Part 25

1251 Kata
Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Magi menangis. Yang ia rasakan setelah kemarahan besar itu hanya rasa sedih dan tidak berdaya, meski ia sangat marah pada apapun yang dilakukan Revani, ia tidak bisa membalas perempuan sial itu dengan sepadan, lalu akhirnya justru ia sendiri yang menangis. Ia membiarkan Rama menggendongnya masuk ke apartemennya, karena meski ia masih sadar sepenuhnya, tubuhnya terlalu lelah. Rama kemudian memeluknya berjam-jam sampai ia tertidur, tepat ketika Rama juga mulai dikuasai emosi juga. Rama lega perempuan itu akhirnya tertidur, suara tangisannya menyakiti Rama, dan itu hanya membuatnya ingin membalas siapapun yang sudah menyakiti Magi. "Sebenarnya kenapa lo semarah itu, Magi?" bisiknya pelan saat mengecup kening perempuan mungil itu. Rama masih duduk di sisi kasur yang kosong sambil memeluk Magi, ia memperhatikan betapa berantakannya Magi saat ini, lalu Rama diam-diam berjanji tidak akan melihat Magi seperti ini lagi. Menit-menit berikutnya Rama tenggelam dalam pikirannya. Rama ingin tahu kenapa Magi begitu membenci Revani, apa Revani memang membunuh Mamanya Magi? Tapi bagaimana? Semakin dipikirkan, Rama semakin tidak paham. Ia menatap wajah tidur Magi yang tenang, meski matanya bengkak dan hidungnya merah. "Gue lebih suka lihat lo ketawa karena ngehina gue dari pada marah kayak tadi, Magi," bisik Rama pelan di telinga perempuan itu. Tentu saja Magi tidak akan mendengarnya, tapi Rama akan tetap mengatakannya, sebanyak mungkin. "Gue sayang lo, Magika." *** Setelah Rama dan Magi meninggalkan kelas, Andru membantu Revani berdiri. Perempuan itu tampak masih terpukul dengan apa yang barusan terjadi, sisi wajahnya memar gara-gara tinju Magi. Andru ingin merasa kasian, tapi Revani pantas mendapatkannya. “Gue udah kasih peringatan ke lo, lo sendiri yang milih begini." Revani tidak menjawab, ia menatap lantai dengan mata terbuka lebar, seolah sedang memikirkan sesuatu, tapi Andru merasa khawatir dengan apapun yang sedang dipikirkan perempuan itu. Biar gue antar pulang. “Gak usah, aku bisa pulang sendiri." Andru mengernyitkan kening mendengar suara Revani yang berbeda dari biasanya, perempuan itu melepaskan tangannya yang dipegang Andru. Ia meraih kotak kuenya yang sudah hancur di lantai dan meninggalkan kelas Rama, saat ini Revani perlu menjauh dari semuanya. Dibuangnya kotak kue itu ke tempat sampah di depan kelas Rama, lalu meninggalkan sekolah hari itu tanpa kembali lagi. Ia sampai di rumah dalam keadaan emosi paling tidak stabil yang pernah dirasakannya sepanjang ia hidup, tidak ada Mami di rumah yang akan menenangkannya, Papa juga sedang berada di perusahaan. Revani melempar tasnya begitu sampai di kamar, ia masuk ke bawah selimut dan meringkuk memeluk tubuhnya yang bergetar. Kamar ini entah berapa kalipun Revani melihatnya, ia tidak pernah berhenti merasa iri. "Jangan pikir karena kamu dibesarkan anak saya, lalu kamu pikir bisa seperti Magi, kamu jauh di bawah Magi." "Aku juga cucu Oma." "Cucu saya cuma Magika Zalardi, jangan mimpi kamu." Revani selalu ingat bagaimana pemilik kamar ini mendapatkan apa yang Revani tidak punya, kasih sayang dan perhatian semua orang pada pemilik kamar ini membuatnya merasa dikucilkan, ia hanya punya Papa. Belum cukup sampai di situ, bakat yang pemilik kamar ini punya tidak pernah bisa Revani raih. "Sekali lihat saja sudah tahu mana yang keturunan sah." "Lihat anak ini, tidak bisakah kamu seperti Magi sedikit saja?" Rasa benci dan iri itu terus saja tumbuh, meski Revani menyayangi Magi sebagai satu-satunya saudaranya, ia tidak bisa memandang Magi tanpa rasa iri. Revani mulai sering meminta apapun yang dimiliki Magi untuk dirinya sendiri karena rasa irinya, tapi itu sama sekali tidak membuatnya puas. "Kenapa cuma Kakak yang boleh punya? Kenapa aku enggak?" gumamnya menatap dinding dengan background gambar biola itu. Tidak pernah selama 16 tahun umurnya, Revani seketakutan dan semarah ini. Ia takut pada kemarahan Magi, tapi ia marah karena Magi mempermalukan dirinya di depan Rama. Ditatapnya sekeliling kamar itu, Rama benar, kamar ini milik Magi. Revani menyukai kamar ini dan memintanya pada Magi saat umur mereka sama-sama 10 tahun. Magi yang dulu selalu memberikan apapun yang Revani minta, semuanya termasuk hadiah ulang tahunnya yang kesepuluh, di mana itu adalah hadiah pertama yang diberikan Papa untuk Magi. Pikirannya berkecamuk, lalu seiring jarum jam berputar, kebencian itu tumbuh makin besar. Kebencian itu pelan-pelan menutupi rasa bersalahnya pada Magi sampai tidak bersisa, ia melupakan kesalahan paling besar yang pernah dilakukannya pada Magi. *** Kepalanya pusing luar biasa saat Magi bangun pagi harinya, ia menemukan Rama tidur di sampingnya dengan posisi yang tidak enak. Laki-laki itu masih setengah duduk bersandar di kepala kasur dengan tangannya di kepala Magi. Magi tersenyum sedih melihat itu dan ia meninggalkan kasur menuju kamar mandi. Cermin di kamar mandi memantulkan bayangan seorang perempuan dengan kaos putih dan rok sekolah di sana, rambutnya mekar, matanya bengkak mengerikan, dan pucat. Magi meringis melihat penampakannya. Magi tidak menyesali apapun yang dilakukannya pada Revani, ia bahkan berjanji akan mengulangi hal yang sama jika Revani melakukannya lagi. Satu-satunya yang disesalinya adalah karena ia membiarkan Rama melihatnya seperti itu, Magi tidak ingin Rama membencinya. "Gi, lo masih lama gak? Gue mau kencing," teriak Rama dari pintu kamar mandi, suaranya serak. "Udah selesai kok." Magi menarik napas dan menyerah, meski ia membasuh wajahnya sampai kehabisan air sekalipun, bengkak di matanya tidak akan hilang, ia membutuhkan es batu. Saat Rama mengetuk pintu kamar mandi lagi, Magi akhirnya berjalan ke sana dan membuka pintunya. Rama menatapnya dengan mata setengah mengantuk dan mulut menguap. "Lo jelek," katanya sambil menoyor kepala Magi sampai terbentur tembok di belakangnya. "Akh! Sakit b**o! Gak usah nganiaya gue, anak Mama!" omel Magi kesal sambil mengusap kepalanya. Rama yang baru saja akan masuk ke kamar mandi, memutar langkahnya mengikuti Magi. Keningnya berkerut mendengar Magi memanggilnya anak Mama. "Apa lo bilang?" tanya Rama. Suaranya terdengar penuh ancaman, jadi Magi mempercepat langkahnya, tapi kaki pendeknya tentu saja kalah kalau dibandingkan kaki jenjang Rama. Laki-laki itu dengan mudah menangkapnya, mengangkatnya, dan menjatuhkannya ke atas kasur. "Apaan sih anjir! Gak jelas lo sumpah!" teriak Magi menendang-nendang udara karena Rama berusaha menangkap kakinya untuk digelitiki. "Lo ngomong apa tadi?" "Geli anjing! Lepasin gak?! Hahaha! Lepasin, Bangke!" Magi berteriak-teriak sambil tertawa dan berusaha melepaskan kakinya. Rama tersenyum melihat perempuan itu kesal, tapi tidak bisa menahan tawanya. Rama ingin selalu menjadi alasan tawa itu mendengung. Rama berhenti menggelitik kakinya dan ikut berbaring di samping Magi, perempuan itu masih berusaha mengatur napas, ia terdengar seperti habis lari. "Gila lo ya, badak?" gumam Magi. "Kalo gue badak, lo apa? Tokek?" "Imut-imut gini lo bilang tokek, kalau gue jadi hewan nih, gue pasti jadi kelinci, apa gak kucing." "Kucing garong." "Rama b******k!" Rama tertawa kecil, ia menarik tubuhnya untuk duduk karena dorongan sesuatu di antara kakinya yang ingin keluar. "Ram." Rama yang sudah berjalan menuju kamar mandi menoleh, ditatapnya Magi yang masih berbaring dengan sebelah alis terangkat. Perempuan itu menutup mata dengan lengannya dan wajahnya memerah. "Gue mau," katanya dengan suara kecil. "Hm? Mau apa?" tanya Rama. Magi tidak menjawab dan Rama makin bingung, tapi sesaat kemudian kesadaran menampar Rama. Ia membuka mulutnya tanpa suara dan hanya menatap Magi yang tidak bergerak di tempatnya. Rasa malu membuat Magi tidak mau melepaskan tangannya dari matanya, sampai kasur disisinya melesak turun karena bobot tubuh seseorang. Tangannya ditarik sampai terlepas dari matanya, tapi ia masih memejamkan matanya erat. "Magi." Rama memanggilnya lembut, tapi Magi terlalu malu untuk membuka matanya. Sesuatu tiba-tiba menutupi bibirnya dan Magi membuka matanya karena terkejut, di atasnya ada Rama yang menutup bibir Magi menggunakan tangannya sendiri, laki-laki itu tersenyum kecil sebelum menunduk dan mencium punggung tangannya sendiri. "Makasih," bisik Rama di atasnya sebelum turun dari kasur. Magi masih diam di tempat karena terkejut, bahkan sampai Rama masuk ke kamar mandi. "Kata-kata lo gak bisa ditarik lagi, Magi. Jangan kabur," teriak Rama dari kamar mandi dan memancing senyum Magi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN