Ada kotak berwarna hitam tanpa nama di depan apartemen Magi saat perempuan itu pulang, ia berhenti melangkah saat melihatnya, Rama juga ikut berhenti melangkah. Magi merasa familiar dengan kotak itu, tapi sudah lama sejak terakhir kali Magi melihatnya, ia mengepal tangan kuat dan berbalik.
"Mau ke mana?" tanya Rama heran.
Tidak ada jawaban dari mulut Magi, perempuan itu berjalan kembali ke Lift, dan Rama mengikutinya dari belakang. Magi mengeluarkan ponselnya dari tas, meski ia tampak tenang, tatapannya takut dan jemarinya bergetar saat memencet ponsel. Rama khawatir melihatnya.
"Lo kenapa, Gi?" tanya Rama lagi.
Gelengan kepala Magi membalas pertanyaannya, Magi lalu menelpon seseorang, tangannya masih gemetar saat mengangkat ponsel itu ke telinganya. Tidak lama suara seseorang terdengar, Rama bisa mendengarnya karena ruangan Lift yang sempit itu.
“Ada apa?"
Rama heran kenapa orang di seberang sana bukan menjawab dengan halo, tapi langsung bertanya ada apa. Magi menarik napas seolah menenangkan diri, ia kemudian mengepal tangan makin keras.
“Aku dapat kotak, itu dari Oma?" tanyanya pelan, suaranya bahkan lebih bergetar dari pada tangannya.
Tidak ada suara dari seberang sana untuk beberapa saat, dan seiring detik tanpa suara itu, Magi memejamkan mata menunggu. Seolah jawaban sang Oma itu menentukan hidupnya.
"Oma telpon Aska ya? Kamu pulang ke rumah sekarang."
Saat itu setetes air mata jatuh dari balik kelopak mata Magi yang terpejam, ia tidak membuka matanya saat ia mengangguk, seolah orang di seberang sana bisa melihatnya. Jawaban itu padahal sama sekali tidak menyedihkan, sekarang Rama bertanya-tanya apa isi kotak itu.
"Kamu sama siapa?"
"Sama teman."
"Minta dia anterin kamu, Oma telpon Aska dulu, hati-hati."
"Iya, Oma."
Magi menurunkan ponselnya, ia mundur bersandar ke dinding. Ditatapnya Rama dengan mata merah, ia mengulurkan tangannya pada Rama yang langsung digenggam laki-laki itu.
"Peluk gue dong," bisik Magi lemah.
Rama tidak mengatakan apa-apa, ia meraih perempuan itu ke dalam pelukannya dan memeluknya erat. Rama tidak tahu apa yag terjadi, tapi Rama sudah bisa menebak bahwa isi kotak itu sama sekali bukan hal yang bagus.
Magi hanya melihat kotak itu sebentar, bahkan tak membukanya, dan perempuan ini sudah begitu ketakutannya sampai seluruh tubuhnya gemetar.
Mereka masih saling berpelukan sampai Lift terbuka, Rama menuntun Magi menuju mobilnya, ia mendudukkan Magi di sana tanpa bertanya apa-apa. Ia tidak perlu menanyakan alamat yang dituju Magi, ia tahu jelas rumah yang dimaksud sang Oma di telpon adalah rumah mewah milik keluarga Zalardi.
"Gue anterin masuk?" tanya Rama begitu tiba di pintu gerbang.
Magi menggeleng, ia turun dari mobil dan langsung disambut seorang pria berseragam satpam di sana. Ia langsung membawa Magi masuk ke dalam gerbang besar itu tanpa mengatakan apapun pada Rama, hanya menganggukkan kepala berterimakasih.
Rama masih tinggal di sana beberapa saat, memandangi rumah di balik gerbang itu. Rumah keluarga Zalardi yang belum pernah diinjak Rama seumur hidupnya, Tarendra tidak pernah punya urusan bisnis dengan keluarga Zalardi.
Hanya sekali mereka pernah saling bersinggungan, itupun karena ulah Andru, bukan karena bisnis.
Sekarang selain itu, Rama jadi memikirkan soal kotak hitam yang ada di depan apartemen Magi itu, kotaknya kecil, seperti kotak hadiah ulang tahun. Sayangnya itu pasti bukan hadiah ulang tahun, mana mungkin sebuah hadiah membuat penerimanya setakut itu, sebenarnya apa isi kotak itu?
Rama melajukan mobilnya, ia memutuskan melihatnya sendiri. Ia kembali ke apartemen Magi, berharap kotak itu belum disingkirkan. Rama tahu ia jadi terlalu ikut campur, tapi ia perlu tahu. Begitu pintu Lift yang dinaikinya terbuka, wajah Aska menyambutnya di sana, laki-laki itu membawa kotak hitam di tangannya, mereka saling bertatapan.
"Kenapa lo di sini?" tanya Aska, meski ia tahu Rama akhir-akhir ini menginap di apartemen Magi.
"Gue mau tahu isi kotak itu," jawab Rama langsung, tidak berniat menyembunyikan niatnya
"Lo gak perlu tahu, ini gak ada hubungannya sama lo."
"Bukan lo yang memutuskan."
Aska tertawa mendengar jawaban keras kepala itu, "kalau bukan gue terus siapa? Lo?"
Rama mengepal tangan kesal, ia tidak berkata apa-apa saat Aska ikut masuk ke Lift dan memencet tombol menuju basemen. Kotak itu harus segera disingkirkan, Magi tidak boleh melihat isinya, dan sudah tanggung jawab Aska untuk menyingkirkan kotak itu.
"Kenapa lo deketin Magi?" tanya Aska setelah sekian lama diam.
“Bukan urusan lo,” jawabnya yang membuat Aska tertawa.
"Kalau menurut lo anak itu bisa jadi peluang buat keluarga lo, mending lo lupain. Nyonya besar gue lebih suka hancurin kalian lebih dulu sebelum lo bisa manfaatin anak itu."
"Gak ada hubungannya sama bisnis. Gue gak selicik itu."
"Terus tujuan lo apa?"
"Gak ada hubungannya sama lo."
"Ada, lo juga tahu posisi gue di hidup Magi itu apa."
Rama berdecak kesal, "apa perlu gue jawab lagi? Lo pasti udah tahu."
Iya, Aska sudah tahu. Laki-laki di sampingnya ini jatuh cinta pada satu-satunya perempuan yang paling tidak mungkin ia taklukan dengan nama belakangnya. Dasar bodoh. Aska mengangkat kepalanya menatap nomor-nomor di atas pintu Lift, mereka sudah di lantai satu.
"Gue masih penasaran apa isi kotak itu,l kata Rama saat pintu Lift terbuka.
"Lupain aja rasa penasaran lo, mending lo gak tahu."
"Itu teror kan?"
Aska menghentikan langkahnya, ia menunduk menatap kotak hitam yang sudah berkali-kali ia lihat itu, kotak yang berulang kali harus ia lenyapkan.
Kotak itu selalu sama, tanpa pengirim dan berwarna hitam, isinya juga selalu sama. Pertama kali melihat isinya, Aska memuntahkan seluruh makan siangnya, sejak saat itu Magi tidak diizinkan membukanya. Ia harus menelpon Oma atau Aska tiap kali kotak itu muncul.
Aska berbalik menatap Rama, "gue lagi berbaik hati sama lo, Ram. Orang yang harus nemuin psikiater selama 2 tahun gak akan bisa tahan lihat isinya."
Bola mata Rama membulat sempurna, dari mana Aska tahu Rama harus menjalani terapi selama 2 tahun? Informasi itu ditutupi rapat-rapat agar masa depan Rama tidak terganggu.
Sepertinya Aska tidak bercanda saat mengatakan ia akan dihancurkan duluan jika berani memanfaatkan Magi demi bisnis.
"Anggap aja sebagai rasa terima kasih gue karena lo jaga Magi, dan gue saranin jangan lancang kalau lo gak mau terseret."
Aska benar-benar meninggalkannya setelah itu, Rama masih berdiri di basemen memandangi ruang kosong setelahnya. Ia selalu menganggap hidup Magi dipenuhi banyak misteri dan batasan yang tidak boleh dilewati, tapi ia sama sekali tidak menyangka Aska akan memperingatinya. Sebenarnya ada apa?
***