Sore ini Magi terpaksa meninggalkan kasurnya yang nyaman, paksaan dan ancaman seekor iblislah yang membuatnya mengambil keputusan berat itu. Berbekal amarah dan rasa ingin membunuh, Magi pergi menemui Rama di Kafe es krimm sesuai di lokasi yang dikirim Rama, entah kapan iblis itu mau melepaskannya.
Bukk...
Diletakkannya buku-buku yang di bawanya itu ke meja di mana Rama duduk, lalu melepaskan tasnya dan menaruhnya ke kursi, baru kemudian ia duduk tepat di hadapan Rama. Laki-laki itu sedang sibuk memainkan ponselnya, ia hanya melirik Magi sekilas saat Magi menaruh bukunya.
"Gue ngantuk," gerutu Magi, ia letakkan kepalanya di meja dan menguap.
"Tidur."
"Salah siapa ya gue sekarang ada di sini dan bukannya tidur?”
"Mau es krim apa?" Rama segera mengalihkan.
“Cappuccino."
"Toppingnya?"
"Apa aja, yang penting bukan Matcha."
Rama mengangguk meski Magi tak melihat, ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kasir. Rama menatap daftar menu yang memuat flavour dan topping, mencari-cari yang mana yang kiranya cocok dengan pesanan Magi, lalu suara bisik-bisik di sampingnya memancing Rama menoleh.
"Mi, itu Magi ya?"
Di antrian sebelah itu, seorang perempuan muda dan Ibunya sedang berdiri mengantri, mereka menatap ke arah di mana Magi sedang setengah tidur. Rama tentu saja mengenali kedua anak dan Ibu itu, Revani dan Maminya. Revani tampak meremas lengan Maminya cemas.
"Kita sapa ya?" tanya sang Mami.
"Jangan, nanti dia marah."
"Gak apa-apa, ayo, Mami temenin."
"Takut ah Mi."
"Kok takut sih? Sekalian kamu coba bicara lagi sama Kakak kamu, siapa tahu dia mau dengerin kamu kalau Mami juga ada di sana, mau ya?"
"Gak mungkin, Kakak pasti bakal marah kalau aku bicara sama dia, Kakak benci banget sama aku."
"Vani..."
Sementara sang Mami masih mencoba membujuk Revani agar mau menyapa Magi, Rama keluar dari antrian, saat itu matanya bertemu pandang dengan Revani. Rama mengabaikan, dengan cepat berjalan menuju mejanya dan membangunkan Magi.
"Pesanan gue mana?" tanya Magi mengusap matanya yang berair.
"Gue mau makan Sushi, kita pindah restourant aja."
"Kenapa? Gue ngantuk nih."
"Nanti lo bisa tidur di mobil aja."
Magi mengeluh kesal, tapi tetap meraih tasnya, ia membiarkan Rama membawakan bukunya untuknya.
Sementara Magi berjalan keluar, Rama melirik ke arah Revani yang masih berdiri di antrian, ia balik menatap Rama bersama Mami. Hanya Sang Mami yang menatap Rama dengan sorot penasaran, seolah bertanya-tanya ada hubungan apa Magi dan Rama, sementara Revani menatapnya dengan sorot seolah Rama sudah menyelamatkannya.
"Tidur aja, nanti gue bangunin kalau sampai,"
kata Rama saat masuk ke mobilnya.
Magi hanya menjawab dengan gumamam tidak jelas, lalu jatuh tertidur tidak lama kemudian.
Rama menyalakan AC, mengatur kursi Magi agar lebih nyaman, baru kemudian melajukan mobil pelan. Ia sengaja pelan-pelan dan berlama-lama agar Magi tak terganggu, sekaligus agar perempuan itu bisa tidur lebih lama.
Sepertinya Magi memang mengantuk sekali, atau mungkin sedang sangat lelah. Perempuan itu tidak bangun juga bahkan saat Rama akhirnya memutuskan tidak jadi makan, ia membawa Magi pulang ke apartemen, dan membiarkannya tidur tanpa mengganggunya sama sekali. Ia kemudian pulang ke rumahnya tanpa pamitan.
***
Masker dan kacamata aneh yang dipakai Magi beberapi hari belakangan, akhirnya dilepaskan perempuan itu, bekas luka yang berada di sudut bibirnya tidak terlalu terlihat lagi. Terlihat sekalipun setidaknya Abian hanya melihat yang tersisa dan ia tidak akan melaporkan yang macam-macam pada atasannya.
"Bibir lo sebenarnya kenapa?"
Sayangnya harapan Magi agar Abian tidak lagi mencurigainya ternyata salah, laki-laki itu menghadang jalan Magi pagi ini dengan tatapan curiga. Ia menyentuh bibir Magi perlahan, seolah takut menyakiti Magi.
"Digigit serangga," kata Magi sambil mengedipkan matanya.
"Sampai berdarah?"
"Mana ada berdarah?! Buta mata lo?! Jelas-jelas cuma luka biasa."
"Gak usah teriak-teriak, monyet."
"Lo tuh monyet, kepoan kayak monyet."
Abian memiting kepala perempuan itu dan mengusel rambutnya sampai berantakan, Magi berteriak-teriak keras sambil memberontak. Ia nyaris kehabisan nafas dan menendang-nendang kaki Abian, untungnya laki-laki itu jadi lupa pada apa yang ditanyakannya tadi.
"Lephas Anjhing!"
Abian baru melepasnya setelah merasa puas dan Magi terbatuk-batuk dramatis. Perempuan itu melotot tajam pada Abian sambil memegangi lehernya.
"Lo mau bunuh gue hah?!"
Magi menendang tulang kering laki-laki itu penuh dendam dan buru-buru berlari pergi sebelum Abian sempat membalasnya.
"Magika! Balik sini lo!" teriak Abian tertahan sambil memegangi betisnya yang luar biasa sakit.
Magi tidak mendengarkannya dan terus berlari sambil memperbaiki rambut indahnya yang sekarang mekar gara-gara Abian setan. Ia mengutuk Abian dalam hati sambil berusaha menyisiri rambutnya dengan jari.
Sekarang Magi menyesal kenapa ia tidak meninju perut Abian tadi, tapi setidaknya ia berhasil membuat Abian tidak bertanya lagi.
"Jelek."
Suara yang dipenuhi nada mengejek itu pasti Rama, pikir Magi. Ia berbalik dan menemui bahwa ternyata bukan Rama yang barusan mengejeknya, tapi Andru yang sedang menarik-narik Revani, kenapa Andru si setan menarik Revani sialan?
"Lo mau apa? "tanya Magi malas, Andru nyengir mencurigakan.
"Abang gue bilang, buku lo yang kemarin di pakai bimbingan ketinggalan di mobil Abang, lo disuruh ambil sendiri di mobil katanya."
"Kok gak dia bawa aja ke sini?"
"Karena kalau lo yang ambil, lo bakal capek."
"Wah! Ternyata benar ya kalian berdua saudara setan!"
Setelah memaki dengan kesal, Magi berbalik ke parkiran untuk mencari mobil Rama, ia butuh buku itu karena hari ini ada ulangan dan ia harus mengumpul catatannya. Rama belum meninggalkan mobilnya saat Magi sampai di sana, laki-laki itu entah melakukan apa di dalam mobilnya.
"Ram, buka!" teriak Magi sambil memukul-mukul jendela mobil Rama yang pintunya terkunci.
Rama yang sepertinya mendengar pukulan Magi di jendela mobilnya tidak menjawab, ia hanya melirik Magi sekilas, lalu menunduk seolah mengambil sesuatu.
Magi mendengus kesal sambil menarik-narik handel pintu yang terkunci, ia mengangkat tangannya ingin memukul-mukul jendela mobil Rama lagi saat pintu itu tiba-tiba tidak terkunci lagi. Magi yang menarik pintu itu terlalu keras terhuyung ke belakang dan hampir saja jatuh kalau ia tidak menabrak seseorang.
"Makasih ya-"
Ucapannya terhenti saat tahu siapa orang yang berdiri di belakangnya, tidak pernah dalam hidup Magi ia secanggung ini menghadapi seseorang, apalagi di depan orang yang sudah dikenalnya sejak 6 tahun yang lalu.
Rama keluar dari mobilnya, ia tadi melihat Magi berdiri di samping mobilnya sebelum tiba-tiba menghilang, ia menatap dua manusia lawan jenis yang sedang berdiri berhadapan di samping mobilnya itu. Ia mendekat ke sana dan berdiri di samping Magi, Rama menghela napas dan tersenyum tipis menatap perempuan itu.
"Gue masuk duluan ya?" bisik Rama di dekat telinga Magi.
Rama bukan orang yang tidak tahu membaca kondisi, ia tidak mungkin berada di antara Magi dan Aska saat ini, keduanya butuh bicara baik-baik. Karena itu Rama memilih membiarkan mereka bicara walau Rama tidak menyukai keberadaan Aska di sekitar Magi, Rama akan memberikan Aska kesempatan untuk bicara. Setelah ini Rama tidak akan membiarkan mereka punya waktu untuk berduaan.
Sayangnya Magi menahan tangan Rama saat laki-laki itu ingin pergi, ia menggeleng tanpa menatap Rama seolah meminta Rama untuk tidak pergi. Rama menarik napas berat dan mengikuti permintaan Magi, ia tetap berdiri di sana dengan pergelangan tangannya di tahan Magi, meski Aska menatapnya dengan tatapan terganggu. Rama tahu Aska tidak menginginkannya ada di sini.
"Lo mau ngomong apa?" tanya Magi datar.
Aska yang sejenak kehilangan fokus karena keberadaan Rama menatap Magi lagi. Sesaat tadi ia lupa apa tujuannya datang, lalu ia mulai mengepalkan tangan.
"Kita butuh bicara," katanya dengan suara tertahan karena rahang yang mengeras.
"Gue rasa kita udah bicarain semua yang perlu dibicarain."
"Magi, please."
"Kalau gak ada lagi yang lo mau bicarain, gue harus masuk kelas-"
"Gue gak bisa jauhin lo."
Rama merasakan pegangan Magi di tangannya mengeras, ekspresi perempuan itu terlihat marah dan suaranya terdengar tertahan. "Kenapa?"
"Karena Mama lo sendiri yang minta gue jagain lo. Gue gak bisa ingkar janji, kecuali lo cukup egois buat minta gue lupain kata-kata Mama lo."
Mata Magi melotot tajam mendengar ucapan Aska, Magi tidak pernah suka Mamanya diungkit, ia tidak akan pernah suka ada yang membicarakan tentang Mamanya, dan seharusnya Askalah yang paling tahu soal itu. Magi tidak akan memaafkannya.
"Gue tahu lo bakal gak suka kalo gue ngungkit Mama lo," Aska menatap langsung ke mata yang berkilat tajam itu, Aska tahu Magi marah padanya saat ini, "tapi lo perlu tahu gue gak akan pernah ingkari janji gue ke beliau."
"Mama bakal ngerti meski lo lepas tanggung jawab dari gue."
"Gak segampang lo ngomong Magi, itu permintaan terakhir."
Tangan mungil itu mengcekram erat tangan Rama, hampir menyakiti tangannya sendiri kalau Rama tidak segera menyentuhnya. Magi menoleh menatap Rama dan laki-laki itu tersenyum menenangkannya.
Magi menarik napas dan mulai mengatur emosinya sendiri, ia tidak boleh terbawa emosi sekarang, dan cara Rama menenangkan Magi hanya dengan seulas senyum sangat mengganggu Aska.
"Gue benar-benar udah bisa jaga diri, lo gak perlu selalu ngorbanin diri lo buat gue, Magi tersenyum miris, dan kalau lo gak suka gue ada perasaan sama lo, gue bakal berusaha lupain perasaan gue."
Aska mengepal tangannya keras mendengar ucapan Magi. "Terserah," ucapnya kasar, gue gak perlu persutujuan lo buat ngelakuin apa yang gue mau, gue rasa lo perlu waktu buat berpikir tentang semuanya."
"Apa lo sadar ngomong gitu, Aska?" Mata Magi melebar terkejut dan sekali lagi mata itu menyala oleh kemarahan
"Mungkin lo lupa kenapa gue bisa masuk ke hidup lo karena beberapa bulan ini lo hidup damai."
Aska tidak peduli meski setelah ini Magi akan semakin marah padanya, ia berbalik dan meninggalkan Magi yang menatapnya tak percaya, perempuan itu pasti tidak pernah mengira Aska akan pernah berkata sekasar itu padanya.
Saat ini satu-satunya hal yang membuat Aska takut hanya alasannya marah melihat Rama mampu menenangkan emosi tidak stabil Magi dengan satu senyuman. Aska tahu dengan jelas kenapa ia marah, karena itu ia mengepal tangannya makin erat. Alasan apapun itu, Aska tidak akan membiarkan dirinya mengingkari janjinya sendiri.
***