bc

Cinta dalam Lipatan Surat

book_age16+
86
IKUTI
1K
BACA
friends to lovers
CEO
drama
sweet
bxg
office/work place
high-tech world
childhood crush
first love
like
intro-logo
Uraian

Di masa kecilnya, Hanaga selalu bertukar-surat dengan seorang perempuan bernama Dalmia untuk mencurahkan perasaan hatinya. Karena terlahir miskin dan yatim-piatu, hanya Dalmi-lah yang menjadi hiburannya. Ketika ia dewasa, ia mencari Dalmi untuk menemukan kembali cinta yang pernah gadis itu berikan padanya. Namun, menemukan Dalmi tidaklah mudah, bahkan dengan segala fasilitas yang telah berhasil ia peroleh.

chap-preview
Pratinjau gratis
01 - "Ada surat untuk Dalmia."
Hanaga berlari-lari sepanjang jalan raya menuju sebuah kotak surat di seberang sana. Keringat mengalir deras di dahinya, membuat rambutnya lepek dan matanya pedih. Namun begitu, Hanaga tetap berlari. Ia baru berhenti ketika menemukan kotak surat itu masih berisi penuh dengan kertas yang ia isi hari sebelumnya. Dengan tidak percaya, Hanaga menutup dan membuka lagi kotak surat itu, berusaha meyakinkan matanya sendiri bahwa ia tidak salah lihat. Ia bahkan sampai mengucek-ngucek matanya sendiri dengan tangan. Walau berapa kali dipastikan pun, ternyata kertas itu memang masih ada di sana. Pemilik rumah ini belum mengambilnya, entah karena alasan apa. Dengan penasaran, Hanaga kini meninggalkan kotak surat itu dan berusaha memandang menembus pagar tinggi yang menutupi rumah di dalam. Untuk ukuran anak seusianya, ia memang tergolong pendek. Tingginya tak sampai setengah tubuh orang dewasa padahal kini ia sudah duduk di kelas lima sekolah dasar. Hanaga melompat-lompat dan berusaha mendongakkan kepalanya setinggi mungkin, namun ia tetap saja tidak bisa melihat apapun di dalam. Pagar itu terlalu tinggi, dan mika hitam yang tebal itu membuatnya tidak bisa mengintip. "Seharusnya aku lebih sering bermain basket," gumamnya dengan sedih, "atau berenang. Katanya olahraga itu membuat tubuh kita lebih mudah jadi tinggi." Anak itu berdiri di depan rumah itu dengan sedih. Tak ada tanda-tanda seseorang akan keluar dan menghampirinya, apalagi menyambutnya masuk ke dalam. Hanaga menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Aku tidak sempat bermain basket atau berenang. Aku ada pekerjaan." Akhirnya, karena frustasi, ia akhirnya pergi dari tempat itu. Hanaga tidak lagi berlari seperti tadi. Walau semangatnya surut dan hatinya yang lugu itu gundah, ia masih harus mengerjakan pekerjaannya. Dengan lesu ia menelusuri jalanan sepanjang komplek itu dan mengeluarkan satu per satu surat yang ia miliki di dalam tasnya. Semua surat itu sudah bertanda alamat yang lengkap beserta nama penerimanya. Tugas Hanaga-lah untuk memasukkan setiap surat ke dalam kotak yang tepat, di rumah yang tepat. Pekerjaannya ini selalu dianggapnya sebagai sebuah permainan, mirip dengan puzzle. Teman-temannya sering berceloteh tentang permainan puzzle yang suka mereka mainkan di komputer Ayahnya. Hanaga punya permainannya sendiri. Setiap surat dianggapnya sebagai sebuah pion, dan kotak surat adalah rumah yang aman untuk pion-pion itu. Hanaga selalu berusaha untuk meletakkan setiap pion ke dalam rumahnya masing-masing, karena kalau ia sampai salah, seorang naga akan memukulnya sampai memar dan membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Matanya sudah terlatih untuk membedakan setiap alamat, jalan, dan pemilik rumah dengan teliti. Ia seharusnya mendapat lencana kebanggaan sebagai seorang petugas pos cilik paling perhatian. Pekerjaan mengantar surat ini sudah Hanaga tekuni sejak lama, tepatnya ketika ia sudah bisa membaca dan sudah dipercaya oleh petugas pos di dekat rumahnya untuk mulai bekerja. Setiap pulang sekolah, Hanaga menghabiskan waktu berjam-jam berjalan kaki mengelilingi perumahan dan perkampungan di wilayah itu untuk mengantarkan surat-surat. Ia seringkali baru selesai pada pukul tujuh malam. Kadang-kadang, kalau sedang beruntung, petugas pos itu akan mengantarnya berkeliling dengan motor agar ia tidak perlu kelelahan berjalan kaki. Namun, Hanaga tidak pernah keberatan berjalan kaki. Ia selalu suka pemandangan indah sawah-sawah dan lapangan rumput yang bisa ia nikmati perlahan sambil berjalan. Hanaga juga senang ketika angin sore yang sepoi-sepoi menerbangkan rambutnya. Di rumahnya yang sempit, angin tak bisa masuk seleluasa ini. Hanya pada malam harilah udara terasa dingin. Sebab itu, Hanaga tak masalah harus berkeliaran sepanjang sore. Ketika anak itu sedang berjalan dan mencari alamat suratnya yang selanjutnya, dari sudut matanya ia memandang seseorang. Ia duduk di atas sepeda besar beroda dua dan membonceng anak kecil berkuncir kuda. Hanaga mengalihkan perhatiannya dari alamat di surat yang ia pegang dan menoleh. Betul! Itu anak yang ia cari-cari. "Sebentar! Tolong, berhenti!" Ia berlari mengejar sepeda itu dengan sekuat tenaga sampai rambutnya berkibar. Pengemudi sepeda, seorang ibu paruh baya yang kurus dan keriput, menghentikan kayuhannya. Teriakan itu terdengar sangat lemah karena Hanaga telah kelelahan berlari sambil berteriak. Anaknya yang duduk di boncengan belakang sepedanya ikut menoleh, namun tidak mengatakan apa-apa. "Sebentar!" Hanaga masih berteriak. Ia berusaha mencapai sepeda itu secepat mungkin, dan begitu sampai, ia ngos-ngosan begitu parahnya sampai ibu tersebut merasa kasihan. "Kamu mau minum, Nak?" Hanaga menggeleng cepat. "Maaf, Bu. Ibu yang namanya Dalmia?" "Itu aku," celoteh anak perempuan berkuncir kuda yang duduk di boncengan. Ibu itu mengangguk. "Iya, itu anak saya. Ada apa, ya?" Hanaga menatap gadis itu dengan pandangan penasaran. Mereka tidak satu sekolah, padahal di dekat sini tidak ada sekolah lain untuk anak-anak seumuran mereka. Hanaga juga jarang melihatnya keluar rumah. Ia hanya mengenali sang Ibu yang beberapa kali berpapasan dengannya di depan rumah itu ketika sedang mengantarkan surat. "Surat Ibu belum diambil sejak kemarin," ucapnya. "Dan namanya untuk Dalmia. Ku kira aku salah rumah." Ibu itu tersenyum manis. "Betul, mungkin dialamatkan dengan nama anak saya. Kami baru pulang dari kota sejak kemarin, jadi belum mengecek kotak surat. Terima kasih, ya." Hanaga mengangguk kuat-kuat. Sejenak ia terdiam, lalu karena sadar tidak ada yang perlu dikatakannya lagi, ia segera balik badan dan berlari pergi. Ibu itu tersenyum melihat anak laki-laki pengantar surat itu. Ia kemudian kembali mengayuh sepedanya ke rumah. Sejak saat itu, Hanaga selalu ingat bahwa surat untuk Dalmia dialamatkan untuk rumah berpagar hitam yang tinggi di seberang jalan raya. Tidak ada anak lain yang namanya ia ingat, karena biasanya mereka menggunakan nama orang tua mereka apabila menerima surat. Walau tidak pernah bertemu Dalmia lagi, Hanaga tetap merasa senang apabila ada surat baru yang masuk dan dialamatkan untuk gadis itu. Juga apabila ada surat yang dikirimkan olehnya. Ia heran mengapa sang ibu membiarkan anaknya menulis surat dengan namanya sendiri, hal yang sangat jarang dilakukan oleh orang-orang di sekitar tempat tinggalnya. Namun, ia berasumsi, sang anak punya temannya sendiri dan ibunya tidak mau ikut campur. Jadi, pada suatu hari yang lain, Hanaga berlari lagi ke rumah itu dengan dahi penuh keringat. Rambutnya sama lepeknya dengan waktu itu, namun tingginya sudah bertambah sedikit, karena kini ia sudah duduk di kelas enam sekolah dasar. Ia masih bekerja sebagai petugas pengantar surat, dan ia tidak berencana berhenti walaupun petugas pos itu sudah sering menyuruhnya fokus belajar saja. Hari itu, hati Hanaga berdegup kencang. Selain sebuah surat yang akan ia letakkan di sana untuk Dalmia, ada satu surat lagi yang ia buat dengan khusus bagi gadis itu. Ia masih ingat wajahnya ketika duduk di atas boncengan sepeda Ibunya dulu. Ia masih ingat suaranya. Tapi ia tidak tahu apa-apa tentangnya. Hanaga sudah mencari tahu tentangnya ke anak-anak populer di sepenjuru sekolah dan taman bermain, namun gadis itu seperti misteri. Atau tepatnya, seperti hantu. Ia tidak pernah kelihatan lagi. Namun Hanaga tahu ia ada di dalam. Gadis itu membangkitkan rasa penasarannya seperti permainan konsol yang memiliki level-level baru setiap harinya. Semakin banyak surat yang diantarkan Hanaga, semakin ia terkubur dalam tanda tanya. Akhirnya, kemarin malam ia menulis surat perkenalan. Singkat saja, hanya tiga baris yang berisi atas perkenalan namanya, permohonan maaf, dan permintaan agar gadis itu berkenan membalas apabila tidak merepotkan. Surat itu telah ia letakkan di dalam kotak surat. Hanaga menyadari bahwa surat-surat yang ia letakkan di sana dua hari lalu sudah tiada, sebab dibawa masuk ke dalam. Ia berusaha menjulurkan wajahnya dan mengintip namun tidak dapat melihat apa-apa. Akhirnya, setelah menutup kembali kotak surat itu, Hanaga berlari pergi dengan hati berdebar kencang. Ia berharap, ia tidak menyalahgunakan pekerjaannya, tidak akan dimarahi, dan tidak akan dipecat. Ia berharap, setidaknya kalau gadis itu tidak berkenan membalas, ia akan membuang saja surat itu dan tidak memberitahu sang ibu apa yang telah terjadi. Namun, lebih daripada apapun, Hanaga berharap surat itu akan mendapat balasan. Setelah berlari beberapa kilometer, Hanaga berhenti. Ia tidak dapat mengendalikan detak jantungnya yang menggila. Ia mulai khawatir kalau jantungnya akan melompat keluar dari tenggorokannya dan membuatnya mati terkapar di tengah jalan. Dalam pikirannya yang kecil itu, Hanaga takut ia mengalami serangan jantung —walau ia tidak tahu persis apa arti kata itu. Ia hanya sering mendengarnya lewat buku dan film. Karena cemas, ia duduk di sana sebentar dan mengistirahatkan diri. Napasnya yang satu-satu berirama cepat seperti marching band yang sedang menuju bagian reff. Keringatnya juga mengalir deras, membuat pakaiannya basah. Hanaga merasa tidak nyaman. Ia ingin segera pulang dan mandi air dingin, lalu tidur di dipan yang nyaman tanpa diganggu siapapun. Pikirannya terbang kemana-mana dan ia menutup mata. Tanpa sadar, Hanaga tertidur sejenak sambil duduk di pinggir jalan itu. Bunyi bel sepeda-lah yang mengejutkannya. Ia mendadak terbangun dan menyadari bahwa ia telah tertidur. Hanaga terkejut. Ia berdiri dengan cepat, membuat kepalanya terasa pusing, lalu berpegangan pada batang pohon tempatnya bersandar tadi. "Hei, hei, kamu tidak apa-apa?" Suara lembut seorang Ibu terdengar di telinganya. Hanaga langsung tahu, ini ibunya Dalmia. Suara bel sepedanya-lah yang pasti tadi telah membangunkannya. Dengan gelisah, Hanaga membungkukkan badannya sekilas. "Terima kasih telah membangunkanku." Ibu itu berhenti tepat di depannya. Sekali lagi Hanaga menyatukan kedua telapak tangannya sebagai bentuk permohonan maaf dan berkata, "Maaf telah menganggu, aku tidak sengaja tertidur. Terima kasih telah membangunkanku." "Hei," Ibu itu berkata pelan, "Kamu tidak apa-apa? Kamu mau minum?" Hanaga menggeleng. "Terima kasih, Bu. Aku akan kembali bekerja." "Sebentar, sebentar," Ibu itu menarik tangan anak lelaki itu. Pandangannya tak dapat dijelaskan, campuran atas pandangan penuh perhatian, prihatin, dan kepedulian seorang Ibu. "Kenapa kamu tertidur di sini? Apa kamu lelah? Atau kamu sakit?" Ibu itu meletakkan sebuah tangannya di kepala Hanaga. Terkejut, Hanaga mundur selangkah. Ia kemudian menggeleng kencang. Ia berkata, "Ada surat untuk Dalmia." Ibu itu terdiam karena bingung, kemudian Hanaga mengangguk lagi. Ia berbalik badan dan cepat-cepat berlari, berharap Ibu itu mengerti bahwa ia tertidur di sana setelah mengantarkan surat untuk anaknya. Karena malu, Hanaga tidak tahu harus mengucapkan apa lagi ketika Ibu itu bertanya macam-macam. Ia hanya berharap agar Ibu itu tidak mengikutinya atau mengejarnya dengan sepeda, karena kalau begitu ia pasti tertangkap dan terkejar. Sebagai seorang bertubuh pendek, ia sadar larinya tidak cukup cepat. Untungnya, hari itu ia bebas. Ibu itu sama sekali tidak mencari atau mempermasalahkannya lagi. Ia hanya mengayuh sepedanya kembali ke rumah dengan hati gundah karena merasa kasihan melihat anak laki-laki itu tertidur pulas sambil bersandar ke batang pohon di tengah jalan. Ia membayangkan apa saja yang telah dilalui anak itu sampai harus beristirahat di tempat seperti itu. Namun, itu bukan urusannya juga. Seringkali anak-anak begitu terpaksa bernasib buruk karena mereka malas bersekolah atau melarikan diri dari rumah. Ia hendak menolong, namun apa yang bisa ia lakukan? Anak itu selalu bicara formal dan hanya membicarakan pekerjaannya saja sebagai pengantar surat. Sudah dua kali mereka bertemu dan ia masih belum bisa mengetahui kisah anak itu. Ia juga selalu berbalik badan dan berlari cepat apabila ia bertanya macam-macam. Ia takut, kalau ia bertanya kelewatan, anak itu bisa saja merusak surat-suratnya atau menolak mengantar lagi. Ia menggeleng. Urusan bocah pengantar surat itu membuat kepalanya pusing dengan urusan yang tak perlu. Sore itu ia memiliki banyak pekerjaan lain selain mengurusi hal remeh seperti itu. Dengan pelan, Ibu itu memasukkan sepedanya ke dalam halaman rumahnya. Pagar hitam tinggi itu ia tutup lagi. Anaknya Dalmia sedang membaca buku di dalam, tidak menoleh sedikit pun ketika Ibunya pulang. "Ada surat untukmu," ucap sang Ibu seraya berjalan masuk. "Coba sana, lihat, mungkin Paman sudah menemukan jawaban atas pertanyaanmu."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook