Part 23

1412 Kata
Jam terakhir pelajaran hari ini adalah ekonomi dan materinya adalah jurnal umum, Magi tidak suka gurunya yang bukannya mengajar dengan benar, malah menceritakan kehidupan sehari-harinya. "Mau langsung pulang?" tanya Rama saat Magi memasukkan bukunya ke dalam tas. "Emang lo mau ke mana lagi?" Rama terlihat berpikir sebentar, "mau gue ajakin makan malam romantis?" "Bahasa lo anjir, najis." Rama tertawa melihat ekspresi jijik Magi, lalu ia mengikuti Magi yang menyeret tasnya keluar kelas. "Kita beli makanan dulu sebelum pulang, lo mau makan apa?" "Daging, gue butuh nutrisi. Otak gue rasanya terbakar tahu gak," gerutu Magi sambil memasang wajah cemberut. “All you can eat aja?" "Lo yang bayar kannn?” "Gue baru sekali ini lihat ada keturunan Zalardi, tapi selalu ngemis dibayarin." "Perhitungan banget lo anying, duit lo juga banyak, duit gak dibawa mati Ram, pelit lo." Perempuan itu mulai mengomel tidak jelas, padahal selama ini Rama-lah yang selalu membayar semuanya untuk Magi. "Iya gue yang bayar, jangan bawel." Rama menekan tombol unlock di kunci mobilnya dan membiarkan Magi masuk ke dalam mobil, kemudian ia ikut masuk ke kursi kemudi. "Parfum mobil lo ganti ya?" tanya Magi sambil mengendus-endus aroma parfum mobil Rama yang berbau lebih feminim sekarang, "bau cewek anjir, lo abis bawa cewek di mobil lo ya?" Rama menghela napas sambil menyalakan mobil. "Lo tadi pagi protes mobil gue bau cowok banget, makanya lo semprot parfum lo," jelas Rama sabar. "Masa? Kok gue lupa dah." "Maklum, udah tua." "Mulut lo tuh gak tenang kalau sehari aja gak cari gara-gara sama gue hah?!" Magi memelototi Rama dengan kesal. Padahal yang cari gara-gara duluan adalah dirinya sendiri, tapi perempuan itu malah menyalahkan orang lain. Rama menarik napas dengan sabar. "Mau beli es krim gak?" Rama mengalihkan pembicaraan sebelum perempuan di sampingnya ini mulai berulah lagi. "Lo yang beliin?" Sekali lagi Rama menahan dirinya untuk tidak kehilangan kesabarannya dan menjawab, "iya, gue yang bayar." "Gitu dong, lo harus baik-baik sama orang teraniaya kayak gue." Magi menepuk-nepuk bahu Rama seolah ia adalah Ibu yang bangga pada anaknya. Rama mengabaikannya sampai mobilnya berhenti di depan sebuah minimarket, Magi lebih dulu melompat turun tanpa menunggu Rama. Kadang Rama berpikir bagaimana jadinya kalau ia meninggalkan perempuan itu di saat seperti ini, apa yang akan dilakukan Magi? "Ram Ram, lo mau apa?" tanya Magi saat melihat Rama berjalan masuk, seolah ia yang akan membayar. "Lo ambil aja, gue mau ke sana bentar." Rama menunjuk bagian kulkas minuman dan Magi mengangguk-angguk. "Hati-hati, kalau ada yang nawarin permen jangan diambil." "Bawel lo." Rama menoyor kepala Magi sebelum meninggalkan perempuan itu yang menggerutu di belakangnya. "KDRT mulu anjir tuh orang," gerutu Magi sambil kembali memfokuskan matanya pada Box es krim. Rama kembali tidak lama kemudian membawa sebotol air mineral dan satu pack minuman fermentasi. Magi masih sibuk menentukan antara ingin membeli es krim corn atau stick saat Rama berdiri di sampingnya. "Ambil aja dua-duanya," kata Rama datar. "Ogah, es krimnya mahal." "Bukan lo yang bayar." Magi meliriknya dengan mata mencibir, mentang-mentang orang kaya. Mungkin Magi lupa background keluarganya tidak jauh berbeda dengan Rama. "Yaudah ini aja, sana bayar." Magi mengambil satu box es krim corn mini dan mendorongnya ke d**a Rama dengan kesal. "Yakin ini aja?" "Iyaa bawel, dari tadi ngomong mulu dah." Untuk kesekian kalinya Rama mempertanyakan kenapa ia mau-maunya diperlakukan seperti itu oleh perempuan sinting ini, tapi Rama lagi-lagi mengalah dan berjalan menuju kasir diikuti Magi. "Adeknya ya A?" tanya kasir begitu Rama meletakkan belanjaan di meja. "Kepo," celetuk Magi ketus. Kasir berusia sekitar 30 tahun itu tertawa, mengira Magi hanya bercanda. Rama meliriknya mengancam agar Magi tidak membuka mulutnya lagi. "Maaf Teh," ucap Rama sambil tersenyum sopan. "Ini aja A? Pulsanya gak sekalian? Oreonya lagi promo, beli 2 gratis satu." Sang Kasir meng-scan belanjaan mereka sambil bibirnya juga menawarkan promo. “Jangan banyak tanya, Bapakku satpol pp." “Kalau lo masih berisik, belanjaan lo bayar sendiri," tegur Rama yang mana membuat Magi menutup mulutnya, lalu Rama beralih ke Kasir yang tersenyum canggung, "berapa teh?" Magi masih menutup mulutnya sampai mereka duduk di dalam mobil. Ia memakan es krimnya dengan tenang dan tidak lagi mengganggu Rama, bahkan ketika mereka sampai di restoran All you can eat pilihan Rama. Ia baru membuka mulutnya saat sampai di depan kasir. “Premium Wagyu Buffet ya, buat dua orang." Magi langsung memesan tanpa menunggu Rama bicara. “Jangan seenaknya mesan," tegur Rama mendengar pesanan Magi, ia mengeluarkan dompetnya dari saku untuk membayar. "Kenapa emangnya? Lo gak suka Wagyu? Masa sih gak suka, kampungan." “Mulut lo jaga." “Lah ngatur, mang sapa lo?" Rama menjitak kepalanya, ia mengambil nota dan dua porsi daging Wagyu dari kasir, lalu meninggalkan Magi yang menggerutu di belakangnya. "Sana ambil dagingnya, nanti gue yang ambil buat tom yamnya," suruh Rama sambil meletakkan dua porsi daging Wagyu ke meja. “Dagingnya suka-suka gue ya mau ambil apa, awas aja lo protes." Magi meletakkan tasnya ke kursi dan berbalik menuju tempat daging disediakan tanpa menunggu jawaban Rama. Beberapa saat kemudian Rama sudah sibuk memanggang daging dan Magi sibuk makan. Meski begitu, Rama tidak mengatakan apa-apa sama sekali. Hanya saja Rama jadi bertanya-tanya kenapa perempuan ini terlihat seperti jarang sekali makan daging. "Tom yamnya juga makan, lo cuma makan daging dari tadi," tegur Rama seolah ia Ibunya Magi. "Kan belum masak jamurnya." "Sawinya." "Gak mau anjir, emang gue kambing makan sawi, gila aja lo." "Kambing makannya rumput." "Pokoknya gak mau." Rama berdecak kesal, ia mengambil mangkuk Magi, lalu mengisinya dengan tom yam. Tidak mempedulikan Magi yang melotot padanya. "Gue kan udah bilang gak mau," omel Magi sambil meletakkan sumpitnya, mulutnya masih mengunyah Beef bacon. "Lo di apartemen juga cuma makan yang gak sehat." "Ngatur mulu anjir, kek Bapak gue aja." Magi mengambil mangkuk itu dari tangan Rama, tapi Rama menahannya di tangannya sambil menatap Magi lelah. “Makan kalau lo gak mau pulang jalan kaki." "Iyaa, gue makan! Ngancam mulu anjir, diktator ya lo? Pantesan jomlo, ngambekan, suka ngatur, ngancam-ngancam lagi." Magi menyendok kuah tom yam ke dalam mulutnya sambil menggerutu kesal. "Harusnya lo bersyukur gue jomlo," kata Rama sambil kembali memanggang daging karena Magi hanya tahu makan. "Hah? Ngapain gue bersyukur anjir?" "Lo bakal patah hati dua kali kalau gue punya pacar." Magi tersedak kuah tom yam saat itu, Rama menyodorkan sebotol air mineral padanya yang langsung diambil Magi dengan terburu-buru. Perempuan itu meminumnya sambil menepuk-nepuk dadanya, berusaha meredakan batuk-batuknya. "Lo tuh gak bisa ya liat situasi dulu kalau mau ngomongin itu? Kalau gue mati gara-gara keselak gimana anjir? Lo gak akan bisa bikin anak secantik dan seseksi gue," omel Magi yang sepenuhnya diabaikan Rama. Daging di atas pemanggang mengeluarkan suara yang khas saat Rama membaliknya, daging-daging yang sudah matang ia pindahkan semua ke piring Magi, seolah ia tidak butuh makan. Hal itu membuat Magi tidak jadi kesal. "Kok lo kasih ke gue semua sih?" tanya Magi kembali memegang sumpitnya. "Biar lo gak cepat mati, jadi gue kasih makan yang banyak,” jawab Rama datar. Magi menggigit sumpitnya kesal, kadang Magi mempertanyakan apa Rama benar-benar jatuh cinta padanya atau tidak. Kelakuannya yang seperti ini tidak seperti orang yang sedang jatuh cinta, dasar jahat. "Ah udah deh, gue mau pulang aja." Magi meletakkan sumpitnya lagi setengah melemparnya, lalu memutar tubuhnya untuk mengambil tasnya. "Habisin dulu, bego." "Lo tuh b**o, dasar bego." Disampirkannya tasnya ke punggung, lalu Magi berjalan meninggalkan Rama yang menghela napas kesal. Perempuan bernama lengkap Magika Zalardi itu benar-benar menguji kesabarannya, ia berdiri cepat dan menarik tangan Magi agar berhenti. "Lepasin gak? Gue tonjok nih," ancam Magi mengangkat tinjunya yang kecil. "Duduk lagi." "Gue mau pulanggg." "Habisin dulu dagingnya." "Gue tonjok beneran lo ya." "Coba tonjok. " Rama menatap Magi sungguh-sungguh, menantang perempuan untuk benar-benar menonjoknya, tapi Magi bergeming di tempat dengan tangannya terangkat. Perempuan itu mendengus kesal, ia menendang kaki Rama sampai laki-laki itu melepaskan tangan Magi. "Argh!" "Rasain tuh, begoooo." Magi buru-buru berbalik dan berlari keluar dari restoran, ia tidak peduli setelah ini Rama akan membalas dendam padanya atau tidak, yang terpenting sekarang ia harus kabur. Magi menghentikan taxi di luar restoran dan buru-buru menyebutkan alamat tujuannya, jangan sampai Rama mengejarnya. "Kenapa Teh? Dikejar anjing ya?" tanya sang Supir taxi sambil meliriknya dari spion tengah. "Iya Pak, anjingnya gede, galak lagi, serem pokoknya." "Untung Teteh gak apa-apa ya, hati-hati lain kali Teh, kalau digigit bisa bahaya." "Iya Pak, makasih." Dalam hatinya Magi tertawa, kalau Rama tahu ia menyamakannya dengan anjing, laki-laki itu pasti akan menjitak atau menoyor kepalanya, untunglah Rama tidak mengejarnya. Setelah ini Magi akan mengunci apartemennya dan tidak membiarkan Rama masuk, Magi tidak mau dianiaya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN