Part 9

1865 Kata
Bodoh. Katakanlah Magi bodoh, karena kenyataannya memang seperti itu. Ia dengan bodohnya mencintai seseorang yang ditugaskan menjaganya, tapi memangnya salah ya menyukai orang yang selalu melindunginya itu? Magi bertemu Aska pertama kali saat berumur 10 Tahun, dia baru saja selesai ulangan kenaikan kelas 6 waktu itu, untuk anak seusianya yang haus akan kasih sayang, segala perhatian Aska padanya membuat Magi jatuh terlalu dalam. Magi duduk di kursi Taman dan menangis tanpa suara. Ia tertunduk dengan mata terpejam dan berusaha tak mengatakan apapun, apalagi yang duduk di sampingnya sekarang adalah Terama Adhiyaksa yang mengepal tangannya dan tak kunjung berusaha menenangkannya. "Gue kenal Aska sejak kecil," katanya tiba-tiba dan membuat Magi melirik penasaran. Kenapa dua orang itu tampak bermusuhan padahal sudah saling mengenal sejak lama? Ia mengusap wajahnya dan menatap Rama tanpa mengatakan apapun, tapi sorot matanya terlihat menunggu Rama melanjutkan ceritanya. Laki-laki itu menatap rumput hijau yang sudah dipotong pendek, ia diam-diam bernostalgia dengan masa kecilnya. "Waktu kecil dia pernah jadi tetangga gue. Karena waktu gue kecil, orang tua gue sibuk dan gue dititipin ke rumah Nenek, gue ketemu Aska." Magi masih menatapnya, menunggu laki-laki itu menceritakan apapun yang diketahuinya tentang Aska. "Aska itu ... semua orang kenal dia. Dari kecil dia tinggal dari satu rumah ke rumah lain, dia dibuang ke depan pintu rumah Pak Rw waktu bayi, karena dia bayi yang ganteng, semua orang jadi mau ngambil, sampai berantem." Rama terkekeh kecil mengingat saat kecil dulu bagaimana Aska diperlalukan sangat berharga oleh semua warga Desa. "Nenek gue yang cerita, katanya buat mencegah ada yang berantem, setiap hari dia digilir nginep dari rumah ke rumah. Setiap hari jadi bahan obrolan orang, semua orang sayang dia, apalagi dia tumbuh jadi anak yang membanggakan. Gue ketemu dia waktu dia kena giliran nginap di rumah Nenek, gue udah lama penasaran anak seperti apa yang terus-terusan diomongin warga. Dia anak paling keren yang pernah gue temuin, dia waktu itu masih 10 tahun, tapi pintar masak, jago beladiri, pintar dalam segala hal, gue jadi sering ikut ke manapun dia pergi, terutama kalo dia lagi latihan Taekwondo, jago dia." Iya jago, Magi mengulang dalam hati. "Gue sama dia jadi teman baik setelah itu, kita masuk SMP yang sama, di kelas yang sama dan punya banyak hal yang sama. Gue yang bayar apapun kebutuhan dia, sebaliknya dia ngejaga gue. Naik kelas dua, kita ketemu satu cewek." "Sania," kata Magi pelan. Rama tersenyum dan menatap Magi dengan nanar, mengingat kembali masa lalu seperti itu hanya membuat Rama merasakan kembali rasa sakit yang sama, tapi dari mana Magi tahu tentang Sania? "Iya, dia Sania, gumam Rama mengiyakan sambil menolehkan wajahnya dan menatap lurus ke depan. Sania itu perempuan paling aneh sekaligus paling istimewa yang pernah ditemui Rama. Rambutnya selalu dipotong pendek dan menolak mengakui dirinya perempuan, tatapan matanya juga selalu tajam dan bercahaya, tatapan matanya itulah yang membuat Rama jatuh cinta. "Dia jago banget berantem," Rama tertawa sebentar, tapi langsung redam bersama dengan kalimat selanjutnya, "di kelas 3 SMP, Sania bilang dia suka sama Aska, gue seharusnya gak kaget karena Aska memang keren, tapi bagi gue yang baru pertama kalinya jatuh cinta, gue gak bisa terima cewek yang gue suka malah suka sama Aska.” Hari-hari Rama mulai dari detik itu dipenuhi rasa iri dan kecemburuan, segala kekagumannya pada Aska tergantikan dengan rasa benci yang terus menerus tumbuh. "Saat masuk SMA hubungan gue sama Aska memburuk, yang ngebuat gue sama dia masih berteman cuma kehadiran Sania di antara kita. Terus tiba-tiba di kelas dua Aska mulai berubah, dia jadi rajin ikut tawuran dan Fight jalanan. Gue gak tahu ada apa, setiap kali gue tanya, dia bilang dia harus lebih kuat supaya bisa jaga seseorang." Magi mengingat-ngingat apa yang terjadi saat Aska kelas dua SMA, lalu meringis dalam hati saat mengingat apa yang terjadi waktu itu. "Suatu hari Sania nyatain perasaan dia ke Aska." Rama berhenti bicara untuk waktu yang lama, seolah apa yang akan dibicarakannya selanjatnya berat sekali untuk ia ingat, keningnya berkerut seakan merasakan sakit di suatu tempat di tubuhnya. "Gue suka sama lo, Aska." Seingat Rama waktu itu Aska terkejut, tapi laki-laki itu malah mengepal tangannya marah dan menoleh menatap Rama yang balik menatapnya dengan kemarahan. "Lupain apa yang lo rasain sama gue, San. Gue gak punya waktu buat hal kayak gini." Aska berbalik masih dengan mengepal tangannya. "Gak punya waktu kenapa?!" Sania membentak marah dan membuat Aska menoleh terkejut, "karena anak yang harus lo jagain itu?" "Sania!" "Apa semua waktu lo harus lo kasih semua buat dia? Lo sadar lo itu gak lebih kayak alat bagi dia, Aska." "Lo gak berhak bicara apapun tentang dia." Tangan Sania terkepal keras mendengarnya. Sania tidak tahu apa yang terjadi pada Aska, yang Sania tahu Aska berubah sejak bertemu anak yang selalu diceritakannya tanpa menyebut namanya itu. Masih mengepal tangannya kuat, Sania menatap punggung Aska yang mulai menjauh. "Gue ikut!" teriaknya keras, saat itu Aska akan tawuran. "Terserah," Aska mengepal tangan, "apapun yang terjadi, gue gak akan ngorbanin diri gue buat lo, lo bukan dia, San." "Sania! Lo gak boleh ikut!" Rama buru-buru membentak marah. “Gue bakal tanggung jawab sama pilihan gue sendiri, Ram." “Sania!” Sayangnya Rama yang berdiri di belakang mereka hari itu hanya bisa meredam kemarahannya dan mengikuti keduanya pergi tanpa bisa mencegah apapun, saat itu Rama benar-benar cemburu dengan apapun yang dimiliki Aska, ia bahkan berdo'a dalam hati dihari itu agar Aska tak akan pernah kembali lagi dari tawuran itu. "Mereka berantem dan Sania bilang dia mau ikut tawuran, tapi Aska malah bilang dia gak akan pernah ngelindungin Sania karena dia bukan prioritasnya Aska." "Jahat," gumam Magi tiba-tiba merasa kasihan. Rama mengangguk dan tersenyum miris. "Gue juga waktu itu mikir kayak lo, Sania terlalu keras kepala, dan gue gak punya alasan buat nahan dia. Gue berusaha jaga Sania, gue marah karena Aska gak sekalipun berusaha lindungi Sania." Rama termenung sebentar, mengingat tragedi yang terjadi hari itu. "Sampai gue lengah dan Sania ditusuk di perut. Gue sama Aska bawa dia ke Rumah Sakit, tapi Sania kehilangan banyak darah dan meninggal." Rama mengirimkan doa untuk Sania dalam diam, sampai hari ini amarah dan rasa bersalahnya masih menghantui Rama. "Gue mukul Aska untuk pertama kalinya hari itu, dan itu juga kali terakhir gue sama Aska bicara." Diam-diam Magi mengepal tangan dan menatap kakinya yang menggelantung di atas tanah. "Jadi cowok yang gue lihat di Rumah Sakit waktu itu lo ya?" Rama tidak menjawab pertanyaan Magi, ia melanjutkan ceritanya, "gue dengar Aska ambil Akselerasi setelah itu dan dia lulus satu tahun lebih cepat. Gue masih merasa bersalah sampai hari ini sementara Aska lupa segalanya." "Lo salah," potong Magi cepat. Rama menoleh, ia melihat Magi yang tangannya bergetar karena marah. "Salah?" "Aska selalu merasa bersalah, dia gak pernah lupa." Lalu Rama terkekeh kecil, merasa ucapan Magi lucu. "Lo gak perlu bela dia." Magi berdiri tiba-tiba dan menunjuk Rama, matanya berkaca-kaca dan dadanya bergemuruh. "Lo gak tahu apa-apa soal Aska, lo gak lihat waktu dia nangis, lo gak lihat bagaimana dia terpukul, lo gak tahu apapun." Setelahnya Magi meninggalkan Rama dengan tanda tanya besar di sana. Magi masih ingat dengan jelas hari itu, hari saat Aska menemuinya dan bilang semuanya sudah berakhir. *** 2 tahun yang lalu. "Bukan salah gue kalau dia begini, Sania aja yang b**o mau ikut gue." Magi tahu itu hanya kalimat penenang untuk Aska sendiri, ia mengatakannya agar tidak terlalu merasa bersalah, tapi Magi tahu dia benar-benar jatuh sekarang. Apalagi saat Rama memukulnya dan Aska tidak melawan sama sekali. "Harusnya gue gak pernah biarin Sania kenal sama lo!" bentak Rama kasar. Aska yang terhuyung mundur karena pukulan Rama mengusap mulutnya dengan punggung tangan. Wajahnya yang kacau bekas tawuran terlihat lebih kacau sekarang, tapi ia malah memberikan senyum miring pada Rama. "Gimana lagi? Lagian dia udah mati." "b*****t!" Rama memukulnya lagi, kali ini tidak hanya sekali, Aska tidak melawan sama sekali, meski ia bisa. Magi yang memperhatikan keduanya dari jauh tentu ingin menolong Aska, tapi ia mengurungkan niatnya dan tetap berdiri di tempatnya dengan tangan terkepal, karena Magi tahu Aska membiarkan Rama memukulnya agar rasa bersalahnya sedikit berkurang. "Pergi, jangan berani-berani lo datang ke pemakaman Sania," usir Rama dengan suara tajam setelah puas memukuli Aska yang sama sekali tak melawan. Aska tertawa mengejek setengah meringis, "gak usah repot-repot, gue gak akan datang, dia bukan siapa-siapa." Rama terlihat menahan dirinya untuk kembali memukul Aska dan membiarkan Aska pergi dengan langkah tertatih hampir jatuh. Laki-laki itu berjalan melewati Magi begitu saja seolah tak melihatnya, wajahnya dipenuhi raut penyesalan dan jatuh yang buruk. Magi mendapat telpon dari orang suruhannya, bahwa Aska masuk Rumah Sakit, padahal bukan Aska yang masuk Rumah Sakit, Sania-nya Aska yang masuk Rumah sakit, Sania yang selalu jadi topik pembicaraan Aska, Sania yang keren, Sania yang segalanya untuk Aska. Magi pantas cemburu, dibanding Sania ia hanya perempuan yang harus dilindungi Aska bukan karena ingin. Magi yakin jika Aska tidak pernah berjanji akan melindunginya, laki-laki itu bahkan mungkin tak akan pernah melihatnya sama sekali, semuanya hanya soal Sania dan Sania. Salah jika Magi cemburu dan sekarang merasa lega perempuan itu sudah tidak ada? Terdengar jahat, tapi apa yang bisa dilakukan Magi saat dia sama sekali tidak pernah terjangkau dalam penglihatan Aska, di sana hanya ada Sania. "Bang ...." Aska menoleh, melihat Magi yang diam-diam mengikutinya berjalan di sepanjang trotoar padahal ia punya mobil mewah. Aska tersenyum manis seperti biasa, seolah baru saja dia tidak jatuh dengan menyakitkan. "Lo ngapain di sini cebol?" tanyanya dengan nada mengejek seperti biasa meski suaranya bergetar. Magi tersenyum miris, Aska selalu ingin melindunginya, selalu ingin terlihat kuat di depannya, sampai tidak membiarkan Magi tahu ia terluka, sampai tidak membiarkan dirinya sendiri bersedih dengan kematian orang yang dicintainya. "Sania meninggal ya?" Pertanyaan Magi itu membuat Aska berhenti tersenyum dan menatap Magi dengan tatapan kosong. Tangannya terkepal kuat, tapi ia kembali tersenyum, kali ini tidak sampai di matanya. "Iya," katanya seolah ia tidak apa-apa. "Lo ... gak sakit?" Aska terdiam, berdiri dengan jarak dua langkah dari Magi, ia tertawa kecil sambil menepuk dadanya. "Sakit banget di sini, gue gak ngerti. Ini cuma Sania, bukan lo, gue seharusnya gak merasa sakit kan?" Memang seharusnya lo gak merasa sakit, Bang. Aska tertawa lagi sambil menepuk-nepuk dadanya. Ia mendekati Magi dan menarik perempuan itu ke dalam pelukannya, ia tidak mengatakan apapun, tapi punggungnya mulai bergetar dan pelukannya mengerat. Magi tahu Aska menangis, ini pertama kalinya Aska menangis. "She's gone." Magi ikut menangis, menangisi dirinya sendiri karena ternyata ia tidak pernah menjadi apa-apa di hati Aska, semuanya tentang Sania. Rasanya sehebat itu selama ini ia masih bodoh mengira Aska merasakan hal yang sama. "Bukan salah lo bang, bukan salah lo," bisik Magi menepuk punggung Aska. Bukan salah Aska, termasuk membuat Magi jatuh cinta. Aska masih memeluknya beberapa menit sebelum melepaskan Magi dan tersenyum, lagi-lagi ia menyembunyikan luka dan air matanya, ia hanya memperlihatkan senyum dan kekuatan pada Magi. "Yuk makan Ice Creem, gue traktir," katanya kemudian, berpura-pura semuanya baik-baik saja. "Yang banyak ya." Magi tersenyum lebar, ikut bersandiwara bersama Aska. "Iya cebol, bawel lo." Magi tertawa dan memeluk lengan Aska, menariknya menuju kedai Ice Creem terdekat. Kalau berpura-pura tidak terjadi apapun akan membuat Aska lebih baik, Magi akan melakukannya, bertingkah seolah Sania tidak pernah ada di antara mereka, berpura-pura kalau Aska tidak pernah menganggapnya hanya seseorang yang harus dilindungi, Magi akan terus berpura-pura. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN