10
Acara wisata yang diikuti puluhan orang, berlangsung meriah. Para pengawal muda PBK mengusulkan diadakannya acara kuis. Semua bos PG dan PC yang berada di bus 1, menyambut hal itu dengan antusias.
Jauhari dan Yusuf menjadi pemandu acara. Sedangkan Aditya dan Chairil menjadi juri. Keempatnya yang merupakan pengawal lapis tiga, berdiskusi untuk menentukan pertanyaan, sementara puluhan orang lainnya berbaris saling berhadapan.
Tim PG yang dipimpin Baskara, berpose dengan melipat kedua tangan di depan d**a, sambil mengangkat dagu tinggi-tinggi. Sedangkan tim PC yang dipimpin Zafran, bergaya bak binaraga, yang justru menimbulkan gelakak penonton.
"Kayak biasa, ketua regu adu suit, buat menentukan tim mana yang menjawab pertanyaan pertama," cakap Jauhari.
"Silakan, Daddy Baskara dan Bro Zafran untuk maju," pinta Yusuf.
Adu suit berlangsung alot, karena kedua ketua itu sama-sama bersikeras untuk memenangkan pertandingan. Ketika Zafran berhasil mengungguli Baskara, tim PC bersorak.
"Oke, silakan kembali ke barisan masing-masing. Aditya akan membacakan pertanyaan pertama," tukas Jauhari.
"Pertanyaannya gampang, tapi jawabannya cukup sulit," ungkap Aditya. "Sebutkan nama binatang yang ada huruf U, selain berbagai jenis burung," lanjutnya.
"Waktunya 1 detik. Dimulai dari Zafran. Go!" pekik Yusuf.
"Penyu," jawab Zafran, direktur PC.
"Pesut," sambung Hendri.
"Paus," terang Farzan.
"Lumba-lumba," tutur Zein.
"Hiu," balas Mark.
"Ular. Sssshhhh!" desis Wirya sambil meliuk-liukkan tangannya menirukan gerakan binatang melata tersebut.
"Kura-kura," cetus Kasyafani sembari bergaya ala binatang bertempurung, yang menjadikan penonton tertawa.
"Ayam pelung. Uuuukkk uuukkk uuukkk!" pekik Haryono, yang kian mengencangkan gelakak hadirin.
"Ubur-ubur." Zulfi menunjuk Yanuar yang berada di seberangnya.
"Udang." Arudra menjulurkan lidahnya meledek Hadrian yang balas memelototinya dari seberang.
"Ulat kaki seribu. Kayak dia," ledek Emris sembari mengarahkan dagu pada Endaru di hadapannya.
"Urial, alias domba pegunungan. Mirip kamu, Sam," kelakar Farisyasa, yang menyebabkan Samudra Adhitama membeliakkan matanya.
"Ungko, atau wau-wau. Saudaranya Fairel," seloroh Arya yang menyebabkan lawannya melengos.
"Uakari, atau monyet hutan sss. Gebetannya Arman," cibir Harry Abhimana, yang langsung ditinju pura-pura oleh rekannya tersebut.
"Unta," pungkas Yoga, kemudian dia beradu toss dengan rekan-rekan satu tim-nya.
"Dibabat habis tim PC, Pemirsa. Kasih tepuk tangan dulu!" seru Jauhari yang disambut tepuk tangan penonton.
Sementara itu di tempat berbeda, Baron tengah menggerutu. Dia baru saja mendatangi kediaman Lilakanti. Namun, perempuan itu dan putri mereka tidak berada di sana.
Baron bertambah kesal, karena Salma menutupi keberadaan putri keduanya tersebut. Sementara Damhuri tengah mengunjungi rekannya di rumah sakit, hingga tidak tahu tentang kedatangan sang mantan menantu.
Baron mengemudi sambil berpikir hendak ke mana. Sebelum akhirnya dia memutuskan untuk mengunjungi salah satu temen Lilakanti, yang rumahnya tidak jauh dari kediaman Damhuri.
Sesampainya di sana, Baron baru keluar dari mobil, ketika pintu rumah bercat gading itu terbuka dan sosok perempuan lain yang merupakan sahabat Lilakanti, muncul bersama pemilik rumah.
Anita dan Giska saling beradu pandang. Mereka heran menyaksikan pria berkemeja marun pas badan, yang tiba-tiba datang.
Kala Baron menyambangi, Anita berusaha menahan emosi agar tidak kelepasan menampar pria berparas manis, yang telah menghancurkan kehidupan Lilakanti dan Azrina.
"Giska, apa kabar?" sapa Baron sembari mengulurkan tangan kanannya.
"Lumayan baik," sahut Giska sambil menjabat tangan lelaki itu dengan separuh hati.
"Aku ada perlu denganmu." Baron sengaja mengabaikan Anita yang tengah mengamatinya saksama.
"Bicara di sini aja, Mas. Karena aku dan Anita mau pergi."
"Oke. Aku cuma mau nanya. Apa kamu tahu, Lilakanti pergi ke mana?"
"Dia nggak ada di rumahnya?"
"Enggak ada. Makanya aku ke sini, karena ibunya nggak mau ngasih info."
Giska tersenyum miring. "Jelaslah Ibu nggak ngasih tahu, beliau pasti ingin melindungi anak dan cucunya."
Baron mengerutkan dahi. "Melindungi? Aku nggak paham kamu ngomong apa."
"Mas sudah nyakitin perasaan Lila. Dari kalian masih menikah hingga sudah bercerai pun, Mas tidak berlaku sebagai suami dan Ayah yang baik."
Baron mendengkus. "Kamu hanya mendengar cerita dari satu pihak aja. Harusnya kamu juga dengar penjelasanku."
"Aku nggak punya waktu buat orang pembual! Apa pun alasan Mas, tetap saja, berselingkuh itu salah besar!" geram Giska.
"Selain itu, keluarga Mas juga nggak pernah menghargai Lila. Bahkan mereka nggak peduli pada Azrina. Aku lihat dengan mata sendiri, bukan dari cerita Lila!"
"Selama ini, aku menahan diri untuk tidak ikut campur dalam urusan kalian. Tapi, karena Mas berkilah kayak gitu, maka aku nggak mau nahan diri lagi buat mengeluarkan kekesalanku pada Mas!"
"Kalau Mas memang peduli, harusnya Mas tetap kasih nafkah. Apalagi ada Azrina. Dia anak Mas juga, bukan hanya anak Lila. Tapi, jangankan ngasih uang buat makan dan kebutuhan lainnya, ngajak jajan aja nggak!"
"Ayah macam apa kalau kelakuannya kayak gitu? Ke orang tua dan selingkuhan, Mas bisa ngasih uang. Tapi, ke anak sendiri, jangankan ngasih, nelepon nanya kabar pun enggak!" desis Giska sambil mengepalkan tangan kanannya.
"Beib, sudah. Percuma ngoceh sama kepala batu. Kamunya jadi capek, dianya cuek aja," sela Anita. "Lebih baik kita pergi berbelanja buat acara pertemuan keluarga Lilakanti dan calon suaminya," ajaknya sambil menggamit lengan kiri Giska.
"Kamu jangan mengada-ada, Ta. Pria itu dan Lila cuma temanan," cibir Baron.
"Sudah kubilang, sia-sia aja ngomong sama orang merekeudeweung. Tambah kesal yang ada," kilah Anita sembari menarik lengan sahabatnya.
"Aku tahu semuanya. Mereka cuma pasangan palsu," ungkap Baron.
Anita tidak menyahut. Dia justru mengacungkan jari tengah kirinya ke atas. Sedangkan Giska mengangkat jari tengah kanan. Kemudian mereka cekikikan sembari terus melenggang menuju mobil sedan milik Anita.
Baron menggertakkan gigi sembari mengepalkan kedua tangannya membentuk tinjuan. Baron kembali bertanya-tanya dalam hati, tentang ucapan Anita tadi.
Pria berambut tebal memandangi hingga mobil sedan putih itu bergerak menjauh. Baron menimbang-nimbang sesaat dalam hati, sebelum akhirnya memutuskan untuk mendatangi suatu tempat buat memastikan ucapan Anita.
Baron bergegas memasuki mobilnya. Tidak berselang lama, mobil sedan merah itu telah melaju menuju tempat orang yang hendak ditemuinya.
Akan tetapi, baru beberapa ratus meter dari rumah Giska, ponsel Baron berdering dan dia segera mengangkatnya.
Pria berbibir penuh itu seketika terkesiap, seusai mendengarkan penuturan adiknya. Baron memutus sambungan telepon, kemudian dia mengubah arah kendaraan menuju tol.
Baron memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Bogor. Dia harus segera tiba di sana, agar bisa bertemu dengan sang ayah yang terkena serangan jantung, dan tengah dirawat di rumah sakit.
Sebab hendak menuntaskan panggilan alam, Baron berhenti di salah satu rest area. Dia keluar dari mobil dan jalan ke toilet sambil mencoba menelepon kekasihnya.
Langkah Baron seketika berhenti, ketika seorang pria menjawab panggilannya. Baron hendak bertanya siapa pria itu, tetapi tiba-tiba sambungan itu terputus.
Baron kembali menelepon Calista, tetapi tidak tersambung. Pria bermata cukup besar itu mengeraskan rahangnya, karena menduga jika Calista tengah bersama pria lain. Entah di mana.