Bab 09

1039 Kata
09 Pesta pernikahan Daffin, Adik bungsu Andra Kastara, anggota tim 3 PG, malam itu berlangsung meriah. Ballroom hotel bintang lima di kawasan Jakarta Selatan, terlihat ramai orang dengan berbagai tampilan. Andra dan Elena, istrinya, tampak sibuk berkeliling untuk menyapa semua tamu mereka. Terutama yang berasal dari PG, PC dan PBK. Selain para pengusaha muda, beberapa pebisnis senior juga turut hadir. Sultan Pramudya, Gustavo Baltissen, Frederick Adhitama, Frans Adhitama, Finley Adhitama, Katon Hayaka, Rafael Janitra, Peter Aryeswara, Ahmad Yafiq Latief, Bachtiar Ganendra, Nazran Pangestu, Hilman Gilbran dan Bayu Setiawan, terlihat senang bisa berkumpul di tempat VIP 1. Lilakanti mengamati kumpulan pengusaha senior tersebut dengan penuh kekaguman. Dia tidak menyangka bisa bertemu mereka yang selama itu hanya dilihatnya di layar kaca, ataupun media sosial lainnya. Lilakanti deg-degan ketika diajak Mayuree untuk berkenalan dengan Ayah dan ibunya. Lilakanti menyalami Sultan dan Winarti dengan takzim. Kemudian dia bersalaman dengan Gustavo dan Ira, yang merupakan orang tua Alvaro. "Ini anakmu?" tanya Winarti sambil memegangi lengan kanan Azrina. "Ya, Bu," jawab Lilakanti. "Namanya siapa, Cantik?" Winarti mengamati gadis kecil bergaun biru muda yang senada dengan gaun sang mama. "Azrina," terang perempuan berbando putih seraya tersenyum. "Nenek punya cokelat, mau?" "Ya." "Cium dulu pipi Nenek." Winarti merunduk agar Azrina bisa menciumi kedua pipinya. Kemudian perempuan tua berjilbab biru ity membuka baugette bag putihnya, dan mengeluarkan sebatang cokelat. "Ini buat cucu cantik," ungkap Winarti seraya tersenyum. "Hatur nuhun," ucap Azrina. "Sama-sama." Winarti mengusap kepala Azrina sesaat. "Anakmu sopan banget," ungkapnya sembari memandangi Lilakanti. "Ya, Bu. Saya memang mengajarkannya untuk sopan," terang Lilakanti. "Lanjutkan. Itu bekal utama buatnya di masa depan." Lilakanti mengangguk mengiakan. Dia menjengit ketika lengan kirinya dipegangi Ira. Lilakanti merunduk agar bisa mendengarkan penuturan perempuan tersebut lebih jelas. "Suamimu, yang mana?" tanya Ira yang menyebabkan Lilakanti tertegun. "Ehm, kami belum menikah, Bu," ungkap Lilakanti sembari menegakkan badan. "Oh, belum?" Ira membulatkan matanya. "Ya. Hubungan kami ... ehm ... baru dimulai." Ira manggut-manggut. "Tong lami-lami pacaran. Bisi direbut perempuan lain." Lilakanti spontan tersenyum. "Ibu tiasa ngomong Sunda?" "Emak pan separuh Sunda." "Pantesan." "Ehh, yang mana calonmu?" Lilakanti memindai sekitar, lalu dia menunjuk seorang pria bersetelan jas abu-abu metalik, yang berada di meja depan tempat VIP dua. "Yang itu, antara Bang Wirya dan Bang Zulfi," papar Lilakanti. "Cina, ya?" tanya Ira. "Separuh, ayahnya turunan Chinese." "Kasep oge. Aya janggutan, sama jeung Babah." Ira melirik suaminya yang tengah menghabiskan isi piringnya. "Tapi calonmu langsing. Babah, gembrot," selorohnya yang menciptakan senyuman orang-orang di sekitar. Puluhan menit terlewati, pesta telah usai. Lilakanti mengikuti langkah Farisyasa yang tengah menggendong Azrina. Perempuan kecil itu sudah mengantuk, hingga sulit berjalan lurus, dan terpaksa harus digendong. Mereka tiba di teras depan lobi. Wirya bergegas membukakan pintu mobil bagian tengah agar Farisyasa dan Lilakanti bisa masuk. Kemudian dia memutari kendaraan dan memasuki kursi samping kiri sopir. Andi melajukan kendaraan keluar area hotel. Dia nyaris terbahak ketika mendengar interogasi ala Wirya, yang dijawab Farisyasa dengan sedikit emosi. "W, jangan bikin aku ngamuk!" desis Farisyasa. "Aku cuma memastikan hubungan kalian," terang Wirya yang telah memutar badan agar bisa berhadapan dengan ketiga orang di kursi tengah. "Lilakanti adalah sepupu Harun, asistenku