Part 20

2340 Kata
Sudah pernah Andru katakan, ada yang mengikuti Rama ke mana-mana, bahkan setelah melihat keberadaan Magi di sekitarnya. Herannya, perempuan yang selalu takut pada Magi dan bahkan enggan menampakkan mukanya itu di depan Magi itu, malah berani mengikutinya ke mana-mana. Andru menyandarkan tubuhnya ke tembok sekolah, tangannya bersedekap sembari matanya menatap lurus Revani. Perempuan itu bersembunyi di balik tembok, ia menatap Rama yang sama-sama bersandar di tembok menunggu Magi yang berada di toilet. Apa satu perasaan benar-benar bisa membuat seseorang jadi bodoh ya? "Ngerepotin banget," gumamnya tanpa ekspresi. Memasang senyum ramah nan manisnya, Andru menegakkan tubuhnya. Ia berjalan menuju tempat di mana Revani diam-diam mengamati. Andru benar-benar tidak akan bisa memahami yang namanya perempuan dan perasaan jika melihat Revani. Ia berdiri di samping Revani, ikut membungkuk sedikit dengan kedua tangan di belakang punggung. "Lagi lihatin siapa?" tanya Andru di telinganya. Revani otomatis berjingkat kaget dan langsung menegakkan tubuh, ia tempelkan punggungnya ke tembok, matanya menatap panik Andru. Laki-laki itu tertawa melihat ekspresi panik, kaget, dan takut Revani, padahal Andru hanya bertanya. "An-Andru, kamu ngapain di sini?" "Cuma lewat dan kebetulan lihat lo di sini, lo lagi lihatin siapa?" Andru berpura-pura ingin melihat siapa yang diperhatikan Revani, tapi Revani buru-buru menariknya, takut ketahuan Rama. "Ja-jangan. Aku gak lihatin siapa-siapa." "Masa?" "Beneran, aku cuma mau ke toilet aja." "Oh gitu." Andru memutuskan tidak memperpanjang saat ekor matanya menangkap kepergian Rama dan Magi, Rama tidak boleh tahu apa yang dilakukan Andru. Saat ini Andru sedang melakukan sesuatu yang sedikit berbahaya, kalau Rama tahu, ia terpaksa harus membongkar semua yang ia tahu. "Terus gimana?" tanya Andru. "Maksudnya?" "Lo udah mau suka sama gue gak?" Wajah perempuan itu memerah seperti sebelumnya, ia meremas ujung seragamnya dan mengalihkan tatapan. "Ja-jangan bercanda sama aku." "Siapa bilang gue bercanda? Gue serius kok. Mau engak?" "Aku gak suka sama kamu." Oh? Andru kira perempuan ini tidak akan berani mengatakan itu, melihat seberapa merah wajahnya dan tingkahnya yang gugup. Andru tersenyum geli, kalau saja sang Mama tidak punya rencana pada Magi, Andru tidak ingin repot-repot melakukan ini, tapi apa boleh buat. "Kayaknya emang gak bisa ya, padahal gue gak mau kasar," kata Andru pada dirinya sendiri. "Ya?" Revani menatapnya, sedang tatapan ramah dan senyum manis tadi menghilang dari wajah Andru. Ekspresinya sekarang terlihat datar, tapi matanya menatap Revani seperti Revani adalah manusia paling tak tahu diri. "Lo beneran suka abang gue ya?" Sebenarnya tanpa perlu menanyakannya sekalipun. Andru sudah bisa melihatnya dengan jelas di mata perempuan dihadapannya ini, tapi Andru perlu mendengarnya langsung untuk bisa mulai menjalankan rencana di dalam kepalanya. Jawaban perempuan itu akan menjawab semua ketakutan Andru akhir-akhir ini. "I-iya." Sebenarnya Revani juga tak punya kewajiban menjawab pertanyaan itu, tapi dengan pikiran bahwa mungkin saja ia bisa membawa Andru berada di pihaknya membuatnya menjawab pertanyaan itu. Pemikiran bahwa ia akan bisa mendapatkan hati Rama sekaligus mungkin menyingkirkan Magi membuatnya melupakan semua kemungkinan buruk yang ada. "Aku suka sama Rama," sambungnya malu-malu. Egois? Revani tidak akan keberatan disebut seperti itu selama ia bisa mendapatkan Rama, bukankah ia masih punya kesempatan selama Rama masih bertepuk sebelah tangan? Selama Magi tidak menghargai keberadaan Rama di sekitarnya dan selama Magi masih membenci Rama. Revani yakin ia akan bisa membuat Rama melihatnya dan memilih bersama dengannya. "Lo yakin sama apa yang barusan lo bilang?" tanya Andru dengan alis terangkat sinis. "Seratus persen," jawabnya yakin. Andru menarik napas dramatis, lalu ia menyandarkan punggungnya ke tembok toilet. Ia tahu sikapnya akhir-akhir ini akan membuat Magi dan Rama salah paham padanya, tapi Andru benar-benar harus melakukannya. "Rama gak suka sama lo, dia suka sama Magi, lo tahu kan?" kata Andru datar. "Tahu, tapi setahu aku Rama bertepuk sebelah tangan, Magi selamanya cuma bakal suka sama Kak Aska, Rama cuma buang-buang waktu dan aku mau nyadarin dia, aku gak akan sia-siain waktu dia." Andru mengusap wajah, ia sekarang paham bagaimana rumitnya mahluk bernama perempuan. Ada banyak laki-laki di dunia dan mereka repot-repot memperebutkan satu orang yang sama, bukankah itu hanya membuang-buang waktu dan menyakitkan? "Lo gak tahu apa-apa," Andru menatap Revani rendah, “jangan mutusin dari apa yang cuma lo lihat di depan aja." "Aku tahu kok, lama-lama Rama bakal menyerah sama Magi karena Magi gak pernah hargai dia, Magi yang selalu kasar-" "Apa lo juga tahu kalau Rama udah pernah bawa Magi ke rumah?" Revani melebarkan matanya terkejut dan Andru tersenyum dingin, "lo juga tahu kalau Rama selalu nginap di apartemen Magi?" Revani nyaris berhenti bernapas mendengarnya, ia menatap Andru yang menatapnya seolah Revani adalah mahluk paling pantas dikasihani. Tidak ada kebohongan di mata itu dan Revani merasa dadanya sesak, ia mengepal tangannya kuat. Saat ini yang berkecamuk di kepala Revani adalah bagaimana mungkin Rama yang selalu membelanya itu tidak menaruh perasaan padanya dan malah menyukai Magi. Apa karena laki-laki itu tahu bahwa penyebab Magi dipukuli waktu itu adalah dirinya? Apa Rama berubah setelah tahu dirinya dan Magi bersaudara? "Apapun yang lo pikirin sekarang tentang Rama, gue yakin lo salah." "Tapi Rama selalu belain aku, gak mungkin dia bakal suka sama pembully," katanya keras kepala dengan setengah berteriak. "Sejak awal Rama belain lo bukan karena dia suka sama lo, dia cuma gak suka bullying, lo terlalu percaya diri." "Gak mungkin, kamu pasti salah paham." "Lagipula yang Bully lo itu bukan Magi." "Tapi dia juga gak pernah nolongin aku meski dia lihat aku dibully!” "Buat apa? Lo merasa pantas ditolongin?" Mulut Revani terkatup rapat saat pertanyaan kasar itu terlontar, Revani punya jawabannya, tapi ia tak berani mengatakannya. Mana mungkin ia merasa pantas ditolong oleh Magi, karena itu meski Magi melihatnya waktu itu, Revani tidak berani membuka mulutnya untuk meminta tolong. Andru menarik napas panjang dengan muak, kenapa ada seseorang yang sekeras kepala ini? Apa ia tidak bisa melihat bagaimana Rama berusaha keras membuat Magi jatuh cinta padanya? "Apa yang bikin lo sepercaya diri itu, Revani?" tanya Andru heran. Revani menggigiti kuku ibu jarinya dengan mata cemas. "Rama itu pangeran yang dikirim buat aku, aku yakin." "Jangan bikin dongeng sendiri deh." "Ka-kalau gitu aku cuma perlu ngebuat Rama jadi punya aku.9 Mata Andru berkilat marah pada perempuan itu yang masih menggigiti kukunya dan menatap lantai dengan cemas. Andru tidak percaya ia akan benar-benar melihat manusia sekotor perempuan di depannya itu, bagaimana bisa ia masih seegois itu setelah semua yang ia lakukan pada Magi. "Lo masih berani ngomong gitu setelah yang lo lakuin 6 tahun lalu?" desis Andru geram. Revani tercekat dan menatap Andru tidak percaya, dia mundur selangkah dengan gemetar. "Ka-kamu bicara apa?" "Gue gak percaya gue bakal pernah ketemu manusia sekotor lo, setelah ngerebut semuanya dari saudara lo sendiri, lo masih bisa seegois ini." "Ke-kenapa bisa-?" "Lo pikir lo bakal bisa selamanya bertingkah suci di depan orang-orang?" "Gak! Kamu gak boleh bicara apapun soal itu!" Revani membentak keras, ia mengcekram kerah seragam Andru dan menatap laki-laki itu setengah takut dan setengah mengancam. "Lo boleh ngelakuin segala cara buat nutup mulut gue, seperti cara lo nutup mulut orang-orang soal kejadian 6 tahun yang lalu, tapi lo perlu tahu gue bakal selalu punya cara buat hancurin seseorang yang coba ganggu Rama," Andru tersenyum tipis dan menundukkan kepalanya mengancam, "termasuk hancurin lo kalau itu perlu," sambung Andru datar. Seolah ia baru saja tidak sedang mengancam, Revani melepaskan seragam Andru dengan takut, matanya sekarang sempurna menyorot takut. Hal itulah yang paling diinginkan Andru, membuatnya terus takut dan terdesak sampai ia menyerah dan melupakan Rama. "Ingat baik-baik apa yang lo dengar hari ini, Revani." Andru menepuk kepala perempuan itu sebelum meninggalkannya sendirian, ia berharap Revani akan cukup waras untuk mengerti maksud Andru, sayangnya Revani tidak berpikiran sama. Revani menatap sepatunya yang mahal dan mengepal tangan dengan marah sekaligus takut, ia tahu sekali Andru melakukan itu bukan hanya untuk Rama, laki-laki itu pasti mengancamnya untuk Magi juga. Kenapa semua orang selalu berpihak pada Magi? "Magi sudah punya semuanya, kenapa kalian selalu bela dia?" gumamnya dengan mata menyala marah. Ia marah pada semua yang terjadi untuk Magi, selalu saja perempuan itu lebih beruntung darinya. Ia berlari masuk ke gedung sekolah, dan berharap melupakan apapun yang terjadi pagi ini, tapi sampai bel pulang berbunyi, bahkan sampai kakinya menginjak teras rumahnya, ia tidak bisa lupa saat Andru mengancamnya. Kejadian enam tahun yang lalu itu masih diingat Revani dengan jelas. Ia tahu apa yang dilakukannya enam tahun yang lalu tentu saja sesuatu yang tak bisa di maafkan, keegoisannya mengubah hidup Magi. "Kenapa sayang?" tanya Maminya saat Revani duduk di sofa dengan lemas. "Mi, kalo Mami suka sama cowok tapi dia sukanya sama cewek lain, Mami mundur gak?" Mami menatap Revani, ia memandangi anaknya itu sebentar dan tersenyum, ia paham diumurnya yang sekarang sudah waktunya anak perempuannya itu jatuh cinta. "Mami bakal mundur kalau cowok itu minta Mami mundur, dia minta kamu mundur?" tanya Mami menyimpan majalahnya dan menatap Revani sungguh-sungguh. Revani segera menggeleng. Rama tidak pernah menyuruhnya mundur karena laki-laki itu tidak tahu apa yang dirasakan Revani, atau mungkin justru Rama sekarang membencinya setelah semua yang terjadi. "Dia gak tahu kalau aku suka dia." "Perasaan itu gak bisa dipaksakan, Vani. Kamu boleh berjuang selama itu gak mengganggu hidup cowok itu, tapi ingat selalu, jangan pernah kamu egois dan menyakiti orang lain." "Tapi itu artinya aku gak salah kan kalau memperjuangkan cowok itu?" Adelia Januardi mengusap lembut rambut anaknya itu, "memperjuangkan orang yang kamu sayang gak pernah salah, Vani." Revani tersenyum lebar. Ia tidak terlalu peduli dengan ucapan Mami yang lain, pada intinya Mami bilang ia tidak salah jika memperjuangkan orang yang disayanginya, itu saja sudah cukup. Revani mengecup pipi Maminya dan beranjak ke tangga, ia sudah memantapkan niatnya, sekali lagi ia akan bersikap egois dan memperjuangkan Rama. Di waktu yang sama Magi sedang berbaring di kasurnya sepulang sekolah, menatap langit-langit dengan merenung. Ia menyadari akhir-akhir ini banyak perubahan terjadi dalam hidupnya hanya karena kehadiran seseorang, tapi apa itu benar-benar cukup untuk membuatnya membuka hati dan menghapus semua perasaannya pada Aska? Rama baru saja pulang setelah mengantarnya. Laki-laki itu tidak pernah membicarakan apa-apa lagi tentang pernyataan cintanya, dan itu hanya membuat Magi bimbang apa laki-laki itu serius pada pernyataan cintanya sendiri. Magi jadi curiga laki-laki itu hanya main-main. "Dasar beban pikiran," gumamnya kesal. Ia melepaskan dua kancing teratas kemejanya, bermaksud akan mandi saat tiba-tiba ponselnya yang jarang menerima telpon berbunyi, ada telpon masuk dari orang yang baru saja dipikirkannya. Magi berdecak kesal. "Bisa-bisanya dia tahu kalau gue lagi mikirin dia," gerutunya sambil menggeser tombol hijau, "Apa? Lo kangen?" kata Magi sinis. "Magi ya?" Magi menjatuhkan ponselnya dengan kaget, ia menatap ponsel pintarnya itu seolah itu adalah hantu mengerikan. Suara yang menjawabnya tadi jelas-jelas suara perempuan, padahal Magi yakin sekali nama Setan Jangkung yang tertulis di sana. "Halo Magi? Kamu masih di sana?" Suara samar-samar dari ponselnya terdengar. Magi mengambil lagi ponselnya dengan tangan gemetar, ia meletakkannya di telinganya dengan mata menyorot panik. "Iya, ini siapa? Bukannya ini nomornya Rama ya?" "Ah maaf,” terdengar suara batuk mencurigakan di seberang sana, “saya pacarnya Rama, saya mau bilang sama kamu, tolong jangan genit ke pacar saya ya, saya cemburu melihat kamu." Magi sebenarnya curiga dengan cara bicara yang formal itu, ia sepertinya mengingat seseorang yang punya cara bicara aneh itu, tapi ia terlalu kesal mendengar apa yang dibicarakan perempuan itu untuk bisa mengingat dengan jelas. Ia melirik kesal ponselnya seolah bisa melihat si penelpon. "Oh yaudah, gue gak bakal nempel-nempel lagi sama pacar lo. Bilangin sama pacar lo itu, jangan nginep di apartemen cewek lain kalau udah punya pacar," jawab Magi dengan nada ketus luar biasa. "Apa? Rama menginap di apartemen kamu? Bagaimana bisa anak itu berkelakuan begitu." "Ya bisalah, makanya kalau punya pacar tuh dijaga, jangan dibiarin asal nyosor bibir orang aja, segala bilang cinta-cinta, emang gue murahan apa mau sama pacar orang." "Nyosor bibir? Anak itu pernah cium kamu?" "Pakai nanya lagi, kayak gak paham aja," Magi memutar bola matanya jengkel, "iya, dia nyium gue, di bibir. Kalau tidur juga meluk gue tuh, gue udah usir dia ya, pacar lo aja genit kek b*****g perempatan kalau lihat duda." Selanjutnya Magi mendengar perempuan itu berteriak marah memanggil Rama. Magi mendengus kesal, ia akan mengingat kejadian ini sampai mati dan membalas Rama. Berani sekali playboy cap kadal itu mempermainkannya, lihat saja bagaimana nanti Magi membuat laki-laki itu menyesal. "Kenapa sih Ma?" Suara Rama yang terdengar itu kemudian membuat Magi langsung berdiri di atas kasurnya dan nyaris melempar ponselnya. Ma? Mama? Mamanya Rama? Mampus. Magi menggigiti kuku jarinya sambil mendengarkan Mamanya Rama sedang memarahi Rama. Magi mendengar wanita itu mengatakan pada Rama bahwa seharusnya ia tidak macam-macam pada Magi sebelum menikah, yang mana membuat Magi berkeringat dingin dan mengutuk dirinya sendiri yang sudah mengatakan semuanya pada Mamanya Rama. "Halo Magi?" panggil suara dari ponselnya. "Eh iya Tante?" jawab Magi sopan sambil sedikit menundukkan kepalanya seolah Mamanya Rama ada di depannya. "Lain kali kamu seharusnya menolak jika anak saya macam-macam denganmu, tendang saja dia-" "Dia udah pernah nendang Rama, Ma." "Diam kamu!" Mamanya Rama sepertinya sedang melotot sekarang, Magi menarik napas dengan dramatis saat membayangkannya. Pantas saja ia seperti mengenal cara bicara yang formal itu, siapa lagi yang berbicara begitu formalnya selain Mamanya Rama. "Magi, besok datang ke rumah ya? Biar Rama yang jemput." Saat mendengarnya, Magi rasanya ingin pergi ke Merapi dan menceburkan dirinya di sana agar tidak perlu menemui Mamanya Rama. Ia bahkan tidak sanggup menutup matanya saat malam tiba dan nyaris gila paginya, sayangnya Rama benar-benar datang menjemputnya. "Gue alasan sakit aja kali ya, Ram? Biar gak usah pergi," katanya sambil memegangi seatbealt-nya dengan tegang. "Lo kan udah pernah ketemu Mama." “Ya kan Beda!" bentak Magi sambil menoleh jengkel pada Rama yang menyetir, "waktu itu kan gue belum ngasih tahu Mama lo soal apa yang udah lo lakuin." "Emang apa yang gue lakuin?" "Gak usah pura-pura!" Magi membentak jengkel lagi dan Rama tertawa. "Mama gue gak akan makan lo, Magi." "Siapa tahu kan?" "Keluarga gue gak ada yang kanibal." "Tetap aja horor," rengek Magi sambil mengcekram seatbealt-nya kuat-kuat. "Gue gak akan ninggalin lo, tenang aja." "Janji ya lo," Magi memegang lengan Rama sekarang, seolah takut laki-laki itu berbohong, "awas aja lo bohong, gue tumbalin ke dukun pesugihan lo." "Iya, bawel." Magi mengangguk-angguk puas, tapi ia masih merengek sepanjang jalan dan Rama hanya menanggapinya dengan senyum kesal. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN