Mau dilihat dari manapun, interaksi Rama dan Magi itu terlihat seperti sepasang kekasih, tentu saja semua orang yang melihatnya akan berpikir begitu, termasuk Andru. Sepasang sejoli itu baru saja turun dari mobil, Magi menunjuk Rama dengan marah, sedangkan Rama hanya menatapnya dengan sabar.
"Pasti lo dendam gara-gara kemarin, ngaku lo."
Suara Magi terdengar ke telinga Andru, perempuan itu berkacak pinggang sambil memelototi Rama yang berjalan melewatinya.
"Mau ke mana lo woi?!" teriak Magi sambil mengejar Rama, ia menarik seragam laki-laki itu.
"Ini masih pagi, Magi," ucap Rama sabar.
"Tapi pasti lo kan, ngaku aja deh. Gak mungkin sepatu gue bisa jalan sendiri, pasti lo yang mindahin."
Rama menghembuskan napas dengan lelah, ia berbalik menatap Magi, lalu tersenyum kesal.
"Sepatunya gue ganti, puas?"
"Tuh kan, pasti lo kan yang buang ke tempat sampah, buktinya lo mau ganti, ngaku lo. Dendaman juga ya lo, gara-gara ditendang sekali doang, sesakit apa sih kalau gue yang tendang."
"Lo sebenarnya mau apa, Magi?" tanya Rama dengan sisa kesabarannya yang sedikit.
"Ya lo ngaku dulu dong kalau sepatu gue lo yang buang ke tempat sampah, gak usah memperpanjang masalah deh. Padahal kalau lo ngaku bakal cepat selesai, ayo ngaku, gue gak bakal marah."
"Berisik."
Rama menoyor kepala Magi kesal, ia kemudian berbalik meninggalkan perempuan itu. Rama yakin sekali meski ia mengaku, masalahnya tetap akan panjang karena Magi tidak akan membiarkannya cepat selesai. Padahal Rama sama sekali tidak tahu kenapa sepatu itu ada di temat sampah.
"Rama monyet!"
Teriakan Magi di belakangnya tidak dihiraukan Rama, ia berjalan terus menuju kelasnya. Magi tidak mengejarnya karena Abian tiba-tiba muncul dari belakang dan menahannya.
Sementara itu Andru masih berdiri di samping motornya sambil tersenyum, dua orang itu benar-benar lucu, Andru merasa ia bisa hidup bahagia kalau keduanya bersama. Sampai kehadiran seseorang mengganggu pandangan Andru dan senyumnya menghilang.
***
Untuk sekali ini saja Revani yakin ia sudah membuat keputusan yang benar. Semenjak Andru bicara padanya, Revani berpikir dengan serius. Ia sudah memikirkan keputusannya ini selama beberapa hari belakangan, dan ia pikir itu sudah cukup, ia tidak bisa menahannya lebih lama.
Di tangannya ada paperbag berisi Brownis berbentuk hati buatannya sendiri, walau Mami ikut membantunya. Revani mempersiapkan semuanya dengan matang, ia sudah yakin dengan keputusan yang ada di kepalanya saat ini, seyakin perasaan yang ada di hatinya sekarang.
"Lo mau ke mana?"
Revani yang baru saja menginjakkan kakinya di koridor nyaris menjatuhkan paperbag di tangannya mendengar suara itu, ia menoleh dan mendapati Andru yang bersedekap di belakangnya, laki-laki itu tersenyum. Senyum itu jelas sekali bukan senyum ramah seperti yang biasa ia perlihatkan, tapi senyum penuh ancaman, Revani jelas tahu apa yang ada di balik senyum itu.
"Lo mau ke mana, Revani?" ulang Andru saat perempuan itu hanya menatapnya.
"Ma-mau ke kelas."
Revani melihat ke lantai dan berusaha untuk menyembunyikan paperbag-nya di belakang punggungnya, kenapa Andru harus ada di sana? tapi ia tidak bisa menipu Andru, Andru yakin insting-nya tidak salah, ia melirik paperbag di tangan Revani dan menghela napas.
"Gue udah bilang kan Revani, jangan egois," kata Andru datar, ia bersandar ke dinding di sampingnya.
Meski tahu Andru sudah memergokinya, Revani tetap tidak ingin mundur. Ia menggenggam erat tali paperbag-nya, seolah itu bisa memberinya kekuatan.
"Ini gak ada hubungannya sama kamu." Suaranya pelan dan sedikit bergetar.
"Ada Revani, yang mau lo lakuin sekarang itu gak benar, lo pasti tahu kan."
Revani menggigit bibirnya, ia merasa marah sekaligus takut. "Kenapa kamu milih Magi? A-aku lebih baik dari Magi."
"Lo ini aneh ya," gumam Andru tidak sampai didengar Revani, "dari sisi yang mana lo ngelihat diri lo lebih baik dari Magi, Revani?"
Revani terdiam mendengar pertanyaan itu, ia bahkan tak bisa membuka mulutnya sekarang. Sejak dulu Revani memang tidak pernah bisa meraih apapun yang Magi punya, saudari perempuannya itu lebih segalanya dari Revani, dan Revani menginginkan semua itu menjadi miliknya.
"Lo seharusnya bersyukur gue gak ngasih tahu Rama semuanya, lo pikir apa yang bakal dilakuin Rama kalo dia tahu?"
Revani tersentak, jemarinya makin mengcekram erat tali paperbag di belakang punggungnya. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Andru, tatapan laki-laki itu masih mengirimkan rasa takut ke sekujur tubuh Revani.
"Kamu gak bisa ngancam aku-."
"Kenapa gak bisa?" Andru berjalan mendekat, ia mensejajarkan bibirnya ke telinga Revani dan berbisik, "apa lo bakal lari pulang dan minta Papa lo nutup mulut gue juga, hm? Anak manja."
"Aku bukan anak manja." Suaranya jelas bergetar sekarang.
Andru menjauhkan wajahnya dari telinga Revani, ia menatap kasihan perempuan itu, seolah Revani adalah mahluk paling menyedihkan yang pernah dilihat Andru. Ia meraih kedua tangan Revani sampai paperbag-nya terjatuh, ia memaksa menggenggamnya meski Revani berusaha menariknya.
"Lihat," Andru memperlihatkan telapak tangan Revani yang memerah, "tangan lo ini kotor, Revani. Apa lo gak bisa lihat darah di sini?"
Tubuh perempuan itu gemetar hebat setelah Andru selesai bicara, matanya melebar tidak fokus, seolah ia benar-benar melihat darah di tangannya yang bersih. Andru tersenyum melihatnya, ia melepaskan tangan Revani dan menepuk puncak kepala perempuan itu pelan.
"Jangan ngelakuin kesalahan yang sama," ucapnya sebelum meninggalkan Revani yang masih gemetar di tempatnya berdiri.
Begitu Andru melewatinya, Revani mengangkat tatapannya dari tangannya, ia menatap punggung Andru yang berjalan menjauh. Itu jelas bukan tatapan yang bagus dilihat.
Ia mengambil kembali paperbag-nya yang jatuh dan berjalan cepat menuju kelas Rama, tatapan dari siswa-siswa yang dilewatinya masih mengganggunya, tapi Revani tidak memelankan langkahnya. Rama baru saja meletakkan tasnya ke kursi saat ia mengintip masuk ke kelas, dan tidak ada Magi di sana.
Kakinya mengambil langkah mendekat dan membuat seluruh mata memandangnya, tatapan yang biasanya membuatnya gentar itu tidak lagi memberikan efek apa-apa padanya. Tatapan Rama yang terlihat penasaran juga justru membuatnya yakin, ia berdiri di depan Rama dan menatap laki-laki itu sungguh-sungguh.
"Aku suka sama Kakak, aku mau kakak jadi pacar aku."
Kalimat yang percaya diri sekali, tidak ada penawaran dalam kalimat itu, hanya ada perintah. Rama menatap dingin perempuan arogan di depannya itu, dan tangan yang menyodorkan kotak kue ke hadapannya. Rama tidak mengerti dari mana perempuan ini mendapat keberanian untuk datang padanya dan memintanya menjadi pacarnya.
"Murahan."
“Gak tahu diri."
Bisikan dari teman-teman sekelas Rama tidak menyurutkan tekad Revani, ia lebih dari tahu apa yang sedang dilakukannya sekarang. Asal bisa bersama Rama, asal ia bisa mendapatkan Rama, Revani akan baik-baik saja.
Belum ada satupun kata yang keluar dari mulut Rama saat sebuah tangan menepis tangan Revani, kue itu jatuh ke lantai dengan mengenaskan. Pelakunya berdiri di samping Rama dan Revani, matanya menatap Revani dengan amarah yang menyala di sana, baru saat itu Revani merasa sangat takut.
"Ka-kakak." Suaranya bergetar dan ia mundur selangkah.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Magi mendengar panggilan Revani, justru jemarinya yang terkepal kuat, dan mulutnya terkatup rapat. Mereka yang tidak pernah melihat Magi semarah itu, tanpa sadar mereka juga jadi merasa takut.
"Lo masih gak puas?"
Suara Magi pelan, tapi terdengar mengancam, Revani seketika bergetar mendengarnya. Rama tahu sesuatu yang buruk akan terjadi, tapi melihat Magi sama sekali tidak meledak setelah mendengar panggilan Revani, ia jadi tidak tahu harus melakukan apa.
"Apa ngerebut semuanya dari gue gak pernah bikin lo puas?"
Revani menggeleng cepat, seolah tubuhnya yang langsung merespon tanpa berpikir. Revani lebih suka Magi mengamuk dan memukulnya, dari pada berbicara dengan ekspresi dan suara sedingin itu. Bagi Revani itu terdengar seperti hukuman mati.
"Aku gak ngerebut apapun dari Kakak."
"Papa!" bentak Magi keras, Revani mengcekram roknya mendengar bentakan itu, matanya melebar takut, "Mama, rumah, hadiah ulang tahun gue, apa itu gak bisa bikin lo puas?"
