Tiga hari kemudian, tepat di hari Senin, Magi diizinkan masuk sekolah. Izin itu ia dapatkan setelah mendebat Saphira selama tiga hari penuh, dibantu oleh Mahesa sebagai Dokternya, lagipula Magi sudah baik-baik saja, kecuali soal tangan kanannya. Suasana hatinya tidak membaik sampai hari ini, selain hiburan yang didapatnya dari Mahesa, ia terus-terusan merasa marah. Selama hari itu pula, tidak ada kabar apapun yang ia dengar. Semua orang tutup mulut seolah Magi tidak boleh tahu apapun. Kakak kok Bahasa Indonesianya lancar? tanya Magi pada Farhana yang mengantarnya ke sekolah. Mahesa ada pekerjaan di Rumah Sakit dan tidak bisa mengantar, Frans sudah mengajukan diri atas perintah Saphira, tapi Magi lebih memilih Farhana. Karena itu, di sinilah ia duduk di samping Farhana yang menyetir. K

