternyata benar gosip yang tersebar di kantor
"Ba-bagaimana bisa, Mas?"
"Aku mabuk Nin, Widi juga mabuk berat, kami sama sama mabuk dan tidak sadar. Maaf Nin, maaf secara tidak langsung aku sudah berkhianat dibelakang mu. Aku malu, jujur aku malu saat ini mengatakan semua pada mu. Tapi aku hanya ingin tenang, walaupun sebenarnya aku juga sakit melihat kamu sudah bertunangan dengan lelaki lain. Maaf kan aku, Nin." Kata Mas Yudhis pelan penuh dengan penyesalan
"Jujur saja Mas, aku ya aku kecewa sama Mas. Tapi aku juga sadar mungkin memang ini sudah jalannya untuk kita, Mas Yudhis jangan merasa bersalah pada ku, saat ini kita sudah sama sama ditakdirkan dengan orang yang tepat untuk kita, Mas dengan hidup Mas yang sekarang dan aku akan melanjutkan kehidupan ku yang sekarang. Meskipun kita tidak bisa bersama, aku harap kita masih bisa berteman layaknya sebelumnya. Aku yakin Mas Yudhis nanti akan menjadi suami dan Ayah yang hebat untuk Mbak Widi dan anak anak kalian kelak." Kata ku dengan tersenyum, berharap Mas Yudhis dapat memahami apa yang aku bicarakan
"Begitu juga kamu Nin, meskipun ini berat aku akan selalu berusaha menerima semua ini. Oiya, aku dengar kamu sudah mengajukan pengunduran diri, jadi benar itu?"
"Iya Mas, keluarga menginginkan aku untuk resign lagian calon aku juga merantau, nggak baik lah bagi keluarga kami kalau keduanya saling merantau di tempat yang berbeda, ya nanti setelah menikah aku akan cari kerja di kota ku saja, dekat sama orang tua dan mertua setidaknya."
"Kenapa nggak ikut calon suami aja?"
"Nanggung, mungkin setelah menikah kami juga akan LDR selama setengah tahun, ya tuntutan pekerjaannya."
"Aku berdoa semoga kamu bahagia selalu, Nin."
-°-°-°-°-°-
Malam harinya aku melihat notif i********: ternyata Mas Dhimas baru saja memposting oto ku dengan caption 'my love'
Manis sekaliiiiii
Ini yang bakal ulang tahun siapa coba kenapa yang posting foto dia? Perasaan kan harusnya aku yang posting, dasar Mas Dhimas.
Tring
Mas Dhimas :
Sayang ..
Udah tidur ?