yang keempat. Jadi aku berhak nanya," kelakarnya seraya tersenyum. "Kami belum ada omongan apa-apa, Bang. Artinya masih tahap berteman," jelas Lilakanti. Dia harus menegaskan hal itu agar Wirya tidak salah paham. "Yakin?" desak Wirya. "Ya." "Feelingku mengatakan, maksimal tahun depan kalian akan menikah," papar Wirya sambil memasang tampang serius. "Cenayang mode on," ledek Farisyasa. "Serius, Kang. Tahu, kan? Intuisiku makin tajam," kilah Wirya. "Zein dan Hendri aja nggak ada ngomong apa-apa. Divia juga sama." "Ehh, jangan salah. Divia sudah menerawang, dan hasilnya sama dengan omonganku." "Kalian memang kompak. Ahli nujum." "Besok, Akang tanya ke dia." "Bukannya mereka nggak ikut kita ke Puncak?" "Ikut. Sudah kuancam tadi. Kalau nggak ikut, kupecat jadi saudara." Farisyasa, Lilakanti dan Andi serentak terbahak. Sementara Wirya mengulum senyuman. Percakapan itu terus berlanjut hingga mereka tiba di hotel tempat menginap para anggota PC. Semua penumpang turun dari mobil masing-masing. Mereka berduyun-duyun memasuki lobi, lalu menuju lift. Farisyasa bersikukuh hendak mengantarkan Azrina dan Lilakanti ke kamar mereka di lantai tiga, sebelum nantinya dia kembali ke lantai satu untuk bergabung dengan rekan-rekannya di coffee shop. Setibanya di family room, Farisyasa membaringkan Azrina di kasur kamar utama. Dia melepaskan bando gadis kecil tersebut dan meletakkannya ke meja samping kanan kasur. Lilakanti tercenung kala Farisyasa merapikan rambut putrinya, lalu menutupi tubuh Azrina dengan selimut. Ketika tatapan keduanya bertemu, Lilakanti spontan mengulaskan senyuman. "Kalau lapar, ada kue dan buah di kulkas," tukas Farisyasa. "Tapi kalau kurang kenyang, pesan makanan aja," lanjutnya. "Ya, Mas," sahut Lilakanti. "Aku mungkin akan bergadang. Biasa, kalau ngumpul itu suka lupa waktu." "Hu um." "Andi juga kayaknya mau hang out sama para pengawal. Kalau ada apa-apa, telepon aku." "Mas nggak perlu mengkhawatirkanku. Puas-puasin aja ngumpulnya. Aku juga mau tidur." "Ehm, oke. Aku pergi." Farisyasa bangkit, lalu jalan keluar kamar dengan diikuti Lilakanti. Pria tersebut tiba-tiba berhenti, hingga punggungnya ditabrak Lilakanti, yang terlambat menghindar. "Sorry. Aku nggak tahu kalau Mas mau berhenti," tutur Lilakanti sembari mundur sedikit. "Enggak apa-apa. Aku cuma mau bilang, besok pagi pakai baju putih lagi," terang Farisyasa. "Yang tadi? Kayaknya kotor, deh. Baju Rina juga kena kuah bakso." "Coba kamu telepon Delany. Mungkin ada baju cadangan." "Aku nggak mau ngerepotin dia." "Telepon aja. Dia biasanya nyiapin baju lebih kalau ada acara dadakan. Tim PBK sudah terlatih kayak gitu, dan jadi andalan kami." "Kagok, Mas." "Atau aku yang omongin ke Wirya." "Ehm, aku mau chat Sherli aja. Mungkin dia bisa minjemin baju buatku." "Sherli ada di Jakarta?" "Weekend dia pasti ke sini buat nyusul Harun." Farisyasa mengangguk paham. "Mereka masih LDR. Kasihan." "Sherli tadinya mau pindah kerja ke Adhitama pusat. Tapi, Harun bilang nggak usah. Karena di sini pun, dia jarang di rumah. Keluyuran terus. Sherli bakal sendirian nanti. Kalau di Bandung, Sherli tinggal di rumah orang tuanya. Harun jadi tenang." "Betul juga. Kalau ada apa-apa dengan Sherli, keluarganya stand by. Harun jadi nggak khawatir harus dinas terus." Lilakanti manggut-manggut. Keduanya saling menatap sesaat, sebelum perempuan tersebut mengalihkan pandangan ke kanan. "Aku turun dulu. Kamu tidur aja," tutur Farisyasa sembari melepaskan jas dan meletakkan benda itu ke kursi. Lilakanti menunduk kala lelaki tersebut membuka kencing teratas kemejanya, lalu melenggang menuju pintu. Lilakanti menggeleng pelan, karena jantungnya berdebar-debar akibat berdekatan dengan pria berjanggut tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN