Part 21

1276 Kata
Tidak seperti dugaan Magi, keluarga Rama bukan orang yang seperti di cerita kebanyakan, tentang keluarga konglomerat yang terlalu mengagungkan etika dan t***k bengeknya. Magi sempat takut karena Mamanya Rama berbicara dengan formal sekali, meski ia sudah pernah bertemu Mama Rama saat kerja kelompok, tapi saat itu kan Magi datang sebagai teman Rama, ya sekarang juga datang sebagai teman sih. "Tambah lagi, Magi," kata Mamanya Rama yang baru Magi ketahui namanya Rana. Rana menceritakan bahwa dia ingin anak perempuan dan ingin menamai anaknya dengan namanya sendiri, tapi yang terlahir malah laki-laki, karena itu ia menamainya Rama. "Gak apa-apa, Tante, segini aja cukup." "Jangan malu-malu, anak muda. Kamu harus makan banyak untuk bisa mengerti anak Papa yang satu itu." Itu Papanya Rama, pria tua yang masih tampak menawan di usianya yang menginjak kepala empat itu meminta Magi memanggilnya Papa yang tentu saja ditolak Magi. Ia tidak akan pernah memanggilnya Papa meski Tarendra memaksanya, untungnya Tarendra yang mengaku masih berjiwa muda itu tidak memaksa Magi lebih jauh. "Gak usah lebay, Pa," gerutu Rama, ia sejak tadi tersisihkan oleh keberadaan Magi. Keluarganya yang sangat mendambakan anak perempuan itu tentu saja sangat senang dengan keberadaan Magi di dalam keluarga mereka, karena itu keberadaan Rama jadi tidak kasat mata di mata mereka. "Kamu ini makin hari makin gak sopan sama Papa ya," gerutu Tarendra sedih, ia kemudian menatap Magi, "Papa heran kenapa kamu mau-maunya dekat sama Rama, padahal Andru dua ratus kali lipat lebih keren dari pada Rama." "Terlanjur dipelet Abang, Pa," celetuk Andru yang disambut gelak tawa Tarendra. Rama mendengus jengkel, karena inilah ia tidak mau membawa Magi ke rumah jika Tarendra ada di rumah, Papanya itu pasti tidak akan membiarkannya tenang. Rama menatap Magi yang sedang tertawa canggung sambil menatap Andru, Rama makin kesal melihatnya, ia tiba-tiba ingin mengcekik Papanya. "Kalau Papa jodohin kamu sama Andru, mau gak?" "Papa!" protes Rama kesal. Tarendra terbahak keras, tingkahnya itu benar-benar tidak seperti orang-orang kelas atas. Magi tersenyum melihatnya, setidaknya ia tahu Tarendra adalah Papa yang baik, tidak seperti Papanya sendiri. "Lain waktu kamu yang menginap di sini, Magi. Jangan Rama yang ke apartemen kamu, tidak baik membiarkan laki-laki dan perempuan berduaan, Tante tidak mau Rama melakukan hal tidak-tidak kepada kamu." "Iya Tante." Rama makin kesal, kenapa sekarang ia disudutkan seolah sudah melakukan kejahatan paling jahat? Ia meletakkan sendok dan garpunya dengan kesal, dan buru-buru meminum airnya. Magi menatapnya bingung dengan sisa-sisa senyum di sudut bibirnya. Rama berjalan ke samping Magi dan menarik perempuan itu berdiri. "Ayo." "Eh mau kemana kamu? Magi belum selesai makan," tegur Rana menatap putra sulungnya yang menarik Magi. "Mau ena-ena." "Rama!" Magi tertawa mendengar percakapan itu sambil tangannya ditarik Rama. Ia tanpa sadar mengikuti ke mana Rama menariknya, lalu terkejut saat mendengar suara pintu dihentak tertutup dan gemerincing kunci. Saat itu ia baru sadar dan menatap sekelilingnya yang adalah sebuah kamar. "Ini kamar siapa?" tanya Magi masih memperhatikan seisi kamar itu "Kamar gue." Magi langsung menoleh kaget, ia jadi gugup menyadari hanya ada dirinya dan Rama berduaan di ruangan itu. Magi diam-diam berdoa agar otak Rama sedang dalam keadaan lurus. "Kenapa ekspresi lo gitu?" tanya Rama sambil sebelah tangannya terjulur memeluk pinggang Magi. "Akh!" teriak Magi kaget. Ia melompat ke samping dengan refleks dan kakinya menabrak laci di samping kasur. Lampu tidur dan gelas yang berada di atasnya jatuh ke lantai dan Magi nyaris menginjaknya kalau saja Rama tidak buru-buru menarik pinggangnya, lalu mengangkatnya seolah Magi hanya bantal kapuk. "Nginjek beling gak bakal bikin lo mati," gumam Rama di telinga Magi dan membuat Magi merinding karena napas Rama mengenai cuping telinganya, apalagi saat ini ia masih berada di dekapan Rama. "Gu-gue gak mau bunuh diri." "Terus kenapa lo lihatin Andru di meja makan kalau bukan mau bunuh diri?" Hah? Apa maksunya itu? Rama cemburu? Magi harusnya terbahak keras menertawai Rama, tapi ia terlalu gugup dan suaranya jadi menciut. "Ehm, bisa turunin gue dulu?" bisik Magi hampir tak terdengar. "Jangan natap cowok lain selain gue lagi." Magi ingin menjawab bahwa Rama tidak punya hak mengatur hidupnya, tapi ia memilih menutup mulutnya dan mengangguk. Rama lalu melepaskannya dan menariknya menuju kasur, ia mendorong pelan Magi agar duduk di atas kasur. Tunggu di sini, jangan buka pintunya meski Mama atau Papa gue yang minta, paham?" "Kenapa-" "Paham kan?" Magi mencebikkan bibirnya saat Rama memotong ucapannya, tapi tidak punya pilihan selain menurut. "Iya, tapi lo mau ke mana?" "Tunggu aja." Magi menekuk wajahnya sekarang, "tapi jangan lama." "Iya, tunggu." Magi mengangguk dan membiarkan Rama pergi. Ia memperhatikan kamar yang ada bendera berlambang logo salah satu klub sepak bola, ada konsol game dan TV layar datar juga sebuah sofa panjang, kamar Rama lebih rapi dan teratur dari pada kamar Magi. Beberapa saat kemudian Rama masuk kembali dengan segelas air dan sapu beserta sekop sampah. "Minum dulu, lo belum minum kan?" katanya menyerahkan gelas bening berisi air itu pada Magi. "Salah siapa gue gak minum," gerutu Magi dan meminum airnya. "Habisin." Magi memutar bola matanya, tapi tetap menuruti perintah Rama. Laki-laki itu kemudian sibuk membersihkan kekacauan yang diperbuat Magi, setelahnya ia ikut duduk di samping Magi yang sudah selesai minum dan masih memegangi gelas kosongnya. "Gue udah boleh pulang gak sih, Ram?" tanya Magi memutar-mutar gelas di tangannya. "Kenapa? Ada yang nyariin lo di apartemen?" "Ngadi-ngadi lo anjir." Rama tertawa, ia membaringkan tubuhnya ke kasur dengan kaki menjuntai ke lantai. "Baru kali ini gue bawa cewek ke kamar gue," katanya tanpa menatap Magi yang memiringkan tubuhnya dan menjejalkan sebelah tangannya ke kasur agar bisa menatap Rama. "Sania dulu gak pernah?" tanya Magi mengingat Rama dulu suka pada Sania. "Enggak." "Kenapa? Lo masih pecundang dulu?" Rama melirik perempuan itu yang selalu mencari kesempatan menghinanya. "Iya, gue gak berani bicara soal perasaan gue ke Sania." "Masa sih? Kalau lihat lo sekarang yang gak ada malunya kok gue gak percaya." "Beda," Rama tersenyum sambil menatap Magi, "sekarang gue lebih takut orang lain lebih dulu minta lo sebelum gue." "Minta apa?" Rama meraih tangan Magi yang menjejal ke kasur dan menariknya hingga Magi terjatuh ke kasur, perempuan itu menjerit protes. "Rama!" Rama tertawa dan menahan Magi saat ia ingin bangun dengan cara menindih kaki Magi dengan kakinya. "Lo ngapain sih, b**o?!" teriak Magi berusaha bangun sambil menjaga gelas yang dipegangnya tidak pecah. "Jadi pacar gue ya?" Magi langsung berhenti berusaha bangun dari kasur dan menatap Rama terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka Rama akan memintanya dengan cara paling aneh seperti ini, di atas kasur dengan kedua kakinya ditindih Rama dan gelas bekas minum di tangan kirinya. "Lo gak-" "Gue serius." Mata Rama menyorot serius meski bibirnya tersenyum, ada sinar gugup dan cemas di sana yang berusaha ditutupi. Magi tidak tahu harus menjawab apa, ia sama sekali tidak yakin dengan perasaannya sendiri, dan ia akan sangat jahat jika menjawab pertanyaan itu saat perasaannya sendiri belum pasti. "Lo masih suka Aska ya?" tanya Rama mengulurkan tangannya memperbaiki rambut Magi yang berantakan. Magi terdiam lama sambil menundukkan pandangannya, ia sungguh-sungguh memikirkan jawaban dari pertanyaan Rama itu. "Gue gak tahu," gumam Magi menunduk. Rama menghela napas. "Lo gak harus jawab sekarang, gue bisa nunggu." "Rama ." "Sebanyak yang lo mau, gue bisa nunggu. Walau gue bukan orang yang sabar." Rama tidak akan pernah memaksa Magi menjawab sekarang. Ia tidak akan mau mendengar penolakan, karena itu Rama akan menunggu sambil diam-diam membuat Magi jatuh cinta. Seperti apa yang barusan ia katakan, Rama bukan orang yang sabar yang hanya akan menunggu. Rama meraup pipi Magi dan memaksa perempuan itu menatap matanya. Saat Magi menatap netra hitam yang hangat itu, ia seolah tidak ingin melepaskan matanya dari sana. Rama menarik napas dengan senyum tipis, ia menekan lembut bibirnya pada kening Magi dan Magi menginginkan dunia berhenti untuk sebentar saja. "Jatuh cinta sama gue, Magi." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN