Seumur hidup Magi tidak pernah semalu itu di depan orang lain, bagaimanapun juga ia memang harus merelakan harga dirinya dan hanya memakai Sweater Rama untuk menutupi perbuatan dosanya.
Untungnya yang tahu kejadian itu hanya Rama dan si Andru sialan dan setelah hari itu, Andru masuk daftar hitam orang yang harus di cekiknya sampai mati.
Menghentikan langkahnya di ujung koridor menuju gerbang, Magi menatap tak suka sepasang manusia berbeda jenis yang sedang berdiri berhadap-hadapan di depan gerbang sekolah.
Tangannya terkepal kuat dan ia tak bisa menahan matanya untuk tak menatap benci perempuan itu.
Magi melangkah tergesa, menghampiri perempuan yang rambutnya dikuncir dengan karet rambut berwarna merah dan laki-laki yang mengenakan jaket parka itu.
Laki-laki yang berdiri di depan perempuan itu tak menyadari kehadiran Magi, ia hanya menatap perempuan di depannya dengan tatapan dingin yang kelewat menakutkan. Bibirnya menipis geram, terlihat sekali benar-benar tidak suka dengan keberadaan perempuan itu di sekitarnya.
"Kakak, Revani minta maaf."
Suara bisikan lirih itu tertangkap indra pendengar Magi, ia mendengus makin kesal, tapi menghentikan langkah sebentar untuk mendengar lebih jauh.
"Gue merasa gak pernah kenal lo," kata laki-laki itu dingin, tak merasa perlu melembutkan suaranya.
"Jangan kayak gitu, Kak. Aku tahu aku salah, jangan benci sama aku."
"Jangan bertingkah seolah gue akrab banget sama lo, gue gak punya adek kayak lo."
"Kakak"
Makin dekat ke sana, senyum sinis Magi makin melebar, ia mengutuk dalam hati siapapun yang sudah mempertemukan dua orang itu.
Hanya soal hitungan waktu saja Magi sampai di sana dan menarik perhatian sosok laki-laki yang berdiri di sana, dan laki-laki itu tersenyum melihatnya.
"Udah pulang?" sapanya dengan senyum hangat dan mata yang sedikit menyipit.
Melihat hal itu membuat Revani terhenyak. Ia bisa tersenyum demikian hangatnya untuk Magi, tapi jangankan tersenyum, ia bahkan pura-pura tak mengenalnya, Revani merasakan lagi denyut sakit itu, lebih sakit dari yang bisa dirasakannya saat semua orang membencinya.
"Abang! Magi kangen," teriak Magi sambil melemparkan dirinya ke pelukan laki-laki itu dan ia ditangkap dengan sempurna, walaupun sempat mundur selangkah karena Magi yang melompat tiba-tiba.
"Lo mau jatoh lompat kayak gitu? omel laki-laki itu sambil menurunkan Magi dari pelukannya.
"Tapi lo nangkap gue kan, Bang." Magi cengengesan tak bersalah.
Laki-laki itu menghela napas, lalu tersenyum usil, "gue juga kangen, kok lo gak tumbuh sih?" tanya laki-laki itu sambil memperhatikan Magi dengan sorot heran dan ekspresi berpikir.
"Jangan mulai deh," ketus Magi dan laki-laki itu tertawa.
Ia mengusap kepala Magi dengan sayang dan Magi tertawa bahagia mendapatkan usapan itu. Jarang sekali Magi terlihat sebahagia itu sejak 6 bulan yang lalu, dan Revani cukup tahu diri untuk tak mengganggu mereka, sayangnya sebelum ia sempat pergi diam-diam, Magi sudah menoleh menatapnya dengan senyum manis dibuat-buat.
"Eh Revani, udah lama ya?" tanya Magi dengan suara ramah.
"I-iya, dari tadi." jawab Revani pelan.
"Iya ya, lo pasti udah lama ," Magi memiringkan kepala dan tersenyum lebih manis, "jadi penghancur kebahagiaan orang lain."
Lagi, Revani menunduk tak berani menatap Magi yang masih tersenyum. Itu jelas hanya topeng karena Revani sudah bisa menebak, kata-kata yang akan keluar selanjutnya akan lebih menyakitinya. Revani sangat tahu Magi akan melakukan apapun untuk menyakiti orang yang di bencinya.
"Kabar Papa lo gimana? Masih hidup? Sehat?"
"Magi..."
"Maksud gue baik loh Van, gue nanyain kabar beliau karena khawatir aja, ya kalau dia masih hidup harusnya lo bersyukur dong masih ada yang ngingetin lo alasan kenapa lo bisa hidup enak, maaf ya kalau gue menyinggung lo."
"Please jangan bicara gitu-"
"Loh, bisa ngomong?" Magi memotong cepat, tidak memberi kesempatan Revani untuk bicara, "gue kira bisu karena kelamaan makan uang haram, gimana sih rasanya hidup mewah pakai uang haram?"
"Udah Magi, gak usah buang-buang waktu bicara sama dia."
Laki-laki yang dipanggil Abang oleh Magi itu menarik tangan Magi agar pergi dari sana, tidak usah berlama-lama bicara pada Revani.
Percuma saja, karena yang ada hanya Magi yang akan sibuk menyindir kasar Revani, sedangkan Revani tidak akan bisa membalasnya.
"Tunggu bentar deh, Bang."
Magi menahan tangannya dan membuat laki-laki itu tidak jadi menariknya.
"Kenapa?"
"Ada yang mau gue sampain ke Revani," Magi kembali menoleh melihat Revani yang mengepal tangannya menahan diri, "bilang ke Papa lo ya, gue nitip salam, semoga beliau selalu sehat dan berumur panjang, gue gak mau repot-repot datang ke pemakaman beliau soalnya, paham kan? Dah Revani."
Revani tahu semua ucapan soal berumur panjang itu tidak benar-benar datang dari hati Magi, justru maksud Magi adalah kebalikannya, dan meski ucapannya terdengar sangat kejam, Magi tetap tersenyum manis.
Perempuan itu melambaikan tangannya meski tahu ucapannya pasti menyakiti Revani, tapi itulah yang ia inginkan. Laki-laki itu kemudian menariknya pergi dan meninggalkan Revani yang berusaha keras menahan tangisnya.
Revani tahu seharusnya ia tidak menghampiri laki-laki itu, harusnya ia tahu kalau laki-laki itu datang bukan untuknya, tapi untuk Magi. Harusnya ia sadar Magi akan menyakitinya kalau sampai ia berani bicara pada laki-laki itu. Revani berharap ia akan punya cukup waktu untuk melihat Kakaknya itu berhenti membencinya dan kembali ke rumah.
"Hei, lo gak apa-apa?"
Merasakan bahunya di tepuk, Revani menoleh untuk mendapati dua anak laki-laki yang sedang menjadi trending topic di SMA Bhintara, Rama dan Andru sedang berjalan ke arahnya. Buru-buru ia mengusap sudut matanya, tak ingin menunjukan kalau baru saja ia sudah ingin menangis diperlakukan sekasar itu oleh Magi.
"Gak apa-apa, kenapa Kak?"
Pertanyaan Revani itu membuat kedua keturunan Adhiyaksa saling menatap dengan alis terangkat.
"Kita seumuran loh sebenarnya, Bang Rama ini juga satu tingkat sama lo, yang lo panggil Kak siapa?" tanya Andru menggaruk alisnya bingung.
"Eh, aku kira Kak Rama itu senior."
"Ck," Rama berdecak malas, lalu menatap Andru, "lo masih mau tinggal? Gue mau pulang," ketus Rama.
"Jutek amat lo, santai Bang, gue cuma nyapa Revani bentar. Yaudah Van gue pulang oke?"
"Iya."
Keduanya berlalu begitu saja, tapi saat Rama melewatinya, laki-laki itu berbisik datar padanya dan membuat Revani mematung tanpa sadar, ia menatap punggung Rama yang menjauh.
"Kalo di bully, jangan diam."
***
Kadang-kadang bahagia itu bisa sangat sederhana, sesederhana melihat Magi makan dengan lahap dan sibuk berceloteh, lalu tertawa pada leluconnya sendiri. Sesederhana itu sampai Aska sendiri merasa bahagianya Magi adalah kebahagianya juga.
Tujuh bulan sudah berlalu sejak saat itu dan hanya disaat-saat seperti ini Magi tampak lebih hidup, tidak terlihat ingin mengcekik seseorang, atau membenci seseorang. Magi menjadi dirinya sendiri seperti sebelum kejadian 6 bulan yang lalu, Magi si perempuan 16 tahun yang setiap kali tersenyum matanya akan ikut tersenyum.
"Lo kuliah emang gak sibuk? Santai banget gue lihat hidupnya, bisa bawa gue jalan-jalan lagi."
Magi yang cerewet, banyak tingkah, ribut, dan kepo-an selalu berhasil membuat Aska tersenyum meski hanya membayangkannya.
"Sibuk kok, gue bawa lo jalan juga gak gratis, jangan lupa transfer," kata Aska dan memancing Magi melotot menatapnya.
"Dasar lo j****y, udah berapa lama lo nyewain badan lo buat cewek kayak gitu? Najis banget hidup lo."
"Lebih najis hidup lo, udah 16 tahun hidup bukannya tumbuh ke atas malah tumbuh ke bawah, anak SD aja ada yang lebih tinggi dari lo, gak pernah punya pacar lagi."
Magi memukul meja dengan marah, "gak usah nyinggung tinggi badan dong k*****t, bodyshaming lo namanya, bangga lo begitu hah?!"
Aska tertawa dan membiarkan Magi menggeretu tidak jelas, mungkin mengutuk-ngutuk Aska dalam hati.
"Gue mau beli kado buat teman, mau ikut?" tanya Aska setelah menghentikan tawanya
"Mau, tapi beliin novel, gimana? Deal? Deal ajalah, yuk."
"Bayar sendiri ya."
"Idih pelit! Di mana-mana cowok kali yang bayar Bang, jangan kayak cowok gak bermodal yang ngajak jalan, tapi gak mau bayarin dong, masa beliin novel aja gak mau."
"Yang gak bermodal sebenarnya siapa? Mau novel, tapi minta dibayarin."
"Ya tetap lo lah, gak mungkin gue. Ayok belanja kado!"
Meletakkan sendoknya yang tadi dipakai menyuapkan Ice creem ke mulutnya, Magi buru-buru berdiri dan menarik Aska keluar dari toko Ice Creem, membuat Aska dengan buru-buru meletakkan lembaran rupiah ke meja. Ia berdecak melihat tangan Magi yang masih menarik-nariknya, beruntung mereka saat ini makan di Mall jadi mereka tinggal pergi ke toko lain dan membeli kado.
Setelah sibuk menarik-narik Aska, Magi akhirnya berhenti di toko yang menjual sepatu khusus perempuan karena setahunya yang ulang tahun adalah perempuan. Ia menatap sepatu-sepatu cantik itu seksama sambil sedikit meringis karena harganya mahal.
"Yakin Bang mau beli di sini?" tanya Magi tak yakin.
"Yakin, emang kenapa kalo di sini?"
"Kan lo miskin, mana sanggup beli sepatu di sini, sepatu yang di sini tuh mahal Bang, mending di pinggir jalan aja sana, yang 35 ribuan. Hemat uang deh lo bang, gak kelihatan murah kok, supaya gak kelihatan banget kalo lo kere."
Pletak..
Magi mendapat satu jitakan lagi di kepalanya, ia meringis sambil tertawa. Kenapa semua orang hobi menjitaknya sih?
"Gue bukan lo, udah cebol gak bermodal lagi, minta-minta jemput buat makan Ice Creem, yang bayar juga gue. Hah... kapan gedenya sih lo?" kata Aska berpura-pura memijit pangkal hidungnya. Magi mendengus.
"Udah gede gue bang, buktinya gue biasa aja pas lo nonton bokep depan gue- Aduh!"
Aska menjitak lagi kepala perempuan tidak tahu situasi itu.
"k****t lo aja masih gambar doraemon, udah ngomongin bokep, tinggiin badan aja sana."
"Iya Bang, gue sayang banget deh sama lo bang."
Magi memeluk Aska dari samping dan membuat Aska tertawa. Kalau Magi sudah bertingkah layaknya cabe-cabean seperti itu, artinya si cebol itu menyerah mengganggu Aska, pada akhirnya yang dibully tetap Magi juga.
Kelakuan Magi yang pecicilan dan cerewet itu yang Aska suka dari Magi, bukan pura-pura polos atau sengaja ngebegoin diri sendiri, Magi selalu tampil apa adanya.
"Jadi lo mau yang mana bang?" tanya Magi sambil menatap lagi sepatu-sepatu mahal itu.
"Lo nanya kayak gue yang mau pake aja, cari yang menurut lo cantik deh."
"Lo juga nyuruh kayak gue yang mau pake."
"Nyari perkara terus ya lo."
"Ah... gue sayang lo Bang, yang merah aja."
Sepatu yang ditunjuk Magi itu berada dua langkah dari tempatnya Magi yang diyakini Magi yang paling mahal di sini, biar Aska tambah miskin sekalian. Aska mengangguk, lalu beranjak dan mengambil sepatu yang ditunjuk Magi. Ia mengangkat salah satu sepatu itu dan menunjukkannya pada Magi.
"Yang ini?"
"Yang ini?"
Dua suara yang bersamaan mengatakan hal yang sama itu membuat Magi menatap sosok laki-laki di belakang Aska yang juga mengangkat salah satu sepatu dari baris yang sama dan memperlihatkannya pada seseorang. Laki-laki itu berbalik menatapnya dan Magi tahu ia akan dua kali lipat lebih sial lagi karena laki-laki itu.
"Magi?"
Mendengar ada yang menyebut nama Magi, Aska merasa tidak enak seketika. Ia menoleh untuk mendapati sesosok laki-laki yang kemudian membuatnya mematung, tangannya terkepal kuat, terlebih saat laki-laki itu terlihat mengenal Magi.
"Lo di sini?" tanya laki-laki itu ramah.
"Enggak, lagi di Jepang nih. Yaiyalah gue di sini b**o, jelas-jelas ini gue yang cantik berdiri di sini pakai nanya lagi, makanya jangan badan aja lo tinggiin, IQ lo juga supaya gak jongkok."
Laki-laki bernama lengkap Terama Adhiyaksa itu hanya mengulum senyum singkat mendengar Magi mendumel kasar, lalu beralih menatap Aska yang juga menatapnya. Saat itu juga Magi bisa merasakan aura permusuhan dari keduanya, padahal kan keduanya baru bertemu.
"Masih hidup?"
Pertanyaan yang dilontarkan Rama itu membuat Magi mengerutkan kening, dari cara bicara Rama seolah laki-laki itu sudah mengenal Aska sangat lama, tapi bukan keakraban khas teman lama yang bertemu kembali yang terlihat di sana, melainkan dendam dan rasa benci yang terlihat di mata laki-laki itu untuk Aska.
"Cukup hidup buat ingat semua kelakuan lo," jawab Aska dingin.
"Maksud lo mungkin kelakuan lo, Askaban Gideon."
"Lo masih mikir itu kesalahan gue? Ingat baik-baik Ram, yang ngajak cewek itu lo bukan gue."
"Dan lo yang ngebiarin dia kena kan."
"Emang itu salah gue? Gue udah bilang dari awal gak akan lindungin dia, dia kenapa-napa itu bukan urusan gue kan, gue salah?"
"Seenggaknya lo gak biarin dia kena, sialan!"
Melihat sebentar lagi perdebatan itu akan jadi ajang adu jotos, Magi buru-buru berjalan ke tengah-tengah dua laki-laki itu yang sudah saling memelototi satu sama lain. Ia mendorong Aska mundur dan menatap Rama serta Aska bergantian.
Keduanya masih sama-sama saling menatap dengan mata menyala-nyala, siap membakar satu sama lain.
"Udah bang, kita pergi aja dari sini, jangan berantem, malu dilihat orang," ucap Magi melerai.
"Urusan gue belum selesai, Magi."
"Gue bakal marah kalau lo sampai buat keributan di sini, sampai kapan pun gue gak bakal maafin lo."
Diancam seperti itu, Aska menghela napas panjang dan menunduk menatap Magi yang menatapnya tegas. Ia kemudian mengangguk pasrah dan menarik tangan Magi agar segera pergi sebelum dia berubah pikiran.
"Jadi sekarang lo jadi kacung cewek? Kabur aja terus, lo emang selalu gitu kan, pengecut!"
Aska mengabaikan ucapan Rama, ia tak ingin membuat keributan dan membiarkan Magi benar-benar marah padanya. Sedangkan Magi yang berjalan di sisinya dengan sedikit terseok-seok karena Aska yang terlalu cepat berjalan menatap wajah laki-laki itu tak mengerti.
Selain masalah Revani, apa kiranya yang membuat Aska sedemikian marahnya sampai mengcekram tangannya kuat? Magi tak ingin bertanya, ia lebih memilih Aska sendiri yang mengatakannya.
Ia hanya ingin bilang pada Aska bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi Magi takut Aska hanya akan melampiaskan kemarahannya pada Magi. Perempuan itu menghela napas. Gue ada di sini kok Ka, gue tetap di sini, bisik hatinya pelan.
**