Akhir-akhir ini Andru selalu melihat ada yang mengikut Rama di sekolah, Andru tidak terlalu kaget karena tahu kepopuleran Rama, tapi tetap saja ia harus tahu siapa pelakunya. Sebenarnya Andru sudah tahu siapa, tapi tidak bisa memergokinya karena bisa menimbulkan keributan.
"Kenapa lo ngikutin Abang gue?" tanya Andru setelah berhasil memojokkan si stalker.
"Aku gak ngikutin."
"Gak usah pura-pura, gue tahu lo selalu ngikutin Abang gue."
"Aku udah bilang, aku gak ngikutin."
"Lo baru mau ngaku kalau Rama yang nanya langsung?"
Perempuan bernama lengkap Revani Nasta itu membulatkan mata panik, ia buru-buru menggeleng. Diraihnya tangan Andru dan dipegangnya erat-erat, sorot matanya memohon.
“Please, jangan kasih tahu Kak Rama, aku janji gak akan ngulangin."
Sebelah alis Andru naik. Setelah bertingkah seperti stalker yang mengikuti Rama ke mana-mana, ia sekarang meminta Andru begitu? Punya nyali juga anak ini.
Andru sudah lama ingin sekali menegurnya, tapi ia tidak ada kesempatan. Rama selalu bersama Magi, dan Magi membenci perempuan di depannya ini, ia pasti akan mengamuk lagi, karena itu Andru terus menunggu kesempatan.
“Lepasin dong tangan gue," tegur Andru berpura-pura malu.
"Ma-maaf." Revani melepaskan tangannya dan mundur.
Jadi kenapa lo ikutin Abang gue? Lo suka ya?"
Padahal sudah jelas, Andru cuma suka main-main. Ia memamerkan senyum ramah di bibirnya, membuat Revani sedikit merasa aman, Andru pasti tidak akan melaporkannya.
"Enggak kok, aku cuma ngeliatin Magi aja."
"Masa? Beneran gak suka?"
"Beneran."
"Kalau gitu, gimana kalau lo ngikutin gue aja? Gue suka kok diikutin."
"Eh?"
Pipi Revani bersemu merah, apalagi ketika Andru tersenyum manis padanya. Ia menunduk dan memilin jari-jarinya, kakinya berdiri gelisah, dan ia tampak ingin segera cepat-cepat kabur. Andru memajukan tubuh, sedikit menundukkan kepala agar bisa berbisik pada Revani.
"Lo suka sama gue aja ya?" bisik Andru pelan, masih dengan senyum manisnya.
"Ja-jangan bercanda sama aku."
"Gue gak bercanda."
Revani melirik Andru malu, kemudian menatap tanah lagi, "a-aku mau masuk kelas, per-permisi." Ia lalu melarikan diri dari sana.
Andru tertawa setelah perempuan itu menghilang, ia menegakkan tubuhnya dan menatap ke arah menghilangnya Revani. Ia mengacak-acak rambutnya, lalu memasukkan kedua tangannya ke saku celana, senyum ramah kembali terpasang, tapi kali ini penuh rencana.
"Susah juga ya, Revani.”
Menghela napas, Andru menyorot penuh sesal pada tempat Revani menghilang, juga seolah kasihan pada perempuan itu. Ia menggelengkan kepalanya sedih, lalu meninggalkan tempat itu sambil menggumamkan sesuatu.
"Padahal gue gak mau kasar."
***
"Mau ke mana?"
Magi yang baru saja bangkit dari kursinya, menoleh pada Rama yang menutup bukunya. Laki-laki itu menatap Magi dengan sebelah alis terangkat, Magi balas mengerutkan kening.
"Kepo banget lo," jawab Magi kurang ajar.
Perempuan itu segera meninggalkan Rama di kelas, ia tidak akan mengatakan ke mana ia pergi, Rama pasti akan mengikutinya. Laki-laki itu punya hobby mengikutinya ke mana-mana, seperti stalker saja. Dasar orang aneh.
"Mau ke mana, Gi?" Rama menyusulnya.
"Stop ngikutin gue, lo kan bukan Babisitter gue."
“Babysitter.”
"Lah? Ngatur?"
Rama yakin sekali ia tidak akan pernah berhasil membuat Magi berhenti menjawab ngawur kata-katanya, perempuan itu selalu saja punya jawaban untuk perkataannya. Rama membiarkan, tidak apa-apa kalau Magi tidak mau bilang, Rama tinggal mengikutinya saja. Toh Magi tidak melarangnya ikut.
"Gue mau ke toilet," kata Magi akhirnya.
"Oh."
"Kok oh?"
"Terus apa?"
"Lo enyah lah, sinting! Lo mau ikut sampai ke toilet sama gue?!"
Kadang Rama lupa Magi ini mirip sekali kucing betina habis melahirkan, galak dan berisik. Rama memelankan langkah saat melihat pintu toilet perempuan, lalu benar-benar berhenti di jarak satu meter.
"Lo ngapain sih?" tanya Magi sambil berkacak pinggang.
"Nungguin lo."
"Sumpah? Gue ini cuma mau ke toilet ya, bukan mau perang dunia, gak usah lo tungguin juga gue bisa balik ke kelas."
"Bawel, masuk sana."
"Susah ngomong sama dugong," sindir Magi kesal.
Ia membanting pintu toilet saat masuk, dua orang siswa perempuan yang berdiri di depan salah satu bilik sama-sama menoleh. Mereka bertatapan dengan Magi yang menaikkan alis bertanya, tapi ia sudah bisa menebak dari keberadaan mereka di toilet, dan suara tangisan dari sana.
"Eh Magi." Mereka menyapa ramah.
Magi mengangguk membalas, masuk ke salah satu bilik tanpa mempedulikan mereka. Tujuannya sudah jelas, dan Magi tak suka ikut campur masalah orang lain.
Kalau ini 6 bulan yang lalu, Magi mungkin akan langsung menerjang ke sana dan menyelamatkan korban, tapi sekarang untuk apa? Magi jelas tahu manusia adalah mahluk paling tak tahu diri, dan Magi tak mau mengulangi kesalahan.
Meski membuat mahluk bernama manusia itu berutang budi seumur hidupnya, mereka masih saja bisa mengkhianati tanpa peduli budi. Mungkin Magi lah yang paling mengerti tentang bagaimana manusia bisa sangat tidak tahu diri, sekaligus jadi mahluk paling kejam yang tak punya perasaan, dan Magi tidak bodoh untuk jatuh ke perangkap yang sama.
"Diam, manja!"
"Gue gak lukain muka lo, kenapa lo nangis?"
"Emang anak manja."
"Gunting aja rambutnya."
"Lo gak tahu dia tukang ngadu? Kalau lo gunting rambutnya, nanti Bokapnya bakal datengin lo."
"Oh, gue dengar-dengar juga Sintya langsung pindah sekolah setelah dorong dia dari tangga."
"Siram aja pakai air tadi, biar aman."
Terdegar suara-suara mereka dari bilik sebelah, sementara Magi menyelesaikan kebutuhannya. Ia berdiri di depan wastafel mencuci tangannya saat 3 orang pelaku itu meninggalkan toilet, Magi mengabaikan sapaan mereka, lalu tanpa sengaja matanya menatap sang korban yang ia kenal dengan baik. Mata mereka bertemu tatap.
Beberapa detik tatapan itu terkejut, lalu detik berikutnya ia memutus kontak dan menunduk. Magi mengalihkan pandangan, ia mengeringkan tangan dengan tissue, sama sekali tak berniat menolang. Sudah Magi katakan, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
"Magi?"
Pintu tiba-tiba terbuka dan Rama muncul dengan sorot khawatir, Magi menaikkan sebelah alisnya dengan heran. Ia berbalik menatap Rama, laki-laki itu memeriksa seluruh tubuh Magi dengan matanya, lalu menghela napas lega setelah tak menemukan apa-apa.
“Lo ngapain m***m masuk ke toilet cewek?!" bentak Magi seraya melemparkan tisu bekasnya ke wajah Rama.
"Gue kira lo dibully," jawab Rama.
"Dibully mata lo tujuh, keluar gak lo?!"
"Gue lihat anak-anak tukang bully itu keluar dari toilet."
“Oh, bukan gue."
Rama mengerutkan alis bingung, kemudian matanya bersibobrok dengan mata sang Korban di cermin, Rama terdiam beberapa saat. Ia lalu mengalihkan tatapannya pada Magi yang kelihatan tidak peduli, padahal Rama yakin ia menyaksikan sendiri bagaimana perundungan itu terjadi.
"Gue ke kelas ya, lo masih mau di sini?l tanya Magi seolah hanya ada mereka berdua di sana.
"Lo duluan aja."
"Ohh," Magi menoleh menatap perempuan yang duduk di lantai bilik paling ujung itu, tatapannya merendahkan, "lo mau buang sampah dulu ya?"
"Gi..."
"Baguslah, dari pada bikin bau toilet, cepat buang ya."
Magi menepuk-nepuk bahu Rama dengan bersahabat, lalu berjalan melewatinya. Rama menghela napas panjang, ia biarkan Magi pergi melewatinya.
Sekali lagi Rama menatap ke cermin itu, lalu berjalan memasuki toilet, langsung menuju bilik paling ujung, ditatapnya perempuan itu dengan sorot tak terbaca. Sudah berapa kali Rama harus menyelamatkannya seperti ini? Padahal Rama sudah menyuruhnya melawan.
"BTW Ram," Magi muncul lagi dari pintu, kali ini ia tersenyum manis, "lo guyur aja pake air sampahnya, biar agak gak bau, tapi hati-hati ya, gue tadi dengar dia tukang ngadu soalnya. Dah, gue ke kelas."
Ucapan itu hanya membuat tubuh si korban makin gemetar. Rama menghela napas, ia sebenarnya tak tahu harus apa, ia jelas tidak menyukai perempuan ini, tapi Rama tidak bisa mengabaikan perundungan di sekolahnya.
"Kenapa lo gak lawan?" tanya Rama akhirnya.
Ia memutuskan memisahkan urusan tentang Magi dan perundungan, ia tidak bisa mengabaikan perempuan keturunan Nasta itu. Revani tidak menjawab pertanyaannya, ia menunduk terus menatap lantai. Rama meraih shower, lalu menyalakannya.
Lo bersihin dulu badan lo, gue ke UKS minta petugasnya bawain lo baju sama periksa badan lo."
Revani meraih shower yang diserahkan Rama itu dengan tangan gemetar, ia tidak berkata apa-apa saat Rama meninggalkannya di sana. Meski sekarang seluruh tubuhnya gemetar, dan ia merasa sedih melihat Magi mengabaikannya, ia juga merasa senang karena Rama masih mau menolongnya.
***