Rasanya mandi dengan air dingin di sore yang panas membakar ini adalah pilihan bagus, tapi keturunan Adhiyaksa yang satu ini memilih duduk bersandar di kaki tempat tidurnya dan menatap secarik kertas berisi gambar anak-anak manusia.
Rama berpikir, ada hubungan apa Aska dan Magi sebenarnya?
Rama datang ke Mall bersama ibunya yang meminta ditemani belanja, saat itu Rama benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan Magi, lalu saat memasuki toko sepatu bersama ibunya, Rama melihat perempuan itu sedang memeluk seseorang.
Rama merasa marah saat itu entah untuk alasan apa, ia lalu menghampiri Magi dengan pura-pura sedang melihat-lihat sepatu.
"Kenapa harus Aska lagi," gumamnya kesal.
Rama mengusap wajahnya kasar, ia sama sekali tidak bermaksud mengganggu Magi, tapi ia marah saat melihat Magi tertawa saat bersama Aska, ia tidak terima melihat perempuan itu begitu manja pada Aska, terlebih saat ia tak sengaja mendengar Magi berkata sayang pada Aska.
Rama marah sampai rasanya ingin menarik Magi dari sana dan menyembunyikannya di suatu tempat.
"Dihina Bang Aska aja gue gak suka..."
Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dan matanya melebar mengingat sebaris kalimat yang pernah diucapkan Magi itu, Rama baru menyadari ia melewatkan hal penting dari ucapan Magi waktu itu, Magi bahkan menyebut nama Aska seolah mereka sangat dekat.
Rama gelisah, ia meremas secarik foto itu dan melemparnya ke sudut kamar dengan marah.
"Gue masuk ya Bang?"
Andru yang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu melongokkan kepalanya dari pintu, Rama mengangguk menjawab pertanyaannya dan membiarkan Andru masuk, Andru menjatuhkan dirinya ke kasur.
"Kenapa? Kusut amat itu muka," tanya Andru mengucek matanya.
Tak ada respon dari Rama, laki-laki itu masih sibuk berpikir ada hubungan apa Magi dan Aska yang ujung-ujungnya tetap saja menuju satu kesimpulan : mereka pacaran, dan Rama kesal setiap kali teori yang dibuatnya berujung ke sana, makin kesal mengingat perbedaan sikap Magi pada Aska dan padanya. Sialan.
"Soal Magi sama Aska ya?" tanya Andru lagi tak menyerah.
"Hm."
Dijawab sesingkat itu, Andru mengerti abangnya sedang stress.
"Ingat gak sih lo bang? Alasan Aska gak pernah ngelirik Sania sama sekali, bahkan gak peduli sama Sania meski cewek itu mohon-mohon ke Aska, ingat gak?"
Laki-laki berambut hitam pekat itu berpikir, berusaha mengingat-ingat kejadian yang sudah berlalu bertahun-tahun lalu. Rama mendongak seketika saat teringat sesuatu, ia menatap Andru dengan tatapan sulit dijelaskan.
"Maksud lo cewek itu ... Magi?" kata Rama mendesis.
"Bisa jadi cewek yang dijaga Aska itu emang Magi."
"Sialan!"
Rama berdiri dari duduk-duduknya dan keluar dari kamar setelah menendang pintunya sampai engsel bagian atasnya terlepas, Andru menggaruk tengkuk ngeri.
Sedangkan Rama mengambil kunci mobilnya dan membawa Lexus putihnya menuju sebuah kawasan apartemen elit. Rama hanya punya satu tujuan saat ini, menemui Magi dan menanyakan langsung pada perempuan itu.
Jangan tanya kenapa Rama tahu di mana Magi tinggal, karena laki-lai itu akan selalu tahu apa yang membuatnya tertarik, apalagi jika berkaitan dengan perempuan kasar yang diam-diam terlihat manis di matanya itu.
Rama bukan tipe orang yang akan dengan gengsi menolak perasaannya jika memang ia tertarik pada seseorang, Rama akan berusaha mendapatkannya, meski belum yakin ia sedang jatuh cinta atau belum.
Tok.. Tok.. Tok
Rama mengetuk pintu di depannya dan berharap Magi sudah pulang, ia tidak mau menunggu saat ini.
"Bentar."
Suara dari dalam membuat Rama tersenyum, tahu kalau itu pasti suara Magi. Rama mengetuk lagi lebih keras dari sebelumnya.
"Buset, bentar oi bentar, lagi otw," teriak Magi.
Rama tertawa pelan mendengar perempuan itu, ah sudahlah, Rama memang sedang jatuh cinta, segampang itu? Ya, segampang itu. Kalau Magi bisa membuat satu sekolah mencintainya, lalu kenapa Rama tidak?
"Hiih, ngapain lo disini anjir?"
Mendengar suara kurang ajar di depannya, Rama menunduk memperhatikan si cebol yang sekarang sedang memakai kaos hitam dan celana selutut, rambutnya diikat asal menggunakan tali sepatu, dasar aneh.
"Minggir, gue mau masuk."
Rama menyingkirkan Magi dengan mudah dari hadapannya dan langsung masuk ke dalam apartemen Magi yang termasuk hitungan mewah, tapi malah jadi tampak sederhana karena perabotan di dalamnya yang sangat sedikit.
"Sopan gitu lo asal nyelonong aja kayak yang punya rumah? Gak diajarin sopan santun lo? Gue ajarin sini, sekalian gue ajarin mati," gerutu Magi memulai ceramah tidak pentingnya, lalu matanya makin melotot melihat Rama duduk di beanbednya.
Magi berkacak pinggang dan memelototi Rama yang duduk anteng di beanbed berbentuk angry bird yang menenggelamkan sebagian dirinya saat Magi duduk, ada TV besar di dinding, dan jejeran CD di bawahnya.
"Gue nginap," kata Rama singkat seolah apartemen itu adalah miliknya.
"Hah?! Lo mau macam-macam ya? Apa kata orang anjir kalau lo nginep di rumah perawan, lo gak punya rumah apa gimana mau nginap di apartemen gue? Jangan pikir karena gue seksi nan semok gini gue bisa di grepe ya, apalagi gratis, gak bisa."
"Kalau bayar bisa?"
"Ya enggaklah b**o!"
Magi otomatis membentak mendengar pertanyaan Rama dan matanya makin melotot tajam. Rama terkekeh kecil, entah kenapa mendengarkan ocehan Magi bukannya membuat Rama kesal malah jutsru hatinya menghangat.
Rama diam-diam bersyukur Magi masih seperti yang diharapkannya bahkan setelah insiden kemarin.
***
Seumur-umur Magi tinggal di apartemen, baru kali ini ia mendapatkan tamu setidak tahu diri Rama ini, mana ada coba tamu yang langsung ambil makan minum sendiri, nonton TV kakinya di atas, mana nyuruh Magi duduk di lantai lagi, sambil mengancam karena Magi sudah bilang akan menuruti peraturannya.
"Ganti," kata Rama memerintah.
Ini sudah keseribu kalinya Magi harus mengganti CD Film gara-gara si b******k jangkung itu, Magi menyesal sudah membuka pintu untuknya, ia bersumpah tidak akan lagi membukakan pintunya untuk setan jangkung itu.
Magi menghela napas sebelum duduk lagi di lantai, di dekat kaki Rama yang berselonjor di atas meja, jangan tanya kenapa Magi mau duduk di sana, ia saja tidak mengerti kenapa mau-maunya menuruti perintah Rama.
"Lo ada hubungan apa sama Aska?"
Pertanyaan tiba-tiba dari Rama itu membuat Magi mendongak.
"Aska? Bang Aska?"
"Emang lo kenal Aska yang lain?"
"Enggak sih," Magi menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Bang Aska ya Abang gue, emang ada hubungan apa lagi?"
"Bukan pacaran?"
"Bukanlah, gak mungkin Aska mau sama gue."
Oh? Rama mengangkat sebelah alisnya, "lo suka sama Aska?"
"Hah?!" Magi berdiri dengan cepat, ia tertawa salah tingkah seolah baru saja ketahuan, "e-enggaklah, ngadi-ngadi lo, ha ha ha"
"Kalau enggak kenapa lo salah tingkah?"
"Siapa yang salah tingkah?!" bentak Magi sebelum buru-buru berjalan menuju dapurnya, "gue ke toilet dulu ah, ha ha ha."
Rama memperhatikan punggung Magi yang kemudian menghilang di balik tembok dapur, tanpa perlu bertanya pun Rama sudah tahu Magi menyukai Aska.
Tangannya mengepal kuat, Rama tahu ia tidak punya hak untuk marah, tapi tetap saja Rama merasa sangat marah saat ini.
"Ram, mau kuaci gak?"
Magi muncul tidak lama kemudian dengan satu pack soda dan dua bungkus kuaci ukuran besar.
"Soda aja," jawab Rama tanpa mengalihkan tatapannya dari TV, ia merasa akan makin marah jika melihat wajah Magi sekarang.
Magi duduk kembali di lantai dan menaruh bawaannya di meja, ia kemudian membuka bungkus kuacinya.
"Lo serius mau nginap?" tanya Magi sambil mengupas kuacinya.
"Hm."
"Gue gak ada kamar kosong, lo tidur di mana dong?"
"Lo yang tidur di mana?"
"Di kamarlah."
"Tidur di sofa aja, gue yang di kamar."
"Enak aja, rumah punya gue kok lo yang ngatur. Lo ajalah yang tidur di sofa, gue kan cewek, masa lo tega gue tidur di sofa."
"Lah? Gue bosnya."
"f**k you."
Magi mengancungkan jari tengahnya dan melemparkan kulit kuacinya pada Rama, satu kali, Rama diam saja, kedua kalinya Rama masih diam, tapi seolah Magi benar-benar ingin membuat Rama kesal, ia terus melempari Rama dengan kulit kuaci.
Pletak..
Rama akhirnya menjitak kepala si cebol kurang ajar itu.
"Akh! Sakit b**o," teriak Magi keras.
"Lo lempar lagi, gue ceburin lo di kloset."
"Gak muat bego."
"Yakin gak muat? Mau coba?"
Magi akhirnya diam, memilih menutup mulutnya sebelum Rama benar-benar menenggelamkannya ke dalam lubang kloset. Sebenarnya Rama tidak akan menjitak kepala perempuan itu, tapi kulit kuaci yang dilemparnya di akhir-akhir itu bercampur liur Magi, bagaimana Rama tidak kesal?
"Ram, bantal di sini cuma cukup buat gue, gimana dong? Lo pulang aja apa gimana gitu."
Sepertinya Magi ini tipe perempuan masokis, ia tetap saja cerewet meski sudah dibully Rama berkali-kali. Seolah tidak ada kapok-kapoknya mendapat jitakan di kepalanya, mungkin ia baru akan diam kalau Rama menciumnya.
"Bantal sofa kan ada," jawab Rama sabar.
"Oh iya hehe, lo pake bantal Sofa kan bisa ya?"
"Lo yang pakai."
"Idih, gue udah tidur di sofa, pake bantal sofa juga, gak sekalian lo suruh gue tidur sama pembuat sofanya?"
"Kalau lo mau aja sih."
"Kampret."
Sekali lagi, Magi menyesal membukakan pintu untuk Rama, tidak lagi-lagi deh. Belum mati saja sudah ketemu iblis, ada dosa apa Magi dikehidupannya yang lalu sampai Tuhan mengirimkan Rama ke hidupnya.
Beberapa menit ke depannya, Magi mulai anteng memakan kuacinya tanpa membuka mulutnya untuk bicara lagi. Rama juga menonton TV dengan tenang walau sesekali mengganggu Magi yang diabaikan perempuan itu, ia tidak mau membuat masalah lagi, tapi tidak lama kemudian Magi kembali bersuara.
"Lo gak lapar, Ram? Delivery dong."
Si cebol mulai lagi, Rama tersenyum tipis. Perempuan ini memang tidak ada kapoknya, benar-benar masokis. Rama mendorong kepala Magi sampai nyaris terbentur meja.
"b*****t, lo kenapa suka bully kepala gue hah?! Dia ada salah apa sama lo, Durjana?" teriak Magi.
"Suara lo cebol."
"Setan! Asw! Anying lo!"
"Diam, gue mau Delivery dulu."
Rama mengeluarkan ponselnya dan menelpon pesan antar makanan, tangannya yang kosong mengusel-usel rambut Magi, semakin ditepis si pemilik, semakin tangannya berulah. Ia suka tekstur rambut Magi yang tidak telalu tebal, dan tidak tipis, halus dan terasa seperti diciptakan khusus untuk tangannya berada di sana.
Rama meletakkan lagi ponselnya setelah selesai, sekalian berhenti mengusel rambut Magi.
"Hoam."
Rama melirik singkat Magi yang menguap dengan tidak sopan-sopannya. Mulutnya terbuka lebar dan dia merentangkan tangannya ke atas, sengaja mengenai dagu Rama dengan tujuan balas dendam, tapi Rama memilih mengabaikannya.
Rama menggerekkan kakinya yang berselonjor di atas meja dan menyimpannya di atas kepala Magi, sontak membuat perempuan itu murka.
"Monyet lo, gue cekik beneran lo setan jangkung! Gak ada tata krama lo bertamu di rumah orang, minta mati ya? Bang Aska ganteng, manis, banyak duit gak pelit gitu aja masih tahu aturan, ini elo-"
Mulut Magi berhenti mengoceh saat benda lembab menutupinya, memaksanya diam. Detik yang singkat itu seperti tidak terlihat oleh Magi, begitu cepat sampai Magi mengira dia hanya sedang menghayal. Mata cokelatnya terbuka lebar menatap Rama yang berdiri menjulang di depannya dengan wajah marah dan mata yang menatapnya tajam.
"Jangan sebut nama Aska depan gue." Suara Rama terdengar marah di telinga Magi.
Ia kemudian berlalu dari hadapan Magi dan masuk ke dalam kamar perempuan itu, meninggalkan Magi yang masih tidak bisa menemukan kembali kendali dirinya dan masih memegangi bibirnya sendiri.
Barusan itu...
Rama menciumnya?
Dibibir?
"Huastagah, RAMA b******k! MATI LO HABIS INI!"
Rama yang mendengar suara teriakan menggema itu hanya terkekeh pelan, ia sendiri cukup kaget dengan apa yang baru saja dilakukannya, Rama sama sekali tak menyangka ia akan berani melakukan itu. Rama mengaku kalah, seratus persen ia memang sudah jatuh cinta.
***