Part 5

2530 Kata
Pagi-pagi sekali Magi sudah sampai di sekolah, ia masuk ke kelasnya sambil memperhatikan sekitar, lalu tersenyum riang saat tak menemukan siapapun. Perlahan ia berjalan mengendap menuju kursinya dan Rama, ia melirik ke pintu yang tadi sengaja ditutupnya agar tak ada seseorang yang masuk tiba-tiba, kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya sambil tertawa kecil. "Mampus lo, Setan." Setelah urusannya selesai, Magi keluar lagi dari kelas sambil membawa tasnya. Langkahnya lebih riang dari pada saat ia datang dan bibirnya bersiul-siul pelan. Magi menunggu si k*****t sialan yang tiga hari belakangan sering membuatnya jengkel di samping parkiran, Magi sampai capek menahan keinginannya untuk membunuh Rama tiap kali melihat wajahnya yang menyebalkan. Jangan salahkan Magi, ia hanya perempuan imut nan manis yang tidak terima dihina. "Yang kemarin serius bang?" Mendengar suara manis-manis bikin adem itu, Magi mengangkat wajahnya dan memperhatikan Andru yang berjalan di samping sosok setan jangkung, siapa lagi kalau bukan Rama. Magi menebak-nebak apa salahnya Andru sampai terlahir sebagai saudara Rama, Andru yang manis bikin adem gitu kok punya sodara kayak Rama? "Serius," jawab Rama sambil mengangguk-angguk. Pagi ini laki-laki itu masih seperti kemarin, songong, sok keren, sok ganteng, walau emang ganteng sih, kata Dewi Batinnya yang minta di cekik. "Kalo dia gak mau, gimana?" "Gue bikin mau." "Gampang ya ngomongnya Bang." Andru tertawa seiring kalimat itu keluar dari mulutnya. "Cewek kayak dia emang ada yang mau selain gue?" "Jangan salah, cowok-cowok di sekolah ini lo tanyain satu-satu juga pasti mau semua, Bang." Selagi kedua orang itu sibuk bicara, Magi berjalan tiga langkah di belakang mereka dan mengikuti Rama sambil diam-diam tersenyum jahat, membuat beberapa siswa yang dilewatinya menatapnya curiga. Sampai di depan kelas IPS 4, Andru yang berada di kelas IPA dan Rama yang berada di kelas IPS kemudian berpisah. Terkadang Magi bertanya-tanya kenapa laki-laki itu mau masuk IPS, padahal ia bisa saja memanfaatkan statusnya untuk masuk IPA. Kalau Rama masuk IPA kan, Magi tidak harus bertemu dengannya tiap hari dan membuatnya lelah lahir batin. Walaupun tidak menjamin Rama akan berhenti mengganggunya, mana kelulusan masih tahun depan, apes banget. Bug "Aduh...," keluh Magi memegangi jidatnya. Magi mendongak mencari tahu siapa yang ditabraknya karena melamun dan tak sadar bahwa ia sudah masuk ke kelas. Orang yang ditabraknya itu adalah Rama yang sekarang menatapnya datar sambil sedikit menunduk. Sialan! Tinggi banget, buset! "Ngikutin gue?" tuduh Rama tanpa ekspresi. "Ih enggak sudi! Ngapain gue ngikutin lo? Gabut amat apa gue sampai ngikutin lo, ini kan juga kelas gue, masa cantik-cantik kayak gue ngikutin setan kayak lo? Buang-buang waktu gue yang berharga banget." Rama menaikkan sebelah alis, menatap tidak percaya perempuan cebol super cerewet yang suka mengoceh tidak jelas dan tak punya rem mulut itu, untung cantik. Rama menggeleng pelan dengan senyum di sudut bibirnya. "Bawel banget si Cebol," kata Rama pelan. "Gue gak Cebol b*****t!" teriak Magi sewot. "Terus?" "Kurang tinggi aja." Suara Magi mencicit saat mengucapkannya, ia melirik ke samping dengan raut wajah kesal. Rama menyinggungkan senyum kecil sambil menepuk-nepuk kepala Magi dengan sedikit menekannya dan membuat Magi menepis tangannya kasar. "Lo sengaja mau bikin gue tambah pendek hah? Gue sumpahin lo suka sama cewek cebol, tahu rasa lo, monyet." "Jaga mulut lo, cebol." "Apa hah apa?! Mau gue cekek? Maju sini!" "Kayak kucing garong," gumam Rama. Rama akhirnya meninggalkan perempuan itu yang masih memasang raut wajah kesal, ia duduk di kursinya dan memperhatikan Magi yang sekarang ikut duduk di sampingnya sambil mesem-mesem mencurigakan. Ia sesekali melirik kursi Rama dan membuat laki-laki itu yakin Magi sudah melakukan sesuatu. "Kenapa lo mesem-mesem?" tanya Rama tajam. "Idih sewot, yang mesem gue kenapa lo yang gonjang-ganjing?" balas Magi, kemudian memalingkan wajah ke samping. Magi tertawa yang ditahan-tahan sampai bahunya bergetar dan Rama yakin sekali perempuan itu melakukan sesuatu padanya. Rama menghela napas sabar, kemudian memilih tak menganggu kesenangan Magi. Tak lama kemudian Bu Tika masuk ke kelas dengan setumpuk buku di tangannya, beliau berdiri di depan kelas dan menunggu sang Ketua Kelas melakukan ritual paginya. Saat itu Magi langsung pucat pasih saat Aldi, si Ketua Kelas menyuruh mereka semua berdiri. Magi tak bisa bergerak dari kursinya, roknya menempel di kursi. Magi buru-buru menoleh ke samping menatap Rama yang sudah berdiri, seingat Magi tadi pagi ia tidak salah kursi saat membalurkan lem untuk mengusili Rama, ia ingat dengan sangat baik bahwa kursi Rama-lah yang ia baluri lem, terus kenapa sekarang malah dirinya sendiri yang kena? "Kenapa kamu masih duduk, Magi?" Mampus. Suara Bu Tika terdengar tidak suka, Magi menatap wanita usia 45 tahun itu dengan memelas, kalau bisa berdiri sudah dari tadi Magi berdiri, tapi kan Magi gak bisa, Magi bersungut dalam hati. "Anu Bu" "Berdiri." "Saya gak bisa Bu." "Gak bisa bagaimana? Berdiri saya bilang." "Aduh, gak bisa beneran Bu." "Magika Zalardi, kalau kamu gak berdiri sekarang, kamu gak usah masuk pelajaran saya lagi." Raut wajah Magi makin pias, apalagi teman sekelasnya tak ada yang berinisiatif membelanya. Magi yang sudah hampir menangis mendongak, ia menatap Rama yang menahan senyum sambil menatapnya dengan alis terangkat. Saat itu juga Magi tahu kalau ini perbuatan Rama, laki-laki itu pasti sudah tahu niat busuk Magi dan menukar kursi Magi dengan kursinya, jahat sekali. Magi meringis dalam hati, ini mah senjata makan tuan. Pelan-pelan Magi menarik ujung baju Rama dan menatap cowok itu memohon. "Kenapa?" tanya Rama seolah tak tahu apapun. "Jangan pura-pura gak tahu." Tidak mungkin kan Magi mengatakannya, ia tidak mau mempermalukan dirinya sendiri. Saat ia menceritakan yang sebenarnya, Bu Tika pasti akan mencari pelakunya dan menghukumnya, tapi sialnya Magi sendiri pelaku di balik kesialan yang menimpanya sekarang, kan malu. "Gak tahu," kata Rama super duper cuek. "Tolongin Anjir." "Yang sopan." Magi mendengus diam-diam dan mengutuk Rama dalam hatinya, tapi ia kemudian menyerah. "Rama please, tolong." Untuk sekali ini saja, biarkan Magi menurunkan harga dirinya. Sekali ini saja, Magi janji. Sedangkan Rama hanya menyinggungkan senyum miring, si cebol itu mungkin mengira Rama bisa dijebak dengan jebakan kelas teri seperti itu, tapi Magi sudah salah memilih lawan. Rama ingin sekali menendang perempuan kurang ajar yang berani-beraninya menaruh lem di kursinya, tapi Rama sekali lagi menghela napas dan mengalah karena alasan yang sama, untung cantik. "Ini gak gratis." Setelah berbisik seperti itu, Rama mengusir semua penghuni kelas termasuk Bu Tika yang langsung mendumel jengkel, lalu menutup pintu kelas dan mengancam agar tidak ada siapapun yang mengintip. Ia menghampiri Magi yang matanya berkaca-kaca menahan tangis. "Makanya jangan sok bego." "Sok pintar, b**o," sewot Magi. "Lo bilang apa?" "Enggakkkk, bercandaaaa, gue bilang Rama ganteng." Sekali ini aja gue bilang lo ganteng, Rama Anjeng. Magi misuh-misuh dalam hati, tapi tetap ingin menangis karena malu. Rama menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian menyingkirkan meja dari depan Magi, ia bersedekap memperhatikan Magi yang masih duduk di kursinya dan mulai memikirkan bagaimana caranya ia akan melepaskan Magi dari kursi itu, padahal Rama sebenarnya tidak mau peduli, salah sendiri usil, kena karma kan sekarang. "Lo buka rok aja," kata Rama enteng. "Tapi lemnya juga kayaknya nempel sama dalaman gue." "Yaudah, buka juga." "c***l lo kambing!" teriak Magi sekuat tenaga. Rama meringis, perempuan ini suka sekali berteriak, bisa-bisa telinga Rama jadi budeg kalau ia berlama-lama dengan Si cebol satu ini. Rama memikirkan lagi cara lain untuk membantu Magi, tapi sebenarnya hanya pura-pura berpikir karena sejak awal menukar kursi itu, Rama sudah tahu akan jadi begini. Kejam? Lebih kejam mana sama yang ngerencanain jebakan ini? "Gue bantu, tapi ada syarat." "Gak ikhlas banget lo minta-minta syarat segala, pamali bantuin tapi gak ikhlas, lo tanya deh sama Guru sana, sekalian minta surat pindah, terus enyah dari hadapan gue." "Yaudah, gue keluar." "Ehhh iya deh." Melihat Rama ingin keluar, Magi buru-buru menarik tangan cowok itu sambil nyengir panik. Dalam hati ia bersungut sebal, bersumpah setelah ini ia akan membalas Rama lebih kejam, seperti mencampur minumnya dengan sianida, atau langsung saja mengcekiknya, biar modar sekalian. Rama tahu dengan jelas apa yang dipikirkan perempuan itu, tapi ia hanya tersenyum tipis dan memilih tidak menanggapi apa yang tertulis jelas di jidat si cebol itu. "Syaratnya, bawain gue bekal setiap hari selama gue sekolah di sini." "Setiap hari?" "Heem." "Sampe lo lulus?" "Heem." "Itu kan masih tahun depan anjir, kurang lebih selama 360 hari itu gue mesti bawain lo bekal? Gak sekalian gue jadi pembantu lo aja, biar gue buatin kopi Jessica terus lo tenang di akhirat. Anjir sumpah gak masuk akal, tangan gue mana pernah nyentuh alat-alat masak, bedain garam sama micin aja gak tahu anjir." "Lo kecil kerempeng gitu suaranya gede banget." Kayak kucing garong. "Siapa yang kerempeng, setan?! Gue semok bahenol gini!" "Mau lepas gak?" "Mau." Magi langsung merubah ekspresinya yang tadi berapi-api menjadi memelas, manusia kalau ada maunya semuanya sama saja. Rama menghampiri tasnya dan mengambil sesuatu dari sana, lalu memberikannya kepada Magi yang langsung di pelototi oleh si cebol. "Kok lo ngasih Sweater? Gue gak dingin kok beneran, cuma butuh di lepasin dari kursi j*****m ini, ngerti gak sih?" "Bisa gak berisik? Otaknya dipakai." "Iyalah otak dipakai, lo pikir otak gue cuma pajangan kayak otak lo?! Hahaha, pantesan butuh bimbingan, otaknya dipajang doang." Rama tidak tahu lagi mau ia apakan perempuan berisik dan tidak bisa diam di depannya ini. Baru kali ini ada yang membutuhkan bantuannya, tapi malah mengejeknya, sekarang mungkin saatnya Rama mengeluarkan alasannya bersabar, untung cantik. Rama meletakkan Sweaternya di kursi samping Magi kemudian berbalik membelakangi Magi. "Coba lepasin dulu, nanti tutupin pakai Sweater gue," suruh Rama tanpa ada maksud jelek. "Modus, nanti pasti lo ngintip kan, ngaku lo!" "Sabar gue ada batasnya, Magi. Lepas sebelum gue berubah pikiran." "Iya iya, bawel banget kayak Emak tiri, gue juga udah mau lepas kalau lo gak berisik." Kali ini Rama-lah yang harus menahan diri untuk tidak mengcekik Magi, perempuan itu benar-benar menyebalkan dan menguji tingkat kesabaran Rama. Kalau saja Rama tidak tertarik padanya, sudah lama Rama mendepaknya dari SMA Bhintara. Untung cantik, Rama merapalkan lagi mantranya dalam hati agar dia sabar. Magi menarik roknya pelan-pelan, tapi meskipun sudah sangat pelan, tetap saja roknya sobek dan mengeluarkan suara 'krek' pelan. Seiring dengan suara itu terdengar, Rama berusaha mati-matian menahan tawanya, membuat Magi yang melihat bahu laki-laki itu bergetar menahan tawa mendengus dan mengutuk Rama dalam hati. Tak lama kemudian Magi berhenti menarik roknya dan menatap Rama dengan mata berkaca-kaca. "Ram." panggil Magi bergetar. "Hm." "Lihat sini dulu." "Udah selesai?" "Lihat dulu!" Rama berbalik perlahan, takut saat berbalik perempuan itu sedang dalam posisi yang ... itulah, ia pasti berteriak kencang lagi dan membuatnya beneran budeg. Saat sudah sepenuhnya berbalik, Rama mengangkat alis melihat perempuan barbar itu menahan tangis, hidungnya kembang kempis dan wajahnya merah. "Kenapa?" tanya Rama akhirnya, kasian melihatnya. "Itu…" "Itu kenapa?" "Nganu..." "Iya nganu, lo kenapa?" "Itu Ram, yang gue bilang tadi." "Bicara yang jelas, Magi." "Dalamanguenempelbangsat." "Lo ngomong apa sih? Jangan main-main." Rama menarik napas panjang dan memperhatikan Magi yang sekarang menunduk malu-malu dan sedikit kesal juga ingin menangis. Ia meremas ujung roknya kemudian terisak kecil, Rama langsung salah tingkah saat perempuan itu menangis. "Loh? Kenapa hei?" tanya Rama sambil berjongkok, berusaha mengurangi intimidasinya dengan merendahkan perbedaan tingginya. Magi makin meremas ujung roknya dan tidak mau menatap Rama yang makin bingung. Ia bahkan belum mengapa-ngapakan Magi, menyentuhnya saja belum masa udah nangis. Fokus, Terama! Teriak pikirannya yang waras. Rama menghela napas dan mengusap-ngusap kepala Magi. "Sudah, gak apa-apa. Jangan nangis, gak semua orang bisa tinggi, syukurin aja kalo lo cebol." "Sialan lo! Gue bukan nangis gara-gara gue cebol!" "Ya terus apa?!" "Celana dalam gue nempel." Wajah Magi memerah dan dia menunduk makin dalam, beberapa detik itu Magi merasa khawatir kalau-kalau Rama akan menertawainya, tapi kemudian Rama hanya menghela napas. Kenapa sih perempuan harus selalu ribet soal k****t doang? "Gue kan bilang, buka aja sekalian, gue gak lihat." "Ogah, muka-muka kayak lo sering gue lihat di pinggir jalan, preman c***l yang suka ngintipin rok cewek-cewek." "Gue keluar deh." "Iyaaa, gue bukaaa" "Buka apaan?" Keduanya kompak menoleh ke pintu dan memelototi Andru yang melongokkan kepala. Laki-laki manis itu menggaruk kepala ditatap sedemikian rupa oleh Magi dan Rama. Aduh, alamat Andru akan kena sial. "Keluar!" teriak Magi. "Magi, diam!" bentak Rama. "Adek lo ngintip! Malu! Tuhan, saya gak bermaksud bikin dosa, sumpah. Kalau mau nyatat ini sebagai dosa catat aja di bawah namanya Rama, dia udah berdosa sejak lahir, gue suci dia penuh dosa, Aamiin." Pletak... Rama menjitak kepalanya agar perempuan itu bisa diam sedikit. "Sakit