Part 26

1849 Kata
Pagi ini Papa mengetuk pintu kamar Revani untuk kesekian kalinya, anak perempuannya itu sudah tidak keluar kamar sejak kemarin, dan ia khawatir anaknya sakit. Revani tidak pernah seperti ini sebelumnya, kecuali saat tragedi 7 tahun yang lalu, Revani tidak pernah mengurung diri di kamar. "Vani, kamu bisa cerita apa saja sama Papa, jangan mengurung diri di kamar, Sayang." Hardian yang tidak berangkat ke kantor hari ini karena Revani, masih berusaha keras membujuk anak perempuannya itu. "Gimana?" tanya Adelia yang berjalan menghampiri Hardian dengan nampan berisi makanan di tangannya. Hardian menggeleng. "Kamu gak lihat dia pulang kemarin?" "Dia sudah ada di kamarnya waktu aku pulang." Hardian menghela napas, lalu kembali mengetuk dan membujuk. Sementara sang Anak sedang memandangi langit-langit kamar yang gelap dengan mata merah, ia belum tidur sejak semalam. Pikirannya terus berkecamuk seperti benang kusut. Ia mengingat-ingat lagi semua hal yang pernah dilakukan Magi padanya selama 6 bulan ini, Magi banyak melakukan kejahatan selama itu padanya. Selama ini Revani diam karena rasa bersalahnya, tapi ia merasa tidak ada gunanya lagi merasa bersalah. "Jangan ngelakuin kesalahan yang sama." "Apa ngerebut semuanya dari gue gak pernah bikin lo puas?" "Enam tahun yang lalu! Lo gak mungkin lupa, sialan! “Lo gak pantas hidup! Lo dengar kata-kata gue baik-baik, sialan! Lo gak pantas hidup!” Revani menyibak selimutnya dan turun dari kasurnya, tanpa memperdulikan seragam sekolah yang belum diganti dan rambutnya yang berantakan, ia berjalan menuju pintu. Tangannya bergetar saat menyentuh kunci kamar itu, ia menggigit bibirnya. Revani takut sekali, tapi ia tidak punya pilihan. Begitu tangannya memutar kunci dan menarik pintu di depannya sampai terbuka, Revani tahu ia tidak akan mundur. Di hadapannya sekarang sang Papa sedang menatapnya kaget sekaligus khawatir, pria itu mendekati Revani. "Siapa yang ngelakuin ini sama kamu Sayang? Bilang sama Papa," tanya Hardian sambil memegangi wajah anaknya dengan hati-hati. "Pa, panggil Revani lemah." "Bilang aja sama Papa siapa yang ngelakuin ini, anak sial itu lagi?" "Pa! Magi itu anak kamu juga!" tegur Adelia yang sudah meletakkan nampan di atas lemari kecil di samping pintu. "Kamu masih peduli pada anak itu saat dia bikin anak kandung kamu begini?" Hardian menoleh marah. Adelia menggeleng tidak mengerti, ia mengelus wajah Revani yang memar dengan lembut. "Kamu makan dulu atau lukanya dulu yang diobatin, sayang?" tanya Adelia menatap langsung ke mata Revani. Revani mengepal tangan dan menatap Papanya dengan sorot tak terbaca. Ia menggeleng untuk menjawab pertanyaan Adelia. "Pa, aku boleh minta sesuatu?" tanyanya dengan suara kecil yang serak. Saat itu Adelia Januardi merasa seluruh tubuhnya membeku sekaligus menyalakan alarm di dalam dirinya, perasaannya mengatakan apapun yang akan diminta oleh Revani itu bukan sesuatu yang bagus. Ia menatap anak satu-satunya itu dengan sorot mata yang sedih, berharap ia tidak lagi harus menambah rasa bersalah ke hatinya. *** Andru tahu tidak akan ada yang berubah, meski status di antara si cebol dan si jangkung itu sudah bukan teman lagi, karena sebelumnya pun mereka berdua sudah seperti sepasang kekasih. Rama masih saja suka mengikuti Magi kemana pun perempuan itu pergi, termasuk menungguinya di depan toilet walau sudah berkali-kali diusir. "Sangean lo ya?" tuduh Magi sambil menahan pintu toilet dengan ekspresi kesal. "Hm?" "Lo ngapain berdiri di depan toilet cewek anjir." "Terserah gue mau berdiri di mana." "Bener kan anjir, sangean lo pasti, mau ngintip kan? Ngaku gak lo?!" Rama memutar bola matanya kesal. "Lo mau masuk atau ngomel doang?" Magi memicingkan mata curiga, tapi ia kemudian membanting pintu toilet di depan Rama. "Enyah lo sana, cabul." Andru yang melihat itu semua tersenyum tipis, hubungan mereka berdua itu lucu sekali, dan Andru sangat suka melihatnya. Karena itu Andru menyembunyikan banyak hal sambil diam-diam melindungi mereka berdua, Andru tidak ingin banyak ikut campur, biar Magi sendiri yang menceritakannya nanti. "Lo ngapain masih di sini sih?" omel Magi begitu keluar dari toilet. "Nungguin lo," jawab Rama sambil menatap Magi dari atas ke bawah, lalu mengangguk-angguk puas. "Biar apa gue tanya?" "Apa salahnya kalau gue nungguin pacar gue?" Magi terdiam beberapa saat sambil menatap Rama, ia hampir tersenyum, tapi kemudian malah mencibir. "Dasar bucin," katanya jijik. “Gak ada manis-manisnya jadi pacar." "Kalau mau manis noh pacaran sama cabe-cabean, jangan sama gue, alay lo." Setelah mengatakan itu, Magi meninggalkan Rama di belakangnya, senyumnya merekah begitu ia melewati Rama. Andru yang berdiri tidak jauh dari mereka tertawa dalam hati melihat tingkah perempuan itu, begitu Magi nyaris sampai di depannya, ia meloncat ke depan Magi. "Ba!" "Anjing!" teriak Magi sambil melayangkan tinjunya ke depan, untungnya Andru berhasil menghindar. "Barbar banget sih lo," gerutu Andru mengelus dadanya. "Lo juga b**o ngagetin gue, pergi dah lu, gue eneg lihat lo." "Jangan sombong-sombong dong, Kakak ipar." "Bisa diam ga sih? Gue tonjok beneran lo ya." Kedua tangan Andru terangkat ke atas, menandakan ia menyerah, sudut bibirnya tersenyum. Magi mengibas tangan dan melanjutkan jalannya, Rama yang mengikutinya dari belakang berhenti di samping Andru. "Lo macarin algojo apa gimana sih? Barbar banget," gerutu Andru menatap punggung Magi yang terus menjauh. "Gimana?" Rama mengabaikan gerutuan Andru dan bertanya datar. Senyum Andru surut saat itu juga, bola matanya berputar melihat sekelilingnya untuk memastikan tidak ada siapa-siapa. Keningnya berkerut terganggu, kenapa Rama menanyakan hal seperti itu di tempat ini? "Lo yakin mau bahas ini sekarang, Bang? Gak mau di rumah aja?" "Gue mau jalan nanti." "Bucin sih." Andru terbahak keras saat Rama meliriknya tajam. "Lo mau ngomong atau nunggu tinju gue yang bicara?" "Anjir, pantesan lo cocok sama Magi, sama-sama barbar." "Ru," tegur Rama kesal. Andru menghentikan tawanya dengan susah payah, kapan lagi ia bisa mengjahili Rama seperti ini. Ia mengusap sudut matanya yang sedikit berair karena tertawa, lalu masih dengan sisa tawa di sudut bibirnya, ia membuka mulutnya untuk bicara. "Sejauh ini belum ada apa-apa yang istimewa sih." "Dan?" "Cuma gue ngerasa bakal ada sesuatu yang terjadi dan itu bukan hal yang bagus. Sampai gue bisa pastiin apa masalahnya, lo hati-hati aja, Bang." Rama menatap lurus ke depan dengan kening berkerut. "Harusnya orang itu gak bisa ngancam Adhiyaksa kan?" "Harusnya sih gitu, Bang, tapi orang itu masih megang beberapa aset warisan Amanda Zalardi karena Magi belum 17 tahun. Sampai ulang tahun Magi nanti, dia masih bisa ngancam Adhiyaksa." Rama melirik Andru dengan datar, satu lagi informasi yang tidak diberitahukan Andru padanya selama ini, sebenarnya seberapa banyak saudaranya ini menyembunyikan sesuatu darinya? Tapi Rama tidak akan memaksanya bicara sekarang, karena ia sendiri tahu Andru pasti menyembunyikannya dengan alasan yang bagus. "Sekarang gue harap Bokap gak ngambil keputusan aneh-aneh," gumam Andru. "Aset warisan Zalardi itu pasti yang bikin Papa mau repot-repot berurusan sama orang itu." Andru mendengus kesal sambil mengacak-ngacak rambutnya. "Ah! Ini kenapa gue malas banget kalau udah nyangkut sama Zalardi, cuma keluarga itu yang selalu bikin gue pusing." Laki-laki itu meninggalkan Rama di belakangnya sambil terus menggerutu. "Lo mau ke mana?" tanya Rama tanpa menahan Andru. “Cosplay James Bond." Rama ingat Andru dulu pernah mencoba menggali informasi soal kematian Amanda Zalardi 6 tahun yang lalu, dan besoknya Nyonya besar keluarga itu mendatangi kediaman Adhiyaksa bersama 10 orang kuasa hukumnya. Rama tertawa pelan, hanya itu satu-satunya waktu di mana Andru yang seorang Adhiyaksa ketakutan. Rama merasa bersalah karena sudah membuat Andru berurusan lagi dengan keluarga Zalardi, apakah ia harus mentraktir adiknya itu? LNyusul Magi deh," gumamnya Kantin masih belum terlalu ramai saat Rama masuk, Magi sedang mengantri di depan stand sate taichan, ia sedikit berjiinjit untuk melihat ke arah penjual sate. “Mang, masih keneh nte?" tanya Magi, matanya mengikuti sepiring sate yang dibawa pergi oleh murid yang mengantre di depannya. “Kedap, Neng. Lima menit deui paling." “Titadi nang lima menit wae asaan teh Mang." Mamang penjual sate tertawa pada protesan Magi, begitu pula Rama yang sudah berdiri di belakang Magi, laki-laki itu menoyor pelan kepala Magi dan membuat Magi menoleh kesal. "Apa sih, cari perkara mulu," gerutunya mengusap kepalanya. Rama menaikkan sebelah alisnya heran, setelah jadi pacarnya, Magi jadi mengurangi membentak-bentak Rama. Ada untungnya juga. "Lo ada duit mau bayar?" tanya Rama sambil meletakkan telapak tangannya di atas kepala Magi. "Kan lo yang bayar, gimana sih." "Hm, makan yang banyak, biar lo cepat gede." "Maksud lo gue pendek hah?!" Rama menarik kembali kata-katanya tentang Magi yang mengurangi membentak Rama, perempuan itu masih suka melakukannya. "Jangan berisik, ambil pesanan lo." Magi mencibir kesal, ia meraih piring berisi sate taichan dan saos, ia membiarkan Rama membayarnya, sedangkan ia buru-buru duduk di meja terdekat yang bisa didapatnya. Rama bergabung tidak lama kemudian dengan sebotol air mineral di tangannya. "Makasih," kata Magi saat Rama meletakkan air itu di meja. "Gue beli buat diri gue sendiri," jawab Rama datar. Magi mencibir lagi. "Pacar apaan begitu," gumamnya kesal sambil memakan satenya, lalu tiba-tiba ia berdiri dari kursinya, "teman-teman, Rama katanya mau traktir kalian semua-" "Magi-" "Ambil aja sesuka kalian, Rama yang bayar." "Beneran nih Kak?" tanya salah seorang adik kelas. "Iya, ambil aja ambil." Magi melambaikan tangannya pada semua orang agar segera memesan. Anak-anak itu segera berdiri dari meja dan mengerubuni stand-stand makanan, seolah sudah lima hari mereka tidak makan. Magi duduk kembali ke kursinya dan tertawa keras, ia memegangi perutnya dengan tidak tahan. "Mampus, bayarin deh tuh," katanya masih sambil tertawa, ia mengusap sudut matanya yang basah. Rama menghela napas menatap perempuan sinting di depannya itu. "Jangan harap seminggu ke depan gue bakal beliin lo makanan." "Kok gitu anjir?" "Lo pikir butuh berapa banyak uang buat ngebayar para busung lapar itu?" Magi menoleh menatap stand-stand makanan yang ramai, lalu ia menelan ludah dengan gugup, wajahnya tiba-tiba jadi pucat. Magi berdiri dari kursinya, bermaksud bergabung dalam kerumunan itu, tapi Rama menahan tangannya. "Mau ke mana?" tanya Rama dengan sebelah alis terangkat. "Mau ngehentiin mereka lah, gila aja lo seminggu gak dikasih makan, bisa mati kelaparan gue." "Duduk." "Gak bisa dong!" "Gue cuma bercanda, duduk lagi." "Serius? Awas lo tarik lagi ucapan lo, gue cekek." "Duduk Magi." Ekspresi Magi masih penuh protes saat ia menurut untuk duduk, sate taichan-nya tidak lagi mengepulkan asap seperti tadi. Rama yang melihat perempuan itu akhirnya duduk, lalu melepaskan tangan Magi, ia menghela napas panjang. "Lo gak punya uang?" tanya Rama sungguh-sungguh. "Punyalah! Emang lo pikir gue semiskin apa? Gini-gini gue juga bagian dari keluarga Zalardi ya." "Terus kenapa?" "Apanya?" "Kenapa lo bertingkah seolah lo gak punya uang?" Magi mengerutkan kening seolah Rama terlihat sangat bodoh di matanya. "Biar gue bisa porotin lo lah, gitu aja pakai nanya. Gak paham gue sama lo." Rama kecewa pada dirinya sendiri, bisa-bisanya ia mengira Magi tidak diberi uang oleh keluarganya, karena itu ia terus bergantung pada Rama. Perempuan di hadapannya ini benar-benar membuat Rama merasa bodoh. "Seminggu ke depan lo bayar sendiri makanan lo," kata Rama sambil berdiri dari kursinya. "Loh anjir! Jangan labil lo, kan tadi lo bilang cuma bercanda." "Duit gue abis buat bayar makanan mereka." "Hah?! Kalau gitu batalin aja traktirannya! Rama!l Rama sudah meninggalkan meja itu saat Magi berteriak memanggil namanya, harusnya memang sejak awal ia tidak mengikuti semua kemauan Magi. Rama memang tidak keberatan menghabiskan uangnya untuk Magi, karena ia mengira Magi tidak pernah diberi uang, tapi ternyata itu hanya salah paham dan Magi sendiri malah tidak memberitahunya apa-apa. Rama memejamkan matanya dengan pusing. "Benar-benar ya si cebol itu," gumamnya lelah. Sekarang Rama mempertanyakan kewarasannya yang mau-mau saja mencintai perempuan aneh itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN