07
Suasana rapat di kantor HnB yang semula tenang, seketika berubah ricuh akibat perdebatan Arudra dan Arman. Keduanya saling memelototi sembari bergaya aneh-aneh, yang menimbulkan gelakak hadirin.
Bayu Setiawan, Ayah Arman, hanya bisa menggeleng pelan menyaksikan tingkah putra ketiganya, yang masih saling meledek dengan Arudra.
Perkelahian pura-pura itu pun usai, setelah Hadrian Danadyaksha dan Linggha Atthaya Pangestu, turun tangan mendamaikan kedua belah pihak yang sedang berseteru.
"Sudah, cukup bercandanya," tukas Bayu. "Saya mau ketemu Hilman, kalian lanjutkan rapatnya," ungkapnya sambil berdiri dan merapikan jas biru tua yang dikenakannya.
Farisyasa dan rekan-rekannya serentak berdiri untuk menyalami komisaris 2 HnB Grup. Kemudian mereka duduk kembali dan memandangi Arman yang masih berdiri di ujung kanan meja.
"Fokusku sudah buyar, gara-gara si borokokok eta!" sungut Arman sambil mendelik pada putra sulung Rahmadi Janardana.
"Didinya nu mulai ti heula!" sanggah Arudra sembari merapikan rambutnya yang kian memanjang.
"Cicing!"
"Tong marah-marah wae. Rezeki seret. Jodoh pun makin jauh."
"Eta mulut teu tiasa mingkem?"
"Urang keur ngidam berdebat."
"Ngidam yang aneh."
"Aku lupa, Zivara sekarang hamilnya berapa bulan, Ra?" tanya Hadrian, anggota tim 1 PG.
"5 bulan, Kang," terang Arudra yang merupakan ketua tim 7 PC.
"4 bulan lagi sudah bisa gendong bayi," sela Emris Rafardhan, anggota kelompok 4 PC.
"Pasti Arudra jadi malas kerja jauh. Bawaannya pengen meluk anak terus," seloroh Giandra Ardianto, anggota tim 5 PG.
"Betul itu. Saya juga kalau mau dinas seminggu, meluk Dedek lama banget," ungkap Linggha Atthaya Pangestu, ketua tim 5 PG, sekaligus sahabat Giandra.
"Dedek atau bundanya?" desak Hadrian.
"Mas Linggha lebih suka nibanin Bunda Varsa," canda Arudra.
"Tolong, ya, banyak jomlo di sini. Bicara yang sopan!" desis Arman.
"Makanya, buruan nikah!" seru Fairel Atthariz Calief, putra ketiga Hilman Gilbran dan anggota tim 2 PG. Fairel dan Arman sudah bersahabat sejak masih kecil.
"Cariin calonnya, atuhlah," rengek Arman.
"Males. Aku sama istri sudah ngenalin banyak perempuan. Jangankan jadi istri, jadi pacar pun semuanya gagal," cibir Fairel.
"Sama temannya Varsa, mau nggak, Man?" tanya Linggha.
"Yang mana, Mas?" Arman balik bertanya.
"Davina."
Arman mengerutkan dahi. "Aku lupa orangnya yang mana."
"Kamu cek foto pegawai kantor PC."
"Dia kerja di sana?"
"Ya, staf marketing."
"Yang rambutnya panjang sampai pinggang, kan, Gha?" celetuk Giandra.
"Betul. Manis orangnya," papar Linggha.
"Rambutnya sepinggang? Kok, aku jadi ngebayangin sundel bolong," kelakar Arman yang langsung diteriaki rekan-rekannya.
"Kan! Makanya aku nggak mau lagi ngenalin perempuan ke dia. Ada aja celanya!" geram Fairel sambil melempari Arman dengan gumpalan tisu.
"Kayaknya ada satu perempuan yang cocok buat Arman. Orangnya cantik, tapi rada judes dikit," timpal Zein yang seketika menjadi pusat perhatian teman-temannya.
"Siapa, Z?" tanya Hendri. Dia dan teman-teman kuliah memanggil nama anggota kelompok mereka dengan huruf depan. Termasuk Wirya, Farzan Bramanty, Samudera Harjasa dan Harry Abhimana.
"Freya," terang Zein.
Arman mengingat-ingat sosok perempuan yang disebutkan rekannya. "Adik Gwen?"
"Yups," balas Zein.
"Abang pengen aku mati berdiri?"
"Enggak bakal mati. Paling koma, doang."
"Nah! Bener, tuh. Freya galak. Pasti bisa nanganin Arman," usul Fairel.
"Aku setuju. Freya sangat tegas dan mandiri. Bahkan lebih sangar dari Gwen," imbuh Hendri.
"Ngadapin Gwen aja, Arman bakal mengerut. Apalagi berhadapan dengan Freya," cela Farisyasa.
"Langsung jadi kerdil dia," timpal Hadrian, sebelum dia turut terbahak bersama rekan-rekannya.
***
Langit cerah telah menggelap, ketika Farisyasa tiba di rumahnya yang berada dalam satu kompleks dengan kediaman Emris, hanya berbeda blok.
Farisyasa duduk menyandar ke sofa ruang tengah. Dia menonton televisi sambil menunggu kopinya diantarkan asisten rumah. Sementara Andi duduk di lantai sambil menyemir sepatu pantofelnya hingga mengilat.
"Pak, sepatunya mau sekalian kusemir?" tanya Andi sambil memandangi sang bos yang sedang menyandarkan kepala ke tumpukan bantal sofa.
"Enggak usah. Masih cling," tolak Farisyasa tanpa menoleh.
"Habis kondangan, aku boleh libur, nggak?"
"Cari penggantimu. Aku repot kalau nyetir sendirian. Mana Senin nanti aku mau ke Garut."
"Aku sudah chat Nuraga, dan dia mau gantiin 3 hari."
"Berarti dari hari apa?"
"Senin sampai Rabu."
"Dia nggak naik jaga?"
"Belum dapat unit kerja dia. Masih jadi cadangan pengawal area Bandung."
"Hmm, coba nanti kutanya ke Dharvan. Kemaren dia sempat bilang butuh asisten, karena asisten yang sekarang, istrinya lagi hamil, harus jadi Bapak siaga."
"Nuraga pasti mau, Pak. Dia sudah ngarep dapat tempat utama. Apalagi dia jadi tulang punggung keluarga sekarang."
"Orang tuanya?"
"Ayahnya pedagang sayur di Cianjur. Ibunya sekarang lagi lumpuh separuh, karena kena stroke."
Farisyasa manggut-manggut. Dia berpikir untuk mendesak adiknya supaya mempekerjakan ajudan pribadi. Terutama, karena Dharvan harus menggantikan posisinya di Sundanese Grup, yang menyebabkan Dharvan harus sering ke luar kota untuk mengecek proyek.
Sundanese Grup adalah perusahaan baru beranggotakan 25 orang pengusaha berdarah Sunda. Dua puluh dua orang merupakan anggota PC, sedangkan tiga orang lainnya adalah tim PG.
"Pak, besok kita berangkat jam berapa?" tanya Andi yang sontak memutus lamunan sang bos.
"Ehm, jam 9. Tapi, kita jemput Lilakanti dan Azrina dulu. Baru nyusul konvoi," ungkap Farisyasa sembari mengurut leher belakang.
"Bapak beneran pacaran sama Bu Lila?"
Farisyasa melirik ajudannya. "Enggak. Kamu, kan, sudah tahu status kami."
"Kupikir Bapak beneran suka sama Ibu. Begitu juga beliau."
"Ngayal."
"Serius, Pak."
"Aku nggak berani begitu, karena ... ehm ...."
"Gimana?"
Farisyasa mendengkus pelan. "Kelakuanku dan mantan suaminya, sama. Bisa saja dia masih trauma diselingkuhi dan disakiti hatinya."
Andi mengangguk paham. "Tapi, sepanjang yang kulihat, Bapak nggak seburuk orang itu. Bapak kelihatan sayang sama Azrina. Beda sama papanya."
"Azrina itu lucu. Mengingatkanku akan sosok Elmeira waktu kecil," ungkap Farisyasa seraya tersenyum. "Usiaku dan Meira beda 10 tahun. Aku ikut ngasuh dia dulu, dan tingkah Azrina sama dengan Meira saat TK," bebernya.
"Kupikir, Bapak memang penyayang anak kecil. Sama Kayden, Rhetta dan yang lainnya, Bapak juga dekat."
"Ya, kamu benar. Mungkin itu pancaran dari keinginanku menjadi seorang Bapak, yang sayangnya belum terwujud sampai sekarang."
"Bapak bisa langsung punya anak kalau nikah sama Bu Lila."
Farisyasa melengos. "Ke situ lagi!" sungutnya.
"Bapak sama Ibu itu cocok. Ini bukan omonganku saja, tapi juga kata orang-orang kantor."
"Kalian ngegosipin aku di belakang?"
"Aku cuma dengar gosip itu dari bisik-bisik karyawan. Mereka, kan, ada yang diundang waktu acaranya Pak Nazeem tempo hari. Jadi, mereka lihat langsung Ibu seperti apa."
"Ehm, aku lupa kalau waktu itu ada karyawan yang jadi tamu."
"Bapak tahu? Banyak karyawati yang patah hati, karena Bapak punya calon istri."
"Mereka harusnya nggak begitu, karena dari dulu aku punya prinsip, nggak mau jatuh cinta pada karyawan. Mending cari orang luar saja. Biar nggak timbul iri binti dengki karyawan lainnya."