Jerapah!" Menghela napas sabar, Rama menyuruh Andru masuk dan menutup pintu lagi, ia mengacuhkan Magi yang sedang sibuk mengusap kepalanya sambil berkomat-kamit kesal. Andru memperhatikan Magi yang masih duduk dan Rama yang berjongkok di depannya, ia mengerutkan kening bingung. "Lo barusan nembak Magi, Bang?" tanya Andru yang dimaksudkan berbisik, tapi terdengar ke indra pendengaran Magi karena suasana kelas yang hening. "Hah?! Ngomong apa lo?! Mau gue cungkil otak lo?!" "Hehe ... santai Kak, gue suci lo penuh dosa." Kemudian yang terdengar hanya Magi yang sibuk mengabsen nama-nama binatang, Andru mengabaikan dan meminta abangnya menjelaskan, lalu ia tertawa keras-keras saat tahu kronologis kejadian itu. "Otaknya dipajang kali Bang," kata Andru tanpa benar-benar memikirkan akibat dari ucapannya. "Sialan ya lo! Jaga alat bicara lo sebelum gue garuk! Ngadi-ngadi banget sialan!" Rama tertawa kecil kemudian berdiri, ia menjulurkan tangan dan memegang lebih kepada memeluk pinggang Magi, membuat si pemilik mengatupkan mulutnya kaget. Magi bisa mencium parfum Rama dari sini dan Magi tiba-tiba sesak napas sekaligus tidak bisa berpikir. Kok wangi ya? "Heh! Ngapain meluk gue?! Modus lo ya sangean! Jauhin tangan laknat lo dari gue," teriak Magi setelah tersadar dari kaget sesaatnya. Rama hanya menghela napas dan tetap memegang pinggang Magi, ia menatap Andru yang masih sibuk menertawai Magi. "Ru, pegangin kursinya," suruh Rama tegas dan membuat tawa Andru berhenti "Buat apa?" "Gue mau tarik dia, lo tahan kursinya biar gak ikut ketarik." "Oh oke." Andru berjalan ke belakang Magi dan menggeser meja di belakangnya, lalu memegang kursi yang di duduki Magi, ia menunggu sampai Rama menarik Magi, sebelum cewek itu tiba-tiba berteriak histeris. "Gak! Berhenti! Mana bisa anjir!" Untuk kesekian kalinya Rama menghela napas, ia melepaskan pegangannya dan menatap Magi dengan tatapan menahan sabar, seolah sebentar lagi ia akan stress. "Kenapa lagi?" "Gue gak mau Andru ada di belakang gue." "Terus yang mau narik kursi lo siapa?" "Siapa aja please, pokoknya gak mau Andru." "Kita gak ada waktu buat cari orang lain, emang Andru kenapa?" Magi melirik Andru sebentar kemudian menarik napas, seolah ia heran kenapa Rama masih saja bertanya hal sejelas itu. "Kalau lo tarik gue, rok gue bakal robek dan dia bisa lihat anu gue, gitu aja gak tahu, makanya itu otak dipakai jangan jadi pajangan doang. Dari kemarin gue penasaran Tuhan lagi apa pas nyiptain lo, jangan-jangan Tuhan lagi ngupil pas nyiptain lo, mirip upil sih bego." Memilih tidak menanggapi Magi, Rama menyuruh Andru menutup matanya saat ia menarik Magi, lalu Rama kembali memegang pinggang Magi dan mulai menarik perempuan itu agar lepas dari kursinya. Tidak lama kemudian Magi sudah benar-benar terlepas dari kursinya dan jatuh menabrak Rama. "Jangan modus meluk gue," ucap Rama datar. "Anjir, gak sudi, pede banget sumpah." "Gue udah boleh buka mata?" Magi dan Rama langsung menatap Andru yang sudah membuka matanya, saat itu pula Magi berteriak histeris dan mengutuk Andru serta Rama. Ia buru-buru menarik Sweater Rama dan menutupkannya ke pantatnya diiringi suara tawa Andru. "Warna merah ya? Terang benderang banget." "Mati lo, Njeng." Yang terjadi selanjutnya adalah Magi yang berlari mengelilingi kelas sambil mengejar Andru yang tertawa terbahak-bahak. ❄❄❄
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN