Moci dan Mori dibawa Ram pulang hari ini. Magi bilang ia akan menginap di rumah Oma malam ini, dan tidak akan ada yang mengurus kedua anabulnya itu, jadi ia meminta Rama membawanya pulang.
Rama membuka pintu kandang saat sampai di rumah, membiarkan 2 ekor kucing jenis persia itu berlari menyusuri rumah.
“Rama."
Rama masih tersenyum menatap kedua anabulnya yang berlarian itu saat Tarendra memanggilnya, Ayahnya itu sedang duduk di sofa. Tarendra memang tidak kembali lagi ke kantor setelah makan siang bersama Magi tadi, ia malah duduk dengan kertas-kertas kerjaan dan secangkir kopi.
"Papa mau bicara," kata Tarendra sambil menepuk-nepuk sofa di sampingnya.
"Bentar."
Rama melepaskan sendalnya, lalu menghampiri Tarendra. Ia duduk di sofa depan Tarendra dan meletakkan kunci mobilnya ke meja.
"Kenapa Pa?" tanya Rama akhirnya.
Tarendra terdiam sebentar sebelum menghela napas, ia menatap Rama dengan tatapan serius. "Kamu benar-benar serius sama Magi?"
Kening Rama berkerut tidak nyaman mendengar pertanyaan itu. "Kenapa Papa nanyain soal itu?"
"Papa cuma nanya, Rama. Kamu serius sama anak itu?"
"Aku gak pernah main-main kalau mendekati perempuan, Pa. Papa tahu sendiri kan?"
Helaan napas Tarendra kali ini terdengar lebih berat dari sebelumnya, ia memijat pangkal hidungnya. Hal itu membuat Rama mengerutkan kening makin dalam, tidak biasanya Papanya seperti itu.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Rama serius.
"Begini," Tarendra menautkan jemarinya dan menumpukan tangannya ke paha, "Papa akan mengembangkan produk obat herbal baru bersama orang yang kamu temui di perusahaan waktu itu."
"Terus?"
"Om Hardian itu yang akan menyuplai bahan baku utamanya, Papa tidak bisa kehilangan dia, kamu paham kan?"
"Kenapa Papa ngomongin ini sama Rama?"
Tatapan Tarendra berubah lebih gelap sekarang dan Rama merasa ada yang salah. "Kamu tahu Papa tidak akan memaksa kamu masuk ke dalam dunia bisnis kalau kamu tidak mau, tapi kali ini Papa merasa ini pilihan yang bagus-"
"Rama gak merasa apapun yang Papa ingin katakan akan terdengar bagus," potong Rama, entah kenapa pembicaraan Tarendra ini membuatnya tidak nyaman.
Saat itu Tarendra sadar, ia sudah tidak boleh bertele-tele. Bukan gaya Tarendra untuk bertele-tele seperti ini, tapi melihat bagaimana Rama memperlakukan Magi, Tarendra merasa sulit sekali membicarakan ini. Ia menghela napas sekali lagi.
"Hardian ingin perjodohan."
Benar seperti dugaan Rama, kalimat Tarendra barusan sama sekali tidak bagus didengar. Ia berdiri dari sofa, tangannya terkepal dan ia menatap kesal Papanya.
"Aku sudah bilang aku serius sama Magi, artinya aku gak akan mau ikut dalam urusan perjodohan dengan siapapun itu.l
"Rama."
"Gimana bisa Papa mau bekerja sama dengan orang yang mukul anaknya sendiri."
"Bicara apa kamu Rama?"
"Aku gak mau dengar apapun lagi soal ini."
Rama meninggalkan Tarendra di belakangnya tanpa mau mendengarkan apa-apa lagi. Sebenarnya sepicik apa manusia bernama Hardian itu, Tarendra yang selalu berkata tidak akan melibatkan anak-anaknya dalam urusan bisnis, sampai berniat menjodohkan Rama hanya karena satu proyek bersama. Rama sungguh tidak paham.
"Kenapa lo Bang?"
Andru yang baru saja keluar dari dapur menatapnya heran, laki-laki itu membawa satu botol minuman jeruk di tangannya. Rama meliriknya sebentar, lalu melanjutkan langkahnya menuju tangga.
"Ambilin gue satu yang kayak gitu dan ikut gue ke kamar," kata Rama tidak memberikan Andru kesempatan untuk menolak.
Andru mengerutkan keningnya sambil matanya mengikuti ke mana Rama pergi. Ia kemudian mengedikkan bahu menyerah dan berbalik ke dapur lagi, mengambilkan minuman jeruk untuk Rama dan setoples cookies, lalu menyusul Kakaknya ke kamar.
Rama sedang berbaring telentang dengan kaki menjuntai saat Andru masuk, saudara satu-satunya itu terlihat banyak pikiran sekarang.
"Kenapa lo?" tanya Andru sambil meletakkan minuman pesanan Rama ke samping laki-laki itu.
Rama bangun dari posisi berbaringnya dan membuka miumannya. Ia meneguknya sampai tersisa setengah, lalu menatap Andru dengan kening berkerut.
"Papa mau jodohin gue-"
"Gila!"
Rama memutar bola matanya mendengar teriakan kaget Andru. Tentu saja Andru akan kaget, selama ini Tarendra tidak pernah sekalipun mengganggu anak-anaknya untuk urusan bisnis, entah kenapa Papanya itu sekarang berubah pikiran.
"Sama siapa?" tanya Andru lagi sambil duduk di karpet, ia menatap Rama penasaran.
"Kayaknya Revani."
"Wah gila!"
"Gak usah teriak," tegur Rama kesal, dan Andru membalasnya dengan cengiran.
"Terus gimana?"
"Gak ada terusannya, gue tolak."
Andru mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, ia mencomot cookies dari toples dan memakannya. Andru jadi merasa sesuatu yang besar akan terjadi sebentar lagi, tapi ia tidak tahu apa, yang jelas ini sama sekali bukan hal yang bagus.
"Gak biasanya Papa begini," gumam Rama meletakkan botol minuman jeruk itu ke lantai, lalu kembali merebahkan dirinya ke kasur.
"Menurut gue juga aneh sih Bang, Papa kan bukan orang kayak gitu ya."
"Cari tahu sana."
"Cari tahu apa?"
"Semuanya, sekalian awasin Revani sama Bapaknya."
Andru mendesah lesu, sepertinya ia harus libur dari sekolah lagi kali ini. Mencari tahu latar belakang seseorang dan mengawasi seseorang itu jelas dua hal yang berbeda, Andru tidak suka mengawasi keluarga itu.
"Gue cuma bisa awasin Bapaknya, Revani paling ada di sekolah, lo awasin lah, Bang."
"Atur aja."
Andru mengangkat jempolnya tanda ia setuju, meskipun Rama tidak akan melihatnya, selanjutnya Andru mengangkat toples cookies-nya dan keluar dari kamar Rama. Ia harus mulai mengatur bagaimana ia akan mengawasi Hardian sekarang.
***
Ada beberapa hal yang sebenarnya Abian pikir Magi sembunyikan darinya, tapi ketidak hadirannya selama dua bulan di sekitar Magi membuat Abian kesulitan menebak. Apalagi tiba-tiba sepupu perempuannya itu jadi dekat dengan dua bersaudara Adhiyaksa, Abian merasa semakin sulit mengikuti apapun yang dilakukan Magi.
"Bagaimana mereka bisa ketemu?" tanya Abian pada laki-laki yang sedang memegang Stick billiar.
"Siapa?" tanyanya balik sambil fokus membidik bola putih di atas meja hijau.
"Magi sama Rama."
Bolanya meleset, laki-laki itu menoleh menatap Abian dengan ekspresi terganggu.
"Gue kira kita sepakat buat gak ngomongin ini lagi sampai Nyonya besar balik."
"Gue gak minta full informasi dari lo, gue cuma mau tahu gimana bisa mereka ketemu."
"Dan kenapa lo harus tahu?"
Abian berdiri dari tempatnya dan meraih Stick miliknya yang ia sandarkan di meja billiar, ia menggosokkan Chalk ke ujung Stick miliknya.
"Gue cuma mau tahu aja." Ia mendorong Stick ke bola putih di atas meja.
"Kalau gitu gue gak ada kewajiban ngasih tahu lo."
Abian tertawa sambil melirik laki-laki yang lebih tua darinya itu. "Dasar anjingnya Nyonya Besar," ejeknya tidak sungguh-sungguh.
"Berisik."
Abian tersenyum sambil fokus membidik bola putih. Ia sudah tahu sejak awal tak akan mendapatkan informasi apapun dari mulut laki-laki ini, Abian hanya suka melihatnya terganggu. Lagipula sebentar lagi Sang Nyonya besar akan pulang, Abian akan tahu semuanya cepat atau lambat.
***