Tik tok Tik tok
Ribut.
Sempit.
Ini pertama kalinya Magi merasa kamarnya ribut oleh suara jam, juga terasa sempit, ia nyaris tidak bisa bergerak. Padahal kasurnya jelas berukuran besar dan muat untuk 4 orang dewasa, AC di kamarnya juga seperti tidak berfungsi, hawanya jadi panas.
"Sempit," gumam Magi berusaha mendorong apapun yang membuatnya merasa sempit.
Bruk...
Prang...
"Akh!"
Mata Magi langsung terbuka lebar mendengar suara ribut itu, ia tidak sempat mengucek matanya dan segera bangun.
Magi menatap ke samping ke laci samping tempat tidurnya yang seingatnya di sanalah satu-satunya tempat yang ada benda pecah belah berupa gelas, dan gelas itu menghilang sekarang.
Magi melihat ke bawah dan mulutnya terbuka lebar karena kaget.
"Buset Ram, lo ngapain tengkurep di bawah? Gak dingin?" tanya Magi heran.
Rama yang notabenenya baru saja di tendang Magi dari atas tempat tidur menoleh kesal, badannya sakit semua dan kepalanya sakit karena terbentur laci, untung saja gelas yang jatuh tidak mengenai kepalanya.
"Lo nendang gue, cebol," ketus Rama berusaha bangkit.
"Lah? Kapan? Orang gue tidur dari tadi kok."
"Iya, lo tidurnya kayak kucing mau melahirkan, gak bisa diam, Rama yang masih duduk di lantai mengusap kepalanya pelan, baru dipeluk lo udah nendang gue, gimana kalau gue lakuin yang lain, bisa-bisa besoknya gue mati kali," gerutu Rama.
Magi cengengesan, tapi tidak merasa bersalah sama sekali, ia cukup terkejut karena ini pertama kalinya Rama banyak bicara di depannya, mungkin karena laki-laki itu sedang kesal.
Magi memutuskan turun dari kasur dan berjongkok di samping Rama, ia menusuk-nusuk bahu Rama dengan telunjuknya.
"Ram-Ram, gak apa-apa kan?" tanya Magi melirik kepala Rama yang sedikit memar.
"Minggir, cebol."
Rama menyingkirkan tangan Magi dari bahunya kemudian berdiri, ia masih mengusap-usap kepalanya yang terbentur sambil menatap Magi dengan tatapan yang entah apa namanya, yang jelas saat ini Rama rasanya ingin mengcekik perempuan yang masih berjongkok itu sambil mendongak ke arahnya.
"Lo tambah jelek aja anjir benjol gitu. Gue kayaknya ada plester deh, bisa lo tempelin di kepala lo."
"Plester itu buat luka keiiris, b**o banget ya lo."
"Masih pagi juga lo bikin kesal, setan banget. Setan aja gak bikin kesal pagi-pagi, dih setan sih emang masih lebih baik dari lo.... Eh? Tunggu."
Seolah baru tersadar dari tidur panjangnya, Magi baru benar-benar menyadari ada yang salah dari pertengkarannya barusan dengan Rama.
Ia harusnya bukan membicarakan soal luka memar yang ada di kepala Rama, ia berdiri dan menatap Rama sengit, laki-laki itu hanya menaikkan alis heran, mau apa lagi si cebol ini?
"Kok gue tidur di kasur? Semalam kan gue tidur di sofa."
"Gue pindahin, kasihan tidur di sofa nanti makin pendek," kata Rama datar yang mana membuat Magi mencebik kesal.
"TAPI TADI LO MELUK GUE KAN?! NGAKU LO m***m!"
Bug...
Sumpah, Magi benar-benar tidak bermaksud melakukannya, tapi kakinya yang tiba-tiba bergerak menendang s**********n Rama sebelum Magi sempat berpikir.
"Anjing!" Rama mengumpat kasar dan memegangi harta berharganya sambil jatuh berlutut ke lantai.
"Ma-ma-maaf, gak sengaja!"
Magi buru-buru berlari ke kamar mandi dan mengunci pintu, membiarkan Rama berguling di lantai kasur sambil memegangi daerah di bawah perutnya. Baru kali ini ia mendengar Rama mengumpat kasar, Magi jadi takut.
"Gue bales lo entar, Magika!" teriak Rama penuh emosi sambil masih meringis kesakitan.
***
Semalam saat Magi tertidur di sofa tanpa bantal dan selimut, Rama keluar dari kamar untuk memperhatikan perempuan itu yang tidurnya tampak sangat manis dan cantik sekali, berbanding terbalik saat ia bangun.
Rama tersenyum singkat dan membungkuk untuk mengangkat Magi ke dalam dekapannya, walau ia menyuruh Magi tidur di sofa tadi, Rama tidak akan tega benar-benar membiarkannya tidur di sofa.
"Uhm Mama," gumam Magi tak jelas sambil menyamankan posisi kepalanya di dekapan Rama.
"Mama? Anak Mama?"
Rama tertawa pelan, si cerewet ini ternyata tak sehebat kelihatannya, ia masih memanggil Mamanya dalam tidurnya seperti Anak Mama yang manja.
Lihat saja caranya tidur di gendongan Rama, terlihat sangat nyaman dan seolah tidak akan terganggu meskipun ada gempa bumi. Rama jadi tergoda untuk menciumnya, eh! Maksudnya tergoda untuk menidurkannya di kasur lagi.
Rama membawa Magi masuk ke kamar, lalu meletakkan Magi di atas kasur. Rama hanya ingin mengganggu Magi, itu sebabnya Rama menyuruh Magi tidur di Sofa. Meski terdengar menyebalkan, tapi Rama suka melihat perempuan itu mengomel.
"Mama jangan pergi, dingin," gumam Magi memeluk dirinya sendiri.
Melihat perempuan itu terlihat makin manis saja sampai membuat Rama khawatir, Rama rasanya harus segera tidur. Ia tidak boleh memperhatikan Magi terlalu, ia khawatir bukannya membiarkan Magi tidur, ia malah akan membangunkan Magi dan memaksanya melakukan sesuatu.
Rama menarik napas dan ikut membaringkan tubuh di samping Magi, ia menarik selimut kemudian menyelimutinya dirinya dan Magi.
"Sabar Rama, nanti juga jadi milik lo," bisik Rama pada dirinya sendiri, ia meletakkan tangannya di atas pinggang Magi dan berharap dia tidak akan melakukan sesuatu pada Magi.
"Sleep well, Magika Zalardi"
Satu kecupan pelan jatuh di pelipis Magi dan satu senyuman tercipta di bibir mungil perempuan itu, mungkin di alam bawah sadarnya Magika Zalardi tahu ada seseorang yang memeluknya dan ingin melindunginya bahkan dari dirinya sendiri.
Magi mungkin tahu dalam tidurnya bahwa ia akan terbangun dan menemukan dirinya tidak sendirian lagi, mungkin itu sebabnya ia tersenyum saat tidurnya begitu nyenyak.
***
Turun dari mobil Rama, Magi menatap sekeliling, takut ada yang melihat dan berpikiran yang tidak-tidak, Magi tidak mau di gosipkan bersama setan jangkung itu.
Magi bukan takut pada siapa-siapa, Magi hanya tidak mau terlibat lebih jauh bersama laki-laki yang suka sekali membuatnya bertambah pendek dengan cara sengaja menekan kepalanya ke bawah. Dasar tidak punya hati.
"Gi-"
"Magi!" bentak Magi kasar tanpa menoleh melihat Rama, "gak bisa lo manggil nama gue lengkap gitu? Lo panggil Gi kayak nama gue Gigi aja, gak sudi gue," omel Magi.
Rama yang berjalan di belakangnya menghela napas, sampai sekarang masih bingung kenapa bisa-bisanya ia menyukai perempuan aneh dan kasar itu, kalau dipikir-pikir malah terlihat mustahil Rama bisa menyukainya.
"Tadi pagi lo gak sempat buatin bekal kan?" tuduh Rama.
Hal itu membuat Magi menekuk wajah, seumur hidupnya Magi tidak pernah memasak, bukan karena dia tinggal sendiri lantas ia bisa masak. Itu hanya ada dalam cerita-cerita, karena sesungguhnya Magi paling lemah soal masak-memasak, ia tinggal di apartemen pun setiap harinya harus dibawakan makanan oleh ART dari rumah Oma.
"Gue mana bisa masak, emang lo mau makan racun?"
"Terus lo jadi babu gue gunanya apa?"
Dikatai begitu Magi makin menekuk wajah, padahal kan sudah sejak awal Magi mengatakannya, ia tidak bisa masak. Jangankan masak, membedakan garam dan micin saja tidak bisa. Lagian apa untungnya untuk Rama menjadikan Magi yang tidak tahu apa-apa soal dapur selain makan itu menjadi Babu?
"Mending lo lepasin gue deh, dari pada lo rugi sendiri kan?"
"Enak di lo-"
"Magi!"
Hanya 1:1000 orang yang bisa memanggil Magi dengan teriakan seperti itu, Magi berbalik dan melihat Aska setengah berlari setengah tersenyum ke arahnya, ia sampai di depan Magi dan tertawa kecil.
"Telat ya?" tanya Aska setengah ngos-ngosan.
"Lo ngapain di sini Bang?"
Bukannya menjawab, Magi malah menyuarakan kebingungannya melihat Aska berada di SMA Bhintara sepagi ini, tapi cowok itu tertawa lagi dan mengusak lembut rambut Magi.
"Gue mau magang jadi Guru Ekonomi di sini, ini lagi mau nyerahin berkas ke Kepala Sekolah," jelas Aska.
"Loh? Jurusan lo emang ada hubungannya sama jadi Guru Ekonomi? Bukannya harusnya lo magang di perusahaan ya?"
"Bisa, gue kan almamater Bhintara juga."
Magi menarik napas panjang, menatap Aska dengan sorot mata kesal. Magi tahu jelas alasan Aska memilih magang menjadi Guru Ekonomi di sekolahnya dari pada magang ke perusahaan, padahal Oma pasti akan memastikan Aska masuk ke salah satu perusahaan besar yang berpengaruh.
Magi mengepal tangan, tiba-tiba Aska terlihat menarik untuk dihajar.
"Bang, lo kan baru lulus dua tahun yang lalu, kok bisa lo udah KKN aja?"
"Gue kan ambil SP, jadi kemungkinan gue udah lulus tahun ini, atau paling lambat tahun depan."
"Gue gak suka ya."
Aska mengerutkan kening, ditatapnya Magi yang keningnya berkerut terganggu. Perempuan itu jelas memberikan tatapan tidak suka pada Aska.
"Gak suka kenapa?"
Magi makin mengepal tangan dan menatap Aska marah.
"Gue gak suka lo kayak gini."
"Kayak gini gimana sih?" Aska tertawa canggung.
"Gue gak suka ya kalau lo selalu maksain diri buat gue. Lo gak perlu Bang repot-repot magang di sini cuma buat jagain gue. Gue bukan anak kecil lagi Bang, gue bisa jaga diri gue sendiri."
Aska mengerti, menurut Magi saat ini Aska sedang berusaha memata-matainya sekaligus menjaganya. Walaupun tujuannya datang ke sekolah ini memang untuk menjaga Magi, Aska tidak akan mau mengakui. Apalagi Rama ada di sana, ia belum bisa memastikan alasan Rama mendekati Magi.
"Ini kemauan gue sendiri kok, udah tugas-"
"Berhenti Aska!"
Magi membentak, dadanya memanas dan ingin meledak menahan sesak, ia berdecak dengan tangan terkepal. Aska menatapnya kaget, Ini pertama kalinya Magi memanggil namanya langsung, tanpa embel-embel Bang, itu jelas hal yang tidak bagus.
"Please, gue minta tolong banget, jangan perlakuin gue kayak anak kecil yang gak bisa jaga diri, gue bisa. Lo gak perlu selalu ngikutin gue ke mana-mana kayak stalker. Gue bukan orang b**o Aska, yang apa-apa harus selalu diawasi dan lo laporin ke Oma, Magi meremas tangannya makin kuat demi menahan air matanya tidak tumpah, dan gue juga bukan adek lo yang gak boleh lo sentuh, gue sama Sania sama-sama cewek yang gak ada hubungan darah sama lo."
Magi menatap Aska dengan tatapan setengah marah dan setengah memohon, ia tidak bisa melanjutkan ucapannya lagi dan nyaris menangis.
Ia tidak peduli meski baru saja telah meminta Aska menganggapnya sebagai seorang perempuan, bukan adik yang harus selalu dilindunginya. Magi juga tidak peduli bahwa ada laki-laki di belakangnya yang mengepal tangan dan menahan diri untuk tidak ikut campur, juga Aska yang kehilangan suaranya dan kesulitan merespon ucapan Magi, atau lebih tepatnya pernyataan perasaan itu.
Magi hanya ingin keberadaannya di hidup Aska tidak lagi hanya sekedar sebagai subjek yang harus dilindungi Aska.
"Lo tahu kan gue cuma-"
"Cuma orang asing yang dipaksa Mama ngelindungin gue? Gue tahu, gue juga tahu selama ini di mata lo gue gak lebih dari subjek yang harus lo lindungi, gue bahkan ragu lo pernah nganggap gue benar-benar adek lo."
Aska menarik napas, ia berkedip cepat dengan gusar. Apa yang dilakukan Aska selama ini bukan sesuatu yang bisa disepelekan, begitu juga hubungan antara ia dan Magi, 6 tahun bukan waktu yang singkat untuk menghancurkan semuanya begitu saja, Aska tidak bisa mengingkari janjinya sendiri.
“Saya minta tolong, Aska. Saya mohon sama kamu, Magi tidak boleh terluka lagi."
Tidak boleh, Aska sama sekali tidak boleh melanggar janjinya sendiri meski lagi-lagi ia harus membuat Magi menangis, karena itu Aska memilih mengulangi kebohongan yang sama.
"Gue masih belum bisa lupa," ucap Aska pelan dengan mengepal tangannya kuat.
Beberapa detik itu Magi meneguk ludah pahit, menatap tepat ke manik mata Aska yang menatapnya gusar. Magi tahu sejak awal ia tidak akan pernah berakhir bersama Aska, apa yang ada di dalam tatapan mata laki-laki itu, jelas tidak sama dengan miliknya.
"Sania udah mati," bola mata Aska melebar mendengarnya, “ dan gue berharap dia gak pernah terlahir."
Aska seolah berhenti bernapas saat Magi mengatakannya, perempuan itu berbalik ingin belari menjauh, ia merasa marah pada dirinya sendiri. Aska sesaat merentangkan tangan dan menahan pergelangan tangan Magi.
"Magi-"
Magi menepisnya kasar dan membuat Aska nyaris berhenti bernapas karena terkejut.
"Gue gak mau bicara lagi sama lo."
Aska tahu mati rasanya lebih baik dari apa yang baru saja dikatakan Magi, tapi apa Aska punya pilihan lain? Atau apa memang harus berakhir begini?
***