08
Pekikan Azrina menyambut kehadiran Farisyasa pagi itu. Pria berkemeja putih pas badan, turun dari mobil dan jalan menuju teras rumah, di mana Azrina telah menunggu.
Hati Farisyasa menghangat kala Azrina menyalaminya dengan takzim. Pria berjanggut itu membiarkan tangannya ditarik gadis kecil yang rambutnya dikuncir dua, memasuki ruang tamu.
Farisyasa menyalami Damhuri dan Salma. Mereka berbincang sesaat, sembari menunggu Lilakanti keluar. Ketika perempuan tersebut muncul, Farisyasa spontan mengulaskan senyuman yang dibalas hal serupa oleh Lilakanti.
"Kita langsung berangkat. Teman-teman sudah nunggu di kantor PC," tukas Farisyasa.
Lilakanti tidak menyahut. Dia beralih menyalami kedua orang tuanya dengan takzim. Farisyasa dan Azrina menyusul berpamitan pada pasangan tua tersebut. Kemudian ketiganya mengayunkan tungkai menuju mobil.
Damhuri memerhatikan hingga mobil MPV hitam bergerak menjauh. Dia masih penasaran dengan hubungan sang putri dan Farisyasa, yang diakui Lilakanti sebagai rekanan bosnya.
"Bun, apa betul kalau mereka cuma berteman?" tanya Damhuri sembari duduk di kursi teras.
"Bunda sudah desak Lila, dan jawabannya begitu," sahut Salma sambil menyabut rumput di sekitar pot bunga besar di ujung kiri teras.
"Ayah sangka hubungan mereka lebih dari sekadar teman."
"Bunda juga mikir yang sama."
"Apa benar dia duda tanpa anak?"
"Pengakuannya begitu, Yah."
"Sepertinya Ayah harus mencari tahu. Tapi, bingung mau tanya ke siapa?"
"Harun. Farisyasa itu, temannya Wirya."
"Dirut PBK?"
"Ya."
Damhuri manggut-manggut. "Nanti Ayah telepon Harun."
"Kirim pesan dulu, Yah. Mungkin dia lagi sibuk. Kata Lila, Harun diminta pegang wilayah Asia sama bosnya."
"Alhamdulillah. Berarti kariernya bagus. Ayah ikut senang."
Puluhan menit terlewati, konvoi banyak mobil keluar dari area parkir gedung kantor PC. Andi mengikuti mobil terdepan yang dikemudikan Yatman, ajudan baru Linggha.
Farisyasa yang berada di kursi sebelah kiri sopir, berulang kali meringis akibat dicandai Farzan Bramanty, yang menempati kursi tengah bersama Tanti, istrinya, dan Lilakanti.
Azrina duduk di kursi belakang bersama Luthfi Ghazi Bramanty, anak Farzan, dan pengasuhnya. Kedua bocah itu terlihat serius menonton film kartun di tablet milik Farzan.
"Aku yakin, teman-teman kita saat ini lagi membicarakan kalian," tutur Farzan.
"Mereka terlalu excited, karena baru kali ini Kang Faris ngajak pacar ikut acara PC," sela Tanti. Dia memegangi tangan Lilakanti dan memandangi perempuan seumurannya itu dengan saksama. "Kuatkan hatimu. Mereka pasti heboh nanya-nanya," paparnya.
Lilakanti mengulum senyuman. "Aku sudah biasa jadi pusat perhatian. Kayak waktu pesta ulang tahun pernikahan orang tua Mas Faris," ungkapnya.
"Kamu manggilnya Mas?" tanya Farzan.
"Ya," jawab Lilakanti.
"Asa aneh, karena yang lain manggil Bapak berjanggut ini, Akang."
"Ehm, aku akan ubah panggilan kalau dia yang minta."
"Enggak perlu diminta, langsung aja panggil gitu. Kesannya jadi lebih akrab."
"Jangan manas-manasin, Zan," timpal Farisyasa.
"Aku ngomong apa adanya. Atau Akang mau langsung dipanggil Papa?" seloroh Farzan yang menyebabkan Andi tertawa. "Ya, kan, Di? Sudah cocok bosmu jadi Papa," kelakarnya seraya tersenyum.
"Di, jangan ikut-ikutan rese kayak Farzan!" desis Farisyasa.
"Enggak, Pak. Aku tetap kalem," sahut Andi setelah tawanya lenyap.
"Nah, kan! Baru aja diomongin. Akang jadi trending topic di grup PC utama," beber Farzan seusai mengecek pesan di grup yang beranggotakan 100 orang tersebut.
"Aku nggak mau lihat," balas Farisyasa.
"Ya, cicing waelah. Kalau diladeni, mereka tambah heboh," cakap Farzan.
"Aku baru ingat. Lila, apa sudah bisa diundang ke GIPCI, Kang?" tanya Tanti.
"Jangan dulu. Kami baru mulai hubungan. Belum tentu bakal terus lanjut," tolak Farisyasa.
"GIPCI itu apa?" desak Lilakanti.
"Grup Istri Pengusaha PC Indonesia," terang Tanti.
"Oh, kayak GIC?"
"Ya. Yang itu khusus istri anggota PG. Kayak Edelweiss dan Varsa, mereka gabung di sana."
"Teh Mutiara, gabung di mana?"
"GIPCI. Karena Mas Arkhan anggota PC."
"Banyakkah anggota grupnya?"
"Cuma 40-an. Karena anggota PC banyak yang masih bujangan, ataupun duda."
***
Lilakanti mengamati sekumpulan perempuan yang kompak mengenakan pakaian serba putih, dengan logo PG dan PC di dekat d**a. Saat itulah baru dia sadar alasan Farisyasa memintanya menggunakan baju putih.
Lilakanti menyukai orang-orang yang beberapa di antaranya sudah dikenal, karena mereka adalah teman-teman Mutiara dan Edelweiss.
Perempuan bermata besar tersebut merasa senang, karena teman-teman barunya bersikap ramah. Terutama istri para petinggi PBK, yakni Mayuree, Malanaya, Delany, Sabrina dan yang lainnya.
Selain mereka, beberapa orang baru pun menyambut Lilakanti dengan hangat. Hingga Mama Azrina tersebut merasa diterima dan sangat nyaman bisa bergabung dengan kumpulan itu.
"Azrina, TK A atau B, La?" tanya Delany sembari memandangi gadis kecil berkuncir dua, yang sedang bermain dengan Fazluna dan yang lainnya.
"TK A," jawab Lilakanti.
"Berarti seumuran sama Luna."
"Oh, Luna baru 4 tahun juga, ya?"
"Belum, sih. Baru 3 tahun lebih, tapi dia maksa buat sekolah karena pengen bareng Abang Zid."
"Kalau Zid, kelas B?"
"Belum, masih kelas A juga. Belum 5 tahun umurnya."
"Beda setahunan berarti sama Azrina."
"Ya. Zid seumuran Dalair. Kalau Erlangga, di atasnya setahun. Bareng Yunara. Arjuna, di atas mereka. Elok, lebih tua lagi. Dia seangkatan Tania."
"Aku masih harus menghafal anak-anak anggota tim PC dan PG. Selama ini cuma tahu yang seputar Ganendra dan Adhitama."
"Ya, memang harus hafal. Karena anak-anak nantinya akan diarahkan sebagai penerus kita." Delany mendekatkan dirinya pada Lilakanti. "Anak kandung dan sambung, semuanya diperlakukan sama," lanjutnya yang mengagetkan Lilakanti.
"Begitukah?"
"Hu um." Delany menunjuk beberapa anak yang lebih besar. "Dua anak Teh Renata, sudah dapat perusahaan masing-masing. Begitu juga dengan kedua anak Mas Elang, Mas Andra, dan Teh Sitha, maksudku anak bawaan dari pernikahan sebelumnya," bebernya.
Lilakanti manggut-manggut. "Aku tahu tentang anak-anak Pak Baskara dan Pak Emris. Yang lain, aku baru lihat."
"Di PB juga ada yang nikah sama janda anak satu."
"Siapa?"
"Mas Bambang."
"Oh, yang itu. Aku lihat fotonya di hape Harun."
"Kamu nyebut Harun, aku baru sadar, nggak lihat Sherli dari tadi."
"Cici mulai pelupa. Ini rapat PG dan PC. Bukan PBK," ledek Sabrina, istri Zulfi, yang berada di kursi samping Kakak sepupunya.
Delany menepuk dahi. "Aku pikir ini rapat GIP," keluhnya.
"Minggu depan rapat itu," tambah Leni, istri Yoga, yang berada di kursi seberang.
"Hmm, ya. Ingatkan aku, takutnya malah keterusan pilates," pinta Delany.
"Ehh, jadwal pilates jam berapa?"
"Jam 9. Aku ngambil 2 set. Habis makan siang, langsung ke kantor PBK."
"Ci, rapatnya di rumah Pak Sultan. Sekalian selamatan ulang tahun beliau," celetuk Salwa, istri Andri.
"Sepertinya pikun Bang Yan nular ke Cici," kelakar Irshava, istri Hendri, sekaligus Adik bungsu Wirya.
Delany tertegun.."Astagfirullah. Makin kacau otakku," rengeknya sembari menggeleng pelan.
"Itu tanda-tanda butuh liburan."
"Gimana mau holiday? Abangmu sibuk terus."
"Omongin ke Bang Varo. Bilang, Bang W di-skors lagi aja, biar kalian bisa honeymoon."
"Enggak mau. Sepanjang liburan dua minggu itu dia ngomel terus. Capek aku dengar dia ngoceh kayak nenek-nenek."
"Tampol! Nanti kubantuin."