"Tapi Kakak yang ninggalin semuanya," bisik Revani nyaris tidak terdengar.
Magi maju selangkah dan mengcekram kerah seragamnya, nyaris mencekik Revani. Rama yang melihatnya sebagai sesuatu yang berbahaya segera mengulurkan tangan untuk mencegahnya, tapi Andru yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya mencegatnya, ia menggeleng padanya.
"Jangan, biarin aja," bisiknya sambil menatap serius Rama.
Rama menggeram dan ia menatap Magi lagi, perempuan itu terlihat lebih marah dan siap meledak kapan saja.
"Lo bilang apa?"
"Aku gak ngerebut apapun, Kak."
"Jangan pura-pura polos di depan gue."
Mata itu masih menyiratkan kemarahan luar biasa. Revani berusaha melepas cekraman Magi di seragamnya, tapi Magi mendorongnya kuat sampai Revani menabrak meja di belakangnya, suara kesiap menggema.
"Kenapa lo selalu mau apa yang gue punya?" tanya Magi lambat-lambat.
Revani memegang meja di belakangnya dengan erat, ia merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya yang terbentur. Matanya itu menatap Magi sedih. "Kakak udah punya semuanya," ucap Revani, ia menatap Rama sebentar.
"Apa?"
"Kakak bisa dapat apapun yang Kakak mau, sejak kecil selalu gitu," Revani mengepal tangannya erat dan menatap Magi lekat-lekat, "cowok manapun pasti bisa kan, Kakak?"
Tatapan mata Magi terlihat terkejut, ia menatap Revani seolah ia sama sekali tidak bisa membedakan perempuan itu dengan iblis.
"Aku mau Rama," kata Revani pelan, "Kakak bakal mengalah kayak sebelumnya kan?"
Tidak ada suara yang keluar dari mulut Magi untuk beberapa saat, perempuan itu hanya menatap Revani dengan tatapan terkesima, lalu ia tiba-tiba tertawa seolah kata-kata Revani sangat lucu.
"Gue gak percaya gue pernah nganggap lo saudara gue," kata Magi sambil tersenyum tak percaya.
Seolah sudah menahannya sejak tadi, Magi meninju wajah Revani sampai perempuan itu jatuh ke lantai. Matanya meyakinkan Revani bahwa hari ini Magi akan membunuhnya.
"Magi!" Rama buru-buru menarik Magi ke belakang.
"Enam tahun yang lalu!" Magi menjeda ucapannya dan sorot mata perempuan itu lebih marah sekarang, sementara Revani menahan napas dengan takut, "lo gak mungkin lupa, sialan!"
Revani melupakan rasa sakit di wajahnya, ia beringsut mendekati Magi dan berlutut di depan Magi, tangannya terkepal kuat dan seluruh tubuhnya bergetar hebat. Tindakannya itu membuat Rama terkejut, juga kata-kata yang keluar dari mulut Magi.
"Maafin aku, maaf." Revani memohon sungguh-sungguh.
"Enam tahun yang lalu apa lo minta maaf ke gue?!"
"Aku gak tahu bakal begitu, aku benar-benar gak tahu, Kakak." Sekarang perempuan itu menangis nyaris histeris.
“Jangan bohong! Lo tahu apa yang lo minta sama Papa! Lo selalu pengen apa yang gue punya, karena itu lo minta ke Papa buat...," Magi tidak bisa melanjutkan kata-katanya, tangannya terkepal kuat, "lo yang minta ke Papa!”
"Tapi waktu itu Mama yang salah! Kalau Mama gak pernah bilang itu-"
"Ngomong apa lo b******k?!"
Magi menendang Revani karena Rama masih memegangi tangannya, sekali lagi suara terkesiap dan jeritan kaget terdengar. Rama buru-buru menarik Magi menjauh.
"Gue bunuh lo!" teriak Magi sambil berusaha melepaskan tubuhnya dari Rama.
Matanya berkilat marah, perempuan itu akhirnya meledak. Revani masih terduduk di lantai dengan tubuh bergetar, ia hanya menatap Magi dengan sorot mata bersalah, tapi itu tidak membuat amarah Magi reda.
"Harusnya lo aja yang mati, Anjing!"
"Berhenti, Gi." Rama berusaha mengembalikan akal sehat perempuan dalam dekapannya itu.
"Lo gak pantas hidup! Lo dengar kata-kata gue baik-baik, sialan! Lo gak pantas hidup!"
Rama buru-buru membawanya keluar, ia tahu Magi tidak akan berhenti selama ia masih melihat wajah Revani. Matanya sempat menangkap Andru yang membantu Revani berdiri, karena itu ia berharap masalah ini tidak akan menimbulkan masalah yang lain, meski ia sendiri tidak yakin harapannya akan terkabul.
Ia membawa Magi menuju parkiran dan mendudukkannya di dalam mobilnya. Magi banyak memberontak, tapi ia tidak akan membiarkannya kabur. Rama melajukan mobilnya ke jalan menuju satu-satunya tempat yang ia pikir paling aman.
***