Pagi ini Magi datang sendirian ke sekolah. Karena Rama tidak menjemputnya dan Magi malas menunggunya. Karena itu ia berangkat sendiri menggunakan sepedanya.
Hari ini ia menutupi setengah wajahnya dengan masker dan kacamata hitam. Ada memar di sudut mata dan mulutnya, juga di sepanjang pipi kirinya. Untuk itu pula ia menggerai rambutnya untuk menutupi memar itu, tapi penampilannya Itu jadi menarik perhatian.
"Gi."
Magi kenal betul suara itu meskipun sudah lama tidak saling menyapa. Itu Fabian Yudiarta, Waketos-nya saat dia menjabat dulu dan sekarang menggantikannya menjabat sebagai Ketua Osis.
Magi membalik badannya, dugaannya benar, Fabian Yudiarta berdiri di belakangnya dan menatapnya dengan kening berkerut. Laki-laki itu tampak sangat terganggu dengan penampilan Magi hari ini.
"Lo gak ada sopan-sopannya sama kakak kelas, panggil Kak Magi kek," kata Magi sambil berkacak pinggang memelototi Abian dengan kacamata hitamnya yang aneh.
"Santai dong, gue cuma mau nyapa lo."
"Gue gak mau santai, kenapa? Ada masalah?"
"Hobi lo nyari perkara ya?" Abian menatap masker Magi dengan kening berkerut, "lo kenapa ditutupin gitu mukanya, sakit? Bolos aja, ke UKS sana."
"Sopan gitu Ketua Osis nyuruh orang lain bolos?"
Abian tertawa mendengarnya, toh ia menjadi ketua Osis hanya untuk menggantikan Magi. Sejak awal memang bukan ia yang harusnya menyandang gelar itu, tapi perempuan pendek di depannya ini.
"Serius, kenapa pakai masker? Coba buka dulu, gue mau lihat."
"Gak usah kepo deh, Yan."
"Gue serius Magi, lo sakit?"
Magi memutar bola matanya malas, sebenarnya Abian memang orang yang perhatian pada semua orang, tapi perhatiannya pada Magi terlalu berlebihan sampai membuat muak. Magi tahu perhatiannya itu bukan karena ia memiliki perasaan lebih pada Magi, perhatiannya itu murni karena Abian memang peduli padanya.
"Gue gak apa-apa, cuma flu biasa," kata Magi sekenanya.
"Orang b**o mana yang kena Flu di musim kemarau?"
"Siapa yang b**o?!"
Giliran Abian yang memutar bola matanya. Ia tampak lucu saat melakukan itu dan membuat Magi tertawa, ia mengulurkan tangannya dan mulai bergelayut di lengan Abian. Mereka berjalan bersama di koridor dan tentu saja menarik perhatian karena dua siswa populer berjalan bersama.
"Lo abis dari mana sih? Tiba-tiba ngilang lama kayak mati anjir," tanya Magi melirik Abian yang memasang wajah berwibawa.
Abian tidak masuk sekolah dua bulan tanpa pernah menghubungi Magi, padahal laki-laki itu selalu rajin menghubungi Magi. Sepupunya itu bahkan tidak pernah lagi datang ke apartemennya padahal ia selalu rajin datang, meski hanya untuk merampas semua cemilan Magi.
"Jenguk Eyang ke Belanda."
"Emang Eyang kenapa, kok gue gak tahu kalau Eyang sakit?"
"Lo kan emang cucu durhaka, gak kayak gue."
"Kan bagi dua, b**o. Lo sama Eyang, gue sama Oma. Kan kesepakatannya gitu, lagian siapa suruh lo malah lanjut SMA nya di sini, bukan di Belanda aja."
"Gue tahu lo kesepian, makanya gue ke sini."
"Gue muntahin lo ya lama-lama. Buruan jawab Eyang kenapa?"
"Biasa kalau udah tua sakit-sakitan, cuman kemarin dijenguk malah nyuruh gue tinggal sebentar."
"Dua bulan kan gak sebentar, Goblok."
"Ya gue bisa apa kalau Eyang maksa, ini juga gue kabur supaya bisa pulang."
"Lah anjir? gila lo sumpah, gimana kalau Eyang mikir lo diculik terus jantungnya kambuh, gimana? Kalo modar gimana?"
"Mulut lo, Magi!"
Magi terkekeh, ia sedikit merindukan pertengkaran-pertengkaran kecil seperti ini dengan Abian. Berbeda dengan Aska yang kebanyakan mengalah padanya, Abian akan terus meladeninya meski mereka akan berakhir jambak-jambakan dan Oma harus turun tangan memisahkan mereka.
Tawa Magi kemudian berhenti begitu melihat sosok jangkung berjalan ke arahnya, dengan senyum berkilau yang manis. Magi mengakui ia memang manis, tapi ia sudah masuk daftar hitam Magi, mahluk yang harus disingkirkan Magi dari muka bumi.
"Pagi Kakak Ipar," sapa laki-laki itu dengan riang gembira.
"Bacot Sapi! Gue telan juga lo ya," ketus Magi.
"Kenyang dong, Kak."
Magi menggertakkan giginya kesal, memang cuma Andru si menyebalkan yang bisa membuat Magi kesal bukan main. Meski senyumnya semanis gula dan mampu melelehkan glester di kutub utara, Magi tetap akan memusuhinya.
"Rama mana?" tanya Magi pelan hampir berbisik dengan wajah mencurigakan.
"Hah? Ngapain lo cari Bang Rama? Lo udah jadian?"
Bungsu Adhiyaksa itu dengan sengaja mengatakannya keras-keras agar menyedot perhatian siswa yang lewat. Saat itu Magi tahu bahwa Andru memang halal dibunuh.
"Anjing emang lo Sapi!" teriak Magi begitu laki-laki itu lebih dulu berlari sebelum Magi bisa membalasnya.
Abian menahan lengannya saat menyadari Magi ingin berlari mengejar Andru. Abian menatapnya dengan tatapan yang seolah mengatakan Magi akan ikut terlihat bodoh kalau mengejar Andru, karena itu Magi diam di tempatnya berdiri.
"Jadi," Abian tersenyum manis yang entah kenapa terlihat menakutkan di mata Magi, "Rama siapa?" tanya Abian dengan sebelah alis naik mengancam.
Magi cengengesan tidak jelas dan pelan-pelan melepaskan tangannya dari gelayutan manjanya di lengan Abian.
"Hehehe..."
Laki-laki itu menatapnya tajam melihat tingkah mencurigakan Magi, tapi Magi tahu ini bukan saatnya mengatakan apapun yang terjadi antara dirinya dan Rama pada Abian. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa kemarin Rama menciumnya dan sampai saat ini Magi masih memerah saat mengingatnya.
Apalagi jika Magi menceritakan tentang Rama, ia otomatis harus menjelaskan kenapa Rama menciumnya dan alasan kenapa ia harus memakai masker dan kacamata aneh itu hari ini. Memberitahu Abian jelas-jelas bukan hal yang bagus untuk dilakukan.
"Gue ada ulangan Kimia, nanti aja ya gue kasih tahu, dadah Abian."
Magi buru-buru berbalik dan berlari menjauh, ia sama sekali tidak memberikan kesempatan Abian untuk menahannya.
"Ulangan kimia apa? Lo kan IPS g****k," gumam Abian kesal.
Ia lalu membalik tubuhnya dan pada saat itu matanya bersitatap dengan mata segelap malam yang menatapnya datar. Meski tatapan itu datar, justru malah terlihat lebih mengancam dari pada pelototan paling tajam yang pernah dilihat Abian.
Ia menggaruk tengkuknya dan mengingat-ingat siapa laki-laki itu, Abian tersentak sesaat kemudian saat tahu siapa laki-laki itu.
"Terama Adhiyaksa?" gumamnya pelan.
Baru pada saat itu laki-laki jangkung dengan seragam SMA Bhintara itu berjalan mendekat, tatapannya sama sekali tidak lepas dari mata Abian yang tiba-tiba gusar. Laki-laki di depannya itu terlalu mengintimidasi.
Rama meletakkan tangannya di bahu Abian dengan sebelah tangannya yang lain di dalam saku. Rama benar-benar hanya meletakkan tangannya di bahu Abian, tapi Abian tiba-tiba merasa seluruh tubuhnya menyalakan alarm tanda bahaya, ini sialan menakutkan.
"Fabian Yudiarta ya?" gumam Rama yang tidak membutuhkan jawabannya.
"Ya?"
"Apapun yang terjadi sama gue dan Aska di masa lalu, jangan berani-berani campurin urusan gue."
"Magi itu bukan Sania, Ram."
"Dia gak akan pernah jadi Sania."
Rama masih tidak menatap Abian, matanya menatap lurus ke koridor tempat Magi menghilang tadi, lalu ia membisikkan sesuatu di telinga Abian sebelum pergi meninggalkan laki-laki itu, sesuatu yang terdengar mengancam.
"Gue rasa lo gak punya alasan untuk ikut campur, kecuali lo mau tahu sampai mana kesabaran gue."
***