Part 15

1857 Kata
Jam terakhir adalah pelajaran Bahasa Indonesia dan materinya adalah Karya Tulis Ilmiah. Magi selalu merasa pelajaran itu membosankan, tapi ia tetap memperhatikan karena semua orang butuh dihargai, kecuali keberadaan Rama di sampingnya yang tidak berhenti mengganggunya sejak masuk kelas. "Kerja kelompoknya di rumah gue aja, Mama gue kemarin buat kue kering," bisik Rama. Magi meliriknya jengkel, laki-laki itu tidak berhenti merecoki sejak tadi sampai membuatnya ingin mengcekiknya sampai mati. "Ogah, kerjainnya di Caffe atau semacamnya ajalah, gue gak mau ke rumah lo." Magi balas berbisik dengan jengkel. "Kenapa? Lo takut jatuh cinta lihat rumah gue yang mewah." "Lo kira gue cewek matre? Jatuh cinta sama rumah mewah." "Magi, Rama, tolong jangan ribut dan dengarkan penjelasan saya," tegur Guru Bahasa Indonesia. "Iya pak, maaf." Magi buru-buru menegakkan punggungnya dan memperhatikan Gurunya. Guru itu segera melanjutkan penjelasannya dengan sesekali mengedarkan pandangan pada murid-muridnya. Magi melirik Rama dengan tatapan penuh ancaman agar laki-laki itu berhenti mengganggunya, Magi tidak mau ditegur untuk ketiga kalinya. Walau Magi berkata tidak akan mau pergi ke rumah Rama, pada akhirnya tetap saja ia kalah pada segala macam ancaman Rama. Ia harus mengikuti perintah Rama untuk kerja kelompok di rumah laki-laki itu. Ini pertama kalinya Magi diajak ke rumah seorang laki-laki yang bukan keluarganya dan ia merasa sedikit tidak nyaman, apalagi ia belum lama mengenal Rama. "Sore Tante," sapa Magi sopan sambil sedikit menunduk saat wanita paruh baya menyambutnya di pintu masuk rumah mewah Rama yang mirip istana itu. "Sore juga, Magi ya?" Magi terkejut dan hampir melotot karena wanita itu tahu namanya. Ia yakin ia tidak sepopuler itu sampai membuat ibu-ibu yang tidak dikenalnya saja tahu namanya. "Kok Tante tahu nama saya?" tanya Magi tidak repot-repot menutupi kekepoannya yang tingkat dewa. "Rama suka cerita tentang kamu, anak bungsu saya yang namanya Andru juga suka diam-diam melaporkan kegiatan Rama pada Tante termasuk kalau Rama punya pacar." Pacar? Hawa panas menjalar ke pipi Magi dan ia mengangguk sopan tanpa mengoreksi apapun yang dikatakan wanita itu, meskipun dalam hati ia mengutuk Rama dan Andru. Magi menebak-nebak apa yang dikatakan dua orang itu tentang dirinya, mungkin perempuan berisik, barbar dan suka mengumpat. "Masuk cebol, jangan berdiri di pintu." Rama muncul dari belakang sambil membawa tas Magi yang sengaja ditinggalkan perempuan itu di mobil agar Rama membawanya dan agar laki-laki itu marah, tapi Rama terlihat biasa saja dan tidak ada tanda-tanda akan marah pada Magi, perempuan itu mendengus kesal. "Masuk, Sayang. Tante baru saja membuat beberapa toples kue kering, kamu harus coba." Wanita yang adalah Mamanya Rama itu menggandeng Magi masuk ke rumah, setengah menyeret karena ia juga sialan tinggi dan Magi terlihat seperti anak usia 10 tahun di sampingnya. Magi jadi benci kenyataan ia dikelilingi orang-orang tinggi. Mamanya Rama yang tidak Magi ketahui namanya itu memaksa Magi duduk di sofa, ia mengeluarkan nyaris selusin toples dari lemari dengan kue kering yang berbeda-beda. Magi diam-diam ngiler melihatnya, tapi terlalu malu untuk memakannya apalagi ada Rama di sampingnya dan Andru yang bisa muncul kapan saja. Andru pasti akan mengejeknya. "Kamu tinggal sampai makan malam ya? Tante akan masak banyak malam ini,” kata Mamanya Rama. "Gak usah repot-repot Tante, saya cuma sebentar aja di sini, sampai tugasnya selesai aja." Magi nyengir sambil melirik toples-toples itu, kapan ia bisa makan kue-kue kecil imut yang pasti enak itu? rengeknya dalam hati. "Tidak apa-apa, Rama tidak pernah membawa perempuan selain Sania ke rumah, Tante senang dia mau membawa pacarnya ke rumah lagi." "Ma." Rama mulai memprotes dan menatap jengkal Mamanya, sekarang ia terlihat seperti anak kecil manja yang merengek pada Mamanya, Magi kaget melihatnya. Mamanya tertawa mendengar protesan Rama itu, tawanya lembut tidak terbahak-bahak seperti Magi dan dia cantik sekali. "Baiklah, Mama akan meninggalkan kalian, tapi Rama, Mama tahu kamu bukan anak laki-laki yang baik, jangan macam-macam." "Macam-macan yang bagaimana sih?" gerutu Rama memutar bola matanya jengah. "Seperti mencium atau memegangnya." Magi terbatuk dengan dramatis dan wajahnya memerah, Mamanya Rama menatap Magi dengan tatapan curiga dan segera memelototi Rama dengan kejam. "Mama memperhatikan kamu, Nak." "Lebay," gumam Rama malas Mamanya pergi bersamaan dengan Rama pindah duduk ke samping Magi, Andru bersiul pelan saat melewati mereka, ia pura-pura mondar-mandir mencari sesuatu dan terus menggodanya dengan siulan menyebalkan. "Kalau bukan rumah lo, udah gue tendang si setan itu," bisik Magi kesal. "Gak usah diladenin, Andru emang gitu, nanti capek sendiri." "Kalo gue ada kesempatan gue mau bunuh dia dengan cara paling tersadis." "Lo psikopat ya?" "Bukannya lo yang psikopat?" "Oh iya, kita kan se-tim." Magi tertawa sumbang dan mulai memelototi Rama dengan kesal. Ia melirik toples kue itu dengan tajam agar Rama mengerti, tapi Rama mengabaikannya dengan tidak peka atau justru pura-pura tidak peka. "Ini dikerja sekarang atau tahun depan?" tanya Rama mengeluarkan bukunya dari tas. "Ha-Ha lucu lo," jawab Magi penuh penekanan. Rama tersenyum sekilas sebelum meraih toples kue kering yang berwarna cokelat dan atasnya diberi gumpalan keju parut yang enak, ia meletakkannya dipangkuan Magi. "Gak usah sok malu-malu, ambil aja kalo mau, kayak biasanya lo punya malu aja." "Sialan! Lo kira gue apaan gak punya malu?!" "Husst jangan berisik." Magi menggerutu kesal sambil makan kue, ia membiarkan Rama mengerjakan tugas Karya Tulis Ilmiah itu sendirian. Lagipula ini semua salah Rama karena tidak membiarkan Geo -teman kelompoknya yang lain- ikut ke rumah Rama. Kalau ada Geo kan Magi jadi bisa lebih leha-leha dua kali lipat dan membiarkan para cowok mengerjakannya. "Coba gue lihat kepala lo," kata Rama tiba-tiba menoleh ke arah Magi "Kenapa kepala gue?" "Yang kemarin berdarah itu." Kepala Magi kemarin berdarah karena entah terbentur apa saat dipukuli. Rama mendekat dan memegangi kepala Magi, ia memiringkannya agar bisa melihat bagian kepalanya yang kemarin sempat sedikit berdarah, walaupun sudah dua hari berlalu. Magi mungkin pura-pura melupakan segalanya agar ia tidak perlu menangis lagi, si cebol itu akan selalu pura-pura melupakan segalanya agar bisa merasa baik-baik saja. "Masih sakit?" tanya Rama menatap ke mata Magi, perempuan itu mengangguk dengan mulut penuh sampai Rama mencium kepalanya yang luka dan Magi nyaris berhenti bernapas, "sekarang masih sakit?" Magi menggeleng pelan tidak sadar sambil menatap Rama yang juga menatapnya. Laki-laki itu tersenyum lebih hangat dari biasanya dan membuat Magi dilanda debaran jantung yang menggila. Rama mengangkat tangannya dan mengusap sudut bibir Magi menggunakan ibu jarinya, di sana ada luka mengering. Rama berekspresi sedih saat melihat bekas luka itu, ia menempelken dahinya di dahi Magi. "Kalau gue cium, sakitnya hilang gak?" tanya Rama tidak benar-benar meminta jawaban. "Jangan," bisik Magi pelan. "Kenapa?" "Ada Mama lo." "Kalau Mama gak ada?" Magi diam dan tidak mau menatap mata Rama, ia tiba-tiba takut ia akan mengangguk untuk semua pertanyaan yang diajukan Rama kalau ia menatap mata laki-laki itu. Magi bertanya-tanya kenapa Rama jadi begitu berpengaruh untuknya sekarang. Rama masih memperhatikan bola mata yang bergerak asal itu, ia mengusap pelan pipi Magi dan menarik napas panjang. "Gi, kita baru kenal 3 minggu," gumam Rama sedikit tidak jelas. Magi menunggu kelanjutan ucapan laki-laki itu, tapi Rama tidak melanjutkan ucapannya dan malah menjauh dari Magi. Perempuan itu menatap Rama dengan sorot khawatir dan sekaligus lega karena jantungnya tadi seperti ingin membunuhnya, tapi karena Rama tak kunjung bicara dan malah kembali menatap laptop di atas meja lagi, Magi akhirnya mengalah dari diamnya. "Kenapa kalau kita baru kenal tiga minggu?" tanya Magi menyentuh lengan Rama dengan telunjuknya, bahkan dengan telunjuk saja ia sudah merasa ingin meledak. Rama menghela napas dan berhenti melakukan apapun dengan laptopnya, tapi tak mengalihkan tatapannya dari layar yang menyala itu, ia beberapa kali menarik napas sebelum meremas tangannya. "Kalau gue bilang gue jatuh cinta sama lo, gue keliatan buru-buru banget gak?" Apa barusan itu Rama sedang menyatakan perasaannya pada Magi? Magi membeku di tempatnya dan isi kepalanya langsung berkecamuk. Ia ingin menjawab tidak, apapun yang dikatakan Rama sama sekali tidak terdengar buru-buru, tapi Magi justru akan terdengar seperti mengharapkan Rama jatuh cinta padanya. Magi tidak tahu harus menjawab apa, ia bahkan tidak bisa menebak perasaannya sendiri. Meski tak pernah membicarakannya sama sekali, Magi masih sering memikirkan Aska untuk tiga hari belakangan. Marena Aska berhenti menelponnya dan ia berhenti menelpon Aska, tapi keberadaan Rama di sekitarnya dan bagaimana laki-laki itu membuatnya nyaman tidak bisa diabaikan Magi begitu saja. "Gue gak lagi minta lo jadi pacar gue, Gi," kata Rama pelan menoleh dengan senyum yang tak sampai di matanya. Magi ingin mengatakan ia tetap ingin menjawabnya meski Rama bukan memintanya untuk menjadi pacar laki-laki itu, tapi Mamanya Rama datang dengan ponsel di telinganya. "Ram, kamu bisa ambil berkas di rumah teman Papa? Papa membutuhkannya sekarang," kata Mamanya sambil mengacungkan ponselnya seolah itu adalah Papanya Rama. "Suruh Andru aja, Ma. Rama kan ada Magi." "Oh gak apa-apa, saya juga udah mau pulang kok Tante." Magi buru-buru merapikan barang-barangnya padahal ia tidak mengeluarkan apapun dari tasnya. "Kamu tidak perlu pulang Magi, kamu tunggu sampai Rama pulang saja," pinta Mamanya si Jangkung sambil tersenyum khawatir. "Gak usah Tante, saya emang mau pulang, takut dicariin." Seolah ada yang mau cari gue aja, pikir Magi sinis. Rama menoleh menatapnya dengan alis terangkat, tapi Magi melotot tajam dan menyuruhnya tidak protes, Magi akhirnya berdiri dan pamit. "Antar dia Rama." "Gak usah Tante, saya naik Taxi aja." "Gue sekalian antar lo aja, ayo." Rama mengabaikan kata-kata Magi dan meraih kunci mobilnya. Saat sudah duduk berdua di mobil, Magi jadi lebih canggung dari sebelumnya, berbeda dengan Rama yang tampak sesantai biasanya, kecuali tangannya yang tidak berhenti berusaha menyentuh rambut Magi. "Gue serius sama apa yang gue bilang tadi," kata Rama dan membuat Magi makin bingung dan canggung. "Gue gak bilang lo bercanda," gumam Magi pelan, tidak berniat menatap Rama. Rama diam-diam tersenyum karena Magi tampaknya tidak mau menatapnya karena malu. Rama mengusap rambut perempuan itu, tanpa mendengar jawaban Magi sekalipun, Rama tahu ia terlalu terburu-buru, tapi ia tidak mau mundur. "Gara-gara Aska ya?" "Gak ada hubungannya sama Aska." "Gue gak akan maksa lo lupain atau jauhin Aska, gue bisa berjuang dengan cara gue sendiri, Magi." Magi meremas tangannya gugup. "Ini beneran gak ada hubungannya sama Aska, gue cuma gak tahu harus jawab apa." Suara Magi bergetar gugup. "Jangan jauhin dia." Magi menoleh kesal. "Jadi lo tuh mau gue jauhin Aska apa enggak sih?" Rama tersenyum geli. "Kalau gue bilang gue gak suka lo dekat sama dia, lo bakal jauhin dia?" Magi terdiam mendengar pertanyaan Rama itu, ia memalingkan wajah lagi dengan malu karena baru saja berpikir akan melakukan apapun yang membuat Rama tidak kecewa padanya. Ini sejenis perasaan yang datang saat seseorang takut menyakiti orang yang disayangi. Disayangi? Sepertinya Magi sudah sampai pada tahap tidak membenci, tapi menyayangi. Ia menarik napas dengan dramatis dan hampir saja tersedak napasnya sendiri, Rama tertawa melihat tingkahnya itu yang tidak sesuai dengan dirinya yang biasanya. Tawanya itu menyadarkan Magi bahwa mereka sudah sampai di depan gedung apartemen Magi. "Gue cuma mau lo tahu kalo gue udah jatuh cinta sama lo, Magika," kata Rama saat Magi membuka pintu mobilnya dan perempuan itu mematung mendengarnya, "tapi gue gak akan bohong, gue mau lo untuk jatuh cinta balik." Tangan Magi bergetar saat menutup pintu mobil dan berlari masuk ke gedung apartemennya, ia terlalu bingung dan malu untuk sekedar mengucapkan terimakasih pada Rama. Jatuh cinta balik katanya? Yang benar saja dong. Magi nyaris terbentur pintunya sendiri karena terlalu malu, ia bahkan harus berkali-kali mengulangi memencet pass apartemennya karena tangannya terlalu gemetar. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN