Part 16

2304 Kata
Mobil Rama sampai di depan sebuah rumah minimalis bertingkat dua yang gerbangnya hanya sampai d**a orang dewasa. Rama turun dari mobilnya dan melihat alamat yang diberikan Papanya di ponselnya, ia mencocokkannya dengan nomor yang ada di gerbang rumah itu dan mengangguk-angguk. Rama berjalan ke gerbang, ia melihat masuk dan mencari-cari keberadaan seseorang, tapi karena ia tak kunjung menemukan sosok mahluk hidup, ia akhirnya mendorong gerbang itu dan berjalan ke pintu. Ia menarik napas dengan tidak nyaman, seolah apa yang ada di balik pintu itu mengganggunya, lalu ia mulai mengetuk pintu. "Sebentar," teriak seseorang dari dalam. Rama mengetukkan ujung sendal jepit yang dipakainya dengan tidak sabaran, jangan tanya kenapa ia memakai sendal jepit, Rama benci bepergian dengan sepatu. Beberapa detik kemudian pintu terbuka. "Cari sia-pa?" Mata anak perempuan yang membuka pintu itu melebar saat melihat Rama, tidak jauh berbeda dengan eskpresi kaget Rama, tapi Rama segera berwajah datar lagi dan menatap dingin perempuan itu. "Ini bener rumahnya Hardian Nasta?" tanya Rama dingin. Perempuan di depannya itu seperti ingin terbatuk keras, tapi menahannnya dan menatap Rama dengan senyum bahagia yang ditahan-tahan. "I-iya, ini rumahnya Papa, eh maksudnya rumahnya Hardian Nasta." Perempuan itu mulai menunjukkan ekspresi malu-malu yang terlihat menyebalkan di mata Rama, rasanya ia ingin sekali menendang perempuan itu dari hadapannya saat ini, tingkahnya itu seolah ia melupakan kejadian beberapa hari lalu. "Gue mau ambil berkas Papa lo di sini," kata Rama mulai risih. "Oh iya, tadi Papa nelpon, masuk dulu kak." "Gue bukan kakak lo." Perempuan bernama lengkap Revani Nasta malah tersenyum malu mendengar ucapan bernada muak itu, sudah berkali-kali rasanya Rama memintanya untuk jangan memanggilnya Kakak, bukankah itu artinya Rama tidak ingin dianggap Kakak? Kalau begitu apa Rama ingin dianggap lebih dari sekedar Kakak Kelas? Pemikirannya itu membuatnya makin malu, jantungnya berdebar tak karuan hanya dengan memikirkannya. "Siapa Van?" Suara seseorang dari dalam membuat Rama mengangkat pandangannya dari Revani, di dalam sana berdiri seorang wanita dengan rambut panjang menatap mereka berdua dengan penasaran, Revani berbalik saat itu. "Teman kamu?" tanya wanita itu lagi. "Iya, Mi," jawab Revani yang membuat Rama mengerutkan kening tidak suka, tapi tidak mengatakan apapun untuk menyangkalnya. "Ajak masuk dong, kok berdiri di pintu." "Diminta sama Papi ambil berkas aja, Mi." "Harusnya kamu tawarin minum dong sayang," wanita itu yang dipanggil Mami oleh Revani berjalan mendekat dan berdiri di depan mereka, "anaknya Tarendra ya?" tanyanya pada Rama. "Iya, Tante." Rama menjawab sopan meski ia terganggu dengan bagaimana wanita ini tahu siapa orang tuanya. "Tante buatin minum ya, kamu mau minum apa?" "Gak usah Tante, saya buru-buru," tolak Rama sopan, Maminya Revani itu tersenyum. "Yasudah. Tante sekalian mau keluar tadi, sama Vani aja bisa kan?" "Iya Tante." "Tante tinggal ya." Wanita itu meninggalkan rumah tanpa berbalik lagi, Rama menatap punggungnya masih dengan tatapan terganggu. "Berkasnya di lantai dua, Ram." Suara Revani menyadarkannya dan ia menoleh melihat Revani yang membuat gesture meminta Rama mengikutinya. Rama menghela napas dan mengikutinya naik ke lantai dua. Mereka masuk ke dalam kamar yang background-nya Biola, Rama mempertanyakan kewarasan perempuan itu yang dengan sukarela membawa Rama masuk ke kamarnya, tapi ngomong-ngomong kamarnya cantik dan rapi sekali. "Duduk dulu Ram, aku mau cari berkasnya sebentar," kata Revani dengan senyum senangnya. "Hm." Revani berbalik dan tidak bisa menahan bibirnya tertarik makin lebar, bentuk dari rasa senangnya. Ia masuk ke pintu sebelah kiri di mana ternyata itu adalah perpustakaan kecil, Rama benar-benar mengagumi bagaimana kamar itu di tata, tapi Rama jadi heran sebenarnya apa yang dibutuhkan teman Papanya di dalam perpustakaan itu. Rama berdiri dan melihat-lihat sekitar, ia berdiri di depan lemari kaca kecil yang di dalamnya ada biola dari kaca berukuran sebesar telapak tangan, ada balerina dari kayu yang dicat dengan sangat detail. Banyak barang-barang yang tidak pernah Rama lihat di dalam lemari itu dan Rama tertarik pada sebuah telur dari besi berwarna biru yang mirip krystal. Rama mengambilnya telur itu dan menemukan sebuah pemutar di bagian sampingnya, ia akhirnya tahu itu kotak musik. Rama membukanya dan suara yang mengalun di sana membuatnya seketika dilanda jutaan perasaan yang tidak bisa ia deskripsikan. "Happy Birthday ke sepuluh Magika, kami sayang kamu." Itu suara teriakan dari beberapa orang, tapi yang membuat Rama meremas kuat kotak musik itu adalah kenapa benda yang jelas hadiah ulang tahun Magi itu ada di dalam kamar Revani. Bukankah Magi membenci Revani? Kecuali Revani mencurinya, jelas itu hal yang mustahil, sekali lihat saja Rama tahu Revani takut pada Magi, ia bahkan mungkin memilih tidak menampakkan dirinya di depan Magi dari pada harus lewat di depannya. Satu-satunya kemungkinan adalah Magi sendiri yang memberikannya. Kotak musik itu masih mengalunkan suara gesekan biola dan karena itu sekarang Rama curiga bahwa hiasan biola itu adalah milik Magi, lalu seolah sesuatu menghantam kepalanya, Rama menoleh cepat dan menatap background kamar itu, Biola. "Jangan sentuh barang aku!" Revani muncul dengan wajah panik, ia buru-buru merebut kotak musik itu dan menutupnya, lalu memeluknya erat di dadanya. Ia menatap Rama dengan sorot takut seolah ia merasa terancam, Rama memicing ke arahnya. "Jadi bener, lo saudaranya Magi," desis Rama tajam. Revani tidak tahu harus mengatakan apa, ia menunduk menatap kakinya yang telanjang. Ia tidak tahu harus menjelaskan apa, karena menjelaskannya sama saja membiarkan Rama membencinya dan Revani tidak mau itu terjadi. Revani merasa bimbang sekarang. "Gue selalu penasaran kenapa Magi benci lo yang saudaranya sendiri, kenapa dia tinggal sendirian di apartemen sementara lo tinggal di rumah ini? Apa yang sudah lo lakuin, Revani?" Kata-kata Rama itu tepat mengenai titik lemah Revani, matanya makin melebar dengan takut. Ia sudah berjanji tidak akan mengatakan apapun tentang alasan Magi keluar dari rumah, apalagi ia tidak ingin Rama membencinya, tapi Revani tidak akan bisa menjawab pertanyaan Rama kecuali ia berbohong. "Be-berkasnya udah dapat, ka-kamu udah boleh pergi sekarang." Revani buru-buru mengalihkan percakapan. Rama makin memicing tajam menatapnya, ia benci dialihkan di saat seperti ini. Ia menatap background kamar itu sekali lagi. "Ini kamar Magi kan?" tuduh Rama yang mana membuat Revani menahan napas, "kotak musik itu juga punya Magi, semua yang di lemari kaca itu punya Magi." Rama menatap ke pintu perpustakaan mini, lalu ke kasur, lalu ke meja belajar. Semuanya sama sekali tidak tampak seperti sesuatu yang akan dimiliki Magi, tapi kalau benar ini semua milik Magi, Rama bertanya-tanya apa yang sudah dilakukan Revani pada perempuan itu yang membuatnya berubah sejauh itu. Rama tidak ingat Andru pernah menjelaskan tentang semua ini padanya saat meminta adiknya itu mencari tahu. Andru bahkan tidak memberitahunya semua hal tentang keluarga Magi. Adik laki-lakinya itu hanya memberitahu soal Saphira padanya dan beberapa hal soal sekolah, ia bahkan tidak memberitahu Rama tentang Aska. Sebenarnya apa yang membuat Andru tidak mau memberitahukan Rama tentang latar belakang keluarga Magi? Rama menggeleng geram. "Apa yang sebenarnya lo lakuin?" geram Rama tajam, “kenapa lo ambil semuanya dari dia?" Revani meremas tangan gusar, ia melirik Rama yang tampak membencinya dari balik bulu matanya. Ia tidak mau Rama membencinya, ia tidak mau Rama tahu alasan apa yang membuat Magi memilih menyingkirkan semua ini dan pergi meninggalkan rumah, Revani tidak akan pernah mau mengatakannya. "Ma-Magi sendiri yang ngasih ke aku, Magi sendiri yang kabur dari rumah," Revani memutuskan berbohong, ia meremas kuat kotak musik itu dan menolak menatap Rama yang saat ini menatapnya tajam. Rama tahu perempuan itu pasti berbohong, tapi ia juga tahu Revani tidak akan mengatakan apapun padanya meski Rama memaksanya, karena itu Rama menghela napas sinis. "Lo seharusnya gak bohong untuk ngelindungin diri lo sendiri," bisik Rama dingin, "seperti yang gue duga, lo gak pernah benar-benar berniat minta maaf." Rama merampas berkas dari tangan Revani dan berjalan ke pintu, ia menutupnya dengan bantingan yang cukup keras dan meninggalkan Revani yang gemetar nyaris tidak bisa bergerak. Ia menatap ke arah di mana Rama menghilang, kenapa semuanya selalu memihak Magi? Kenapa ia tidak boleh memiliki apa yang Magi punya? Apa salah kalau ia menginginkan Rama? *** Keluar dari rumah Revani, Rama melajukan mobilnya menuju perusahaan. Sekarang ia bisa menebak siapa yang akan ditemuinya diperusahaan Papa, ia bertemu Papa Revani di perusahaan. Rama harus berusaha keras menahan dirinya untuk tidak melayangkan pukulan ke wajahnya saat melihat pria itu duduk bersama Papanya. "Ini anak sulung saya, Pak Hardian," ucap Tarendra Adhiyaksa seraya menepuk punggung Rama dengan senyum bangganya. "Mirip sekali dengan Anda ya, Pak." Tarendra Adhiyaksa menoleh dengan tatapan setengah canggung setengah heran pada Rama yang tidak bertingkah seperti biasanya. Anak sulungnya yang dibesarkan dengan sopan santun itu biasanya akan langsung memperkenalkan dirinya pada siapapun yang sedang Papanya temani bicara, tapi alih-alih memperkenalkan dirinya, Rama justru menatap tajam Hardian. "Rama?" tegur Tarendra. "Aku langsung pulang aja ya Pa, ada Magi di rumah," ucap Rama sengaja menyebut nama Magi untuk melihat reaksi pria itu. Seperti dugaan Rama, Hardian menatapnya dengan tatapan terkejut, tapi pria itu buru-buru menyembunyikannya dengan senyum. "Magi? Sudah punya pacar rupanya anak Anda, Pak," ucapnya dengan nada bercanda. "Anak muda memang begitu, Pak, mereka masih suka main-main-" "Aku serius sama Magi," potong Rama cepat dengan kening berkerut tidak suka. "Nak," tegur Tarendra, sudut bibirnya berkedut menegur. "Papa cuma mau berkasnya kan? Aku pulang." Rama membalik tubuhnya tanpa menunggu respon Papanya, ia mengabaikan panggilan Tarendra dan bagaimana Papanya itu meminta maaf atas ketidaksopanannya. Rama tidak peduli pada apapun urusan Papanya dan pria yang sudah membuat Magi terluka, tapi kalau pria itu berharap Rama akan menyapanya dengan sopan, ia hanya akan berharap sampai mati, karena Rama tidak akan pernah melakukannya. Pulang dari perusahaan Papanya, Rama tidak segera pergi ke apartemen Magi, ia ingin memberi waktu perempuan itu untuk berpikir, ia juga butuh memikirkan apa yang terjadi pada Magi. Rama masih mempertanyakan satu hal saat ini, kenapa nama belakang Magi bukan Nasta, sedangkan nama Revani memiliki Nasta di belakangnya? Rama tahu masyarakat Indonesia tidak terlalu terikat dengan kultur nama belakang, tapi mengingat Revani menggunakan nama belakang itu, Rama jadi yakin ada yang salah. "Jadi?" tanya Andru yang berbaring telungkup sambil mengupas kuaci, ia dipanggil Rama tadi. "Gue yakin lo masih punya banyak informasi yang lo gak kasih tahu ke gue, Andru." Rama memperhatikan reaksi Andru dan mencoba menemukan tingkah mencurigakan, tapi adiknya itu hanya menaikkan sebelah alisnya dengan tangan yang masih sibuk mengupas kuaci. "Informasi apa? Gue udah kasih tahu semua yang gue tahu, Bang." "Lo yakin?" "Gue gak pernah bohong ke lo selama ini, Bang." Andru benar, adiknya itu tidak pernah berbohong pada Rama sebelumnya, tapi kenapa Rama merasa ada yang Andru sembunyikan? Selama ini Andru selalu bisa mendapatkan informasi apapun yang Rama atau Tarendra minta untuk dicarikan. Begitulah Andru dibesarkan sejak kecil, karena itu pula Rama merasa tidak tenang mengetahui ada yang Andru tidak tahu sedangkan ia tahu. "Lo mau gue cari informasi lagi? Yang lebih spesifik?" tanya Andru seraya menolehkan wajahnya. "Gak usah," gumam Rama, "kalau lo gak bisa dapat informasi dan malah buat Magi tahu gue selidiki dia lagi, jarak gue sama dia bakal lebih jauh." "Terus lo mau nyerah aja?" "Gue gak pernah bilang mau nyerah." Andru menggumam paham. "Revani gimana?" Rama mengangkat sebelah alisnya. "Revani? Bukan urusan gue." "Buat gue aja kalau gitu." Rama menatap Andru yang masih makan kuaci dengan kening berkerut, tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi dan hanya merebahkan tubuhnya di sofa kamarnya. Ia menatap langit-langit kamar dengan pikiran penuh, lama-lama semuanya jadi terasa menyebalkan. Kalau Magi dan Revani bersaudara, pasti ada alasan kenapa Magi tinggal di apartemen, ada alasan kenapa Magi membenci Revani. Pembunuh... Rama tersentak bangun saat mengingat Magi meneriaki Revani pembunuh, siapa yang membunuh siapa? Rama mengerutkan kening saat ingat berita yang dilihatnya saat kecil dulu, berita kematian Amanda Zalardi. Saat itu beritanya ada di mana-mana dan semua saluran berita membahasnya selama berminggu-minggu, mobilnya ditemukan di jurang dalam keadaan hangus terbakar, tapi bukankah tadi ia bertemu Maminya Revani? "Kalau Revani dan Magi bersaudara, itu berarti Amanda Zalardi itu Ibu mereka kan?" tanya Rama. Andru yang baru saja ingin memasukkan kuaci kemulutnya menoleh, ia menaikkan sebelah alisnya dan mengingat. "Iya." "Bukannya Amanda Zalardi sudah meninggal 6 tahun yang lalu? Gue jelas-jelas lihat Revani manggil orang itu Mami." Andru otomatis berhenti mengunyah dan menatap Rama dengan tatapan bingung, ekspresinya terlihat sama bingungnya dengan Rama saat memikirkan apa yang terjadi, dan satu pemikiran menghampiri Andru. "Mereka kan bukan kembar, seingat gue mereka beda usia 6 bulan-" "Lo gak pernah bilang ke gue soal informasi itu, Andru," potong Rama tajam. Andru menggaruk kepalanya dan nyengir. "Masa? Gue lupa kali, atau waktu itu gue ngerasa ini bukan informasi yang wajib lo tahu." Jawabannya itu hanya membuat Rama makin menatapnya tajam. "Gue masih curiga lo nyembunyiin sesuatu, Andru." "Gue beneran lupa, Bang. Gak ada yang gue sembunyiin." Andru membuat V sign dengan tangan kanannya agar Rama percaya, tapi Kakaknya itu hanya menatapnya tak percaya. "Kalau sampai gue tahu lo nyembunyiin sesuatu, habis lo di tangan gue." "Iyaaa." Rama mengalihkan tatapannya dari Andru yang menghela napas lega, ia menatap lurus sudut kamarnya sambil menggaruk alisnya. Dari penjelasan Andru, Rama paham Magi dan Revani berbeda Ibu, hanya itu satu-satunya penjelasan masuk akal kenapa mereka bisa bersaudara dengan umur nyaris sama. Sekarang pertanyaannya, siapa yang sudah dibunuh Revani sampai Magi sangat membencinya, apa mungkin... Rama menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan pemikiran itu. Keluarga Zalardi tidak akan diam saja kalau memang apa yang dipikirkan Rama benar, tapi hanya itu satu-satunya yang bisa dipikirkan Rama dengan informasi yang ia punya sekarang. "Sialan," gumam Rama kesal, ia kembali membaringkan tubuhnya ke sofa. "Padahal lo kan bisa pacarin dia tanpa perlu repot-repot mikirin latar belakang dia, kayak waktu lo sama Sania." "Beda," Rama memutar bola matanya, "dan jangan bawa-bawa nama Sania lagi.” "Oke oke." "Menurut lo Magi orang yang bakal kabur dari rumah karena alasan apa?" tanya Rama tidak sungguh-sungguh berharap mendapatkan jawaban. Lo lebih kenal dia dari pada gue, Bang." Andru benar, tapi meski Rama merasa lebih mengenal Magi, ia tetap tidak benar-benar mengenal perempuan itu, dan ia merasa bukan hanya Andru yang menyembunyikan sesuatu darinya. Mungkin Andru benar, Rama harusnya tidak perlu repot-repot memikirkan latar belakang Magi, tapi bagaimana ia akan mengabaikannya kalau hal itu selalu mengganggu pikirannya? Rama tidak bisa melakukannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN