Part 13

1956 Kata
“Mau ke rumah sakit gak?" tanya Rama setelah melihat Magi keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk melilit tubuhnya. Banyak sekali memar di tubuh perempuan itu yang bisa dilihat Rama sekarang dan itu hanya membuat amarahnya yang belum padam makin bertambah, tapi Magi menggeleng. Ia tidak boleh pergi ke Rumah Sakit apapun yang terjadi, semuanya akan makin runyam kalau ia pergi. “Gue bisa obatin sendiri,” tolak Magi sambil membuka lemari bajunya, “keluar dulu dong, gue mau pakai baju nih.” “Kayak ada yang bisa dilihat,” gumam Rama yang sayangnya terdengar ke telinga Magi. Magi berbalik marah. "Hah?! Gue semok gini lo bilang gak ada yang bisa dilihat?! Mau gue lihatin hah?!" “Jangan gila deh.” Rama melotot tajam saat perempuan itu ingin membuka handuknya. “Cih, takut kan lo.” Rama memijit pangkal hidungnya sambil berdiri dari kasur Magi. “Gue beli obat dulu, jangan buka pintu buat siapa-siapa lagi.” "Lo nanti masuknya emang mau lewat mana? Jendela? Kayak bisa merayap aja lo." "Gue tahu Pass-nya." "Hah?! Kok bisa? Woi Rama! Kok bisa tahu?!" Rama mengabaikan Magi dan terus berjalan keluar dari apartemen, mungkin perempuan itu lupa bahwa ia akan menjawab pertanyaan apapun yang diajukan orang lain saat baru bangun tidur. Tidak ada kotak P3K di apartemen Magi dan Rama heran bagaimana ia bisa tetap hidup sampai saat ini tanpa kotak itu. Kalau dipikir-pikir baru kali ini Rama menghabiskan banyak uang untuk seorang perempuan yang bahkan bukan pacarnya sendiri, tapi rasanya sebanding. Rama mengusap bibirnya sambil tersenyum kecil. “Kak Ram-a." Rama menoleh mendengar suara yang terdengar ragu-ragu itu, perempuan yang ditemuinya di lift tadi sedang berdiri di samping sebuah mobil di basemen, di tangannya ada sebuah kotak berwarna putih. “Bo-boleh aku nitip ini buat Magi?" tanyanya dengan suara ragu dan takut, ia mengulurkan kotak yang dipegangnya itu pada Rama dengan tangan bergetar. Sayangnya Rama hanya menatap kotak itu dengan dingin, apa perempuan ini kasian pada Magi setelah membuat Magi banyak terluka? Rasanya Rama ingin meninju wajahnya yang terlihat sangat polos itu, tapi alih-alih melakukannya, Rama hanya mengepal tangannya kuat. "Kenapa lo gak kasih ke dia sendiri?" Perempuan itu tersentak kaget dan menarik kembali kotak tadi, matanya menyorot takut sekaligus kaget pada Rama, ia kemudian menunduk. Ia bergumam pelan, "Magi gak mungkin mau terima." "Kenapa lo masih repot-repot kalau begitu?" Ia kembali tersentak. "A-aku cuma-" "Lo bahkan gak berani minta maaf padahal gue yakin lo penyebab kenapa Magi begitu." "Aku udah minta maaf!" ia memegang erat kotak P3K di tangannya, lalu suaranya memelan, "Magi gak pernah mau dengerin aku." Rama berdecak sinis, ia seharusnya tidak tinggal di sini mendengarkan perempuan ini, Magi butuh diobati secepat mungkin. "Minggir," usir Rama berjalan melewati perempuan itu. "Rama..." "Coba lo ingat, apa lo pernah benar-benar tulus minta maaf." Ucapan Rama ditujukan untuk apa yang terjadi hari ini, tapi entah mengapa perempuan itu merasa Rama sedang menyindirnya untuk semua kesalahan yang pernah dilakukannya pada Magi. Dadanya terasa sesak karena tahu ia tak pernah benar-benar serius ingin meminta maaf pada saudaranya itu. Rama kembali tidak sampai sejam kemudian dengan satu kresek berisi peralatan merawat luka dan sekantong besar snack. Setelah beberapa hari menginap di tempat Magi, Rama jadi tahu perempuan itu suka sekali makan cemilan, karena itu Rama membelikannya dengan berharap Magi akan sedikit merasa lebih baik. "Oh, lo beneran tahu Pass apartemen gue ya." Magi menyambutnya dengan kalimat itu saat Rama membuka pintu, perempuan itu selesai berpakaian dan duduk di sofa menonton kartun sore. Rama ikut duduk di sampingnya dan meletakkan kresek besar ke atas meja. "Itu apa?" tanya Magi meraih kresek itu dan melihat isinya, "buat apa nih? Kok banyak banget belinya?" "Buat di makan." Magi mencibir mendengar jawaban Rama, ia mengambil satu bungkus Taro ukuran besar dan membukanya tanpa meminta izin, ia yakin Rama tidak akan marah. "Gue obatin dulu." Rama memegang betis Magi yang tidak tertutup apapun dan mengangkatnya ke atas pahanya, perempuan itu hanya memakai gaun rumahan di bawah lutut dan celana pendek sepaha. Magi tidak protes saat Rama melakukan itu dan hanya memperhatikan kartun yang sedang diputarnya. Kalau diperhatikan, ada banyak bekas luka di tubuh Magi dan Rama tahu penyebabnya pasti orang yang sama, tanpa sadar ia menekan kuat tangannya yang mengoleskan salep ke betis Magi. "Ah anjing! Sakit!" teriak Magi yang akhirnya menyadarkan Rama, ia buru-buru menjauhkan tangannya dan menoleh pada Magi. "Maaf," gumamnya tidak sungguh-sungguh. "Lagi ngelamun apa sih lo? Yang benar dong, gimana kalau luka gue malah makin parah dan harus diamputasi, lo mau ganti kaki gue?" "Iya bawel." "Siapa yang bawel?!" "Diam dulu, Magi." Magi berdecih kesal, tapi kembali diam dan melanjutkan menonton kartun. Kalau perempuan itu diam, ia tampak jauh lebih cantik, walaupun Rama tidak akan keberatan jika Magi banyak bicara. Rama lanjut mengobati luka Magi yang lain, lalu ia sampai ke memar yang paling besar di tubuh perempuan itu, di bagian perutnya. "Mau gue obatin atau lo aja?" tanya Rama masih menghormati Magi sebagai perempuan meski sudah melihatnya setengah telanjang. "Lo aja." Rama menghela napas, tidak tahu kenapa Magi rasanya tidak memberi batasan apapun pada Rama, ia mengangkat ujung gaun rumahan Magi dan menggulungnya sampai ke bawah dadanya. Di pinggangnya ada memar yang melebar sampai ke perutnya, Rama meringis melihatnya, memar itu pasti sakit, tapi Magi tidak sekalipun mengeluh. "Kalau sakit bilang," gumam Rama sambil mengoleskan salep ke sana. Kulit Magi selembut sutra, Rama menelan ludah saat menyentuhnya. Bagaimanapun Rama juga laki-laki yang akan tergoda melakukan sesuatu melihat kulit di bagian intim perempuan. "Lo gak ketemu siapa-siapa tadi?" tanya Magi tiba-tiba. "Enggak," jawab Rama tanpa berpikir dua kali, "kenapa?" "Nanya doang, mang napa sih ga boleh? Sombong amat." "Lo baru mau diam kalau dicium ya?" "IDIHHHH NAJIS!" Rama tertawa, baru akan menurunkan kembali gaun rumahan Magi saat perempuan itu menunjuk tulang rusuknya yang tepat berada di samping dadanya yang terbalut Bra. "Di sini juga ada memarnya, tadi gue lihat waktu mandi." Rama tidak jadi menurunkan gaun rumahan itu dan menatap Magi dengan sorot mata bingung sekaligus lelah. "Lo sadar lagi ngomong apa?" tanya Rama dengan sisa kesabaran yang ia punya. "Iyalah, lo pikir gue pingsan sambil bicara? Aneh lo." Rama menoyor kepala Magi dengan kesal dan membuat perempuan itu menjerit protes. "Obatin sendiri." Rama melemparkan salep di tangannya ke wajah Magi dan berdiri dari sofa. "Ah! Kenapa sih? Ngambekan amat!" teriaknya pada Rama yang meninggalkannya masuk ke dapur. Magi mendengus kesal dengan bibir mengerucut, ia kan tidak bisa melihat sendiri memar di tulang rusuknya itu, masa ia harus masuk ke kamar mandi lagi dan mengobatinya di sana. Magi lalu berdiri dari sofa dengan menggerutu dan masuk ke kamarnya untuk mengobati lukanya. Paginya Rama memaksa Magi tidak masuk sekolah, ia tidak mau perempuan itu masuk sekolah dengan kondisi wajah seperti itu, Magi yang awalnya menolak terpaksa ikut karena diancam Rama. “Emang mau ke mana sih? Mendingan juga tidur," protes Magi sambil menguap tanpa sopan santun meski yang ada di sampingnya adalah laki-laki yang menjadi incaran banyak perempuan. "Nyari seblak," jawab Rama asal. "Hah? Lo mau makan seblak sepagi ini?" Magi melirik jam digital milik mobil Rama yang masih menunjukkan pukul 07.15 pagi. "Iya." "Gak takut sakit perut lo makan pedes pagi-pagi?" "Gak usah bawel." Perempuan itu mencibir, lalu memalingkan wajahnya, ia tidak lagi membuka mulutnya dan hanya menatap ke jalanan yang padat, juga pada warung-warung kecil di trotoar. Sampai matanya menangkap sesuatu yang terlihat menggugah selerenya. "Ram Ram, sate anjir!" teriaknya sambil memukul-mukul bahu Rama yang fokus menyetir. "Gue lagi nyetir, Magi," tegur Rama sambil melirik ke tempat di mana mata Magi melihat. "Sate dulu!" "Iya iya." "Cepetan dong!" "Nyari parkiran dulu, cebol." Magi mendengus kesal, matanya terus mengikuti ke mana si penjual sate dengan gerobak itu berada. Rama meminggirkan mobilnya ke tempat yang tidak terlalu padat kendaraan dan membiarkan Magi melompat turun duluan. Rama menghela napas dan meraih jaketnya dari kursi belakang, lalu menyusul Magi. "Sabaraha Mang?" Suara Magi terdengar ke telinga Rama bahkan dari jarak lima meter padahal jalanan sedang berisik. “Tujuh belas ribu, Neng." "Dua porsi, Mang." "Dibungkus apa makan di die?" "Dibungkus weh Mang." "Sambel na dipisah apa kumaha?" "Hijiken weh Mang." “Oke kedap, Neng." Rama meletakkan jaketnya di atas kepala Magi saat itu dan perempuan itu mendongak dengan heran. "Panas," kata Rama tanpa ditanya. Magi melihat ke jalanan. "Oh iya gerah," katanya sambil mulai mengipasi dirinya sendiri dengan tangan. "Kabogoh maneh, Neng?" Magi menatap Amang sate itu lalu menatap Rama dengan jijik. “Sanes Mang, Kang kuli ie mah." "Ah bisaan si Neng, maenya kasep-kasep kos kie Kang kuli." Magi tertawa, ya emang kasep sih si Rama ini. Ia melirik Rama yang hanya diam memandangi mereka berdua dengan ekspresi datar, Magi tidak tahu kalau Rama ternyata tidak bisa berbahasa Sunda, padahal kalau tidak salah ia besar bersama Aska yang bisa berbahasa Sunda. "Yeuh Neng. Ku Amang dibere bonus meh bisa makan duaan jeung si Aa na." “Mun Neng ngomong ie kobogoh Neng, Amang rek masih bonus dua kali lipat maol?" “Buset, rugi atuh Amang, Neng." Magi tertawa lagi, ia berbalik pada Rama dan mengulurkan tangan. "Minta duit," katanya seolah Rama adalah ibunya. "Gue bukan Bapak lo," gerutu Rama, tapi tetap mengeluarkan dompetnya. "Gue kan gak punya duit, bayarin dong." "Berapa Mang?" tanya Rama sambil memeriksa isi dompetnya. “Tiga puluh empat ribu, A." Rama menaruh lembaran berwarna merah muda ke gerobak sate itu dengan senyum di wajahnya. "Kembaliannya buat Amang aja, makasih sudah mau ladenin kebawelan anak ini ya Mang." “Ah gak apa-apa, A. Ceweknya nya A?" Rama hanya tersenyum menanggapi pertanyaan itu, ia berbalik pergi tanpa menjawab pertanyaan itu. Magi sudah lebih dulu sampai di samping mobil dan sedang mengaduk-ngaduk satenya yang terbungkus daun pisang dan kresek. "Jangan makan berdiri," tegur Rama sambil membukakan pintu. "Lo sih kelamaan, pacaran dulu ya lo sama Amangnya? Kayak gak ada cewek yang mau aja." “Lo kan yang gak mau," ucap Rama sambil berlalu menuju pintu kemudi. "Hah? Lo ngomong apa?" Mata Magi mengikuti gerakan Rama sampai laki-laki itu duduk di kursinya, "lo ngomong apa barusan?" "Pasang seatbelt lo, di sini area dilarang parkir." "Tadi ngomong apa anjir?" "Pasang gue bilang." Magi mencibir kesal, tapi segera menuruti perintah Rama agar laki-laki itu tidak lagi cerewet. Rama merasa belum saatnya Magi tahu tentang perasaannya walaupun sudah dua kali ia mencium perempuan itu, karena itu saat ini Rama hanya akan berusaha membuat Magi jatuh cinta padanya. "Mau gak?" tanya Magi sambil membaluri satenya dengan bumbu kacang yang sudah tercampur dengan sambalnya itu, ia lalu menyodorkan satu tusuk sate ke mulut Rama tanpa menunggu jawaban Rama, "aaa." Rama meliriknya lelah saat Magi membuka mulutnya dan memperlakukan Rama seperti anak kecil, tapi ia tetap membuka mulutnya dengan patuh, dan begitulah seterusnya terjadi, Magi menyuapi Rama dan Rama fokus menyetir. "Lo kenal Aska sejak kapan?" tanya Rama tiba-tiba. "Aska?" Magi terlihat berpikir sambil mengikat kresek berisi sate yang sudah habis, "kalau gak salah sejak gue kelas 6 SD." Enam tahun ternyata, itu waktu yang sangat lama dan Rama bahkan tidak tahu apa dia akan bisa memotong hubungan itu sekarang, Rama merasa tidak percaya diri untuk melakukannya. "Dia itu mata-mata," kata Magi tiba-tiba dengan kening berkerut tidak suka. "Hm?" "Mata-mata Oma." Rama ingat Magi pernah bilang ia tidak suka apapun yang dilakukannya selalu dilaporkan Aska pada Omanya, saat itu Rama tidak terlalu mengerti dan tidak cukup memperdulikan maksud perkataan Magi. "Dia bawahan Oma lo?" Sayangnya Magi tidak menjawabnya, ia malah menunjuk sebuah Supermarket dan meminta Rama membelikannya air, laki-laki itu tidak punya pilihan selain lagi-lagi menuruti perintah Magi. Mereka menghabiskan seharian itu dengan berkeliling kota dan membeli apapun yang dilihat Magi di jalan, tidak ada lagi percakapan yang menarik minat Rama setelah itu. Mereka sampai di apartemen Magi saat jam menunjukkan pukul 20.39, Rama mengangkat Magi ke kamarnya dan menyelimutinya, lalu ia pulang ke rumahnya karena Mamanya menelponnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN